Demam Berdarah Dengue (DBD); Pengertian, Gejala, Penyebab, dan Pencegahannya

loading...
Demam Berdarah Dengue (DBD); Pengertian, Gejala, Penyebab, dan Pencegahannya - Apa yang dimaksud dengan Demam Berdarah Dengue atau DBD? DBD adalah penyakit infeksi dengue biasa disebut dengan Demam Berdarah Dengue (biasa hanya disebut dengan Demam Berdarah) adalah penyakit menular mendadak yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Pernyakit ini bisa diderita oleh siapa saja di semua umur. 

Demam berdarah dengue merupakan salah penyakit menular yang di sebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti, yang ditandai dengan demam mendadak selama 2-7 hari tanpa penyebab yang jelas disertai dengan lemah/lesu, gelisah, nyeri ulu hati disertai tanda perdarahan di kulit berupa bintik merah, lebam (echymosis) atau ruam (purpura). kadang-kadang disertai dengan mimisan, berak darah, muntah darah, kesadaran menurun atau renjatan (syok).

Gambaran Klinis


Menurut Sudjana (2010), gambaran klinis penderita dengue terdiri atas 3 fase yaitu fase febris, fase kritis dan fase pemulihan.

a. Pada fase febris, biasanya demam mendadak tinggi terus menerus berlangsung selama 2-7 hari (380 C - 400 C), naik turun (demam bifosik) dan tidak mempan obat antipirektik. Kadang-kadang suhu tubuh sangat tinggi sampai 400

b. Fase kritis, Pada kasus ringan dan sedang, semua tanda dan gejala kliniks menghilang setelah demam turun sertai keluarnya keringat, perubahan pada denyut nadi dan tekanan darah, akan teraba dingin di sertai dengan kongesti kulit.

Perubahan ini memperlihatkan gejala gangguan sirkulasi, sebagai akibat dari perembasan plasma yang dapat bersifat ringan atau sementara. Pada kasus berat, keadaan umum pada saat atau beberapa saat setelah suhu turun antara 3-7 terdapat tanda kegagalan sirkulasi, kulit teraba dingin dan lembab terutama pada ujung jari kaki, sianosis di sekitar mulut, pasien menjadi gelisah, nadi cepat, lemah kecil sampai tidak teraba dan ditandai dengan penurunan suhu tubuh disertai kenaikan permeabilitas kapiler dan timbulnya kebocoran plasma yang biasanya berlangsung selama 24–48 jam. Kebocoran plasma sering didahului oleh lekopeni progresif disertai penurunan hitung trombosit dibawah 100.000/mm3

c. Fase pemulihan, bila fase kritis terlewati maka terjadi pengembalian cairan dari ekstravaskuler ke intravaskuler secara perlahan pada 48–72 jam setelahnya. Keadaan umum penderita membaik, nafsu makan pulih kembali, hemodinamik stabil dan dieresis membaik

 

Klasifikasi Demam Berdarah Dengue


Menurut Kementerian Kesehatan RI (2010), klasifikasi penyakit Demam Berdarah Dengue yaitu :

 

a. Dengue tanpa tanda bahaya dan dengue dengan tanda bahaya (Dengue Without Warning Signs). 


Kriteria dengue tanpa tanda bahaya dan dengue dengan tanda bahaya :
1) Bertempat tinggal di atau bepergian ke daerah endemik dengue.
2) Demam disertai 2 dari hal berikut : mual, muntah, ruam, sakit dan nyeri, uji tournikuet positif, lekopenia, adanya tanda bahaya.
3) Tanda bahaya adalah nyeri perut atau kelembutannya, muntah berkepanjangan, terdapat akumulasi cairan, perdarahan mukosa, letergis, lemah, pembesaran hati >2cm, kenaikan hematokrit seiring dengan penurunan
jumlah trombosit yang cepat.
4) Dengue dengan konfirmasi laboratorium (penting bila bukti kebocoran plasma tidak jelas)

 

b. Dengue Berat (Severe Dengue). 


Kriteria dengue berat : kebocoran plasma berat, yang dapat menyebabkan syok (DSS), akumulasi cairan dengan distress pernafasan. Perdarahan hebat, sesuai pertimbangan klinisi gangguan organ berat, hepar (AST atau ALT ≥ 1000, gangguan kesadaran, gangguan jantung dan organ lain). Untuk mengetahui adanya kecenderungan perdarahan dapat dilakukan uji tourniquet.

