Penjelasan Lengkap Sistem Integumen Pada Ikan

loading...
Yang dimaksud dengan sistem integumen adalah kulit dan derivat-derivatnya. Yang termaksud modifikasi sisik adalah gigi pada ikan hiu, jari-jari sirip, gaute, keel, dan beberapa potong tulang tengkorak. Kulit merupakan pembalut tubuh yang berfungsi sebagai alat pertahanan pertama terhadap penyakit, perlindungan dan penyesuaian diri terhadap faktor lingkungan yang mempengaruhi kehidupan ikan (karena itu didalam kulit terdapat alat penerima rangsangan (sensory receptor). Kulit juga digunakan sebagai alat ekskresi dan osmoregulasi. Pada beberapa jenis ikan kulit juga dapat digunakan sebagai alat pernafasan tambahan.

Beberapa alat lain yang terdapat dalam kulit sebagai alat untuk menyerang ataupun mempertahankan diri ialah kelenjar racun, sumber pewarnaan, sumber cahaya, dan kelenjar mucus (lendir) yang membuat tubuhnya licin dan yang memberikan bau khas. Bau yang khas ini diduga merupakan alat komunikasi kimiawi di antara ikan.

 

Struktur Kulit


Kulit terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan luar yang disebut epidermis dan lapisan dalam yang disebut dermis atau corium Epidermis selalu basah karena adanya lendir yang dihasilkan oleh sel-sel yang berbentuk piala yang terdapat di seluruh permukaan tubuhnya.

Epidermis bagian dalam terdiri dari lapisan sel yang selalu giat mengadakan pembelahan untuk mengantikan sel-sel sebelah luar yang lepas dan untuk persediaan pengembangan tubuh. Lapisan ini dinamakan stratum germinativum (lapisan Malphigi).

Dermis lebih tebal daripada epidermis dan tediri dari sel-sel yang susunannya lebih kompak. Lapisan ini berperan dalam pembentukan sisik pada ikan yang bersisik. Derivat-derivat kulit juga dibentuk dari lapisan ini. Pada dermis ini terkandung pembuluh darah, saraf dan jaringan pengikat.
Struktur kulit ikan
Struktur kulit ikan
bagian kulit ikan

Lendir


Sel kelenjar yang berbentuk piala dan terletak didalam epidermis, mengeluarkan suatu zat (semacam glycoprotein) yang dinamakan mucin. Apabila mucin ini bersentuhan dengan air maka akan berubah menjadi lendir. Kegiatan sel kelenjar tersebut akan menentukan ketebalan lendir yang menutupi kulit. Umumnya ikan yang tidak bersisik memiliki lendir yang lebih tebal dibandingkan dengan ikan yang bersisik.
Hal ini merupakan suatu keadaan pengganti ketiadaan sisiknya. Ketebalan sisik yang menyelimuti tubuh ikan tidak selalu sama dari waktu kewaktu. Pada keadaan yang genting, seperti bila melepaskan diri dari bahaya, sel kelenjar akan lebih giat lagi untuk mengeluarkan lendir sehingga lapisan lendir menjadi lebih tebal daripada keadaan normal. 

Lendir berguna untuk mengurangi gesekan dengan air supaya ikan dapat berenang lebih cepat, berperan dalam proses osmoregulasi sebagai lapisan semipermiabel yang mencegah keluar masuknya air melalui kulit, mencegah infeksi dan menutup luka. Pada beberapa ikan, lendir berguna untuk menghindarkan diri dari
kekeringan. 

Ikan paru-paru (Protopterus) di Afrika mengadakan tidur musim panas (summer destivation) pada musim kemarau dengan cara membuat lubang pada dasar sungai yang berlumpur. Apabila dasar sungai menjadi kering selama musim kemarau, ia akan tetap tinggal didalam lumpur yang dibuatnya dan tubuhnya dibungkus dengan lendir agar kulitnya selalu tetap basah. Bila musim penghujan tiba dan sungaipun kembali berair kembali maka ia akan keluar dari lubangnya. 

