Belajar Biologi | Belajar Sains

Evolusi Makhluk Hidup: Pengertian, Sejarah, Bukti dan Mekanismenya

Advertisement

Advertisement


loading...

Evolusi Makhluk Hidup: Pengertian, Sejarah, Bukti dan Mekanismenya


PETA KONSEP:


1. Pengertian, arti penting dan sejarah pemikiran
  • Arti penting Evolusi dalam biologi
  • Sejarah pemikiran

2. Evolusi Fisika dan Kimia
  • Evolusi materi/ fisika
  • Pembentukan bahan organik

3. Evolusi Biologi
  • Ciri- ciri makhluk hidup
  • Beberapa teori asal mula makhluk hidup
  • Evolusi tumbuhan
  • Evolusi hewan

4. Bukti- bukti evolusi
  • Fosil
  • Perbandingan anatomi
  • Biokimia
  • Perbandingan embryologi
  • Organ vestigial

5. Mekanisme Evolusi
  • Seleksi alam
  • Variasi genetic ( mutasi, aliran gen )

1. Pengertian dan Arti Penting


Istilah evolusi berasal dari bahasa Latin EVOLVER yang berarti muncul perlahan atau berkembang perlahan. Saat ini istilah evolusi lebih di pahami sebagai perubahan sesuatu yang bersifat permanen. Artinya perubahan tersebut tidak dapat lagi dikembalikan kepada keadaan semula. Perubahan membutuhkan waktu, dan waktunya sangat panjang.

Evolusi dapat terjadi pada mahkluk hidup ataupun benda mati. Sehingga dapat dikatakan ada evolusi bintang, evolusi kimia, dan evolusi binatang serta tumbuh-tumbuhan. Dari pengamatan para ahli yang mencoba menjawab pertanyaan - pertanyaan tentang dari mana makhluk hidup berasal, dimana dan kapan makhluk hidup muncul dipahami adanya aturan yang menjadi dasar bagi setiap perubahan. Aturan tersebutlah yang biasa disebut teori evolusi. Ahli lain kadang-kadang menyebutnya teori descenden.

Penelitian penelitian yang dilakukan untuk menjawab pertanyaan tentang asal usul makhluk hidup tersebut antara lain menyangkut bagaimana munculnya organ, perubahan populasi, perubahan jenis dan perubahan komunitas. Saat ini peneliti lebih banyak mencoba menerangkan setiap tampilan biologi dari sudut pandang evolusi.

Misalnya kenapa ada daun yang berbentuk jarum dan ada daun yang lebar, kenapa ada burung yang berparuh panjang dan ada burung yang berparuh pendek. Lebih jauh kenapa terdapat perbedaan golongan darah pada manusia, ada manusia yang berkulit hitam dan yang berkulit putih. Dengan demikian hampir seluruh penelitian di bidang biologi menggunakan cara pandang evolusi untuk menjelaskan fenomena biologi yang diamati.

Dalam upaya untuk menjawab pertanyaan tentang asal usul tersebut ditemukan organ, organel, karakter, kromosom, asam nukleat dan senyawa lain yang kemudian menjadi dasar untuk pengembangan ilmu baru di bidang biologi. Dapat dikatakan berkat cara pandang dan pola pikir evolusi lah perkembangan biologi sebagai cabang ilmu menjadi seperti saat ini.

Sejarah Pemikiran


Sesungguhnya pemikiran tentang evolusi dapat dirujuk dari perkembangan awal ilmu pengetahuan dimasa Yunani Purba. Pemikiran Aristoteles tentang asal mula makhluk hidup yang dikenal dengan teori abiogenesis dapat dikatakan awal pemikiran evolusi. Dilanjutkan kemudian dengan para ilmuwan Muslim Ibn Rusyd, Ibnu Al awwam dan lain lain pada Abad ke 11 dan 12. Selanjutnya nama- nama seperti Carl van Linne ( Linneaus) , Cuvier, dan Lamarck pada abad ke awal abad ke19 telah menyumbangkan pengetahuan yang berarti bagi perkembangan teori evolusi.

Perkembangan yang amat menonjol adalah ketika Darwin menerbitkan bukunya yang berjudul “ On The Origin of Species by Means of Natural selection” pada tahun 1859 . Pemikiran Darwin tentang evolusi antara lain terbentuk setelah adanya diskusi yang intensif dengan Alfred Russel Wallace.

Wallace adalah seorang naturalis yang banyak melakukan pengamatan terhadap hewan. Perjalanan Wallace yang terkenal antara lain ke pulau Sulawesi. Dari pengamatan yang dilakukannya, Wallace mengemukakan adanya garis pemisah antara hewan dibagian barat kepulauan Nusantara ( Malayan Archipelago) dengan hewan dibagian timur. Garis tersebut dinamai garis Wallace.

