Belajar Biologi | Belajar Sains

7 Penjelasan Lengkap Perbedaan Sel Hewan, Tumbuhan dan Bakteri

Advertisement

Advertisement


loading...

Inilah 7 Penjelasan Lengkap Perbedaan Sel Hewan, Tumbuhan dan Bakteri. Berikut ini daftar perbedaan antara sel tumbuhan, sel hewan dan sel bakteri:

1. Dinding sel


Sel tanaman: Dinding sel tanaman sangat kuat dan kasar. Banyak mengandung Tidak mempunyai dinding
sel Dinding sel terdiri atas rantai polisakarida dan rantai peptida pendek. selulosa yang terikat pada polisakarida dan protein. Fungsinya melindungi membran dari kerusakan mekanis atau tekanan osmosa, dan menyebabkan bentuk sel tetap.

Sel Hewan: Tidak mempunyai dinding sel

Sel Bakteri: Dinding sel terdiri atas rantai polisakarida dan rantai peptida pendek.

2. Membran sel


Sel tanaman: Membran sel tanaman tebalnya +9nm dan mengandung lipida dan protein dalam jumlah yang sama. Lipida tersusun dalam 2 lapisan. Jenis lipida lebih bervariasi daripada lipida penyusun membran sel bakteri. Membran sel tanaman bersifat selektif permeabel, mengandung protein/ensim yang berperan pada pemindahan nutrien dan ion anorganik.

Sel Hewan: Membran sel hewan mirip dengan membran sel tanaman, tetapi komposisi lipidanya beda. Membran bersifat fleksibel dan lengket. Permukaan sel yang lengket penting dalam pembentukan jaringan. Membran sangat selektif permeabel. Mengandung protein ensim yang berperan dalam pengangkutan ion K+ dan Na+, glukosa, asam amino, dll

Sel Bakteri: Membran sel bakteri mengandung +45% lipida dan 55% protein. Lipida menyelu-bungi secara kontinyu dan non-polar. Pada beberapa tempat, membran mengalami pelipatan ke dalam sel yang disebut dengan mesosome. Membran bersifat selektif permeabel. Air, beberapa nutrien dan ion logam dapat bebas melewatinya. Beberapa ensim yang berperan menghasilkan ATP terdapat dalam membran sel bakteri.

Perbedaan Sel Hewan, Tumbuhan dan Bakteri
Sel Hewan, Tumbuhan dan Bakteri


3. Inti Sel


Sel tanaman: Inti sel, anak inti sel serta membran inti sel tanaman mempunyai struktur, komposisi dan fungsi seperti pada sel hewan.

Sel Hewan: Diameter inti sel hewan +4-6μ. Dilapisi oleh selaput/membran berpori sebagai tempat keluarmasuknya bahan ke dalam inti. DNA di dalam inti berasosiasi dengan protein histon dan terorganisir menjadi kromosom. Di dalam inti terdapat anak inti/nukleolus yang kaya RNA, berbentuk bulat, gelap, tetapi tidak dilingkupi oleh membran. Anak inti merupakan tempat terbentuknya RNA. Setiap inti ada 1-4 anak inti. Selama mitosis DNA kromosom mengalami replikasi, kemudian memisah menjadi kromosom anak.

Sel Bakteri: Bakteri tidak mempunyai bentuk inti seperti pada sel tanaman dan hewan. Bahan genetik hanya berupa satu untaian ganda DNA yang tersusun secara heliks. Panjang DNA mencapai 1,2 mm, tetapi terlipat menjadi diameter 2nm. Selama pembelahan sel masing-masing untaian DNA bereplikasi menghasilkan dua molekul untaian DNA kembali. DNA akan ditranskripsi menjadi bentuk messenger (m) RNA. Bakteri juga mempunyai plasmid, yaitu untaian ganda DNA di luar kromosom berbentuk sirkuler. Plasmid dapat bereplikasi secara mandiri tidak tergantung pada replikasi kromosom sel.