Beberapa ikan menggunakan lendir untuk membuat sarangnya dalam rangka melindungi telur yang telah dibuahi dari gangguan luar, misalnya ikan sepat siam (Trichogaster pectoralis), sepat rawa (Trichogaster trichopterus) dan lain-lain.

 

Sisik


Sisik sering diistilahkan sebagai rangka dermis karena sisik dibuat dari lapisan dermis. Pada beberapa ikan sisiknya berubah menjadi keras karena bahan yang dikandungnya, sehingga sisik tersebut menjadi semacam rangka luar. Ikan yang bersisik keras terutama ditemukan pada ikan-ikan yang masih primitif. Sedangkan pada ikan modern kekerasan sisiknya sudah tereduksi menjadi sangat fleksibel. 

Disamping ikan-ikan yang bersisik, juga banyak terdapat ikan yang sama sekali tidak bersisik, misalnya ikan-ikan yang termaksud kedalam subordo Siluroidea (Ikan jambal Pangasius pangasius, lele Clarias batrachus, dan belut sawah Fluta alba). Sebagai suatu kompensasi, sebagaimana yang telah dikemukakan, mereka mempunyai lendir yang lebih tebal sehingga badannya menjadi lebih licin.

Sisik pada “paddle fish” (Polyodon) di Amerika Utara hanya terdapat pada bagian operculum dan bagian ekor. Pada ikan mas kaca (Cyprinus carpio var.) sisiknya besarbesar dan tidak merata, kadang-kadang hanya terdapat di sepanjang linea lateralisnya. Ikan sidat, eel (Anguilla) yang terlihat seperti tidak bersisik, sebenarnya bersisik tetapi sisiknya kecil-kecil dan dilapisi lendir yang tebal.
Berdasarkan bentuk dan bahan yang terkandung didalamnya, sisik ikan dapat dibedakan menjadi lima jenis, yaitu cosmoid, placoid, ganoid, cycloid, dan stenoid. Sisik cosmoid hanya terdapat pada ikan fosil dan ikan primitif. Sisik ini terdiri dari beberapa lapisan, berturut-turut dari luar adalah vitrodentine yang dilapisi oleh semacam enamel, kemudian cosmine yang merupakan lapisan yang kuat, dan noncellular, terakhir isopedine yang materialnya terdiri dari substansi tulang. 

Pada lapisan isopedine terdapat pembuluh-pembuluh kecil. Yang menarik perhatian dari sisik ini adalah pertumbuhan sisik ini hanya pada bagian bawah, sedangkan pada bagian atas tidak terdapat sel-sel hidup yang menutup permukaan. Ikan yang memiliki sisik tipe cosmoid ini misalnya Latimeria chalumnae.
Ikan coelacanth, Latemeria chalumnae, jenis ikan purba yang masih hidup
Ikan coelacanth, Latemeria chalumnae, jenis ikan purba yang masih hidup

Sisik placoid hanya terdapat pada ikan bertulang rawan (Chondrichthyes). Bentuk sisik tersebut hampir seperti duri bunga mawar dengan dasar yang bulat atau bujur sangkar. Bagian yang menonjol seperti duri keluar dari epidermis. Susunannya hampir seperti gigi manusia. Pulp (bagian yang lunak) berisikan pembuluh darah dan saraf yang berasal dari dermis. Sisik placoid sering disebut juga dermal denticle. 

Gigi ikan hiu merupakan derivat dari sisik. Seperti halnya dengan sisik cosmoid, sisik ganoid terdiri dari beberapa lapisan. Lapisan terluar dinamakan ganoine yang materialnya terdiri dari garam-garam anorganik. Dibawahnya terdapat lapisan seperti cosmine, dan lapisan paling dalam adalah isopedine. Berbeda dengan sisik cosmoid, sisik ganoid tumbuh dari atas dan bawah. Ikan yang memiliki sisik tipe ganoid ini antara lain Polypterus, Lapisostidae, Acipenceridae, dan Polyodontidae. 

