Belajar Biologi | Belajar Sains

Praktikum: Pengenalan Mesofauna, Makrofauna dan Mikoriza

Advertisement

Advertisement


loading...

PENGENALAN MESOFAUNA, MAKROFAUNA, DAN MIKORIZA
 

A. Pendahuluan


Tanah merupakan bagian di permukaan kulit bumi yang terdiri atas mineral sebagai hasil pelapukan batuan dan bahan organik hasil pelapukan sisa tanaman dan hewan yang mempunyai sifat akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap batuan induk pada keadaan wilayah tertentu dan jangka waktu tertentu.

Tanah merupakan tempat hidup organisme. Organisme tanah berdasarkan ukurannya dibedakan menjadi Fauna tanah diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu: makro fauna, meso fauna, dan mikro fauna. Makro fauna adalah semua hewan tanah yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa bantuan mikroskop dan berukuran lebih dari 10 mm.

Makro fauna tanah terdiri dari: (a) Hewan-hewan besar pelubang tanah seperti: tikus dan kelinci; (b) Cacing tanah; (c) Arthropoda, meliputi: crustacea (kepiting tanah dan udang tanah), chilopoda (kelabang), diplopoda (kaki seribu), arachnida (lebah, kutu dan kalajengking) dan Insekta (belalang, jangkrik, semut, dan rayap); serta (d) Moluska.

Meso fauna adalah semua hewan tanah yang berukuran lebih kecil berkisar antara 0,2 mm s/d 10 mm, sehingga dapat dilihat jelas dengan bantuan kaca pembesar. Makro fauna tanah terdiri dari: Enchytraeida, Protura, Diplura, Paraupoda, tungau-tungau tanah (Acarina) dan springtail (Collembola). Sedangkan mikro fauna adalah hewan tanah yang berukuran sangat kecil yaitu kurang dari 0,2 mm.

Mikoriza adalah kelompok Mikro fauna terdiri dari: (a) Protozoa, seperti: amoeba, flagelata, dan ciliata, dan
(b) Nematoda, seperti: omnivorous dan Predaceus. fungi (jamur) yang bersimbiosis dengan tumbuhan tingkat tinggi khususnya pada sistem perakaran. Simbiosis antara mikoriza dengan tanaman inang tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan pada tanaman yang terinfeksi, kecuali pada tanaman jagung memperlihatkan warna kuning pada akarnya. Pengamatan Mikoriza biasanya dilakukan dengan mengisolasi propagule spora dari tanah rhizosfer, maupun pengecatan akar.
Ciliata
Ciliata adalah salah satu contoh Mikoriza kelompok fauna


Mikoriza merupakan salah satu jamur yang bersimbiosis dengan tanaman tingkat tinggi. FMA (Fungi Mikoriza Arbuskular) diketahui mampu memperbaiki pertumbuhan dan hasil tanaman pada tanah-tanah dengan kondisi yang kurang menguntungkan. Inokulasi FMA secara signifikan meningkatkan produksi bobot kering daun dan status hara (P, Zn, dan Fe) pada daun, serta kandungan minyak atsiri (essential oil) dan artemisinin pada daun tanaman Artemisia annua L. (Hartoyo et al. 2011).

Berdasarkan struktur dan cara jamur menginfeksi akar, mikoriza dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu Ektomikoriza diamana merupakan jamur yang menginfeksi tidak masuk ke dalam sel akar tanaman dan hanya berkembang diantara dinding sel jaringan korteks, akar yang terinfeksi membesar dan bercabang). Sedangkan Endomikoriza merupakan jamur yang menginfeksi masuk ke dalam jaringan sel korteks dan akar yang terinfeksi tidak membesar. Pada ektomikoriza, jaringan hifa cendawan tidak sampai masuk kedalam sel tapi berkembang diantara sel kortek akar membentuk "hartig net” dan mantel dipermukaan akar.

Jamur endomikoriza masuk ke dalam sel korteks dari akar serabut (feederroots). Jamur ini tidak membentuk selubung yang padat, namun membentuk miselium yang tersusun longgar pada permukaan akar. jamur juga membentuk vesikula dan arbuskular yang besar di dalam sel korteks, sehingga sering disebut dengan VAM (Vesicular-Arbuscular Miccorhizal), sebagai contoh jenis Globus dan Acaulospora.

