Penyakit ISPA; Definisi, Gejala Penularan dan Klasifikasinya

loading...
Defenisi ISPA
ISPA merupakan singkatan dari infeksi saluran pernapasan akut yang diadopsi dari acute respiratory infection (ARI). Istilah ini mulai diperkenalkan tahun 1984 dalam lokakarya nasional ISPA di Cipanas (Depkes RI, 1998).

Istilah ISPA mengandung tiga unsur yaitu infeksi, saluran pernapasan dan akut. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme kedalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit. Adapun saluran pernapasan adalah organ dimulai dari hidung sampai alveoli beserta organ adneksa seperti sinus-sinus, rongga telinga, dan pleura. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari. Dengan demikian ISPA secara anatomis mencakup saluran pernapasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksanya saluran pernapasan (Depkes RI, 2002).

Mikroorganisme yang dapat menyebabkan ISPA ada lebih dari 300 jenis, terdiri atas golongan bakteri, virus, riketsia dan jamur (Depkes RI, 2002). Di negaranegara berkembang umumnya kuman penyebab ISPA adalah streptokokus pneumonia dan Hemofilus influenza (WHO, 2002).

Penularan ISPA
Pada umumnya ISPA termasuk kedalam penyakit menular yang ditularkan melalui udara. Sumber penularan adalah penderita ISPA yang menyebarkan kuman ke udara pada saat batuk atau bersin dalam bentuk droplet. Inhalasi merupakan cara terpenting masuknya kuman penyebab ISPA kedalam saluran pernapasan yaitu bersama udara yang dihirup, disamping itu terdapat juga cara penularan langsung yaitu melalui percikan droplet yang dikeluarkan oleh penderita saat batuk, bersin dan berbicara kepada orang di sekitar penderita, trasmisi langsung dapat juga melalui ciuman, memegang/menggunakan benda yang telah terkena sekresi saluran pernapasan penderita (Azwar, 1985).

Tanda dan Gejala Klinis ISPA
Penyakit ISPA meliputi hidung, telinga, tenggorokan (pharinx), trachea, bronchioli dan paru. Tanda dan gejala penyakit ISPA pada anak dapat menimbulkan bermacam-macam tanda dan gejala seperti batuk, kesulitan bernapas, sakit tenggorokan, pilek, demam dan sakit telinga (Depkes RI, 1993).

Sebagian besar dari gejala saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk dan pilek tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik. Namun sebagian anak akan menderita radang paru (pneumonia) bila infeksi paru ini tidak diobati dengan anti biotik akan menyebabkan kematian (Depkes RI, 1993).

Tanda dan gejala ISPA dibagi menjadi dua yaitu golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun dan golongan umur kurang dari 2 bulan (Depkes RI, 1993).

Penyakit ISPA; Definisi, Gejala Penularan dan Klasifikasinya

Advertisement


1. Tanda dan gejala ISPA untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun
a. Pneumonia berat, bila disertai napas sesak yaitu ada tarikan dinding dada bagian bawah kedalam pada waktu anak menarik napas (pada saat diperiksa anak harus dalam keadaan tenang, tidak menangis/meronta).
b. Pneumonia, bila disertai napas cepat, batas napas cepat adalah untuk umur 2 bulan sampai < 12 bulan sama dengan 50 kali permenit atau lebih, untuk umur 1-5 tahun sama dengan 40 kali permenit atau lebih.
c. Bukan pneumonia (batuk pilek biasa), bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada napas cepat.

2. Tanda dan gejala ISPA untuk golongan umur kurang dari 2 bulan
a. Pneumonia berat, bila disertai tanda tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau napas cepat. Atas napas cepat untuk golongan umur kurang dari 2 bulan yaitu 60 kali permenit atau lebih.
b. Bukan pneumonia (batuk pilek biasa), bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada bagia bawah atau napas cepat.

