Belajar Biologi | Belajar Sains

Gelombang Panas (heatwaves), Pengertian, Penyebab dan Dampaknya Bagi Lingkungan

Advertisement

Advertisement


loading...

FENOMENA GELOMBANG PANAS 2015
By: Subid Peringatan Dini Iklim BMKG

Badai topan dan gempa bumi lebih sering menghiasi headline harian di dunia namun ternyata gelombang panas (heatwaves) baik secara langsung ataupun tidak langsung juga banyak menelan korban jiwa seperti yang terjadi beberapa pekan terakhir di benua Eropa dari Rusia hingga mencapai Portugal yang membuat suhu udara meningkat sangat drastis dan menyebabkan banyak kematian karena hipertermia, kegagalan panen, kebakaran hutan, terputusnya sambungan listrik karena penggunaan pendinginan udara yang terlalu meningkat hingga melunakkan aspal jalan raya dan mengakibatkan banyak kecelakaan lalu-lintas. Bahkan di Bryansk, Rusia, dampak dari gelombang panas ini sisa-sisa partikel radioaktif dari ledakan Chernobyl tahun 1986 yang sudah terserap kedalam tanah dikhawatirkan akan terlepas kembali ke udara dan dapat membentuk awan radioaktif yang sangat membahayakan..

Tidak hanya menyerang Eropa, gelombang panas juga terjadi di Asia. Di Jepang mengakibatkan sedikitnya 66 orang tewas dan 15.000 lainnya dilarikan ke rumah sakit akibat hipertermia dan serangan otak (stroke). Sementara di Cina, suhu udara mencapai 440C dan menyebabkan puluhan mesin bus di Beijing mengalami kebocoran hingga mengeluarkan oli dan terbakar. Bahkan Timur Tengah juga tak luput dari serangan gelombang panas tahun ini, hingga majelis ulama di Uni Emirat Arab mengeluarkan fatwa menbolehkan buruh untuk tidak berpuasa jika suhu udara terlalu panas.

Definisi dari gelombang panas adalah periode lanjutan dari cuaca yang sangat panas dan diikuti oleh kelembaban tinggi yang biasa terjadi di wilayah yang sedang mengalami musim panas. Namun, definisi ini tidaklah selalu tepat karena tergantung dari rata-rata temperatur harian di suatu wilayah. Misalnya temperatur yang dianggap normal oleh orang-orang dari daerah beriklim tropis dapat dianggap sebuah gelombang panas di daerah dingin bila mereka berada di luar pola iklim normal untuk daerah tersebut.

Tingkat keparahan gelombang panas bergantung dari intensitas panas, durasi kejadian dan temperatur tertinggi yang dicapai pada malam hari. Sebagai contoh, kejadian gelombang panas yang terjadi tahun 2003 di Eropa yang temperatur siang harinya rata-rata mencapai 350C. Di banyak negara Eropa terjadi pemecahan rekor temperatur tetinggi, misalnya di Rusia (380C), Swiss (320C), Portugal (470C), serta Inggris yang merasakan untuk petama kalinya temperatur diatas 370C dalam 300 tahun terakhir. Sebagian besar orang dapat menolerir temperatur yang tinggi pada siang hari karena tubuh dapat mendingin secara otomatis pada malam hari, tetapi kenyataannya gelombang panas yang melanda Eropa selama dua minggu, temperatur pada malam harinya tidak turun secara signifikan sehingga tubuh tidak sempat melakukan pendinginan dan menyebabkan banyak kematian akibat hipertermia.

Selain itu, kematian akibat gelombang panas juga disebabkan oleh buruknya kualitas udara karena mengumpulnya udara beracun dari asap kebakaran hutan (ScienceCentral.com).

Menurut para meteorologiawan, cuaca ekstrim seperti gelombang panas di Eropa saat ini disebabkan oleh adanya penyimpangan perilaku arus jet (jetstream). Arus jet adalah angin yang berada di altitude tinggi yang mengelilingi dunia dari barat ke timur dan biasanya mendorong kelembaban yaang ringan dari Samudra Atlantik sampai Inggris Raya. Arus ini dibawa oleh gelombang Rossby yang biasanya
menghasilkan pola yang khas, tetapi saat ini menunjukkan pola yang tidak biasa.

Sejak pertengahan Juli, saat biasanya mengarah ke timur, arus jet terblokir oleh gelombang Rossby yang menghadangnya. Arus jet itu adalah perangkap sistem cuaca, udara hangat tersedot ke puncak sementara udara dingin menuju ke ‘palung’.

Serangan gelombang panas di Eropa serta banjir dan tanah longsor di Asia dalam beberapa pekan terakhir merupakan bukti bahwa prediksi pemanasan global sangat tepat. Jean-Pascal van Ypersele, wakil presiden badan PBB yang memonitor pemanasan global yaitu Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) mengatakan bahwa pola-pola cuaca dramatis ini konsisten dengan perubahan iklim yang ditimbulkan oleh manusia. Ini adalah peristiwa-peristiwa yang muncul kembali dan makin intensif di tengah iklim yang terganggu efek rumah kaca, peristiwa ekstrim seperti ini merupakan salah satu contoh di mana perubahan iklim yang dramatis bisa tampak secara nyata," lanjut Ypersele. Panel Perubahan Iklim PBB sebelumnya telah memperingatkan, tanpa tindakan mengurangi efek rumah kaca, suhu global bisa naik 6 derajat celcius di akhir abad ini (Vivanews.com).
Place Your Ad Code Here

Materi Menarik Lainnya:

loading...



Tag : Lingkungan
Back To Top