Teori Darwin yang sering juga disebut teori Darwin-Wallace pada prinsipnya menekankan adanya peristiwa seleksi alam yang mempengaruhi pembenrukan spesies. Dengan perkataan lain lingkungan amat berperan dalam pembentukan jenis yang saat ini ada. Variasi dari individu individu dalam satu spesies yang dapat beradaptasi dengan lingkungan akan berkembang dengan baik sementara variasi yang lain yang tidak dapat beradaptasi tentu tidak akan berkembang .

Dalam perkembangan selanjutnya teori Darwin dan Wallace sering dipahami secara salah, se-akan akan hanya yang kuatlah yang akan menang dan terus berkembang. Ungkapan Struggle for Existence” dan “ Survival of the Fittest” seakan beranggapan adanya hukum rimba yang bekonotasi negativ. Seleksi alam sesungguhnya bukan proses seperti hukum rimba tapi proses yang berjalan alami dimana variasi yang cocok untuk suatu lingkungan akan berkembang lebih baik.

Meskipun Darwin dan Wallace telah berkontribusi sangat besar dalam menjelaskan adanya beraneka ragam mahkluk hidup namun saat teori ini dikembangkan belum ada penjelasan yang cukup dari mana datangnya variasi tersebut dan bagaimana proses terbentuknya. Barulah setelah Mendel , seorang rahib dan peneliti Austria mengemukakan teori pewarisan sifat , penjelasan tentang adanya variasi menjadi lebih jelas. Variasi ditimbulkan oleh adanya perbedaan factor genetic dalam sel.

Dengan demikian Mendel telah menyempurnakan hal-hal yang semasa Darwin belum dapat dijelaskan secara sempurna. Teori evolusi yang berkembang saat ini jauh lebih kompleks dan merupakan hasil pemikiran banyak ahli. Teori ini berkembang secara perlahan dengan kontribusi para ahli biologi dengan spesialisasi yang sangat beragam.

Seperti penemuan struktur DNA oleh WATSON dan CRICK, rumusan matematik Hardy- Weiberg dan temuan-temuan fossil oleh EUGENE DUBOIS dan lain lain.


Evolusi Makhluk Hidup: Pengertian, Sejarah, Bukti dan Mekanismenya
Evolusi Makhluk Hidup: Pengertian, Sejarah, Bukti dan Mekanismenya


2. Evolusi Fisika dan Kimia


Evolusi Materi


Penelitian kimia dan fisika ternyata juga memperlihatkan adanya evolusi pada materi dan unsurkimia. Pertanyaan yang sering muncul bagaimana proses kelahiran alam semesta dan seluruh unsur kimia tersebut belum bisa di jawab secara tepat dan final, mengingat hal tersebut merupakan proses yang telah berlangsung sangat lama.

Namun dari bukti- bukti fisika inti dan kimia ruang angkasa ada petunjuk yang mungkin bisa digunakan. Petunjuk tersebut juga bisa dikatakan sebagai petunjuk dengan tingkat kemungkinan kebenaran yang tinggi ( lihat Kull, U. 1977). Alam semesta atau universum tersusun dari miliaran galaksi yang tersebar tidak merata.

Sinar yang berasal dari galaksi-galaksi tersebut dari hasil analisis spectrum ternyata menunjukkan perbedaan dengan spectrum cahaya yang kita kenal di bumi. Ada kecenderungan untuk terbentuknya spectrum yang mempunyai panjang gelombang lebih tinggi. Jadi melewati panjang gelombang sinar merah.

Hal tersebut dimungkinkan berlangsung karena adanya gerakan menjauh dari masing masing Galaksi. Artinya sejak dulu sampai sekarang telah terjadi gerakan saling menjauh dari galaksi dalam universum. Alam semesta makin menjadi luas dan menggelembung. Jika berfikir sebaliknya ,tentulah universum berawal dari satu massa padat. Dengan perkataan lain galaksi yang banyak saat ini bearsal hanya dari satu bintang pada walnya. Bintang atau massa padat tadi meledak dan inilah yang disebut Teori BIG BANG. Jadi ada perubahan perlahan (evolusi ) alam semesta.

Setelah adanya dentuman/ledakan besar tersebut baru terbentuk materi , ruang dan waktu. Artinya materi dari waktu kewaktu mengalami perbahan baik jenis, sifat maupun kuantitas relatifnya. Artinya evolusi kimia dan fisika telah dan masih berlangsung.

