Belajar Biologi | Belajar Sains

Penjelasan Lengkap Biosistematika Tumbuhan

Advertisement

Advertisement


loading...

Penjelasan Lengkap Biosistematika Tumbuhan


Keanekaragaman sifat dan ciri yang dimiliki suatu makhluk hidup sesungguhnya menggambarkan keanekaragaman potensi dan manfaat yang dapat digali. Bila data dan informasi ilmiah mengenai sumber daya hayati belum sepenuhnya dapat diungkap maka kepunahan suatu makhluk hidup sama artinya dengan kehilangan kesempatan untuk memanfaatkan potensi yang dimiliki makhluk hidup tersebut. Seperangkat gen yang ikut hilang bersama peristiwa kepunahan itu mungkin memiliki potensi dan manfaat yang tidak akan dijumpai lagi pada makhluk hidup yang lain.
 
Kehidupan manusia sangat bergantung kepada sumber daya hayati sebagai sumber bahan pangan, sandang, papan dan bahan penunjang pengembangan industri. Peningkatan jumlah, jenis maupun kualitas kebutuhan manusia mendorong upaya pemanfaatan sumber daya hayati secara terus menerus, oleh karena itu kekayaan tersebut harus diamankan. Dalam pengamanannya dituntut perubahan sikap dari defensif yaitu melindungi alam dari pengaruh pembangunan menjadi upaya ofensif untuk memenuhi kebutuhan akan sumber daya hayati sekaligus mempertahankannya untuk kehidupan di masa yang akan dating.
 
Pengelolaan sumber daya hayati termasuk sumber daya genetika yang ada didalamnya menjadi tanggung jawab yang berat terutama bagi pengambil keputusan, lembaga riset, perguruan tinggi maupun para intelektual. Dalam kegiatan ini masyarakat perlu dilibatkan agar mereka menyadari ketergantungan hidupnya kepada kekayaan biota tersebut. Dengan mengetahui potensi dan manfaatnya diharapkan penghargaan terhadap sumber daya hayati dan keanekaragaman genetikanya semakin meningkat sehingga tingkat kerusakan yang terjadi dapat ditekan.
 

Kondisi Sumber Daya Tumbuhan Indonesia


Potensi kekayaan sumber daya hayati dan genetika tidak cukup berhenti hanya untuk dikagumi saja. Persoalan rawan pangan yang menimpa penduduk negara-negara berkembang termasuk Indonesia perlu segera ditangani dan diantisipasi karena proyeksi penduduk pada tahun 2030 nanti ternyata memperlihatkan jumlah yang cukup fantastis, naik kurang lebih 160% dibandingkan jumlah penduduk pada tahun 1990. Keanekaragaman genetika merupakan bahan mentah terpenting untuk mengembangkan bioteknologi modern terutama untuk perakitan tanaman transgenik yang dipandang mampu menyelesaikan problematika pangan. Sumber daya genetika yang ada saat ini merupakan anugerah terakhir yang memberikan harapan untuk mengubah nasib bangsa ini menuju kecukupan pangan, mengentaskan kemiskinan sekaligus meningkatkan kesejahteraan.
 
Wilayah Indonesia merupakan tempat tinggal berbagai macam suku bangsa dengan beranekaragam tradisi dan budaya, sehingga tidak mengherankan bila lebih dari 6000 tumbuhan dari 28.000 jenis tumbuhan di dunia telah diketahui potensinya dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
 
Dalam memenuhi kebutuhan pangan seperti karbohidrat, protein dan vitamin telah dimanfaatkan tidak kurang dari 900 jenis tumbuhan. Indonesia juga dikenal kaya dengan keanekaragaman jenis rotan, bambu, dan bahan baku obat-obatan.

