Belajar Biologi | Belajar Sains

Praktikum Mikrobiologi Terapan: Membuat Nata De Coco

Advertisement

Advertisement


loading...

Praktikum Mikrobiologi Terapan: Membuat Nata De Coco
 

A. Pendahuluan


Mikrobiologi sangat kompleks peranannya dalam perkembangan kualitas hidup manusia. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya kegiatan manusia yang melibatkan peranan mikroorganisme dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di bidang industri pangan. Penggunaan mikroba untuk industri makanan telah lama dikenal, seperti pembuatan cuka, roti, yoghurt, nata dan lain-lain. Banyak mikroba yang digunakan dalam proses produk-produk terapan, contohnya seperti pemanfaatan bakteri dalam industri pangan yaitu Acetobacter xylinum dalam pembuatan nata, Rhizopus oryzae dalam pembuatan tempe, Lactococcus lactis dalam pembuatan khefir, Saccaromyces cerevisae dalam pembuatan roti. Mikroba juga dapat digunakan dalam teknik budidaya tanaman, seperti inokulasi mikoriza dengan akar plalet anggrek (Iskandar 2010).
Nata adalah sejenis makanan hasil fermentasi oleh bakteri Acetobacter xylinum, membentuk gel yang mengapung pada permukaan media atau tempat yang mengandung karbon dan asam yang berbentuk padat, kokoh, kuat, putih, kenyal dan mirip kolang- kaling (Purnomo 2009). Proses pembuatan nata oleh bakteri Acetobacter xylinum merupakan kegiatan sintesa selulosa yang dikatalis oleh enzim pensintesis selulosa yang terikat pada membran sel bakteri. Penguraian/fermentasi gula dilakukan melalui jalur heksosa monofosfat dan siklus asam sitrat (Susilawati dan Mubarik 2002). Aktivitas pembuatan nata hanya terjadi pada kisaran pH antara 3,5-7,5 dengan pH optimum untuk pembentukan nata adalah 4 (Nadiyah et al. 2005).
Pembentukan nata terjadi karena proses pengambilan glukosa dari larutan gula oleh sel - sel Acektobacter xylinum. Nata yang terbentuk tergantung dari jenis sumber karbon yang digunakan. Berbagai sumber karbon yang dapat dimanfaatkan adalah air kelapa (nata de coco), air nanas (nata de pina) dan air kecutan tahu (nata de soya). 

nata de coco
Nata de Coco


Dalam pembuatan nata diperlukan nutrisi yang cukup untuk mikrobia, yaitu sumber nitrogen bagi mikrobia maka ditambahkan dengan ekstrak tauge. Nata yang baik dapat dicirikan pada selulosa yang terbentuk berwarna putih dan tidak berbau.

Baca juga:

B. Tujuan Praktikum


1. Mempelajari mikrobia yang berperan dalam pembuatan nata.
2. Mempelajari proses pembuatan nata.

 

C. Alat, Bahan dan, Cara Kerja


1. Alat : toples, kain bersih, pengaduk, pipet, gelas ukur, karet gelang
2. Bahan : air kelapa, air kecutan tahu, air cucian beras, air perasan lidah buaya, air perasan kulit nanas, asam cuka dapur (asam cuka glacial), starter Acetobacter xynilum, gula pasir, ekstrak tauge

 

3. Cara Kerja


  • Merebus air kelapa/air kecutan tahu/air cucian beras/air perasan kulit nanas dalam wadah terpisah sampai mendidih lalu mendinginkannya setelah itu disaring. Air nanas disiapkan dengan cara: memarut nanas lalu memerasnya menggunakan air matang.
  • Membuat ekstrak tauge: 100 gram tauge direbus dengan 2 gelas air setelah itu disaring.
  • Air rebusan yang telah didinginkan dan disaring kemudian ditambahkan 100 gram gula pasir, 100 cc ekstrak tauge kemudian direbus kembali, setelah mendidih didinginkan dan disaring.
  • Menambahkan 100 cc asam asetat glacial 25% (cuka dapur)
  • Menambahkan 100 cc starter biakan murni Acetobacter xylinum.
  • Menuangkan air nata kedalam toples dan menutup toples dengan kain bersih, diikat karet dan dialasi nampan berisi air lalu menginkubasi pada suhu kamar. 
  • Mengamati ketebalan nata pada hari ke-14.
  • Mangangkat nata yang sudah terbentuk dan menimbangnya.
  • Mencuci dan merebus nata serta melakukan analisis organoleptik.