Evolusi bahan organik


Peristiwa yang relative lebih jelas menggambarkan adanya evolusi kimia dan sekaligus fisika adalah terbentuknya senyawa-senyawa organic makro molekul dari senyawa-senyawa sederhana. Pada beberapa meteorit ditemukan senyawa yang lebih sederhana. Meteorit Murchison misalnya mengandung senyawa asam amino seperti Prolin, Alanin dan Valin . Dapat di pastikan bahwa senyawa senyawa tersebut berasal dari molekul sederhana seperti NH 3 , Air dan CO 2.

Contoh lain adalah pembentukan gula ribose dan beberapa gula lain dari senyawa Formaldehiyd dan Acetaldehyd. Selain itu beberapa senyawa kimia yang terdapat pada makhluk hidup yang tergolong senyawa optis aktiv diduga hasil evolusi kimia dalam tubuh makhluk yang berjalan sesuai evolusi organisme tsb. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa baik materi terkait dengan perubahan factor fisika mengalami proses evolusi. Hal yang sama juga terjadi dengan bahan kimia yang berevolusi dari unsure dan senyawa sederhana menjadi senyawa kompleks dan makro molekul.

3. Evolusi Biologi


Ciri-ciri makhluk hidup


Evolusi biologi atau boleh juga disebut evolusi makhluk hidup berlangsung setelah terbentuknya bahan-bahan organik. Seluruh mahkluk hidup mesti mengandung dari bahan organik. Seperti telah dikemukakan bahan organic tadinya terbentuk dari bahan kimia yang lebih sederhana seperti air dan karbondioksida. Dengan demikian ciri makhluk hidup terpenting adalah adanya kandungan bahan organic tersebut.

Barulah kemudian disepakati cirri-ciri lain. Selengkapnya cirri-ciri tersebut adalah sebagai berikut.

1. Tersusun dari bahan organik


Makhluk hidup mulai dari arkeobakteri sampai kepada hewan chordata pasti mengandung bahan organic. Misalnya DNA . DNA diketahui mengandung gula deoxyribosa.

2. Melakukan metabolisme


Seluruh makhluk hidup diketahui melakukan metabolism. Artinya membutuhkan bahan mentah dari luar tubuhnya dan kemudian diolah untuk mendapatkan energy bagi kelangsungan seluruh aktivitas hidupnya. Bakteri paling sederhana sekalipun membutuhkan bahan dari luar tubuhnya.

Metabolisme dapat diuraikan menjadi beberapa aktivitas sebagi berikut:
a. Nutrisi, yaitu aktivitas pengambilan bahan makanan untuk kelangsungan hidup.
b. Respirasi, yakni pengolahan bahan hasil nutrisi menjadi energi. Dapat juga dikatakan bahwa respirasi adalah pengubahan senyawa kimia berenergi tinggi menjadi senyawa lain untuk kebutyuhan organism.
c. Ekskresi, yaitu pengeluaran sisa yang tak diperlukan.

3. Reproduksi


 Merupakan proses untuk mempertahan kan kelangsungan hidup jenis organism. Dengan bantuan energi yang dihasilkan dari proses metabolism organisme dapat mengantisipasi kemungkinan kepunahan. Istilah reproduksi juga menyangkut istilah perkembangan. Reproduksi sel pada makhluk multiseluler sesungguhnya awal dari proses perkembangan.

4. Iritabilitas


Adalah kepekaan terhadap rangsangan. Setiap makhluk hidup mempunyai kemampuan untuk menanggapi rangsangan. Perubahan factor abiotik biasanya ditanggapi dengan suatu aksi yang secara keseluruhan dapat disebut dengan adaptasi. Adaptasi tersebut terkait evolusi dan hereditas. Perubahan factor genetik sebagai upaya adaptasi adalah langkah penting evolusi.

Teori asal mula makhluk hidup


Sampai saat ini dalam tulisan-tulisan ilmiah baik yang berupa buku maupun jurnal ditemukan berbagai teori tentang asal mula makhluk hidup. Untuk lebih memudahkan pemahaman dilakukan penyederhanaan dan pengelompokan teori tsb sebagai berikut:

1. Teori Abiogenesis :


Dikemukakan oleh ARISTOTELES yang berpendapat bahwa mahkuk hidup berasal dari benda mati. Lebih jauh berarti makhluk hidup berasal dari sesuatu yang tidak hidup. Makhluk hidup terbentuk secara spontan, sehingga dalam bahasa Inggeris biasa disebut Spontaeous Generation. Teori ini kemudian di bantah oleh sejumlah eksperimen oleh beberapa ahli seperti Francesco Redi ( 1626 – 1697) dan Louis Pasteur (1822- 1895).

2. Teori Biogenesis;


Teori ini beranggapan bahwa sebuah kehidupan berasal dari sebuah kehidupan yang sudah ada sebelumnya. (omne vivum ex vivo). Namun tentu saja penjelasan ini belum memuaskan mengingat pertanyaan dari mana datangnya mahkluk hidup yang pertama tersebut belum terjawab.

