Belajar Biologi | Belajar Sains

Autoimun; Penyakit dan Kelainan pada Sistem Imun Tubuh

Advertisement

Advertisement


loading...

Autoimun; Penyakit dan Kelainan pada Sistem Imun Tubuh - Penyakit autoimun adalah kelainan tubuh yang disebabkan oleh reaksi respon imun terhadap sel tubuh sendiri yang dianggap sebagai antigen, sehingga menyebabkan kerusakan organ tubuh. Biasanya antibodi yang menyerang diri sendiri ini bisa terbentuk karena adanya rangsangan virus sebelumnya, sehingga antibodi ikut beredar ke seluruh tubuh dan dapat memberikan kerusakan organ pada tubuh kita. 

Gangguan autoimun dapat mempengaruhi satu atau lebih organ atau jaringan. Organ dan jaringan yang umumnya terkena oleh gangguan autoimun adalah sel darah merah, pembuluh darah, jaringan ikat, kelenjar endokrin seperti tiroid atau pankreas, otot, sendi, dan kulit.

Autoimun; Penyakit dan Kelainan pada Sistem Imun Tubuh
Kelainan Autoimun (gambar: 4lifehealthylife.wordpress.com)

Pencetus Reaksi Autoimun

Reaksi autoimun dapat dicetuskan oleh beberapa hal seperti berikut ini:
  1. Senyawa yang ada di badan yang normalnya dibatasi di area tertentu (disembunyikan dari sistem kekebalan tubuh) dilepaskan ke dalam aliran darah. Misalnya, pukulan ke mata dapat membuat cairan di bola mata dilepaskan kedalam aliran darah. Cairan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk mengenali mata sebagai benda asing dan menyerangnya.
  2. Senyawa normal di tubuh berubah. Misalnya oleh virus, obat, sinar matahari, atau radiasi. Bahan senyawa yang berubah mungkin kelihatannya asing bagi sistem kekebalan tubuh. Misalnya, virus bisa menulari dan mengubah sel. Sel yang ditulari oleh virus merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menyerangnya.
  3. Senyawa asing yang menyerupai senyawa badan alami mungkin memasuki tubuh. Sistem kekebalan tubuh dengan kurang hati-hati dapat menjadikan senyawa badan mirip seperti bahan asing sebagai sasaran. Misalnya, bakteri penyebab sakit kerongkongan mempunyai beberapa antigen yang mirip dengan sel jantung manusia. Jarang terjadi, sistem kekebalan tubuh dapat menyerang jantung manusia sesudah sakit kerongkongan (reaksi ini bagian dari deman reumatik).
  4. Sel yang mengontrol produksi antibodi misalnya, limfosit B (salah satu sel darah putih) mungkin rusak dan menghasilkan antibodi abnormal yang menyerang beberapa sel badan.
  5. Keturunan mungkin terlibat pada beberapa kekacauan autoimun. Pada orang yang rentan, satu pemicu seperti infeksi virus atau kerusakan jaringan, dapat membuat kekacauan berkembang. Faktor Hormonal juga mungkin dilibatkan, karena banyak kekacauan autoimun lebih sering terjadi pada wanita.

Contoh-contoh Penyakit Autoimun

Beberapa contoh-contoh penyakit autoimun, diantaranya adalah sebagai berikut:

 

1) Hepatitis oleh virus hepatitis C


Penyakit hepatitis akibat serangan virus hepatitis C terjadi akibat antibodi menyerang tubuh sendiri. Antibodi tersebut semula dibuat sebagai respon tubuh terhadap paparan antigen antara lain virus, akan tetapi sekuen asam amino dari protein virus mirip dengan sekuen protein dari jaringan tubuh, sehingga antibodi yang ada dapat merusak jaringan tubuh sendiri. 

 

2) Graves disease (gangguan autoimun yang mengarah ke kelenjar tiroid hiperaktif)


Penyakit graves timbul sebagai akibat dari produksi antibody yang merangsang tiroid. Mekanisme respon autoimun yang terjadi pada penyakit graves, melibatkan reaksi antibody yang disebut dengan long acting thyroid stimulator bereaksi dengan reseptor thyroid stimulating hormone yang terdapat pada pemukaan kelenjar tiroid, sehingga meningkatkan produksi hormon tiroid yang berlebihan.

 

3) Myasthenia gravis (gangguan neuromuskuler yang melibatkan otot dan saraf)


Penyakit myasthenia gravis merupakan penyakit autoimun yang mengakibatkan kelemahan otot secara progresif. Hal ini disebabkan karena antibody menutupi reseptor asetilkolin dengan immunoglobulin dapat mencegah penerimaan impuls saraf, yang dalam keadaan normal disalurkan oleh molekul asetilkolin, sehingga menimbulkan kelemahan otot. Apabila otot yang diserang adalah otot diafragma. Maka diafragma tidak dapat berfungsi dengan baik sehingga dapat menyebabkan kegagalan pernafasan dan kematian.

