Leukosit; Pengertian, Karakteristik, Pembentukan dan Faktor Yang Mempengaruhi Jumlahnya

loading...
Leukosit; Pengertian, Karakteristik, Pembentukan dan Faktor Yang Mempengaruhi Jumlahnya

Pengertian Umum


Di darah perifer, sel ini mudah dibedakan dari eritrosit oleh adanya inti (Sacher, 2004). Leukosit berperan dalam sistem pertahanan tubuh. Sel ini menahan masuknya benda asing atau bibit penyakit yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui dua jalan, yaitu fagositosis dan mengaktifkan respon imun tubuh. Leukosit juga berfungsi menyerang mikroorganisme atau benda asing yang telah dikenal atau bersifat spesifik (seperti virus HIV, sel-sel kanker, dan kuman TBC), dan memusnahkan serta menyapu bersih kotoran-kotoran yang berasal dari sel-sel tubuh yang rusak atau mati (Hendrik, 2006).

Karakteristik Leukosit


Jumlah normal leukosit adalah 5.000-10.000 sel/ μl (Hendrik, 2006). Infeksi atau kerusakan jaringan mengakibatkan peningkatan jumlah total leukosit. Leukosit memiliki kemampuan untuk menembus pori-pori membran kapiler dan masuk ke dalam jaringan yang disebut diapedesis. (Ethel Sloane, 2004). Mampu bergerak amuboid yaitu leukosit dapat bergerak sendiri seperti amuba, beberapa sel mampu bergerak tiga kali panjang tubuhnya dalam satu menit (D’Hiru, 2013). Leukosit juga memiliki sifat kemotaksis, yaitu jika ada pelepasan zat kimia oleh jaringan yang rusak menyebabkan leukosit bergerak mendekati (kemotaksis positif) atau bergerak menjauhi (kemotaksis negative) (Ethel Sloane, 2004).

Pembentukan Leukosit


Leukopoiesis adalah proses pembentukan leukosit, yang dirangsang oleh adanya colony stimulating (factor perangsang koloni). Colony stimulating ini dihasilkan oleh leukosit dewasa.

Leukosit dibentuk di sumsum tulang terutama seri granulosit, disimpan dalam sumsum tulang sampai diperlukan dalam sistem sirkulasi. Bila kebutuhannya meningkat maka akan menyebabkan granulosit tersebut dilepaskan. Proses pembentukan limfosit, ditemukan pada jaringan yang berbeda seperti sumsum tulang, thymus, limpa dan limfonoduli. Proses pembentukan limfosit dirangsang oleh thymus dan paparan antigen.

Bertambahnya jumlah leukosit terjadi dengan mitosis (suatu proses pertumbuhan dan pembelahan sel yang berurutan). Sel-sel ini mampu membelah diri dan berkembang menjadi leukosit matang dan dibebaskan dari sumsum tulang ke peredaran darah. Dalam sirkulasi darah, leukosit bertahan kurang lebih satu hari dan kemudian masuk ke dalam jaringan. Sel ini bertahan di dalam jaringan hingga beberapa minggu, beberapa bulan, tergantung pada jenis leukositnya (Sacher, 2004).

Pembentukan leukosit berbeda dengan pembentukan eritrosit. Leukosit ada 2 jenis, sehingga pembentukannya juga sesuai dengan seri leukositnya. Pembentukan sel pada seri granulosit (granulopoiesis) dimulai dengan fase mieloblast, sedangkan pada seri agranulosit ada dua jenis sel yaitu monosit dan limfosit. Pembentukan limfosit (limfopoiesis) diawali oleh fase limphoblast, sedangkan pada monosit (monopoiesis) diawali oleh fase monoblast.