3. Teori Urey:


Teori ini berpendapat bahwa makhluk hidup berasal dari bahan-bahan kimia melalui radiasi sinar kosmis. Teori ini disempurnakan oleh Stanley Miller dan A.I. Oparin. Jadi menurut teori ini makhluk hidup berasal dari bahan kimia. Sesuai dengan evolusi kimia kemungkinan bahan awal tsb adalah senyawa anorganik sederhana yang berevolusi menjadi senyawa organic sampai terbentuknya makromolekul seperti yang banyak dijumpai dalam tubuh mahkluk hidup. Jika dicermati lebih jauh teori ini sesungguhnya dapat dikatakan sebagai teori Abiogenesis yang ditambahkan dengan keterangan bahwa bahan kimia sebagai asal dari makhluk hidup.

Melalui penelitian-penelitian lanjutan semakin banyak bukti untuk berpendapat bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati yakni bahan kimia. Mungkin teori ini bisa disebut dengan nama Teori Neoabiogenesis, artinya neoabiogenesis yang baru.

EVOLUSI PROKAYOTA dan TUMBUHAN


Makhluk hidup paling awal dan paling primitive diduga adalah bakteri dan alga biru ( kingdom MOnera).Kedua kelompok makhluk ini mempunyai inti tanpa membrane ( prokaryon) dan pada umumnya tidak melakukan reproduksi seksual. Fossil tertua di perkirakan berusia 3,1 miliiar tahun. Diperkirakan bakteri dan alga biru ini juga tidak mempunyai organel seperti yang dijumpai pada organism eukayota.

Makanan mereka mungkin asam amino dan nukleotid. Karena rendahnya konsentrasi asam amino dan nukleotid di lingkungan saat itu maka perkembangan bakteri ini relative lambat( Kull,1977 ). Reproduksi mungkin terjadi hanya ketika membrane atau dinding yang melingkupi informasi genetik pecah karena tekanan luar seperti arus air. Protein dan gen mungkin juga terbagi secara kebetulan dengan jumlah dan komposisi yangtidak sama.

Dengan demikian hanya pecahan yang mempunyai protein dan gen yang cukuplah yang bisa melanjutkan hidupnya. Melalui penambahan bermacam-macam bahan kimia kemungkinan terbentuklah bakteri yang mendekati struktur bakteri yang kita kenal saat ini. Pembentukan struktur baru memungkinkan perubahan proses metabolisme. Semakin bertambahnya jumlah mahkluk hidup yang berarti makin banyaknya bahan organic yang telah terikat menjadi makhluk menyebabkan ketersediaan bahan organic di luar tubuh mahkluk hidup menjadi sangat berkurang. Keadaan ini memberikan keuntungan kepada makhluk hidup yang kebetulan dapat membuat zat organic sendiri( autotroph).

Bagaikan reaksi berantai keadaan ini akan mendorong makhluk yang sudah ada mengembangkan kemampuan metabolismenya sejalan denga terbentuknya senyawa senyawa kimia seperti adenosine triposfat dan klorofil. Begitulah selanjutnya secara berurutan kita kenal bakteri heterotrof primer (mengambil bahan organic dari alam) => bakteri autotrof => bakteri heterotrof sekunder (mengambil bahan organic dari bakteri autotroph yang sudah mati => bakteri parasit (memenuhi kebutuhan energy secara langsung dari bakteri autotroph). Saat ini seluruh kelompok bakteri tersebut masih ditemukan dan ini memperkuat dugaan yang telah dikemukakan.

Selanjutnya tentu perlu dijawab pertanyaan bagaimana organisme eukaryot terbentuk dari organism prokaryot yang telah ada. Hipotesis atau dugaan yang dikemukakan antara lain adalah melalui mekanisme endosimbiosis. Artinya ada simbiosis antara dua atau lebih prokaryot. Prokaryot yang pertama dimasuki dengan cara invaginasi oleh prokaryot yang lain ( prokaryot kedua). Prokaryot yang kedua ini hidup dan berkembang dalam tubuh prokatyot pertama. Sehingga lama kelamaan seaka-akan prokaryot kedua menjadi bagian tubuh dari prokaryot pertama.

Mengingat cara masuk prokaryot kedua secara invaginasi maka membrane mereka menjdi ganda. Membran luar berasal dari prokaryot pertama dan membrane kedua dari prokaryot kedua( membrannya sendiri). Begitulah dengan demikian dalam tubuh prokaryot menjadi berkembang suatu protein atau nukleotid yang berselaput, lahirlah organisme eukaryot.