Struktur sisik placoid dan sisik ganoid

Sisik cycloid dan stenoid terdapat pada golongan ikan Teleostei, dimana masing-masing terdapat pada golongan ikan bejari-jari sirip lemah (Malacopterygii) dan golongan ikan berjari-jari sirip keras (Acanthopterygii).

Dibandingkan dengan ketiga sisik terdahulu, kedua sisik ini kepipihannya sudah tereduksi menjadi sangat tipis, fleksibel, transparant, dan tidak mengandung dentine maupun enamel. Pertumbuhan sisik ini terjadi pada
bagian atas maupun bawah.

Struktur sisik cycloid dan sisik ctenoid
Struktur sisik cycloid dan sisik ctenoid

Perbedaan susunan sisik pada (a) ikan Chondrichthyes (tulang rawan) dan (b) ikan Osteichthyes (tulang sejati)
Perbedaan susunan sisik pada (a) ikan Chondrichthyes (tulang rawan) dan
(b) ikan Osteichthyes (tulang sejati)

Bagian sisik yang menempel pada bagian tubuh hanya sebagian, kira-kira separuhnya. Penempelannya secara tetanam kedalam sebuah kantong kecil didalam dermis dengan susunan seperti genting. Sisik yang terlihat adalah bagian belakang (posterior) dengan warna lebih gelap daripada bagian depannya (anterior), karena bagian belakangnya mengandung butir-butir pigmen (chromatophore). Bagian anterior (yang tertanam dalam tubuh) transparan dan tidak bewarna. 

Susunan sisik yang seperti genting tersebut akan mengurangi gesekan dengan air sehingga ikan dapat berenang lebih cepat. Bagian-bagian sisik cycloid pada dasarnya sama dengan sisik stenoid, kecuali bagian posterior sisik stenoid dilengkapi dengan ctenii (semacam gerigi kecil). Fokus merupakan titik awal perkembangan sisik dan biasanya berkedudukan di tengah-tengah sisik.
Di daerah empat musim, sisik dapat digunakan untuk menentukan umur ikan. Circulus selalu bertambah selama ikan hidup. Pada musim dingin pertumbuhan ikan sangat lambat dan jarak antara circulus satu dengan yang lainnya menjadi sempit sekali, kadang malah tampak seperti berhimpitan. Circulus yang berhimpitan ini dinamakan annulus yang terjadi setahu sekali. Annulus ini digunakan untuk menentukan umur ikan. Bagian
yang jelas untuk menentukan umur ikan ialah pada bagian anteriornya.
Circulus pada sisik ikan yang menggambarkan umur ikan
Circulus pada sisik ikan yang menggambarkan umur ikan

Pewarnaan


Ikan-ikan yang hidup di perairan bebas seperti tenggiri (Scomberomorus commersoni) dan lain-lain mempunyai warna tubuh yang sederhana, bertingkat dari keputih-putihan pada bagian perut, keperak-perakan pada sisi tubuh bagian bawah sampai kebiru-biruan atau kehijau-hijauan pada sisi atas dan kehitam-hitaman pada bagian punggungnya. 

Ikan yang hidup didaerah dasar, bagian dasar perutnya bewarna pucat dan bagian punggungnya bewarna gelap. Warna tubuh yang cemerlang dan cantik biasanya dimiliki oleh ikan-ikan yang hidup di sekitar karang, misalnya ikan-ikan yang termaksud kedalam familia Apogonidae, Chaetodontidae, Achanturidae, dan sebagainya. 

Umumnya ikan laut yang hidup dilapisan atas bewarna keperak-perakan, dibagian tengah kemerah-merahan dan dibagian bawah ungu atau hitam. Warna ikan tersebut dikarenakan oleh schemachrome (karena konfigurasi fisik) dan biochrome ( pigmen pembawa warna).