 

4) Systemic lupus erythematosus/SLE (gangguan autoimun kronis, yang mempengaruhi kulit, sendi, ginjal, dan organ lainnya)


Penyakit lupus yang dalam bahasa kedokterannya dikenal sebagai systemic lupus erythematosus (SLE) adalah penyakit radang yang menyerang banyak sistem dalam tubuh, dengan perjalanan penyakit bisa akut atau kronis, dan disertai adanya antibodi yang menyerang tubuhnya sendiri. Penyakit ini terutama diderita oleh wanita muda dengan puncak kejadian pada usia 15- 40 tahun (selama masa reproduktif) dengan perbandingan wanita dan laki-laki 5:1.

Penyebab dan mekanisme terjadinya SLE masih belum diketahui dengan jelas, akan tetapi pada beberapa penderita ditemukan antibody yang spesifik terhadap beberapa komponen tubuhnya sendiri termasuk terhadap DNA, yang diduga dilepaskan pada saat penghancuran sel atau jaringan secara normal, terutama sel-sel kulit. Pada penderita yang secara genetik menunjukkan predisposisi untuk penyakit SLE, dijumpai gangguan sistem regulasi sel T dan fungsi sel B yang dapat diinduksi oleh beberapa faktor.

Selain faktor genetik yang abnormal, lingkungan juga berperan sebagai faktor pemicu bagi seseorang yang sebelumnya sudah memiliki gen abnormal. Sampai saat ini, jenis pemicunya masih belum jelas, namun diduga kontak sinar matahari, infeksi virus/bakteri, obat golongan sulfa, penghentian kehamilan, dan trauma psikis maupun fisik.

Gejala yang umum dijumpai adalah:
  • Kulit yang mudah gosong akibat sinar matahari serta timbulnya gangguan pencernaan.
  • Gejala umumnya penderita sering merasa lemah, kelelahan yang berlebihan, demam dan pegal-pegal. Gejala ini terutama didapatkan pada masa aktif, sedangkan pada masa remisi (nonaktif) menghilang.
  • Pada kulit, akan muncul ruam merah yang membentang di kedua pipi, mirip kupu-kupu. Kadang disebut (butterfly rash). Namun ruam merah menyerupai cakram bisa muncul di kulit seluruh tubuh, menonjol dan kadang-kadang bersisik. Melihat banyaknya gejala penyakit ini, maka wanita yang sudah terserang dua atau lebih gejala saja, harus dicurigai mengidap Lupus.
  • Anemia yang diakibatkan oleh sel-sel darah merah yang dihancurkan oleh penyakit lupus ini.
  • Rambut yang sering rontok dan rasa lelah yang berlebihan.
  • Sistem imun kadang merespons secara berlebihan atau hipereaktif terhadap suatu benda asing sehingga antigen yang masuk ini disebut alergen dan bisa menumbulkan gejala seperti bengkak, mata berair, pilek alergi, bahkan bisa menimbulkan reaksi alergi hebat yang mengancam jiwa yang disebut anafilaksis. Berbagai macam reaksi alergi yang ditimbulkan antara lain adalah asma, eksim, pilek alergi, batuk alergi, alergi makanan, alergi obat dan alergi terhadap toksin.
  • Jumlah antibodi bisa diukur secara tak langsung dengan jumlah CD4 (Sel Cluster of Differentiation 4 (limfosit CD4, Pembatu Sel-T) adalah jenis sel darah putih yang membantu tubuh melawan infeksi). Jika jumlahnya kurang maka dicurigai seseorang mempunyai penyakit immunocompromized dimana daya tahan tubuhnya sangat rendah, hal ini bisa terjadi pada orang yang terkena penyakit HIV/AIDS, dan non HIV (pengguna kortikosteroid lama, individu yang terkena kanker, penyakit kronik seperti gagal ginjal, gagal jantung, diabetes, dan lain-lain).

5) Reumatoid arthritis (radang sendi)


Rheumatoid arthritis merupakan kelainan sendi yang disebabkan oleh reaksi kompleks imun antara IgM, IgG, dan komplemen pada persendian. Respon inflamasi yang disertai permiabilitas vaskuler menimbulkan pembengkakan sendi dan sakit bila eksudat bertambah banyak. Senyawa enzimatik yang dilepas oleh neutrofil segera memecah kolagen dan tulang rawan sendi yang menimbulkan destruksi permukaan sendi sehingga mengganggu fungsi normal sendi. Akibat inflamasi yang berulang dapat terjadi penimbunan fibrin dan penggantian tulang rawan oleh jaringan ikat, sehingga sendi sulit digerakkan.

