Sistem Reproduksi: Perbedaan Spermatogenesis dan Oogenesis

loading...
Sistem Reproduksi: Perbedaan Spermatogenesis dan Oogenesis - Gametogenesis adalah proses pembuatan gamet; pada jantan disebut dengan spermatogenesis dan pada betina disebut oogenesis.


Tabel Perbedaan Spermatogenesis dan Oogenesis:

Tabel Perbedaan Spermatogenesis dan Oogenesis

Keterangan tabel nomor 1

Simetris => ukuran oosit yang dihasilkan sama
Asimetris => ukuran oosit yang dihasilkan berbeda, ada yang berukuran besar dan ada yang berukuran kecil

Keterangan tabel nomor 2

Saat perempuan masih berada di dalam kandungan, tepatnya pada bulan ke-5, sel germinativum di ovarium bayi akan membelah secara mitosis menjadi sel-sel oogonium. Pada masa janin tersebut terdapat sekitar 1 juta oogonium di dua ovariumnya. Dan saat bayi perempuan tersebut lahir, oogonium menjadi 400 ribu dan akan berkurang lagi saat dia mengalami menstruasi pertamanya (menjadi 400).

Salah satu dari 400 ribu oogonium di dalam janin akan mengalami masa tumbuh dan berkembang menjadi oosit primer. Oosit primer ini kemudian mengalami dorman (fase istirahat) beberapa tahun hingga anak perempuan tersebut mengalami pubertas.

Seperti halnya pada wanita, sejak bayi laki-laki masih berada dalam kandungan ibunya, tepatnya pada usia ke-5 bulan, janin telah memiliki sejumlah bakal sel kelamin (primordial germ cell), hanya saja pada lelaki bakal sel kelamin tersebut tidak mengalami degenerasi sehingga jumlahnya
pun tetap saat dilahirkan.

Ketika terjadi pembelahan meiosis 1 pada spermatogenesis, dihasilkan 2 spermatosit sekunder, spermatosit sekunder yang satu akan berperan dalam spermatogenesis, sedangkan spermatosit sekunder yang satunya lagi akan bertindak sebagai induk sperma yang nantinya akan mnghasilkan bakal sel kelamin lagi. Hal ini menyebabkan spermatogensis terjadi terus menerus tanpa fase istirahat.

Keterangan tabel nomor 3

Pembelahan pada meosis I pada oogenesis, terjadi secara asimetris (menghasilkan oosit berukuran besar dan kecil), hal ini yang menyebabkan terjadinya polosit. Pada oosit yang berukuran kecil, volume sitoplasmanya lebih kecil dari volume intinya sehingga oosit tersebut tidak lagi dapat melakukan pembelahan dan terjadi degenerasi yang akhirnya disebutlah polosit. Pada meiosis 1 hanya terbentuk satu polosit, sedangkan pada meiosis 2 terbentuk 2 polosit sehingga hasil akhirnya terbentuklah satu sel telur dan 2 polosit.

Hasil pembelahan pada meiosis 1 pada spermatogenesis, berupa spermatosis sekunder dengan ukuran yang sama besar. Rasio ukuran hasil dari pembelahan ini yang menyebabkan sperma tersebut dapat membelah lagi dan pada akhirnya menghasilkan empat sperma yang fungsional.

Keterangan tabel nomor 4