Schemachrome putih terdapat pada rangka, gelembung renang, sisik, dan testes; biru dan ungu pada iris mata; warna-warna pelangi pada sisik, mata dan membrana usus. Yang termasuk biochrome adalah :
  • carotenoid, bewarna kuning, merah dan corak lainnya.
  • chromolipoid, bewarna kuning sampai coklat
  • indigoid, bewarna biru, merah dan hijau
  • melanin, kebanyakan bewarna hitam atau coklat
  • porphyrin atau pigmen empedu, bewarna merah, kuning, hijau, biru dan coklat
  • flavin, bewarna kuning tetapi sering dengan fluorensensi kehijau-hijauan
  • purin, berwarna putih atau keperak-perakan
  • pterin, bewarna putih, merah, kuning dan jingga

Sel khusus yang memberikan warna pada ikan ada dua macam yaitu : Iridocyte (leucophore dan guanophore), yang dinamakan juga sel cermin karena mengandung bahan yang dapat memantulkan
warna di luar tubuh ikan. Bahan yang terkandung dalam sel cermin antara lain guanin kristal (warna keputih-putihan) sebagai hasil buangan metabolisme.

Sel Chromatophore terdapat di dalam dermis. Sel ini mempunyai butir-butir pigmen yang merupakan sumber warna sesungguhnya. Butir pigmen ini dapat menyebar ke seluruh sel atau mengumpul pada suatu titik. Gerakan inilah yang menyebabkan perubahan warna pada ikan. 

Jika butir-butir pigmen mengumpul pada suatu titik maka warna yang dihasilkan secara keseluruhan nampak pucat. Sedangkan jika butir pigmen menyebar, maka warna akan terlihat jelas tergantung pada butir pigmen tersebut. Umumnya satu warna khas tergantung pada kombinasi chromatophore dasar yang mengandung satu warna. Chromatophore dasar ada empat jenis yaitu erythrophore (merah dan jingga), xanthophore
(kuning), melanophore (hitam), dan leucophore (putih).

Warna pada tubuh ikan mempunyai banyak fungsi. Ada yang mengelompokan fungsi-fungsi tersebut kedalam tiga hal yaitu untuk persembunyian, penyamaran, dan pemberitahuan. Jenis warna persembunyian meliputi pemiripan secara umum, pemiripan warna secara berubah, pemudaran warna, pewarnaan terpecah, dan pewarnaan terpecah koinsiden.

Pemiripan warna secara umum antara ikan dengan latar belakangnya merupakan karakteristik dasar ikan untuk memiripi bayangan dan corak habitat dimana mereka tinggal. Setelah apa yang dikemukakan diatas, banyak ikan yang tinggal di sekitar karang, sangat mirip warnanya dengan karang tersebut. Ikan-ikan yang hidup disekitar tanaman air, karena hidup didaerah yang cemerlang dan penuh bayangan, umumnya mempunyai warna tubuh yang berbelang-belang.

Bentuk pemiripan warna pada ikan dengan substrat tempat hidup

Pemiripan warna secara berubah merupakan kemampuan ikan untuk mengubah warna tubuhnya secara perlahan-lahan atau cepat seakan-akan untuk dapat menyamai latar belakangnya dengan lebih sempurna. Beberapa variasi pemiripan warna terjadi secara bersamaan dengan tahapan-tahapan kehidupannya. Ketika hidup di sungai ikan “rainbow trout” (Salmo gairdneri) bewarna-warni, termaksud noktah-noktah gelap (pada waktu muda), dan sisi tubuh yang bewarna jingga (pada saat dewasa).

Di laut ikan ini punyai warna tubuh yang bertingkat, di bagian dorsal bewarna biru, kemudian di bagian sisi bewarna keperak-perakan, dan putih di bagian perut. Perubahan warna sering pula terjadi berhubungan dengan musim, dengan siang dan malam, dan sering berhubungan dengan sesaat dengan kondisi di habitatnya. Pemiripan warna secara berubah ini diatur oleh interaksi saraf dan hormon.
Pemiripan warna secara berubah pada ikan Salmon, Salmo gairdneri
Pemiripan warna secara berubah pada ikan Salmon, Salmo gairdneri

