Makalah Pengertian Lingkungan Hidup Lengkap

Pengertian Lingkungan Hidup


Istilah lingkungan hidup, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan environment atau dalam bahasa Belanda disebut dengan milieu, adalah semua benda, daya, dan kondisi yang terdapat dalam suatu tempat atau ruang tempat manusia atau makhluk hidup berada dan dapat mempengaruhi hidupnya. Kegiatan belajar 1. ini membahas tentang pengertian lingkungan hidup. Setelah mempelajari kegiatan belajar 1. ini, Anda para mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan pengertian lingkungan hidup.

Materi yang akan dibahas dalam kegiatan belajar 1. ini adalah pengertian lingkungan hidup berikut pengertian lainnya yang berkaitan dengan pengertian lingkungan hidup tersebut serta peranan manusia sebagai subyek dalam ekosistem. Pengertian tersebut mencakup lingkungan hidup, ruang, keadaan, materi, daya atau energi, mahluk hidup, dan konsep ekosistem. Berikut adalah penjelasannya.
Makalah Pengertian Lingkungan Hidup Lengkap


A. LINGKUNGAN HIDUP


Lingkungan hidup secara hukum diartikan sebagai kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Pengertian tersebut sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

B. RUANG


Pengertian ruang sebagaimana yang disebutkan dalam pengertian lingkungan hidup adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk hidup lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya (Pasal 1 UU No. 26 Tahun 2007). Selain sebagai wadah tempat kegiatan manusia dan makhluk hidup lainnya, ruang juga diartikan sebagai sumber daya alam yang menunjang hidup dan kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya.


C. KEADAAN


Adapun yang dimaksud dengan keadaan menurut Soemartono (1996) adalah suatu kondisi yang memiliki berbagai macam bentuk yang saling berinteraksi. Keadaan dapat bersifat positif apabila kondisi memiliki bentukbentuk yang membantu kelancaran berlangsungnya proses kehidupan lingkungan. Keadaan bersifat negatif apabila kondisi memiliki bentuk-bentuk yang mengganggu berprosesnya interaksi lingkungan.

D. MATERI


Materi mengalir dari rantai makanan yang satu ke rantai makanan yang lainnya. Aliran materi tidak akan berhenti dengan matinya suatu makhluk hidup, karena makhluk hidup yang mati tersebut akan menjadi makanan makhluk lainnya. Materi tidak akan pernah habis, ia mengalir dari tubuh makhluk hidup yang satu ke makhluk hidup yang lainnya, dan dari dunia hidup ke dunia tak hidup. Tubuh manusia, makhluk hidup lainnya, batu, benda-benda lainnya, tersusun oleh materi. Menurut Soemarwoto (1994), materi terdiri dari unsur kimia seperti karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, dan fosfor. Benda adalah termasuk materi.

E. DAYA ATAU ENERGI


Daya atau energi diperlukan untuk melakukan kegiatan. Menurut Soemarwoto (1994), tanpa energi kita tidak dapat melakukan kegiatan apapun, dengan demikian energi adalah sesuatu yang memberi kemampuan untuk melakukan aktifitas. Selanjutnya, dalam kaitannya dengan pengertian energi, Soemartono (1996) menyebutkan bahwa energi tidak dapat dilihat, adapun yang terlihat adalah efek dari energi tersebut. Energi dapat mengalami perubahan bentuk misalnya dari energi panas berubah menjadi energi gerak, dari energi gerak dapat berubah menjadi energi listrik.

F. MAHLUK HIDUP


Menurut Yusav (2004), makhluk hidup adalah sesuatu yang memiliki ciri-ciri bernafas, bergerak, makan, mengeluarkan zat sisa, bereaksi terhadap  rangsang, berkembang biak, tumbuh, beradaptasi, serta terdapat susunan kimia. Untuk dapat diklasifikasikan sebagai makhluk hidup semua ciri-ciri tersebut harus dipenuhi. Namun sifat ini tidaklah universal. Mahluk hidup selain juga disebut dengan organisme terdiri dari manusia, tumbuhan, hewan, serta mikro organisme.