Klasifikasi ISPA
Berdasarkan lokasi anatomik (WHO, 2002);
a. Infeksi Saluran Pernafasan Akut bagian Atas (ISPaA), yaitu infeksi yang menyerang hidung sampai epiglotis, misalnya rhinitis akut, faringitis akut, sinusitus akut dan sebagainya.
b. Infeksi Saluran Pernafasan Akut bagian Bawah (ISPbA). Dinamakan sesuai dengan organ saluran pernafasan mulai dari bagian bawah epiglotis sampai alveoli paru misalnya trakhetis, bronkhitis akut, pneumoni dan sebagainya. Infeksi Saluran Pernapasan bawah Akut (ISPbA) dikelompokkan dalam dua kelompok umur yaitu (1) pneumonia pada anak umur 2 bulan hingga 5 tahun dan (2) pneumonia pada bayi muda yang berumur kurang dari dua bulan.

a. Pneumonia pada anak umur 2 bulan hingga 5 tahun

Klasifikasi pneumonia pada anak umur 2 bulan hingga 5 tahun dengan gejala klinisnya terdiri dari:
a.1. Pneumonia sangat berat, batuk atau kesulitan bernapas yang disertai dengan sinusitis sental, tidak dapat minum, adanya tarikan dinding dada.
a.2. Pneumonia berat, batuk atau kesulitan bernapas, tarikan dinding dada tanpa disertai sianosis dan dapat minum.
a.3. Pneumonia, batuk atau kesulitan bernapas dan pernapasan cepat tanpa penarikan dinding dada.
a.4. Bukan pneumonia, batuk atau kesulitan bernapas tanpa pernapasan cepat atau penarikan dinding dada.

b. Pneumonia pada bayi muda yang berumur kurang dari 2 bulan

Klasifikasi pneumonia pada bayi muda yang berumur kurang dari 2 bulan terdiri dari:
b.1. Pneumonia berat. Pada kelompok umur ini gambaran klinis pneumonia, sepsis dan meningitis dapat disertai gejala klinis pernapasan yang tidak spesifik untuk masing-masing infeksi,maka gejala klinis yang tampak dapat saja diduga salah satu dari tiga infeksi serius tersebut, yaitu: berhenti menyusu, kejang, rasa kantuk yang tidak wajar atau sulit bangun, stidor pada anak yang tenang, mengi (wheezing), demam ( 38oC) atau suhu tubuh yang rendah (dibawah 5,35oC), pernapasan cepat, penarikan dinding dada, sianosis sentral, serangan apnea, distensi abdomen dan abdomen tegang.
b.2. Bukan pneumonia. Jika bernapas dengan frekuensi kurang dari 60 kali permenit dan tidak terdapat tanda pneumonia.

Tingkat Keparahan ISPA
Pembagian tingkat keparahan ISPA didasarkan atas gejala-gejala klinis yang timbul (WHO, 2002). Adapun pembagiannya sebagai berikut:

1. ISPA ringan
ISPA ringan ditandai dengan gejala-gejala:
1. Batuk
2. Pilek dengan atau tanpa demam

2. ISPA sedang
ISPA sedang ditandai dengan gejala-gejala:
1. Batuk
2. Pilek dengan atau tanpa demam
3. Pernapasan cepat
- Umur < 1 tahun : 50 kali per menit atau lebih
- Umur 1-5 tahun : 40 kali per menit
4. Wheezing (mengi) yaitu napas bersuara
5. Sakit atau keluar cairan dari telinga
6. Bercak kemerahan (campak)

3. ISPA berat
ISPA berat ditandai dengan gejala-gejala:
1. Batuk
2. Pilek dengan atau tanpa demam
3. Pernapasan cepat
- Umur < 1 tahun : 50 kali per menit atau lebih
- Umur 1-5 tahun : 40 kali per menit
4. Wheezing (mengi) yaitu napas bersuara
5. Sakit atau keluar cairan dari telinga
6. Bercak kemerahan (campak)
7. Penarikan dinding dada
8. Kesadaran menurun
9. Bibir/kulit pucat kebiruan
10. Stridor yaitu suara napas seperti mengorok

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi ISPA
 
1. Umur
Prevalensi infeksi saluran pernapasan akut bagian bawah (pneumonia) lebih tinggi pada umur yang lebih muda. Ini terlihat dari hasil SDKI tahun 1997 yang menunjukkan prevalensi pneumonia paling tinggi terdapat pada kelompok umur 6-11 bulan yaitu 12% (Djaja, 2000).