Bukti bukti yang diajukan untuk mendukung hipotesis ini antara lain sebagai berikut seperti dikemukakan oleh Kull (1977) dan Kaufman et al (1989).

1. Mitochondria dan Plastida pada eukaryote sekarang bermembran ganda.
2. Mitochondria dan plastid mampu membelah sendiri.
3. Beberapa Algae dapat melakukan endosimbiose dengan alga lain.

Setelah terbentuknya eukaryot uniselluler baik yang berupa kelompok alga , maupun protozoa terbentuklah organisme multiselluler seperti alga-alga Charophyta, Chlorophyta serta hewan Porifera dan Coelenterarata.

Terbentuknya alga multiseluller diduga berlangsung melalui pembentukan koloni. Contoh yang sering dikemukakan adalah Chlamydomonas ( unisel) , Gonium dengan 16 sel dan Pleodorina dengan 32 sel tapi hanya 28 yang dapat membelah dan dilanjutkan dengan koloni Volvox yang sudah ada pembagian pekerjaan.

Tahapan berikutnya adalah terbentuknya alga yang berfilamen dan yang berbentuk thallus Selanjutnya terdapat setidaknya dua jalur evolusi alga. Satu jalur adalah jalur Chlorophyta dan jalur yang lain jalur Charophyta. Perbedaan prinsip dari kedua jalur ini adalah adanya perbedaan struktur flagella. Setelah terbentuknya Alga tahapan berikutnya adalah terbentuknya Bryophyta.

Dalam beberapa hal mungkin ada alga saat ini yang berkembang dalam waktu yang bersamaan dengan Bryophyta, Para ahli berbeda pendapat mengenai evolusi Bryophyta. Ada yang berpendapat bahwa Bryophyta berasal dari tanaman darat berpembuluh yang mengalami reduksi sementara ada yang berpendapat bahwa tanaman darat berpembuluh hasil evolusi dari Bryophyta. Ada pula kelompok lain yang berpendapat bahwa Bryophyta dan tanaman darat merupakan dua jalur evolusi dari alga. Dalam kelompok Bryophyta , lumut daun adalah kelompok yang dianggap paling maju dibandingkan lumut hati dan lumut tanduk. Karena lumut daun (Bryopsida) memiliki struktur anatomi dan morfologi yang lebih kompleks. Selain itu hal ini didukung olah adanya fosil lumut ini pada periode geologi yang lebih muda usianya ( Permian).

Pteridophyta atau paku-pakuan diduga merupakan hasil evolusi dari tanaman alga air tawar atau alga laut. Kemungkinan adalah alga Choloechaete. Fosil fosil yang terlah ditemukan antara lain adalah Rhynia gwyinne-vaughanii menyerupai Psilotum yang masih hidup saat ini . Fosil lain misalnya Horneophyton, Cooksonia dan Zosterophylon . Untuk paku=pakuan yang tergolong Microphyllophyta juga ditemukan fosil yang mirip dengan Lycopodium yaitu Asteroxylon. Bahkan susunan stele nya juga amat mirip, sementara fosil Selaginellites juga amat mirip dengan Selaginella yang masih ada saat ini.

Rhynia yang berbentuk seperti batang rumput dengan daun yang sangat kecil berevolusi menjadi bentuk paku yang ada saat ini melalui proses hipotetik yang disebut teori TELOM. Teori inidikemukakan oleh Zimmerman. Menurut teori ini ada lima elemen penting yang dapat dijadikan dasar untuk menerangkan kenapa dari suatu nenek moyang paku yang bentuknya seperti batang rumput bisa dihasilkan bentuk tanman paku yang sangat beragam.

Elemen tersebut adalah :
1. Overtopping
2. Planation
3. Recurvation
4. Reduction
5. Webbing

Tanaman berbiji merupakan hasil evolusi lanjut dari paku-pakuan. Sangat banyak contoh baik fosil maupun yang masih hidup pada Gymnospermae yang dapat dikaitkan dengan jenis-jenis tanaman paku. Fosil yang dijumpai dari Gymnospermae antara lain dari Protopteridium, Archaeopteris dan Aneuruphyton . Kemajuan penting yang terjadi pada Gymnospermae adalah spora ( dalam hal ini spora betina/ makrospora) yang telah mempunyai lapisan pembungkus sehingga makrospora lebih terlindung. Pembungkus ini disebut Makro atau mega sporangium.