G. KONSEP EKOSISTEM


Dalam formulasi lingkungan hidup yang dikemukakan di atas, dimasukkan pula didalamnya perilaku manusia sehingga meliputi lingkungan sosial budaya. Salah satu contoh interaksi antara unsur-unsur lingkungan adalah interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Manusia dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungannya. Hubungan antara manusia dengan lingkungannya adalah sirkuler. Segala perubahan yang terjadi pada lingkungan akan mempengaruhi manusia, karena manusia hidup dari unsur-unsur lingkungan. Manusia adalah bagian integral dari lingkungan. Manusia tidak dapat dipisahkan dari lingkungannya. Tanpa lingkungan manusia tidak akan dapat hidup (Soemarwoto, 1994).

H. PERANAN MANUSIA SEBAGAI SUBYEK DALAM SUATU EKOSISTEM


Manusia merupakan bagian dari segala hal yang ada dan keadaan yang ada dalam lingkungan hidup. Antara manusia dengan segala zat, unsur dan keadaan yang ada dalam lingkungan hidup terdapat hubungan timbal balik sehingga membentuk ekosistem. Hubungan timbal balik antara manusia dan berbagai hal dalam ekosistem berada dalam suatu keseimbangan. Adapun keadaan dalam suatu lingkungan senantiasa tumbuh mengganggu keseimbangan. Akan tetapi ekosistem ini mempunyai kemampuan untuk menemukan keseimbangannya kembali (Emil Salim, 1995). Manusia hanya salah satu unsur dalam lingkungan hidup.

Dalam konsep ekosistem, manusia merupakan salah satu sub sistem yang menjadi bagian integral dari ekosistem tempat hidupnya, di mana perlu dijalin dalam suatu hubungan serasi, selaras, dan seimbang (Danusaputro, 1985). Diantara populasi suatu species organisasi hidup yang terdapat dalam ekosistem, manusia adalah makhluk hidup yang paling sempurna, yang memiliki akal budi, sehingga manusia memiliki kelebihan-kelebihan dibanding unsur-unsur ekosistem lainnya. Dengan kelebihannya itu, selain bagian dari ekosistem manusia juga berperan sebagai subyek dari ekosistemnya (Anshari, 1986). Contohnya, manusia berada di puncak rantai makanan.

Wajarlah apabila keseimbangan ekosistem tergantung pada perilaku manusia, sebagai pemimpin dari ekosistemnya manusia wajib menjaga dan memelihara stabilitas dan keseimbangan antara keseluruhan komponen ekosistem. Manusia tidak boleh mengabaikan arti pentingnya menjaga kestabilan ekosistem, karena perubahan-perubahan yang terjadi akan berpengaruh pada ekosistem, sementara manusia akan banyak sekali bergantung pada ekosistemnya. Sejalan dengan itu, Leenen (dalam Hardjasoemantri, 1996), berpendapat bahwa manusia mempengaruhi alam, dan alam mempengaruhi manusia.

Seperti telah disebutkan bahwa salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makluk hidup lainnya adalah memiliki akal dan budi. Akal pikiran manusia mampu mengikuti kehidupan alam sekitar, menciptakan suatu ilmu dan teknologi yang mampu membuat manusia beradaptasi dengan lingkungan, serta yang digunakan sebagai alat untuk mengeksploitasi sumber daya alam demi memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia semakin mampu mengekspoitasi sumber daya alam. Saat ini pembangunan tidak cukup hanya dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di wilayahnya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di satu sisi telah membawa berkembangnya industri secara cepat, namun di sisi lain melahirkan permasalahan dan dampak bagi lingkungan hidup. Beberapa permasalahan tersebut dapatlah dicontohkan seperti terjadinya pencemaran air sungai dan laut sebagai akibat pembuangan limbah tanpa kendali, pencemaran udara akibat meningkatnya kadar karbondioksida dari pabrik dan asap kendaraan bermotor, serta terjadinya kerusakan lingkungan alam sebagai dampak dari kegiatan manusia dalam mengeksplorasi sumber daya alam demi memenuhi kesejahteraan hidupnya (Salim, 2001).