Tanaman yang terjangkit mikoriza ini akan muncul bintil akar simbiosis dengan bakteri pemfiksasi nitrogen. Simbiosis ini ditandai dengan struktur jamur bercabang, arbuscules, yang tumbuh intraseluler tanpa menembus plasmalemma tanaman inangnya (Finlay 2008).

Mikoriza merupakan gabungan simbiotik penting antara jamur (khusus yang hidup pada tanah dan tanaman) dan akar (substrat lain yang berhubungan dengan organ) dari tanaman yang bertangungjawab untuk transfer nutrisi. Arbuscular merupakan jamuar yang tidak bersekat dan diklasifikasikan dalam Glomeromycota.

Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA) memiliki miselium luar longgar yang berfungsi memperluas hifa ke dalam tanah di luar zona deplesi dimana penetrasi sel inang akar berlangsung (Chatterjee et al. 2012).

Kata arbuscular diambil dari karakter struktur, arbuscular mikoriza yang banyak berada dalam sel-sel korteks akar tanaman. Bersama dengan vesikel penyimpanan yang berada dalam atau di antara sel-sel, struktur ini telah dianggap diagnostik untuk simbiosis AM. Berkembangnya hifa intraselular dengan baik terkadang menjadi tidak adanya arbuscular (Smith dan Read 2008).

Verisikel Arbuskular Micorrhizae (VAM) merupakan jenis yang paling berlimpah pada hampir semua komunitas terestrial alami dan membentuk asosiasi simbiosis obligat dengan lebih dari 60% dari tumbuhan vascular. VAM mengambil peran dalam proses pemeliharaan ekosistem dengan cara mendukung kemampuan tanaman dalam berbagai mekanisme; melindungi tanaman inang dari pathogen tanah dan memperbaiki struktur tanah; membantu penyerapan air dan nutrisi; meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk dan pertumbuhan tanaman (Proborini et al. 2013).

B. Tujuan


1. Mengamati dan mengidentifikasi morfologi mesofauna
2. Mengamati dan mengidentifikasi morfologi makrofauna
3. Mampu membedakan perbedaan mesofauna dan makrofauna
4. Mampu melakukanisolasi VAM dari rhizosfer.

C. Alat, Bahan dan Cara Kerja


1. Alat : mikroskop stereo, lup/kaca pembesar, petridish, pinset, saringan 3 tingkatan, preparat, dan deglass.
2. Bahan : mesofauna dan makrofauna dari lahan basah, lahan kering, di bawah tegakan pohon, semak, aquadest, sampel tanah (rhizosfer) jagung.

3. Cara kerja :


a. Pengamatan Makrofauna dan Mesofauna


1) Mencari mesofauna dan makrofauna pada lapisan rhizosfer tanah.
2) Mencuci mesofauna dan makrofauna dengan air bersih lalu diletakkan di petridish.
3) Mengambil fauna dengan pinset dan amati dengan lup/kaca pembesar.
4) Menggambar, identifikasi, dan fungsi setiap fauna.

b. Isolasi Mikoriza


  1. Campur contoh tanah (25 gram) dengan air (100ml) (perbandingan tanah : air = 1:5-10) dalam gelas piala, kemudian aduk rata dan biarkan beberapa detik agar partikel kasar mengendap.
  2. Tuang cairan (didekentasi) melalui saringan kasar (120mikron) untuk memisahkan partikel kasar. Tampung cairan yang melewati saringan pertama. Cuci saringan dengan air mengalir, jangan menggunakan tangan atau benda lain karena dapat merubah ukuran saringan. 
  3. Saring kembali hasil tampungan dari saringan kedua dengan ukuran saringan yang lebih halus (90 mikron). Tampung hasil saringan kedua dan cuci saringan dengan air mengalir.
  4. Saring hasil saringan kedua untuk terakhir kali dengan saringan paling halus (60 mikron). Pindahkan sisa yang tertinggal pada saringan dalam cawan petri (+/- 4 petri). Caranya: balik saringan, semprot pada bagian
    yang terdapat seresah yang tertinggal dengan air dan taruh cawan Petri di bawah saringan.
  5. Amati hasil saringan pada cawan petri di bawah mikroskop binokuler, pisahkan spora dari seresah organik dan hitung jumlah sporanya.
Place Your Ad Code Here

Materi Menarik Lainnya:

loading...



Back To Top