DAFTAR PUSTAKA


  1. Basak B, Md. Ahsan HP, Muhammad SR, Sharif UT, Bimol CR. 2002. Azolla (Azolla pinnata) as a feed ingredient in broiler ration. Poultry Science 1(1): 29-34.
    URL: http://www.pjbs.org/ijps/fin9.pdf.
  2. Chatterjee T, Pradeep KS,Shilipi C. 2012. Diversity of arbuscular mycorrhizal fungi associated with the rhizosphere of some existing plants in iron ore mines of Chhattisgarh, India. Mycorrhiza News 24(2): 7-10
  3. Finlay RD. 2008. Ecological Aspects of Mycorrhizal Symbiosis: with Special Emphasis on The Functional Diversity of Interactions Involving The Extraradical Mycelium. Experimental Botany 59(5): 1115–1126. DOI: ISSN : 0970-69X.
  4. Hadioetomo RS. 1985. Mikrobiologi dasar dalam praktek: Teknik dan prosedur dasar laboratorium. Jakarta: Gramedia. 10.1093/jxb/ern059.
  5. Iskandar, Muhammad Z, Sri M, Umi F, Indah S, Juchairawati. 2010. Pembuatan film selulosa dari nata de pina. J Rekayasa Kimia dan Lingkungan 7(3): 105-111. ISSN 1412-5064.
  6. Kismiyati, Sri S, R. Wahid NY, Rahayu K. 2009. Isolasi Dan Identifikasi Bakteri Gram Negatif pada Luka Ikan Maskoki (Carassius auratus) Akibat Infestasi Ektoparasit Argulus sp. J Ilmiah Perikanan dan Kelautan 1(2): 129-134.
    URL: https://www.scribd.com/doc/190172905/isolasi-bkteri-pdf
  7. Nadiyah, Krisdianto, Aulia. 2005. Kemampuan Bakteri Acetobacter xylinum Mengubah Karbohidrat pada Limbah Padi (Bekatul) Menjadi Selulosa. J Bioscientiae 2(2): 37-47. URL: http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/129/jhptunimus-gdlindahputri-6442-5-daftarp-a.pdf.
  8. Nurjanna. 2001. Isolasi, identifikasi, dan penentuan jumlah bakteri asal tambak tanah gambut.
    J Buletin Teknik Pertanian 6(2): 77-80. ISSN: 0853-8379.
  9. Parwanayomi NMS. 2008. Pergantian populasi bakteri heterotrof, algae, dan protozoa di Lagoon BTDC unit penangan limbah Nusa Dua Bali. J Bumi Lestari 8(2): 180-185.
    URL: http://ojs.unud.ac.id/index.php/blje/article/download/2446/1674
  10. Pelczar M. 1986. Dasar-dasar mikrobiologi. Jakarta: UI Press.
  11. Proborini MW, Made S, Wayan S, Ristiati NP. 2013. Indigenous Vesicular Arbuskular Mycorrhizal (VAM) Fungi in Cashew Nut (Anacardium occidentale L.) Plantation of North East Bali Island Indonesia. Biology, Agriculture and Healthcare 3(3): 114-122.
    URL: http://ebscohost.com/c/articles/89002706.
  12. Purnomo H, Sri A, Aulia A. 2009. Perbandingan kualitas nata de soya antara limbah pembaceman dan limbah pewarnaan dari limbah tempe. J Wahana Bio 2(2): 40-51.
    URL: http://ejournal.unlam.ac.id/index.php/wbio/article/view/23.
  13. Puspitasari FD, Maya S, Nengah DK. 2012. Isolasi dan karekteristik bakteri aerob proteolitik
    dari tangki septik. J Sains dan Seni ITS 1(1): 1-4. ISSN: 2301-928X.
  14. Singleton, Sainsbury. 2006. Dictionary of microbiology and molecular biology. 3rEd. England: John Wiley and Sons Inc. Sussex.
  15. Smith SE, Read DJ. 2008. Mycorrhizal symbiosis. 3rdEd. USA: Elsevier Ltd.
  16. Sumarsih S. 2003. Mikrobiologi dasar. Yogyakarta: Universitas Pembangunan Negeri.
  17. Susilawati L, Mubarik NR. 2002. Pembuatan nata de coco dan nata de radia. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
loading...

Materi Menarik Lainnya:

loading...



Back To Top