Penjelasan Lengkap Biosistematika Tumbuhan
Penjelasan Lengkap Biosistematika Tumbuhan

Lebih dari 122 jenis bambu dari 1200 bambu di dunia ada di Indonesia, 56 jenis di antaranya memiliki nilai ekonomi penting. Di Kabupaten Sorong misalnya, dijumpai 16 jenis rotan, 15 jenis di antaranya dari marga Calamus dan 1 jenis dari marga Korthalsia. Dari 15 jenis rotan marga Calamus, 8 jenis diantaranya belum diidentifikasi. Dari tumbuhan obat dapat ditemukan bermacam-macam jenis anggota Piperaceae seperti Piper betle, P. nigrum, P. retrofractum, P. sarmentosum dan P. cubeba yang secara morfologi sangat mirip tetapi dalam pemanfaatannya sangat berbeda.
 
Dilihat dari jumlah jenis makhluk yang mendiami kawasan ini dunia mengakui Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati. Keanekaragaman jenis tumbuhan yang besar pada umumnya diiringi dengan keanekaragaman genetika yang besar pula. Kawasan Malesia yang meliputi Indonesia, malaysia, Filipina dan Papua Nugini antara lain merupakan pusat keanekaragaman genetika terpenting untuk Dipterocarpaceae, Zingiberaceae, Piperaceae, Myrtaceae, Sapindaceae dan Apocynaceae. Indonesia juga merupakan tanah tumpah darah keluarga Musaceae sehingga keanekaragaman pisang di kawasan ini sangat melimpah, baik pisang yang dibudidayakan maupun pisang liar. Sebagian besar kultivar pisang dari 500 kultivar pisang di dunia ada di Indonesia.
 
Kondisi sumber daya genetika sangat dipengaruhi proses pembangunan. Pembangunan di sektor pertanian seperti ”revolusi hijau” di kawasan Asia telah berhasil melipat gandakan produksi padi, namun keuntungann dari kebijakan ini lebih banyak dikecap oleh orang-orang yang memiliki lahan, modal dan akses.
 
Sistem penanaman monokultur yang uniform lebih memberikan keuntungan bagi produsen benih, pupuk dan pestisida. Dampak lain dari kebijakan ini adalah terjadinya erosi genetik terutama kultivar lokal tradisional yang terpinggirkan karena penanaman kultivar modern secara besar-besaran. Keadaan ini makin buruk dengan kebijakan pemerintah untuk menfasilitasi eksploitasi dan ekstrasi sumber daya hayati hutan melalui HPH (Hak pengusahaan hutan). Proses penggundulan telah mengikis habis jutaan hektar lahan hutan. Kekayaan flora dan fauna yang ada didalamnya ikut hilang untuk selamanya. Kerusakan hutan di Indonesia kini diperkirakan mencapai 1,6 juta hektar per tahun.
 
Banyak sumber daya hayati khususnya sumber daya genetika Indonesia yang semakin berkurang akibat eksploitasi yang berlebihan sehingga tidak mengherankan bila kita memiliki daftar kepunahan tumbuhan yang terpanjang di dunia. Populasi ramin menipis, kayu gaharu dan kayu cendana terancam punah. Berkaitan dengan kekayaan keanekaragaman genetika tumbuhan asli Indonesia kegiatan bioprospecting semakin meningkat, perlombaan pencarian bahan obat baru semakin intensif dan diperkirakan akan menjadi bisnis yang sangat menguntungkan melebihi bisnis dotcom. Modal dasar pencarian bahan obat baru adalah sumber daya hayati dan genetika sehingga dengan kekayaan biota yang tersisa, Indonesia masih mempunyai peluang memanfaatkannya dengan syarat segera menghentikan semua bentuk ekstraksi sumber daya yang berlebihan melalui kegiatan pengelolaan sumber daya genetika yang terencana dengan baik.
 