Makrosporangium inilah yang kemudian menjadi tempat berkembangnya gametophyte betina. Pada tanaman Angiosperma terjadi lagi kemajuan. Gametophyt yang tadinya relative tidak berwarna-warni sekarang menjdi sangat berwarna warni dengan pola warna dan bentuk yang berbeda. Perbedaan warna dan bentuk ini diduga terkait dengan koevolusi antara tumbuhan dan hewan. Berkembangnya jenis-jeinis serangga dimanfaatkan pula oleh tumbuhan untuk prose penyerbukan dan dispersi (pemencaran ). Pada tanaman anggrek misalnya kita melihat ada labellum ( salah satu mahkota bunga) yang mengimitasi bentuk serangga tertentu. Imitasi bentuk mahkota bunga ini tentu berkaitan dengan upaya tumbuhan menarik serangga yang diimitasi untuk keuntungan anggrek.

Begitulah tumbuhan berbunga (Angiospermae) berkembang dari tumbuhan sebelumnya yang awalnya dapat ditelusuri sampai kepada alga bersel tunggal (monadal). Perubahan morfologi yang terjadi diperkirakan terkait dengan perubahan tantangan dan adaptasi tumbuhan tersebut terhadap tantangan. Perpindahan tanaman dari air kedarat diduga menjadi pemicu lahirnya pembentukan pembuluh. Jadi dari tanaman air yang tak berpembuluh berevolusi menjadi tanaman darat yang berpembuluh. Perbedaan ekologis pada habitat dan ketersediaan makanan juga memicu perubahan morfologis dan anatomis pada tumbuhan sehingga akhirnya terbentukalah beragam tumbuhan darat yang saat ini kita lihat. Fosil-fosil seperti Eurystoma dan Stamnostoma memperlihatkan bentuk awal tumbuhan berbunga.

EVOLUSI HEWAN


Evolusi hewan diduga diawali dengan peralihan dari prokayota menjadi protozoa. Mirip dengan proses evolusi pada tumbuhan ditahap awal, evolusi berlangsung melalui endosimbiosis. Dari protozoa barulah terbentuk hewan metazoan yang bersel banyak seperti Porifera dan Coelenterata. Pertanyaan yang penting untuk dicari jawabannya adalah factor alam apakah yang mendorong terbentuknya makhluk multi seluler dari makhluk uniseluler dan keuntungan apakah yang diperoleh dengan perubahan tersebut?.

Beberapa pendapat telah dikemukakan oleh para ahli. Ada yang berpendapat bahwa ketika bumi hanya dihuni oleh hewan uniseluler tentulah rantai makanan sangat sederhana. Bakteri dan Protozoa yang bersel tunggal( uniseluler) hanya bersifat heterotrof , yakni hanya memakan alga biru atau bakteri lain yang sudah mati. Itu menyebabkan populasi alga biru ini menjadi sangat tinggi. Hal tersebut menimbulkan persaingan antar mereka menjadi besar.

Dari banyak penelitian ekologi diketahui bahwa suatu jenis menjadi semakin berkembang bila ada jenis lain yang dapat memakan mereka. Alga biru mengalami proses evolusi karena ada perbedaan habitat dan persaingan antar populasi dan intra populasi. Evolusi ini kemudian melahirkan bentuk hidup yang berbeda. Lahirlah alga biru yang berkoloni dan berbentuk filament. Perbedaan bentuk hidup alaga biru ini kemudian mendorong lahirnya bermacam-macam tipe protozoa. Dari yang hanya mempunyai pseudopodia , punya flagella, bercillia atau malah yang parasit. Pola rantai makanan berubah, dari hanya heterotrof mulai ada yang phagotrof.

Protozoa yang mempunyai pseudopodia mulai mengambil makanan dengan cara phagositosis. Persaingan untuk mendapat kan makanan antar hewan protozoa makin meningkat . Muncul herbivore dan carnivore. Carnivora dalam hal ini beberapa protozoa mulai memakan protozoa yang lain. Situasi ini dimanfaatkan pula oleh beberapa protozoa untuk berkoloni guna memudahkan mendapatkan makanan. Koloni protozoa inilah yang diduga menjadi awal pembentukan hewan multiseluler. Fosil yang dijumpai antara lain NOd osuria, Polystomella, Globigerina.

Hewan Porifera diduga berasal dari koloni seperti ini. Meskipun tidak ada bukti fosil yang meyakinkan tentang terbentuknya Porifera dari koloni Protozoa, para peneliti seperti Ernst Haeckel mengajukan teori Gastraea. Teori ini mencoba menerangkan bahwa pembenukan porifera kemungkinan melalui fase seperti ontogeny hewan.

Dalam ontogeny diketahui bahwa embryo yang multiselluer terbentuk dari zigot yang membelah melalui stadium morula, blastula dan gastrula.( Lihat embryologi pada Amphibia). Begitlah selanjutnya diperikrakan dari Protozoa proses evolusi berjalan kedua arah. Satu cabang kearah Porifera dan cabang yang lain kearah Coelenterarata. Dari Coelenterata berkembang ketiga arah. Arah pertama proses evolusi menghasilkan cacing Platyhelminthes. Arah kedua menghasilkan kelompok Annelida dan arah yang ketiga menghasilkan vertebrata dan echinodermata. Dari Annelida kemudian berevolusi kedua arah.

