Loading...

Cacing Anisakis Sp: Klasifikasi, Morfologi, Siklus Hidup dan Bahayanya Bagi Manusia

Cacing Anisakis Sp: Klasifikasi, Morfologi, Siklus Hidup dan Bahayanya Bagi Manusia - Akhir-akhir ini, cacing Anisakis Sp mendadak menjadi populer dan diperbincangkan netizen. Sebenarnya, cacing Anisakis Sp itu cacing apa sih? Berikut ulasannya.

Klasifikasi Cacing Anisakis sp


Anderson (2000), Klasifikasikan parasit Anisakis sp, sebagai berikut:

Kingdom : Animalia
Phylum : Nematoda
Class : Secernentea
Order : Ascaridida
Super family :Ascaridoridea
Family : Anisakidae
Sub family : Anisakinae
Genus : Anisakis
Spesies : Anisakis sp

Gambar. Parasit Anisakis sp

Gambar. Parasit Anisakis sp

Struktur tubuh parasit Anisakis sp (Gambar 2), terdiri atas : bagian (a) atau kepala terdapat beberapa bagian, yaitu (lt) = gigi larva, (ep) = pori/lubang pengeluaran, (ed) = saluran pengeluaran, (lb) = bibir. Pada bagian (b) atau alat pencerna makanan, terdapat bagian (e) = esophagus, (vc) = ventriculus, (int) = intestinum. Bagian (c) atau ekor, terdapat (a) = anus, (g) = kelenjar dubur dan (m)
= mucron.

Morfologi Anisakis sp


Menurut Awik et al. (2007), Mengatakan bahwa morfologi cacing Anisakis sp mempunyai warna putih, dengan panjang antara 10-29 mm, Anisakis mempunyai bibir venterolateral yang berfungsi untuk menyerap bahan organik dari dinding usus. Pada anterior dari Anisakis sp terdapat boring tooth yang berfungsi untuk melubangi dinding usus halus dan sekaligus untuk berpegangan pada mukosa dari usus halus agar tidak lepas pada waktu intestinum berkontraksi untuk mencerna makanan.

Keterkaitan antara panjang larva Anisakis sp terhadap usia ikan telah dilaporkan oleh Strømnes dan Andersen (2003) bahwa sejumlah larva Anisakis sp. memiliki panjang lebih dari 28 mm dan terus bertambah panjangnya seiring dengan bertambahnya usia ikan.

Larva Anisakis sp mempunyai panjang 11.2–34.5 mm, lebar 0.44–0.55 mm relatif panjang dan disertai oleh jaringan kelenjar, tidak mempunyai apendiks atau sekum, bibirnya tidak jelas, giginya menonjol ke depan dan mempunyai saluran pencernaan yang sederhana yaitu usofagus, ventrikulus dan usus halus (intestine) sedangkan Pseudoterranovasp mempunyai usofagus, venrikulus, usus halus (intestine) dan sekum secara langsung berada pada bagian anteriornya dengan total panjangnya 25–50 mm dan lebar 0.3–1.2 mm. (Hurst 1984; Sakanari dan McKerrow 1989). Berbeda dengan ukuran cacing dewasa anisakis mempunyai ukuran panjang untuk cacing dewasa jantan yaitu 38-60 mm dan untuk cacing dewasa betina yaitu 45- 80 mm (Iglesias et al. 2001).

Siklus Hidup Cacing Anisakis Sp.