Granulopoiesis adalah evolusi paling dini menjadi myeloblas dan akhirnya menjadi sel yang paling matang, yang disebut basofil, eosinofil dan neutrofil. Proses ini memerlukan waktu 7 sampai 11 hari. Mieloblas, promielosit, dan mielosit semuanya mampu membelah diri dan membentuk kompartemen proliferasi atau mitotik. Setelah tahap ini, tidak terjadi lagi pembelahan, dan sel mengalami pematangan melalui beberapa fase yaitu: metamielosit, neutrofil batang dan neutrofil segmen. Di dalam sumsum tulang sel ini mungkin ada dalam jumlah berlebihan yang siap dibebaskan apabila diperlukan. Sel-sel ini dapat menetap di sumsum tulang sekitar 10 hari, berfungsi sebagai cadangan apabila diperlukan.

Limfopoiesis adalah pertumbuhan dan pematangan limfosit. Hampir 20% dari sumsum tulang normal terdiri dari limfosit yang sedang berkembang. Setelah pematangan, limfosit masuk ke dalam pembuluh darah, beredar dengan interval waktu yang berbeda bergantung pada sifat sel, dan kemudian berkumpul di kelenjar limfatik (Sacher, 2004).

Monopoiesis berawal dari sel induk pluripoten menghasilkan berbagai sel induk dengan potensi lebih terbatas, diantaranya adalah unit pembentuk koloni granulosit yang bipotensial. Turunan sel ini menjadi perkusor granulosit atau menjadi monoblas. Pembelahan monoblas menghasilkan promonosit, yang sebagiannya berpoliferasi menghasilkan monosit yang masuk peredaran. Yang lain merupakan cadangan sel yang sangat lambat berkembang. Waktu yang dibutuhkan sel induk sampai menjadi monosit adalah sekitar 55 jam. Monosit tidak tersedia dalam sumsum dalam jumlah besar, namun bermigrasi ke dalam sinus setelah dibentuk. Monosit bertahan dalam pembuluh darah kurang dari 36 jam sebelum akhirnya masuk ke dalam jaringan (Fawcett, 2002).

Gambar: Hematopoiesis (Hoffbrand V & Mehta A, 2006)
Gambar: Hematopoiesis (Hoffbrand V & Mehta A, 2006)

Keterangan gambar:

GEMM = prekusor granulosit/eritroid/monosit/megakariosit
GM = prekusor granulosit/monosit
GM-CSF = faktor perangsang-koloni granulosit-makrofag
G-CSF = faktor perangsang-koloni granulosit


Tabel: Jangka hidup leukosit


Faktor yang mempengaruhi jumlah leukosit


Jumlah leukosit dapat meningkat yang biasa disebut leukositosis, sebaliknya dapat menurun disebut leukopenia (Sofro, 2012). Jumlah leukosit dapat naik dan turun sesuai dengan keadaan. Dalam tubuh terjadi infeksi, biasanya jumlah sel ini meningkat, jika tubuh mengalami gangguan dalam memproduksi leukosit, hal ini menyebabkan tubuh kita mudah diserang penyakit (Tim Matrix, 2009).

Perbedaan jumlah masing-masing sel leukosit dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satu faktornya adalah faktor fisiologis, yaitu masa hidup dari masing-masing sel leukosit tersebut. Masa hidup sel leukosit yang memiliki granula relatif lebih singkat dibandingkan sel leukosit yang tidak memiliki granula. Masa hidup sel leukosit yang memiliki granula adalah 4-8 jam dalam sirkulasi darah dan 4-5 hari di dalam jaringan. Hal ini disebabkan karena sel leukosit yang memiliki granula lebih cepat menuju daerah infeksi dan melakukan fungsinya dari pada sel leukosit yang tidak memiliki granula.

Leukopenia disebabkan berbagai kondisi, termasuk stress berkepanjangan, infeksi virus, penyakit atau kerusakan sumsum tulang, radiasi, atau kemoterapi. Penyakit sistemik yang parah misalnya lupus eritematosus, penyakit tiroid, sindrom Cushing, dapat menyebabkan penurunan jumlah leukosit. Semua atau salah satu jenis sel saja yang dapat terpengaruh (Corwin, 2009).

Penurunan jumlah leukosit dapat terjadi karena infeksi usus, keracunan bakteri, septicoemia, kehamilan, dan partus. Jumlah leukosit dipengaruhi oleh kondisi tubuh, stres, kurang makan atau disebabkan oleh faktor lain.