Arah pertama ke Arthropoda dan yang kedua ke Molluska. Evolusi hewan Vertebrata diawali dengan klas Pisces berkembang menjadi amphibia, reptilia , aves dan terakhir mammalia. Dalam klas mammalian kemudian belangsung pula evolusi kebanyak arah seperti adanya kelompok yang mengembangkan alat gerak menyerupai burung sehingga terbentuk kelompok kelelawar, marsupialia, cetacean , monotremata, primate dan carnivore.

Bentuk antara seperti Monotremata yang bertelur dan sekaligus menyusui memperkuat dugaan bahwa ada hubungan antara Aves dan Mammalia. Hal yang sama juga dapat dilihat dari adanya hubungan kesamaan antara Reptilia yang bersisik dengan mammalian yang bersisik seperti Manis javanica ( trenggiling). Selanjutnya dari kelompok primate diduga evolusi berjalan kearah terbentuknya Hominid . Fosil fosil hominid seperti Australopithecus, Pithecanthropus yang banyak dikenal diperkirakan menjadi bukti keterkaitan manusia (Homo sapiens) dengan primate yang lain. Banyak ahli memperkirakan nenek moyang manusia adalah hominid seperti Pithecanthropus dan beberapa hominid lain.

Diskusi yang intensif masih tetap berlangsung apakah nenek moyang manusia adalah primate yang telah dikemukakan diatas ataukah ada jalur lain, ataukah manusia terbentuk secara tersendiri. Namun yang jelas seperti telah dinyatakan terdahulu ,semua makhluk tersebut terbentuk dari sebuah awal adanya evolusi dari bahan kimia. Manusia dan makhluk lainnya sama- sama terbentu dan tercipta dari bahan-bahan kimia. Bahan kimia mungkin berasal dari air, tanah atau dari udara.

5. Bukti-Bukti Evolusi


Bukti bukti evolusi dapat dibagi kedalam kelompok sebagai berikut. : Metzler (1983) misalnya mengajukan bukti-bukti sbb:

1. Bukti dari susunan tubuh dan struktur makluk hidup saat ini.


Seluruh makhluk hidup diketahui tersusun dari sel. Baik yang satu sel maupun yang bersel banyak. Bila dibandingkan satu hewan dengan hewan yang lain ada persamaan dan ada perbedaan. Ada hewan yang sangat mirip satu sama lain. Sehingga mereka disebut satu spesies ( jenis). Ada yang mulai mempunyai perbedaan tapi masih memiliki banyak persamaan , lalu digolongkan menjadi sati genus. Begitulah seterusnya ada yang menjadi satu familia , ordo, klas dan seterusnya. Ayam kampung amat mirip dengan ayam hutan.

Ayam tersebut meski mempunyai kemiripan dengan itik atau beberapa burung lain. Tapi jelas juga mempunyai perbedaan. Adanya kemiripan dan perbedaan tersebut dapat menjadi alasan untuk mengatakan bahwa mereka mungkin dulu berasal dari nenek moyang yang sama lalu kemudian mengalami perubahan ( baca evolusi).

Organ organ pada makhluk yang berbeda seperti jantung pada ikan, katak, reptil, burung dan mammalian meskipun mempunyai perbedaan tapi tetap dapat diturunkan dari suatu bentuk awal berupa pembuluh darah yang menebal. Tangan manusia, tangan monyet, sirip pada kura-kura laut dan beberapa hewan lain juga dapat dilihat kesamaannya. Organ seperti itu disebut denga organ yang homolog. Jadi adanya organ yang homolog ini mungkin menjadi petunjuk adanya kesamaan asal usul.

2. Bukti- bukti paleontologi


Dari fosil-fosil yang telah ditemukan ada petunjuk bahwa fosil tersebut dapat dikaitkan dengan makhluk hidup yang ada saat ini. Fosil ini dapat pula ditentukan usianya. Karena itu orang dapat memperkirakan kapan kira-kira satu kelompok makhluk hidup terbentuk. Misalnya kapan ikan mulai terbentuk dan kapan pula monyet terbentuk. Perbedaan usia fosil tersebut seakan member petunjuk bahwa hewan tidak terbentuk sekali gus . Artinya ada pembentukan bertahap. Untuk beberapa kelompok organisme seperti kuda ada fosil yang menunjukkan urutan pembentukan yang relatif jelas. Dari pengamatan terhadap fosil juga dapat diketahui adanya bentuk peralihan antara dua kelompok organism. Misalnya peralihan dari reptil ke burung seperti ditunjukkan oleh fosil Archaeopteryx.