Anisakis sp biasanya memanfaatkan mamalia laut atau burung yang makan ikan sebagai inang definitif dengan invertebrata air dan ikan sebagai perantara atau paratenic host. Anisakis sp dewasa ditemukan terutama di saluran pencernaan cetacea (lumba-lumba, pesut dan paus) dan Pseudoterranova sp dewasa di pinnipeds (anjing laut, singa laut dan walrus), meskipun perkiraan spesies inang definitif sebagian besar masih tidak lengkap diketahui. Perbedaan kisaran inang antara spesies telah ditemukan. Misalnya, Anisakis sp dan Pseudoterranova sp. paling sering terjadi pada ikan bentik atau demersal, sementara. pegreffi ditemukan lebih sering pada ikan pelagis. Perbedaan-perbedaan ini tampaknya lebih terkait distribusi geografis dan kebiasaan makan inang daripada preferensi perilaku inang atau fisiologis parasit (Chai et al, 2005).

Siklus hidup parasit ini di alam meliputi transmisi larva dari satu predator ke predator lain, yaitu dari crustacea yang dimakan oleh cumi, gurita atau ikan, lalu dimakan oleh mamalia laut sedangkan manusia sebagai hospes incidental atau terjangkit akibat kesalahan pola makan (Nyoman, 2000).

Desrina dan Kusumastuti (1996) mengemukakan bahwa saluran pencernaan ikan merupakan organ yang paling banyak diserang oleh cacing Anisakis sp. Pada kasus infeksi berat Anisakis sp yang menyerang jaringan organ hati ikan Cod, dilaporkan bahwa hati ikan tersebut mengecil dan kehilangan fungsinya sengkan infeksi pada otot kemungkinan kecil pengaruhnya sehingga diduga
infeksi yang berbahaya adalah infeksi sekunder yang ditimbulkan karena adanya penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme (Kahl, 1938; dalam Latama, 2006).

Anisakis sp dewasa ditemukan di dalam perut mamalia laut, dimana mereka melekat dalam mucosa secara berkelompok. Produksi telur parasit dewasa dilepaskan keluar melalui feses mamalia. P

Perkembangan telur secara embryonase terjadi di dalam air, dan larva L1 dibentuk dalam perut. Larva mengalami molting, menjadi L2 yang berenang bebas di badan air setelah mereka lepas dari telur.

Larva tersebut termakan oleh krustacea. Larva yang termakan akan berkembang menjadi L3 yang menginfeksi ikan dan cumi-cumi. Setelah inang mati, larva dapat bermigrasi ke jaringan otot. Ketika ikan atau cumi-cumi yang terkandung larva L3 Anisakis sp termakan oleh mamalia laut, larva akan mengalami molting kedua dan berkembang menjadi cacing dewasa (Parker dan Parker, 2002).

Anisakis sp (Nematoda : Anisakidae) adalah parasit umum organisme laut di seluruh dunia. Siklus hidup parasit ini melibatkan krustasea, ikan, cumi dan mamalia laut. Organisme ini bertindak sebagai perantara, paratenic atau inang pembawa dan inang definitif (Zang et al., 2007). Ikan-ikan yang tergolong dalam ikan karnivora, berpotensi sebagai inang perantara (intermediet host) dari Anisakis sp. jika memakan crustasea, ikan kecil atau chepalapoda yang terinfeksi Anisakis sp (Cruz et al, 2009).

Anisakis sp dewasa ditemukan di dalam perut mamalia laut, dimana mereka melekat dalam mucosa secara berkelompok. Produksi telur parasit dewasa dilepaskan keluar melalui feses mamalia. Perkembangan telur secara embryonase terjadi di dalam air, dan larva L1 dibentuk dalam perut. Larva mengalami molting, menjadi L2 yang berenang bebas di badan air setelah mereka lepas dari telur.

Larva tersebut termakan oleh krustacea. Larva yang termakan akan berkembang menjadi L3 yang menginfeksi ikan dan cumi-cumi. Setelah inang mati, larva dapat bermigrasi ke jaringan otot. Ketika ikan atau cumi-cumi yang terkandung larva L3 Anisakis termakan oleh mamalia laut, larva akan mengalami molting kedua dan berkembang menjadi cacing dewasa (Parker and Parker, 2002).