Pemudaran warna pada ikan berfungsi untuk mengurangi kejelasan ikan tersebut dari sekelilingnya sehingga kabur. Salah satu pemudaran warna ini ialah ”counter shading” dimana ikan mempunyai warna di bagian dorsal yang lebih gelap daripada bagian ventralnya. Keadaan yang demikian ini cenderung membuat mereka seperti bidang datar bagaikan bayangan (prinsip Thayer). Counter shading tidak ditemukan pada ikan yang tinggalnya di lubang-lubang. Demikian juga yang hidup pada kedalaman lebih dari 500 meter, dimana cahaya sedikit atau tidak ada sama sekali, tidak mempunyai counter shading. Biasanya ikan-ikan yang hidup ditempat yang kurang mendapat sinar matahari, tubuhnya berkisar bewarna ungu, coklat atau hitam.

Counter shading


Pewarnaan terpecah merupakan suatu upaya untuk mengaburkan padangan pada tubuh ikan. Bila tubuh ikan mempunyai garis-garis warna atau corak kontras yang tidak teratur, maka garis-garis tersebut cenderung mengaburkan pandangan hewan lain yang melihat ikan tersebut.

Pewarnaan terpecah koinsiden merupakan suatu kamuflase khusus, dengan cara membentuk suatu corak yang menyerupai suatu organ tubuh. Sebagai contoh pada ikan kupu-kupu (Forcipiger longirostris) yang hidup di karang-karang, juga beberapa spesies ikan lainnya, terdapat jalur hitam yang melalui kepala dan matanya, sedangkan pada bagian badan yang lain ada tanda yang menyerupai mata. Warna yang demikian digunakan untuk memecah bentuk ikan atau mengaburkan bentuk asli ikan.



Penyamaran adalah suatu cara untuk menyerupai suatu benda tertentu, bukan saja terhadap warna tetapi juga bentuk dan tingkah laku. Ikan gars (Lapisosteus sp.) baik yang muda maupun yang tua mengapungkan dirinya di permukaan air tanpa bergerak sama sekali, sehingga menjadikan dirinya mirip batang atau ranting-ranting tumbuhan dalam bentuk maupun warna. Ikan Monacanthus polycanthus dan Oligoplites saurus tampak menyerupai daun. Bentuk ikan lepu tembaga (Synancaya horrida) mirip batu.

Kalau diatas telah dikemukakan bahwa warna berfungsi untuk menyembunyikan diri, maka pada beberapa jenis ikan bentuk pewarnaannya justru cenderung sebagai pemberitahuan. Diantara sejumlah anggota famili Percidae terdapat ikan air tawar yang corak warnanya sangat cemerlang, pewarnaan yang demikian ini dimungkinkan bermakna untuk pengenalan seksual.

 

Organ Cahaya


Cahaya yang dikeluarkan oleh jasad hidup dinamakan bioluminescens, yang umumnya bewarna biru atau biru kehijau-hijauan. Terdapat dua sumber cahaya yang dikeluarkan oleh ikan dan keduanya terdapat pada kulit, yaitu warna yang dikeluarkan oleh bakteri yang bersimbiosis dengan ikan dan cahaya yang dikeluarkan oleh ikan tu sendiri. Ikan-ikan yang dapat mengeluaran cahaya umumnya tinggal di bagian laut dalam dan hanya sedikit yang hidup diperairan dangkal. 

Sebagian dari padanya bergerak ke permukaan untuk ruaya makanan. Di laut dalam terletak antara 300 – 1000 meter dibawah permukaan laut. Sel pada kulit ikan yang dapat mengeluarkan cahaya disebut sel cahaya atau photophore (photocyt). Ini biasanya terdapat pada golongan Elasmobranchii (Sphinax, Etmopterus, Bathobathis moresbyi) dan Teleostei (Stomiatidae, Hyctophiformes, Batrachoididae).
Ikan lantern, Bolinichthys dengan titik-titik photophore
Ikan lantern, Bolinichthys dengan titik-titik photophore


Cahaya yang dikeluarkan oleh bakteri yang hidup bersimbiosis dengan ikan, misalnya terdapat pada ikan-ikan dari famili Macroridae, Gadidae, Honcentridae, Anomalopodidae, Leiognathidae, Serranidae, dan Saccopharyngidae. Di Laut Banda ikan leweri batu (Photoblepharon palpebatrus) dan leweri air (Anomalops katoptron), yang keduanya termaksud kedalam famili Anomalopodidae, mempunyai bakteri cahaya yang terletak dibawah matanya. 