Indonesia sebagai negara berkembang saat ini tengah mengalami permasalahan lingkungan. Sebagian permasalahan disebabkan karena pesatnya kemajuan teknologi, sebagian lainnya disebabkan karena kemiskinan yang memaksa rakyat merusak lingkungan hidup. Kurang terbukanya kesempatan kerja, rendahnya pendapatan dan rendahnya tingkat pendidikan telah menjadi faktor pendorong masyarakat negara berkembang untuk mengeksploitasi sumber daya alam untuk memenuhi keperluan hidupnya.

Pemahaman manusia sebagai subyek dari ekosistem harus dimaknai bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memelihara keseimbangan lingkungan. Oleh karena itu manusia dilarang menimbulkan kerusakan dan kehancuran di muka bumi ini.

Dalam pembangunan ekonomi, berbagai sengketa sosial, budaya, dan politik yang terjadi di Indonesia ditenggarai berpangkal dari perebutan sumber daya alam antar berbagai kelompok kepentingan (Moeliyono, 2003). Baik konflik antar masyarakat, antara masyarakat dengan pengusaha, antara pengusaha dengan pengusaha, antara pengusaha dengan penguasa, bahkan antara penguasa dengan masyarakat.

Pembangunan berarti mengolah dan mengubah sumber daya lingkungan, baik yang berupa sumber daya insani maupun yang berupa sumber daya alami untuk mencapai tujuan tertentu (Danusaputro, 1985). Sumber daya lingkungan merupakan sumber daya utama yang penting dalam usaha pembangunan. Semakin meluas dan meningkatnya usaha-usaha pembangunan, makin banyak pula sumber daya alam yang dimanfaatkan, sementara sumber daya alam bersifat tetap dan terbatas. Agar tidak terjadi konflik pemanfaatan sumber daya alam maka paradigma pembangunan harus diubah dari paradigma pembangunan semata-mata untuk kesejahteraan manusia menjadi paradigma pembangunan berkelanjutan. Pembangunan yang berkelanjutan adalah pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan kita saat ini tanpa menghilangkan kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka (Abdulah, 2001).

Pembangunan berkelanjutan atau sustainable development merupakan salah satu isu yang sangat penting yang menjadi dasar pembicaraan di KTT Rio. Pengertian dari sustainable development adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang dalam memenuhi kebutuhannya. Definisi ini, sebagaimana telah diuraikan di atas merupakan definisi yang diberikan oleh World Commission on Environment and Development (Komisi Dunia untuk Lingkungan dan Pembangunan) seperti yang tersaji dalam laporan Komisi yang terkenal dengan Komisi Brundtland yang terumuskan sebagai: “if it meets the needs of the present without compromissing the ability of future generations to meet their own needs”.Istilah pembangunan berkelanjutan kini telah menjadi konsep yang bersifat subtle infiltration, mulai dari perjanjian-perjanjian internasional, dalam implementasi nasional dan peraturan perundang-undangan (Siahaan, 2004). Susan Smith (1999) mengartikan sustainable development sebagai meningkatkan mutu hidup generasi ini dengan mencadangkan modal/sumber alam bagi generasi mendatang.

Menurut Susan Smith, dengan cara ini dapat dicapai 4 (empat) hal sebagai berikut.

  1. Pemeliharaan hasil-hasil yang dicapai secara berkelanjutan atas sumber daya yang diperbarui;
  2. Melestarikan dan menggantikan sumber alam yang bersifat jenuh (exhaustible resources);
  3. Pemeliharaan sistem-sistem pendukung ekologis; dan
  4. Pemeliharaan atas keanekaragaman hayati.
Sumber: Modul Mata Kuliah Hukum dan Kelembagaan Lingkungan Universitas Terbuka
Dr. Indra Perwira, S.H., M.H.
Dr. Imamulhadi, S.H., M.H.