Parasit yang masuk ke tubuh manusia adalah parasit stadium ketiga yang masuk bersama daging ikan yang dimakan. Dalam tubuh manusia larva akan hidup dan pada umumnya tetap sebagai larva stadium ketiga, namun terkadang juga berkembang hingga larva stadium keempat atau larva yang sedang berganti kulit. Dalam hal ini manusia berperan sebagai hospes paratenik. Kebanyakan larva menyerang sub mukosa namun bisa juga mencapai organ – organ di rongga abdomen (Miyazaki, 1991).

Audicana and Kennedy (2008), parasit dewasa hidup di dalam perut mamalia laut, dan setelah telur dibuahi dikeluarkan melalui kotoran. Telur berkembang dan kemudian menetas, menghasilkan larva L3 Anisakis simplex. Larva L3 ini termakan oleh udang kecil dan copepoda (intermediate host). Ikan laut dan cumi (paratenic host) memakan krustasea planktonik atau ikan lain dan cumi terinfeksi L3, berkontribusi terhadap penyebaran parasit. Infektif L3 (tertanam dalam jeroan dan otot atau bebas dalam rongga tubuh) yang dipindahkan ke host akhir (mamalia laut) melalui konsumsi ikan laut dan cumi (dalam kasus lumba-lumba, pesut, anjing laut, singa laut, dan walrus) atau melalui udang kecil (dalam kasus paus). Pada inang akhir, dua perkembangan terjadi (dari L3 ke dewasa) sebelum dewasa untuk menghasilkan telur, dan siklus hidup lebih lanjut dimulai. Jika L3 terinfeksi ikan mentah atau cumi yang dimakan oleh manusia, larva yang terdapat dalam daging menyebabkan infeksi zoonosis, dan kemudian manusia bertindak sebagai accidental host, L3 biasanya tidak berkembang lebih jauh dan siklus tidak dapat diselesaikan, hal ini dapat kita lihat pada gambar 3 di bawah ini.

Gambar. Siklus hidup Anisakis sp. (Audicana and Kennedy, 2008)


Gambar. Siklus hidup Anisakis sp. (Audicana and Kennedy, 2008)

Representasi diagram siklus hidup Anisakis sp menurut Klimpel et al. (2004) seperti pada Gambar 3 adalah (a) telur-telur menetas diyakini berlangsung (L1-L2-L3) kemudian (b) larva tahap ketiga (L3) bebas berenang. Ini dimakan oleh inang perantara pertama Paraeuchaeta norvegica (c). Paraeuchaeta
norvegica dimakan oleh inang perantara kedua yakni Maurolicus muelleri (d), dengan larva tahap ketiga (L3) yang infektif ke inang akhir. (e) Inang pembawa (terutama Pollachius virens) dengan stadia larva ketiga (L3) yang infektif ke inang akhir. (f) (sebagian besar Phocoena phocoena, juga migrasi Cetacea) dimana dua stadia pergantian berlangsung (L3-L4-dewasa).

Siklus hidup parasit Anisakis sp. seperti digambarkan oleh Kagei (1969) adalah sebagai berikut: setelah dolphin/lumba-lumba dan hewan lainnya, yang merupakan inang utama parasit Anisakis sp.,
mengeluarkan feses yang mengandung telur parasit ke laut selanjutnya telur menetas menjadi larva stadia I. Selanjutnya larva stadia I tersebut dimakan oleh krustasea kecil yang merupakan inang perantara pertama seperti Euphasia atau Thysanoessa, dan menjadi larva parasit stadia II dan stadia III. Namun demikian, saat ini diketahui bahwa parasit yang telah menetas dari telur sudah memasuki stadia larva III yang kemudian menginfeksi krustasea kecil.

Krustasea tersebut lalu dimakan oleh ikan sebagai inang perantara kedua dan larva parasit berubah
menjadi larva stadia III atau IV pada ikan. Jika selanjutnya ikan dimakan oleh lumba-lumba, maka
parasit akan berkembang menjadi dewasa pada lumba-lumba dan siklus hidup menjadi lengkap.