Kedua ikan tersebut hidup di perairan dangkal. Anomalops mengeluarkan cahaya yang berkedap-kedip secara teratur yang dikendalikan oleh organ cahaya yang keluar masuk suatu kantong pigmen hitam dibawah mata. Photoblepharon menunujukan suatu cahaya yang menyala terus, tetapi dapat pula dipadamkan oleh suatu lipatan jaringan hitam yang menutupiorgan cahayanya.

Bakteri yang dapat mengeluarkan cahaya terdapat didalam kantung kelenjar di epidermis. Pemantulan cahaya yang dikeluarkan oleh bakteri diatur oleh jaringan yang berfungsi sebagai lensa. Pada bagian yang berlawanan dengan lensa banyak pigmen yang berfungsi sebagai pemantul. Ada juga kelenjar yang berisi bakteri itu dikelilingi oleh sel-sel pigmen itu seluruhnya. Pemencaran cahaya yang dikeluarkan oleh bakteri diatur oleh konstraksi pigmen yang berfungsi sebagai iris mata.

Pada ikan Malacochepalus (yang hidup di laut dalam), pengeluaran cahayanya mempunyai peranan dalam pemijahan. Kekuatan cahayanya dapat menerangi sampai sejauh 10 meter dengan panjang gelombang 410 – 600 mμ. Pada musim pemijahan, bila ikan jantan bertemu dengan ikan betina, maka si jantan akan membimbing betinanya untuk mencari tempat yang baik untuk berpijah. Cahaya yang dikeluarkan oleh ikan jantan dipakai sebagai isyarat untuk diikuti oleh si betina.

Angler fish (Linophyrin bravibarbis) yang terdapat di dasar laut mempunyai tentakel yang bercahaya. Diduga ikan ini mempunyai kultur bakteri yang terdapat pada kulitnya. Tentakel yang ujungnya mempunyai jaringan yang membesar itu digerakan diatas kultur bakteri tersebut, sehingga bakteri yang bercahaya terbawa oleh
tentakel untuk menarik perhatian mangsanya. Jadi fungsi organ cahaya pada ikan ialah sebagai tanda pengenal individu ikan sejenis, untuk memikat mangsa, menerangi lingkungan sekitarnya, mengejutkan musuh dan melarikan diri, sebagi penyesuaian terhadap ketiadaan sinar di laut dalam dan diduga sebagai ciri ikan beracun.

Kelenjar Beracun


Kelenjar beracun merupakan derivat kulit yang merupakan modifikasi kelenjar yang mengeluarkan lendir. Kelenjar beracun ini bukan saja dipergunakan untuk pertahanan diri saja, tetapi juga untuk menyerang dan mencari makan. Studi tentang racun ikan ini dinamakan ichthyotoxisme, yang meliputi ichthyosarcotoxisme
(mempelajari berbagai macam keracunan akibat memakan ikan beracun) dan ichthyoacanthotoxisme (mempelajari sengatan ikan berbisa). Jadi ichthyotoxisme tidak terbatas mempelajari yang dikeluarkan oleh kulit saja, melainkan racun yang berasal dari organorgan lain dan gejala keracunan dengan segala aspek-aspeknya.

Ikan-ikan yang sistem integumennya mengandung kelenjar beracun antara lain ikan-ikan yang hidup disekitar karang, ikan lele dan sebangsanya (Siluroidea), dan golongan Elasmobranchii (Dasyatidae, Chimaeridae, Myliobathidae). Beberapa jenis ikan buntal (Tetraodontidae) juga terkenal beracun, tetapi racunnya bukan berasal dari sistem integumennya, melainkan dari kelenjar empedu.