Peran Taksonomi


Erosi genetika pada jenis-jenis yang dieksploitasi tanpa dasar ilmiah memberikan dampak yang memprihatinkan. Fragmentasi dan kerusakan habitat, pengurasan populasi alaminya dan penanaman kultivar unggul yang terus menerus sehingga mendesak kultivar lokal akan menyebabkan keanekaragaman genetika makin lama makin menipis dan akan berakhir dengan kepunahan gen-gen yang berpotensi. Solusi yang paling realistis untuk menanggulangi erosi sumber daya genetik yang terus terjadi adalah dengan melakukan konservasi genetika. Kegiatan ini berupa pengelolaan koleksi dan pemeliharaan pusat-pusat sumber daya daya genetik yang mewakili spektrum keanekaragaman genetik, termasuk didalamnya koleksi kultivar lokal tradisional dan kerabat liarnya.
 
Pengelolaan sumber daya genetika tumbuhan meliputi upaya untuk melestarikan, mengamankan sekaligus memanfaatkan keanekaragaman genetika seoptimal mungkin sehingga berguna bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. Langkah-langkah operasioal dalam pengelolaan sumber daya genetika yang lengkap, meliputi: 

  1. kegiatan eksplorasi, inventarisasi, dan identifikasi sumber daya genetika, 
  2. melakukan koleksi secara ex situ dan in situ, 
  3. pasporisasi dan dokumentasi, 
  4. evaluasi, karakterisasi, dan katalogisasi, 
  5. pemanfaatan, seleksi, hibridisasi, dan perakitan varietas, 
  6. konservasi dan rejuvinasi, serta 
  7. pertukaran materi, perlindungan, dan komersialisasi.
     
Dari kegiatan-kegiatan operasional di atas, pakar dan peminat taksonomi dapat terlibat dan berperan langsung dalam kegiatan eksplorasi, inventarisasi, identifikasi sumber daya genetika, pasporisasi, dokumentasi, evaluasi, karakterisasi, dan katalogisasi. Ini bukan tugas yang mudah mengingat objek yang dihadapi cukup besar meliputi sumber daya genetika yang terdapat dalam jutaan hektar hutan yang akan dikonservasi. Aktivitas floristik yang dilakukan di wilayah tropis seperti di Indonesia masih jauh dari selesai. 

Kita sedang berpacu dengan ulah manusia yang menyebabkan kepunahan sumber daya genetika. Jutaan hektar hutan punah akibat kegiatan illegal loging, pembukaan lahan baru dan penambangan yang merupakan pemicu utama kepunahan keanekaragaman biota. Tidak lama lagi kita juga akan kehilangan sumber daya genetika yang terdapat di pulau Nipah yang segera akan tenggelam akibat kegiatan penambangan pasir laut.
 
Penyelesaian sensus keanekaragaman hayati seluruh wilayah Indonesia tidak dapat ditunda lagi. Flora Melaesiana harus diselesaikan secara tuntas; meskipun demikian bukan berarti bidang penelitian taksonomi lain harus menunggu eksplorasi, inventarisasi dan identifikasi selesai. Pakar dan peminat taksonomi perlu mendukung dan melakukan penelitian yang sesuai dengan kebutuhan para pengguna.. Penelitian-penelitian eksplorasi, inventarisasi dan identifikasi membutuhkan biaya yang tidak sedikit (diperkirakan 12 juta dollar per tahun) dan hasilnya terkesan tidak berdampak langsung pada proses pembangunan, sehingga jarang sekali pengambil keputusaan yang bersedia memberikan dana yang memadai. Keadaan ini menjadi kendala untuk penyelesaian sensus keanekaragaman genetika di kawasan ini.
 
Penelitian-penelitian yang terkait langsung dengan pengelolaan sumber daya genetika seperti evaluasi, karakterisasi dan katalogisasi lebih banyak diperhatikan oleh pengambil keputusan. Dana yang disediakan cukup besar dan memadai. Misalnya penelitian RUT (Riset Unggulan Terpadu) untuk Jakstra 2000-2004. Pada bidang pertanian penelitian difokuskan pada kegiatan pemberdayaan sumber daya alam hayati Indonesia dalam rangka mencari terobosan ilmiah mendasar untuk memecahkan berbagai permasalahan di bidang pertanian. Lingkup penelitian dibatasi untuk tema penelitian penanda molekuler dan analisis genom. Peluang-peluang yang diberikan melalui penawaran pendanaan ini ataupun pendanaan lain (seperti Hibah Tim) perlu direspon positif oleh pakar dan peminat taksonomi. 