 

Siklus Penularan Demam Berdarah Dengue


Siklus hidup dan prilaku nyamuk Aedes aegypti :
Telur => Jentik => Kepompong => Nyamuk

Perkembangan dari telur sampai menjadi nyamuk kurang lebih dari 9-10 hari :
1. Setiap kali bertelur, nyamuk betina dapat mengeluarkan telur sebanyak 100 butir.
2. Telur nyamuk Aedes aegypti berwarna hitam dengan ukuran ± 0,80 mm
3. Telur ini ditempat yang kering (tanpa air) dapat bertahan sampai 6 bulan
4. Telur itu akan menetas menjadi jentik dalam waktu lebih kurang dari 2 hari setelah terendam air
5. Jentik kecil yang menetas dari telur itu akan tumbuh menjadi besar yang panjangnya 0,5-1 cm
6. Jentik Aedes aegypti akan selalu bergerak aktif dalam air, geraknya berulang-ulang dari bawah ke atas permukaan air untuk bernafas (mengambil udara) kemudian turun, kembali kebawah dan seterusnya.
7. Pada waktu istirahat, posisinya hampir tegak lurus dengan permukaan air biasanya berada di sekitar dinding tempat penampungan air.
8. Setelah 6-8 hari jentik itu akan berkembang/berubah menjadi kepompong
9. Kepompong berbentuk koma
10. Gerakannya lambat
11. Sering berada dipermukaan air
12. Setelah 1-2 hari akan menjadi nyamuk dewasa.

Nyamuk Aedes aegypti menyenangi area gelap dan benda-benda berwarna hitam atau merah. Nyamuk ini banyak ditemukan di bawah bangku, meja, kamar yang gelap, atau dibalik baju-baju yang di gantung. 

Nyamuk ini menggigit pada siang hari (pukul 09-10) dan sore hari (pukul 16.00-17.00), demam berdarah sering menyerang anak-anak karena anak-anak cenderung duduk didalam kelas selama pagi sampai siang hari. (Anggraeni, 2010).
Nyamuk Aedes aegypti
Nyamuk Aedes aegypti (foto: nbcnews.com)

Menurut Sitio (2008), Penularan DBD antara lain dapat terjadi di semua tempat yang terdapat nyamuk penularnya, tempat yang potensial untuk penularan penyakit DBD antara lain :
  1. Wilayah yang banyak kasus DBD atau rawan endemis DBD.
  2. Tempat-tempat umum yang merupakan tempat berkumpulnya orang, orang datang dari berbagai wilayah sehingga kemungkinan terjadinya pertukaran beberapa tipe virus dengue cukup besar seperti sekolah, pasar, hotel, puskesmas, rumah sakit dan sebagainya.
  3. Pemukiman baru di pinggir kota, karena dilokasi ini, penduduk umumnya berasal dari berbagai wilayah, maka memungkinkan diantaranya terdapat penderita atau karier yang membawa tipe virus dengue yang berlainan dari masing-masing lokasi asal.

Penyebab Demam Berdarah Dengue


Menurut Budiarto (2003), Pada prinsipnya kejadian penyakit yang digambarkan sebagai segitiga epidemiologi menggambarkan hubungan tiga komponen penyakit yaitu pejamu (host), penyebab (agent), lingkungan (environment).

 

1. Agent


Agent penyebab penyakit demam berdarah dengue adalah virus Dengue yang termasuk kelompok arthropoda borne virus (Arboviruses). Anggota dari genus Flavivirus, famili flaviviridae yang di tularkan oleh nyamuk Ae.aegypti dan juga nyamuk Ae.albopictus yang merupakan vektor infeksi DBD.

 

2. Host (Penjamu)


Penjamu adalah manusia atau organisme yang rentan oleh pengaruh agent dalam penelitian ini yang diteliti dari faktor penjamu adalah (umur, pendidikan, pekerjaan, motivasi, pengetahuan dan sikap) dalam peran serta masyarakat terhadap kewaspadaan dini pencegahan penyakit DBD.

 

3. Environment


Lingkungan adalah kondisi atau faktor berpengaruh yang bukan bagian agent maupun penjamu, tetapi mampu menginteraksikan agent penjamu. Dalam penyebaran penyakit DBD faktor lingkungan seperti tempat penampungan air sebagai perindukan nyamuk Aedes aegypti, ketinggihan tempat suatu daerah mempengaruhi perkembangbiakan nyamuk dan virus, curah hujan serta kebersihan lingkungan.