Fosil tersebut juga memberi petunjuk bahwa perubahan organ yang sudah terjadi tidak bisa berbalik. Artinya sekali sudah berubah kesatu bentuk tertentu organ tidak bisa berbalik kebentuk semula ( irreversible). Misalnya pengurangan jumlah jari pada kuda atau badak tidak bisa berbalik. Kehilangan gigi pada burung dalam perkembangan selanjutnya tidak pernah muncul kembali.

3. Bukti bukti dari tingkah laku hewan


Hewan hewan yang tubuhnya mirip juga mempunyai kelakuan yang agak sama. Jenis jenis itik yang tubuhnya mirip meski berbeda jenisnya tingkah lakunya amat mirip. Sapi, banteng yang diduga dekat hubungan kekeluargaannya juga mempunyai tingkah laku yang hamper sama.

4. Bukti Parasitologi


Hewan hewan parasit terkait sangat erat dengan inangnya. Jadi ada parasit yang sangat spesifik untuk hewan dan kelompok terdekatnya. Inang yang berkerabat dekat juga mempunyai parasit yang agak berkerabat. Misalnya kutu manusia juga ada pada simpanse tapi kutu tersebut tidak dapat berkembang pada hewan lain. Artinya bila ada kelompok organisme mempunyai kesamaan parasit maka hampir dapat dipastikan mereka juga berasal dari nenek moyang yang sama atau berdekatan.

5. Bukti-bukti Biokimia


Seluruh makhluk hidup memiliki kesamaan yang tak terbantah.Kesamaan tersebut antara lain meliputi :
- Struktur dasar kimiawi ( seperti adanya DNA dan RNA)
- Katalisator yang berupa enzim yang mengandung protein
- Cara mendapatkan energy melalui Glikolisis

6. Mekanisme evolusi


Bagaimana sesungguhnya evolusi berlangsung diperkirakan secara berbeda oleh banyak ahli;

Berikut ini ditampilkan mekanisme evolusi oleh berbagai ahli seperti yang dikemukakan oleh Metzler (1983):

1. Teori Lamarck


Menurut Lamarck perubahan organ pada mahkluk terkait dengan pemanfaatan organ tersebut. Organ yang dipergunakan dengan cara terentu akan menghasilkan bentuk organ tertentu pula. Misalnya jerapah berleher panjang karena nenek moyang mereka dulu suka menjulurkan leher untuk mencapai daun dari pohon pohon yang agak tinggi, Semakin tinggi daun yang akan dijangkau maka akan makin panjang pula leher jerapah. Sebaliknya bila organ tidak digunakan maka organ tersebut akan mereduksi. Menurut Lamarck kehilangan kaki pada ular terjadi karena tidak dipergunakan. Teori ini dibantah oleh banyak ahli.

2. Teori Darwin


Menurut Darwin perubahan organ terjadi karena seleksi alam. Menurut Darwin makhluk hidup mengahasilkan banyak keturunan, bahkan lebih banyak dari yang diperlkan untuk mempertahankan kelestarian jenis. Sementara tempat hidup yang cocok untuk keturunan tersebut tidak bertambah. Keturunan yang dihasilkan dari pasangan induk yang sama justru tudak persis sama. Artinya ada variasi. Karena adanya jumlah individu yang banyak dan ruang yang tetap maka individu-individu yang mempunyai keuntungan variasi akan lebih mudah bertahan dan berkembang . Individu lain yang karakternya tidak cocok dengan lingkungan tentu sulit untuk bertahan. Situasi inilah yang disebut oleh Darwin dengan seleksi alam. Berarti selalu dari waktu kewaktu terjadi perubahan menuju penyempurnaan karakter supaya lebih dapat bertahan. Perubahan tersebut dapat menghasilkan jenis jenis yang berbeda dari nenek moyangnya sehingga dapt dianggap sebagai suatu jenis tersendiri.

3. Teori sintesis


Teori yang berkembang saat ini untuk menjelaskan mekanisme evolusi disebut teori sintesis sebab teori ini merupakan sintesis dari berbagai disiplin ilmu. Yang terpenting adalah genetika dan genetika populasi. Menurut teori ini bukan individu yang berevolusi tetapi populasi. Populasi dengan lingkungan tertentu akan mengalami perubahan genetis yang satu ketika diwariskan pada generasi berikut. Perubahan genetis bisa saja terjadi selain karena keuntungan seleksi tapi juga karena mutasi. Mutasi berarti ada perubahan gen dari suatu individu.
loading...

Materi Menarik Lainnya:

loading...



Tag : Evolusi
Back To Top