Hasil penelitian Kartasasmita di Cikutra (1993) didapatkan bahwa insiden dan lamanya anak menderita ISPA menurun dengan bertambahnya umur.

 2. Jenis Kelamin
Berdasarkan hasil SDKI tahun 1997 menunjukkan adanya perbedaan prevalensi 2 minggu pada balita dengan batuk dan napas cepat (yang merupakan ciri khas pneumonia) antara anak laki-laki dengan perempuan, dimana prevalensi untuk anak laki-laki adalah 9,4% sedangkan untuk anak perempuan 8,5% (Depkes RI, 1997).

Ada kecendrungan anak laki-laki lebih sering terserang infeksi dari pada anak perempuan, tetapi belum diketahui faktor yang mempengaruhinya (Soetjiningsih, 1995).

3. Status Imunisasi
Telah diketahui secara teoritis, bahwa imunisasi adalah cara untuk menimbulkan kekebalan terhadap berbagai penyakit (Kresno, 2000). Dari penelitian yang dilakukan oleh Dewi dan Sebodo (1996), didapatkan proporsi kasus balita penderita ISPA terbanyak terdapat anak yang imunisasinya tidak lengkap (10,25%).

4. Status ASI Eksklusif
Penelitian-penelitian yang dilakukan pada sepuluh tahun terakhir ini menunjukkan bahwa ASI kaya akan faktor antibodi cairan tubuh untuk melawan infeksi bakteri dan virus. Penelitian di Negara-negara sedang berkembang menunjukkan menunjukkan bahwa ASI melindungi bayi terhadap infeksi saluran pernapasan berat (Djaja, 2000).

Jika produksi ASI cukup, pertumbuhan bayi umur 4-5 bulan pertama akan memuaskan, pada umur 5-6 bulan berat badan bayi menjadi 2 kali lipat dari pada berat badan lahir, maka sampai umur 4-5 bulan tidak perlu memberi makanan tambahan pada bayi tersebut (Pudjiadi, 2000).

Lemahnya koordinasi menelan pada bayi umur dibawah 4 bulan dapat menimbulkan aspirasi kedalam saluran pernapasan menjadi pemicu untuk terjadinya infeksi saluran pernapasan (Ngastiyah, 1997).

5. Berat Badan Lahir
Berat badan lahir rendah ditetapkan sebagai suatu berat lahir yang kurang dari 2500 gram. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) akan meningkatkan resiko kesakitan dan kematian bayi karena bayi rentan terhadap kondisi-kondisi infeksi saluran pernapasan bagian bawah (Ngastiyah, 1997).

Menurut Sulistyowati dalam Djaja (2000) bayi dengan berat badan lahir rendah mempunyai angka kematian lebih tinggi dari pada bayi berat badan lebih dari 2500 gram saat lahir selama satu tahun pertama kehidupannya. Pneumonia adalah penyebab terbesar kematian akibat infeksi pada bayi yang baru lahir dengan berat badan rendah, bila dibandingkan dengan bayi yang beratnya diatas 2500 garam.

6. Pencemaran Udara Dalam Lingkungan
Pencemaran udara di dalam rumah selain berasal dari luar ruangan dapat pula berasal dari sumber polutan di dalam rumah terutama aktivitas penghuninya antara lain, penggunaan biomassa untuk memasak maupun pemanas ruangan, asap dari sumber penerangan yang menggunakan bahan bakar, asap rokok, penggunaan obat anti nyamuk, pelarut organik yang mudah menguap (formaldehid) yang banyak dipakai pada peralatan perabot rumah tangga dan sebagainya (Mukono, 1997).

Menurut Soesanto (2000) yang dikutip dari Samsuddin (2000), rumah dengan bahan bakar minyak tanah baik untuk memasak maupun sumber penerangan memberikan resiko terkena ISPA pada balita 3,8 kali lebih besar dibandingkan dengan bahan bakar gas.