Manusia dapat berfungsi sebagai inang insidensial, jika memakan ikan mentah yang terinfeksi oleh larva parasit ini maka parasit akan menginfeksi manusia dan menyebabkan penyakit Anisakiasis.
Penyakit yang disebabkan oleh Anisakis spp. yang dikenal dengan nama anisakiasis adalah termasuk
salah satu penyakit zoonosis yang menginfeksi manusia setelah mengkonsumsi makanan mentah
dari ikan atau organisma perairan lainnya yang terinfeksi oleh larva dari parasit tersebut. Penyakit
Anisakiasis telah dilaporkan dari beberapa Negara terutama yang memiliki kebiasaan mengkonsumsi
makanan mentah seperti Jepang, Korea dan beberapa negara di Eropa.Laporan tentang adanya anisakiasis pertamakali dilaporkan dari Belanda dari pasien yang menderita gangguan pada bagian pencernaannya dan dari hasil diagnosis menunjukkan bahwa pasien tersebut telah terinfeksi oleh parasit Anisakis simplex, dan setelah itu maka perhatian terhadap parasit ini menjadi semakin besar.

Di Jepang Anisakis nematode dimasukkan sebagai salah satu agen biologi patogen dalam “Food Sanitation Law” (National Institute of Infectious Diseases and Tuberculosis and Infectious Disease Control Division, Ministry of Health, Labour & Welfare (2004). Kasus Anisakiasis yang paling
banyak dilaporkan adalah disebabkan oleh Anisakis Tipe I, dan yang paling banyak dilaporkan adalah
disebabkan oleh A. simplex baik di Eropa maupun di Jepang. Sedangkan kasus Anisakiasis akibat infeksi A. typica belum dilaporkan. Hal ini kemungkinan besar sangat terkait dengan pola makan, serta menurut hasil penelitian bahwa A. simplex yang paling besar kemungkinan melakukan penetrasi pada otot ikan.

Namun demikian, keberadaan A. typica juga sangat umum dan telah dilaporkan dari beberapa wilayah seperti Jepang dan Taiwan. Hal ini menunjukkan bahwa parasit ini memiliki distribusi global di daerah tropis atau di daerah beriklim sedang yang memiliki suhu air lebih tinggi. Umehara et al. (2010) melaporkan bahwa keberadaan A. typica relatif kurang mendapat perhatian dan belum diketahui secara luas sehingga efek zoonotisnya juga kemungkinan underestimasi.

Lebih jauh dilaporkan oleh Palm et al. (2008) dan hasil penelitian saat ini menunjukkan bahwa parasit A. typica disamping ditemukan pada permukaan bagian dalam rongga tubuh juga dapat ditemukan pada otot yang berarti bahwa parasit ini berpeluang sangat besar menginfeksi manusia lewat makanan mentah.

Kasus di Indonesia tentang Anisakiasis belum banyak dilaporkan, namun hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti Ugaet al. (1996) dengan pendekatan seroepidemiologi menunjukkan adanya kasus Anisakiasis yang relatif tinggi di Sidoardjo, Jawa Timur. Kalau dilihat dari distribusi parasit, A. simplex yang diketahui memiliki penyebaran terbatas di daerah suhu dingin (Mattiucci & Nascetti, 2006) bukanlah merupakan penyebab dari kasus Anisakiasis yang dilaporkan di Jawa Timur, namun kemungkinan besar disebabkan oleh A. typica, yang memiliki penyebaran luas di daerah dengan suhu air tropis (Mattiucci & Nascetti, 2006).