Ikan lepu ayam (Pterois volitans dan Pterois russeli) mempunyai alat beracun yang terdiri dari 13 jari-jari keras sirip punggung, 3 jari-jari keras sirip dubur, dan 2 jari-jari keras sirip perut. Jari-jari kerasnya berbentuk panjang, lurus, ramping dan indah warnanya. Pada bagian sisi kiri kanan jari-jari keras tersebut terdapat celah yang terbuka sehingga membentuk saluran. Jari-jari keras ini dilapisi oleh selaput integumen. 

Pada ikan lepu angin (Scorpaena guttata) alat beracunnya terdiri dari 12 jari-jari keras sirip punggung, 3 jari-jari keras sirip dubur, dan 2 jari-jari keras sirip perut. Ikan lepu tembaga (Synanceja horrida) mempunyai racun yang dapat mematikan manusia. Racunnya ini terdapat pada 13 jari-jari keras sirip punggung, 3 jari-jari keras sirip dubur, dan 2 jari-jari keras sirip perut. Ikan lepu tembaga paling ditakuti oleh nelayan. Badannya berbintil-bintil dengan warna kecoklatan. Ikan lepu tembaga tinggal didasar perairan dangkal berpasir atau berkarang dan di daerah yang terdapat vegetasi samosamo (Enhalus acoroides). 

Gerakannya lamban dan pada siang hari hanya berdiam diri pada waktu yang lama. Permukaan tubuhnya yang mempunyai warna yang mirip benar dengan dasar perairan dan bentuknya seperti batu sehingga ikan ini sukar untuk dilihat. Kadang-kadang kulitnya ditutupi pasir atau bahan lainnya.

Ikan lepu tembaga (Synanceja horrida)
Ikan lepu tembaga (Synanceja horrida)

Dibandingkan dengan lepu ayam atau lepu angin, ikan lepu tembaga mempunyai jari-jari keras beracun yang lebih pendek dan kukuh. Untuk lebih jelasnya, perbedaan jari-jari keras antara ketiga ikan tersebut disampaikan pada Tabel 1

Tabel Perbandingan jari-jari keras beracun ikan lepu ayam, lepu angin, dan lepu tembaga (Halstead, 1959).

Tabel Perbandingan jari-jari keras beracun ikan lepu ayam, lepu angin, dan lepu tembaga (Halstead, 1959)


Ikan beronang (Siganus sp.) mempunyai kelenjar beracun yang terdapat pada 13 jari-jari keras sirip punggung, 4 jari-jari keras sirip perut dan 7 jari-jari keras sirip dubur. Kantung kelenjar pada Siluroidea umumnya terdapat pada dasar jari-jari keras sirip punggung dan dada, yang dilengkapi gerigi yang membengkok ke dalam. Bila kantung kelenjar tersebut tertekan oleh jari-jari siripnya akan mengeluarkan cairan yang beracun melalui sebuah alur yang terdapat pada jari-jari keras tersebut dan diteruskan kedalam luka. Beberapa anggota Siluroidea, misalnya ikan sembilang (Plotosus canius), ikan lele (Clarias batrachus).

Kelenjar beracun ikan pari (Dasyatis) terdapat pada duri di ekornya. Duri ini tersusun dari bahan yang disebut vasodentine. Sepanjang kedua sisi duri tersebut terdapat gerigi yang membengkok ke belakang. Duri tersebut ditandai dengan adanya sejumlah alur yang dangkal sepanjang duri. Sepanjang tepi alur pada bagian bawah duri, didapatkan suatu celah yang dalam. Jika diamati dengan teliti maka pada celah ini akan tampak berisikan suatu jalur berupa jaringan kelabu, ”spongy” lembut meluas sepanjang celah. Racun dihasilkan oleh jaringan ini. 

Meskipun jumlahnya lebih sedikit daripada yang dihasilkan bagian lain dari selaput integumen dan bagian khusus tertentu kulit pada ekor yang terletak didekat duri. Celah ini berfungsi untuk melindungi jaringan kelenjar. Mengingat adanya racun pada duri ekor ikan pari ini, maka para nelayan akan membuang duri tersebut segera setelah ikan tertangkap untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Ikan pari
Ikan pari