 

Tata Laksana Kasus Demam Berdarah Dengue


Dalam penatalaksanaan kasus demam berdarah dengue dikutip oleh WHO (2004) menyatakan bahwa dasar pengobatan demam berdarah Dengue adalah pemberian cairan ganti secara adekuat. Penderita DBD tanpa renjatan tersebut dapat di beri minum banyak 1,5-2 liter perhari, berupa air putih, teh manis, sirup, susu, oralit. Terhadap penderita DBD yang tidak disertai dengan renjatan tersebut dapat diberikan dengan penurun panas. Karena besarnya risiko bahaya yang mengancam, setiap orang yang diduga menderita DBD harus sesegera mungkin di bawa ke rumah sakit.
Perawatan di rumah sakit diperlukan untuk pemantauan kemungkinan terjadinya komplikasiyaitu perdarahan dan renjatan (shock). Pada orang dewasa kemungkinan ini sangat kecil dan banyak terjadi pada anak-anak. Penderita biasanya mengalami demam 2-7 hari diikuti fase kritis 2-3 hari. Pada fase kritis ini, suhu  menurun tetapi risiko terjadinya penyakit justru meningkat bahkan bila tidak diatasi dengan baik dapat menimbulkan kematian.

 

Pencegahan Penyakit DBD


Pencegahan penyakit DBD dapat dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier (Depkes RI, 2012b).

 

1. Pencegahan Primer


Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya untuk mempertahankan orang sehat agar tetap sehat atau mencegah orang sehat menjadi sakit. Secara garis besar, upaya pencegahan ini dapat berupa pencegahan umum dan khusus. Surveilans untuk nyamuk Aedes aegypti sangat penting untuk menentukan distribusi, kepadatan populasi, habitat utama larva, faktor resiko berdasarkan waktu dan tempat yang berkaitan dengan penyebaran dengue, dan tingkat kerentanan atau kekebalan insektisida yang dipakai, untuk memprioritaskan wilayah dan musim untuk pelaksanaan pengendalian vektor. 

Data tersebut akan memudahkan pemilihan dan penggunaan sebagian besar peralatan pengendalian vektor, dan dapat dipakai untuk memantau keefektifannya. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah survei jentik. Pengendalian vektor, surveilans kasus, dan gerakan pemberantasan sarang nyamuk merupakan pencegahan primer.

 

2. Pencegahan Sekunder


Pencegahan tingkat kedua ini murupakan upaya manusia untuk mencegah orang yang sakit agar sembuh, menghambat progresifitas penyakit, menghindarkan komplikasi dan mengurangi ketidakmampuan. Pencegahan skunder dapat dilakukan dengan cara mendeteksi penyakit secara dini dan pengadaan pengobatan yang cepat dan tepat.
Penemuan, pertolongan, dan pelaporan penderita DBD dilaksanakan oleh petugas kesehatan dan masyarakat dengan cara :
1. Bila dalam keluarga ada yang menunjukkan gejala penyakit DBD, berikan pertolongan pertama dengan banyak minum, kompres dingin dan berikan obat penurun panas yang tidak mengandung asam salisilat serta segera bawa ke dokter atau unit pelayanan kesehatan.
2. Dokter atau unit kesehatan setelah melakukan pemeriksaan/diagnosa dan pengobatan segaera melaporkan penemuan penderita atau tersangka DBD tersebut kepada Puskesmas, kemudian pihak Puskesmas yang menerima laporan segera melakukan penyelidikan epidemiologi dan pengamatan penyakit dilokasi penderita dan rumah disekitarnya untuk mencegah kemungkinan adanya penularan lebih lanjut.
3. Kepala Puskesmas melaporkan hasil penyelidikan epidemiologi dan kejadianluar biasa (KLB) kepada Camat, dan Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten, disertai dengan cara penanggulangan seperlunya serta diagnosis dan diagnosis laboratorium.

 

3. Pencegahan Tersier


Pencegahan ini dimaksudkan untuk mengurangi ketidakmampuan dan mengadakan rehabilitasi. Upaya pencegahan tingkat ketiga ini dapat dilakukan dengan memaksimalkan organ yang cacat. Pengobatan penderita DBD pada dasarnya  bersifat simptomatik dan suportifyaitu dukungan pada penderita serta mendirikan pusat-pusat rehabilitasi medik.