Hypotesis ini tentunya masih memerlukan observasi lebih jauh tentang jenis dan penyebab kasus anisakiasis di Jawa Timur dan bahkan tempattempat lainnya di Indonesia. Identifi kasi secara akurat terhadap Anisakis pada setiap stadia siklus hidupnya merupakan hal yang sangat penting untuk dapat dapat melakukan diagnose secara tepat dan cepat dan merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam melakukan surveillance dan monitoring serta pengendalian penyakit anisakiasis.

Dalam banyak kasus, identifikasi larva Anisakis masih sangat sulit dilakukan secara morfologi karena terbatasnya karakteristik taksonomi yang dimiliki stadia larva parasit ini. Dengan teknik molecular PCR ternyata dapat mengatasi masalah tersebut. Parasit Anisakis dapat dipisahkan secara morfologi dan mengelompokkannya ke dalam Anisakis tipe I atau Anisakistipe II berdasarkan keberadaan
mukron pada bagian posterior end-nya. Anisakis yang memiliki mukron dikelompokkan ke dalam tipe I (Berland, 1961).

Dari hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Anisakis tipe I yang merupakan parasit penyebab Anisakiasis merupakan parasit dominan pada ikan tongkol. Parasit yang dikelompokkan ke dalam Anisakis tipe II memerlukan penelaahan lebih lanjut karena terkadang sulit melihat dengan jelas
keberadaan mukron akibat proses preservasi parasit yang kurang sempurna.

Target yang digunakan dalam mengembangkan teknik diagnose untuk parasit ini adalah wilayah ITS1-5.8S-ITS2, karena dari berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa wilayah ini merupakan wilayah yang dapat digunakan sebagai penanda molekuler untuk identifi kasi dan diagnose Anisakis nematode dengan benar. Dengan teknik ini beberapa spesies Anisakis tipe I dan tipe II sudah dapat dipisahkan berdasarkan susunan oligonukleotidanya.

Beberapa sampel parasit Anisakis yang tergolong ke dalam tipe I yang diisolasi dari ikan tongkol di ekstraksi DNAnya, dilakukan pengujian dengan PCR dan hasil PCR yang menunjukkan pita pada angka 965 bp dilakukan uji PCRRFLP. Hasil penelitian yang dilakukan Uji PCR-RFLP dengan enzim restriksi Taq I memperlihatkan adanya 2 buah pita yang berdekatan pada angka 400 bp dan 350 bp dan dengan enzim restriksi Hinf I menujukkan pita pada angka 620 bp dan 350 bp dan enzim restriksi
Cfo I memperlihatkan adanya 4 buah pita pada angka di bawah 500 bp (320 bp, 240 bp, 180 bp dan 160 bp).

Sampel parasit Anisakis tipe I yang diuji dengan PCRRFLP semuanya menunjukkan bahwa spesiesnya adalah A. typica berdasarkan kriteria D’Amelio et al. (2000) dan Pontes et al. (2005)

Referensi:
1. Jurnal Perikanan (J. Fish. Sci.) XIII (2): 70-77 ISSN: 0853-6384
IDENTIFIKASI MOLEKULER DENGAN TEKNIK PCR-RFLP LARVA PARASIT Anisakis spp
(Nematoda: Anisakidae) PADA IKAN TONGKOL (Auxis thazard) DAN KEMBUNG
(Rastrelliger kanagurta) DARI PERAIRAN MAKASSAR
MOLECULAR IDENTIFICATION OF Anisakis spp (Nematode: Anisakidae) FROM FRIGATE
TUNA (Auxis thazard) AND INDIAN MACKEREL (Rastrelliger kanagurta)
OF MAKASSAR WATERS
Hilal Anshary
Jurusan Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin

2. Skripsi PROGRAM STUDI PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS TEUKU UMAR
MEULABOH
2016

PREVALENSI DAN INTENSITAS CACING Anisakis sp
PADA IKAN TONGKOL (Euthynnus affinis) DI TPI UJONG
BAROH KECAMTAN JOHAN PAHLAWAN
KABUPATEN ACEH BARAT

Samsul Bahri
Loading...