4. Mitokondria


Sel Tumbuhan: Mitokondria berbentuk lonjong, dijumpai pada semua sel tanaman. Strukturnya mirip dengan mitokondria sel hewan. Mitokondria mengandung DNA yang tipenya khusus. Di dalam mitokondria, banyak mengandung ensim yang berperan dalam oksidasi nutrien dan perubahan energi menjadi ATP.

Sel Hewan: Jumlah mitokondria dalam sel dapat mencapai 800. Jumlahnya semakin banyak pada sel yang aktif. Membran dalam mitokondria berlipat-lipat. Matriks di dalamnya banyak mengandung ensim yang berperan dalam oksidasi karbohidrat, lipida, asam amino menjadi CO2 dan H2O. Hasil oksidasi adalah ATP untuk sumber energi.

Sel Bakteri: Sel bakteri tidak mempunyai mitokondria. Oksidasi nutrien dilakukan oleh enzim oksidase yang terdapat dalam membran atau mesosome.

5. Endoplasmik Retikulum (ER) dan Ribosome


Sel Tumbuhan: ER pada sel tanaman mempunyai struktur yang mirip dengan ER pada sel hewan.

Sel hewan: ER merupakan membran inti yang melipat-lipat menyerupai lorong. Permukaannya kasar karena ada ribosom yang menempel. ER dari inti menembus sitoplasma menuju luar sel. Ribosome merupakan tempat terbentuknya protein. Ribosom juga tersebar bebas dalam sitoplasma.

Sel Bakteri: Sel bakteri tidak mempunyai ER. Ribosome tersebar dalam sitoplasma. Ribosome sebagai tempat sintesis protein. Setiap sel bakteri E. coli mengandung 15.000 ribosome. Setiap ribosome terdiri atas 2 subunit: subunit besar dan subunit kecil. Setiap subunit terdiri atas 65% RNA dan 35% protein. mRNA terikat pada lekukan diantara 2 subunit RNA saat terjadi sintesis asam amino. Jenis asam amino yang dibentuk sesuai dengan susunan bahan genetik di mRNA

6. Khloroplas


Sel tanaman: Sel tanaman mempunyai plastida yang disebut kloroplas, di dalamnya terdapat khlorofil. Khloroplas dikelilingi oleh membran yang mengandung DNA. Bentuk khloroplas bermacammacam, jumlahnya dapat lebih dari satu per sel. Fungsi khlorofil untuk menerima energi matahari, yang diubah menjadi ATP untuk pembentukan gula dari CO2 dan H2O dalam proses fotosintesis.

Sel hewan: Sel hewan tidak mempunyai khloroplas

Sel bakteri: Bakteri fotosintesik mempunyai khlorofil yang tidak berada dalam khloroplast, tetapi ada dalam membran yang sangat melipat-lipat ke dalam sel, yang disebut membran fotosintetik (tilakoid). Pada alga biru Anabaena azollae tilakoid tersebar di seluruh sel.

7. Vakuola


Sel Tumbuhan: Vakuola merupakan ciri khusus sel tanaman. Ukuran vakuola bertambah dengan bertambahnya umur sel. Vakuola mengandung gula, garam dari asam organik, protein terlarut, garam mineral, pigmen, oksigen dan CO2, yang merupakan bahan sisa maupun cadangan makanan. Bahan tersebut selalu dihasilkan selama sel melakukan aktivitas, sehingga ukuran vakuola semakin lama semakin besar.

Sel Hewan: -

Sel bakteri: Bakteri akuatik mempunyai vakuola yang berisi gas (vakuola gas). Fungsinya agar sel dapat mengapung di lingkungan air, sehingga dapat bergerak naik turun (bouyanci). Vakuola tidak untuk menyimpan cadangan makanan. Cadangan makanan disimpan di suatu bulatan atau granula, berupa polisakarida, lipida, polifosfat, metafosfat, sulfur, dan poli beta hidroksi asam butirat (PHB). Cadangan makanan dimanfaatkan saat kondisi lingkungan miskin, atau saat spora berkecambah.
loading...

Materi Menarik Lainnya:

loading...



Tag : Bakteri, Sel
Back To Top