Asap rokok dalam rumah juga merupakan penyebab utama terjadinya pencemaran udara dalam ruangan. Hasil penelitian yang dilakukan Charles (1996), menyebutkan bahwa asap rokok dari orang yang merokok dalam rumah serta pemakaian obat nyamuk bakar juga merupakan resiko yang bermakna terhadap terjadinya penyakit ISPA.

Penggunaan obat anti nyamuk bakar sebagai alat untuk menghindari gigitan nyamuk dapat menyebabkan gangguan saluran pernapasan karena hasilnya asap dan bau yang tidak sedap. Adanya pencemaran udara di lingkungan rumah akan merusak mekanisme pertahanan paru-paru sehingga mempermudah timbulnya gangguan pernapasan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Indra Chahaya pemakaian obat nyamuk bakar mempunyai exp (B) 19,97 yang berarti faktor pemakaian obat nyamuk bakar mempunyai 19 kali beresiko terhadap terjadiya ISPA.


Gambar: Pemakaian obat nyamuk bakar mempunyai 19 kali beresiko terhadap terjadiya ISPA

Secara umum efek pencemaran udara terhadap saluran pernapasan dapat menyebabkan terjadinya:
a.1. Iritasi pada saluran pernapasan, hal ini dapat menyebabkan pergerakan silia menjadi lambat , bahkan berhenti, sehingga mekanisme pembersihan saluran pernapasan menjadi terganggu
a.2. Peningkatan produksi lendir akibat iritasi bahan pencemar
a.3. Produksi lendir dapat menyebapkan penyempitan saluran pernapasan
a.4. Rusaknya sel pembunuh bakteri saluran pernapasan
a.5. Pembengkakan saluran pernapasan dan merangsang pertumbuhan sel sehingga saluran pernapasan menjadi menyempit
a.6. Lepasnya silia dan lapisan sel selaput lendir
Akibat hal tersebut di atas maka menyebabkan terjadinya kesulitan bernapas, sehingga benda asing termasuk Mikroorganisme tidak dapat dikeluarkan dari saluran pernapasan dan hal ini akan memudahkan terjadinya infeksi saluran pernapasan (Soewasti, 2000).

7. Ventilasi
Ventilasi adalah suatu usaha untuk menyediakan udara segar, mencegah akumulasi gas beracun dan mikroorganisme, memelihara temperatur dan kelembaban optimum terhadap udara di dalam ruangan. Ventilasi yang baik akan memberikan rasa nyaman dan menjaga kesehatan penghuninya (Mukono, 1997).

Penelitian yang dilakukan oleh Soewasti (2000) membuktikan bahwa ventilasi berhubungan dengan kejadian ISPA. Penderita ISPA banyak di temukan pada masyarakat yang mempunyai Ventilasi rumah dengan perhawaan paling kecil (0-0,99 m).

8. Kepadatan Hunian
Kepadatan hunian dapat mempengaruhi kualitas udara di dalam rumah, dimana semakin banyak jumlah penghuni maka akan semakin cepat udara di dalam rumah akan mengalami pencemaran. Hal ini sesuai dengan penelitian Achmadi (1990) yang dikutip oleh Chahaya (2005), bahwa rumah yang padat sering kali menimbulkan gangguan pernapasan terutama pada anak-anak dan pengaruh lain pada anak-anak adalah mereka menekan tumbuh kembang mentalnya.

Menurut hasil penelitian Hidayati (2003) yang di kutip oleh Agustama (2005) menunjukkan bahwa dengan kepadatan rumah yang tidak memenuhi syarat terhadap terjadinya ISPA pada balita sebesar 68% dimana jika terjadi kepadatan dalam hunian kamar akan menyebabkan efek negatif terhadap kesehatan fisik, mental maupun moril. Rumah dengan penghuni kamar yang padat akan memudahkan terjadinya penularan penyakit saluran pernapasan.

Source: http://repository.usu.ac.id/