Disamping tetap melanjutkan sensus keanekaragaman genetika, penelitian-penelitian biosistematika juga perlu digalakkan terutama untuk tumbuhan yang telah memiliki informasi flora cukup lengkap seperti tumbuhan tinggi. Apabila tidak ingin dipandang sebelah mata oleh pakar-pakar bidang lain, taksonomi mau tidak mau harus dapat menyelesaikan penanganan keanekaragaman hayati dan genetikanya selaras dengan kemajuan perkembangan ilmu dan teknologi. Teknologi yang telah ada harus dimanfaatkan.
 
Data dan informasi yang diperoleh dengan teknik-teknik konvensional tetap dan pasti sangat berguna namun pakar taksonomi juga harus menyadari bahwa saat ini informasi dan data molekular sangat dibutuhkan oleh pengguna khususnya para pemulia tanaman. Evaluasi dan karakterisasi yang menghasilkan data keanekaragaman genetika berdasarkan marka-marka molekuler seperti RFLP, RAPD dan mikrosatelit, pemetaan gen maupun sidik jari DNA ditunggu para pemulia tanaman sebagai modal dasar dalam perakitan kultivar baru. Data dan informasi yang telah terakumulasi kemudian disintesis untuk memata-matai proses evolusi dan hubungan kekerabatan dan hasilnya dapat digunakan sebagai acuan dalam kegiatan rekayasa genetika.
 

Klasifikasi Biodiversitas Tumbuhan


Dalam golongan tumbuh-tumbuhan atau pohon-pohonan yang disebut juga kingdom plantae atau kerajaan tumbuh-tumbuhan dapat kita bagi-bagi menjadi beberapa divisi, antara lain adalah :
 
  1. Divisi Thallophyta / Thalopita / Thalophita : Divisi thallophyta adalah tumbukan yang memiliki thalus (alga atau ganggang)
  2. Divisi Bryophyta / Briopita / Briophita : Divisi bryophyta meliputi golongan lumut-lumutan
  3. Divisi Pteridophyta / Pteridopita / Pteridophita : Divisi pteridophyta meliputi golongan paku-pakuan
  4. Divisi Spermatophyta / Spermatopita / Spermatophita : Divisi spermatophyta meliputi golongan tumbuhan berbiji baik tumbuhan berbiji keping satu (monokotil) maupun dua (dikotil)

Berdasarkan morfologi atau susunan tubuh tumbuhan bisa dibedakan lagi atas dua jenis kelompok, yakni :
 
  1. Thallophyta : tumbuhan yang belum memiliki daun, akar dan batang yang jelas.
  2. Cormophyta / Kormopita / Kormophita : tumbuhan yang batang, akar dan daun sudah jelas yang meliputi tiga divisi selain thalophita yaitu bryophita, pteridophita dan spermatophita.

Cakupan Kajian Biosistematika


Dalam mengkaji keanekaragaman tumbuhan, tidak hanya terbatas dari aspek taksonomi semata yang terkonsentrasi kepada identitas taksa spesies, akan tetapi cakupan biosistematika juga meliputi aspek evolusi, variasi-variasi intra dan interspesies, mekanisme spesiasi, dan fenomena-fenomena divergensi spesies sebagai cikal bakal munculnya keanekaragaman. Dengan demikian, kajian taksonomi hanya merupakan salah satu dari aspek biosistematika yang kemudian didukung oleh penjelasan-penjelasan kontekstual berkenaan dengan kekerabatan filogenetik dan fenetik dari kelompok tumbuhan.
loading...

Materi Menarik Lainnya:

loading...



Back To Top