 

6) Multiple sclerosis (gangguan autoimun yang mempengaruhi otak dan sistem saraf pusat tulang belakang)


Penyakit multiple sclerosis merupakan salah satu contoh reaksi autoimun dimana sel T dan makrofag dapat merusak sel-sel saraf. Penyebab penyakit ini belum diketahui secara pasti, akan tetapi secara epidemiologi diduga bahwa beberapa jenis mikroorganisme pathogen terlibat dalam proses perjalanan penyakit. Infeksi virus Epstein-Barr seringkali disebut sebagai penyebab utamanya.

Gejala penyakit ini sangat beragam mulai dari kelelahan yang kronis sampai kelumpuhan (paralysis). Perkembangan penyakit ini sangat lambat dan dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Belum ditemukan obat untuk mengatasi kondisi penderita, akan tetapi pemberian interferon dan beberapa obat untuk memperbaiki system imunitas dapat memperlambat keparahan penyakit.

 

7) Diabetes mellitus Tipe I


Penyakit autoimun lainnya yaitu diabetes mellitus yang tergantung pada insulin (insulin dependent diabetes mellitus). Melalui mekanisme reaksi yang sama, respon imun seluler dapat merusak sel-sel pancreas yang mensekresi insulin. Kerusakan sel pancreas dapat mengakibatkan penyakit diabetes yang selalu tergantung pada insulin.

 

8) Varisela


Varisela adalah infeksi virus akut yang ditandai dengan adanya vesikel pada kulit yang sangat menular. Penyakit ini disebut juga chicken pox, cacar air, atau varisela zoster. Varisela disebabkan oleh Herpesvirus varicellae atau Human (alpha) herpes virus-3 (HHV3). Penyakit ini menyerang semua usia, kekebalan varisela berlangsung seumur hidup setelah seseorang terkena penyakit ini satu kali.

Varisela ditularkan melalui kontak langsung (cairan vesikel) dan droplet. Penularan melalui kontak serumah sangat tinggi, penularan lainnya adalah pada saat pasien mengalami viremia (adanya virus di dalam darah), penyakit ini bisa ditularkan melalui plasenta dan transfusi darah. Disebutkan bahwa tingkat penularannya lebih tinggi daripada parotitis (radang kelenjar parotis/gondongan) tetapi lebih rendah bila dibandingkan dengan penularan campak.

Masa inkubasi varisela sekitar 11-21 hari, dengan rata-rata 13-17 hari. Dua minggu setelah infeksi akan timbul demam, malaise, anoreksia, dan nyeri kepala. Pada penderita dengan daya tahan tubuh yang baik akan muncul gejala ringan dan sembuh sendiri (self limited). Pasien dapat diberi antihistamin atau anti gatal, antivirus asiklovir atau vidarabin, antibiotik bila ada indikasi infeksi bakteri dan multivitamin.

 

9) Campak


Campak adalah suatu penyakit akut yang menular disebabkan oleh morbili virus. Campak disebut juga rubeola, morbili, atau measles. Penyakit ini ditandai dengan gejala awal demam, batuk, pilek, dan konjungtivis yang kemudian diikuti dengan bercak kemerahan pada kulit (rash). Campak biasanya menyerang anak-anak dengan derajat ringan sampai sampai sedang. Penyakit ini dapat meninggalkan gejala sisa kerusakan neurologis akibat peradangan otak (ensefalitis).

Penyakit campak disebabkan oleh virus campak, dari family Paramyxovirus, genus Morbilivirus. Virus ini adalah virus RNA yang dikenal hanya mempunyai satu antigen. Struktur virus ini mirip dengan virus penyebab parotitis epidemis dan parainfluenza. Setelah timbulya ruam kulit, virus aktif dapat ditemukan pada secret nasofaring, darah, dan air kencing dalam waktu sekitar 34 jam pada suhu kamar.

Virus campak mudah menularkan penyakit. Virulensinya sangat tinggi terutama pada anak yang rentan dengan kontak keluarga, sehingga hamper 90% anak rentan akan tertular. Campak ditularkan melalui droplet di udara oleh penderita sejak 1 hari sebelum timbulnya gejala klinis sampai 4 hari sesudah munculnya ruam. Masa inkubasinya anatara 10-12 hari. 

Ibu yang pernah menderita campak menurunkan kekebalannya kepada janin yang dikandungnya melalui plasenta, dan kekebalan ini bisa bertahan sampai bayinya berusia 4-6 bulan. Bayi usia 9 bulan diharapkan membentuk antibodinya sendiri secara aktif setelah menerima vaksinasi campak.

Pemberian imunisasi ini merupakan pencegahan yang paling efektif dan memberikan kekebalan selama 14 tahun.. Vaksin campak berasal dari virus hidup yang dilemahkan.

Materi Menarik Lainnya:

loading...



Back To Top