Pintar Biologi | Blog Pembelajaran Biologi Terlengkap

Pintar Biologi

Blog Pembelajaran Biologi Terlengkap


Proses Pembentukan Relung (Niche)

Proses Pembentukan Relung (Niche)

Dalam mempelajari relung, ada beberapa istilah yang dikaitkan dengan proses pembentukan relung, di antaranya tiga istilah berikut. 1). respon organisme terhadap persaingan sumber daya, 2). ekivalensi ekologi (Ecological Equivalents), dan 3). pemindahan karakter (Character Displacement).

1. Respon Organisme Terhadap Persaingan Sumber Daya

Berdasarkan konsep relung ekologi Hutchinson, adanya tumpang tindih dalam satu atau beberapa dimensi relung (sumber daya) di antara dua spesies yang berkoeksistensi dalam habitat yang sama akan menimbulkan interaksi persaingan yang sangat tinggi. Tidak ada dua spesies yang bentuk adaptasinya (fisiologi, struktural, dan perilaku) yang identik satu dengan lainnya, sehingga spesies yang memperlihatkan adaptasi yang lebih baik dan agresif akan memanfaatkan sumber daya secara optimal dan mampu bertahan hidup.

Sedangkan spesies yang kalah bersaing akan mencari tempat lain yang menyediakan sumber daya yang dibutuhkannya atau mengalami kepunahan. Terdapat dua respon organisme dalam menghadapi persaingan interspesifik ini yaitu:

a. Eksklusi persaingan (Competitive Exclusion): satu spesies akan memanfaatkan sumber daya dengan lebih efektif sehingga spesies lain akan punah.

b. Pemisahan sumber daya (Resource Partitioning): setiap spesies akan hidup dalam habitat yang sama tetapi tetapi terjadi pembagian sumber daya (pemisahan relung/niche separation).

a. Asas Eksklusi Persaingan (Competitive Exclusion)

Pada 1930-an, Georgy Gause melakukan serangkaian studi empiris tentang dinamika populasi paramecia dalam kompetisi atau pemangsaan untuk menguji prediksi persamaan diferensial (Vito Volterra,1926) dan (Alfred Lotka, 1924). Pada bukunya tahun 1934, Gause menyatakan bahwa dua spesies yang menempati relung yang sama dalam lingkungan yang homogen tidak bisa hidup berdampingan. saat mereka bersaing untuk mendapatkan sumber daya yang sama, artinya satu spesies satu relung (Gambar 1.8).

Proses Pembentukan Relung (Niche)

Sumber: Prezi (2019)

Gambar 1.8

Persaingan Dua Spesies berdasarkan Konsep Eksklusi Persaingan

b. Pemisahan Sumber Daya (Resource Partitioning)

Berdasarkan konsep koeksistensi dan pernyataan dari Gause, beberapa spesies yang hidup secara langgeng dalam habitat yang sama adalah spesiesspesies yang relung ekologinya berbeda atau terpisah. Artinya, relung ekologi dari beberapa spesies yang menyangkut dimensi sumber daya yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan harus berbeda dalam habitat yang sama.

Pada saat spesies memiliki tumpang tindih relung yang tinggi, maka spesies-spesies tersebut akan fokus pada perbedaan spektrum sumber daya.

MacArthur (1958) melakukan penelitian terhadap 5 spesies burung warbler (Cape May, Yellow-rumped, Black-throated Green, Blackburnian, dan Baybreasted) di Hutan Cornifer Amerika Utara. Burung warbler merupakan pemakan serangga yang menempati habitat yang sama yaitu pohon cemara atau pinus. Dengan menghitung jarak pada pohon, MacArthur membagi pohon ke dalam beberapa zona. Penelitian menunjukan bahwa setiap spesies warbler memiliki posisi makan dan ruang yang berbeda pada setiap zona pohon. Cape May berada di zona luar di bagian atas, Bay-breasted makan sebagian besar di sekitar zona interior tengah, sementara Yellow-rumped bergerak dari zona satu ke zona lainnya (Gambar 1.9).

Proses Pembentukan Relung (Niche)

Sumber : Biology Forums (2019)

Gambar 1.9

Pemisahan Sumber Daya Burung Warbler

Pemisahan sumber daya dapat terlihat jelas pada jenis makanan yang dikonsumsi. Pemisahan ini didukung oleh adanya perbedaan dalam adaptasi morfologi spesies sehingga memungkinkan timbulnya perbedaan penggunaan sumber daya. Hal ini juga dibuktikan dengan penelitian Pyke (1982), yangmeneliti tentang lebah di Gunung Colorado. Penelitian menunjukan spesiesspesies lebah mampu beradaptasi terhadap bentuk sumber daya yang spesifik.

Setiap lebah akan berkompetisi untuk memperoleh nektar bunga, tetapi setiap bunga penghasil nektar memiliki variasi dalam panjang mahkota bunga, sehingga setiap lebah akan beradaptasi dengan cara memilih bunga yang sesuai dengan morfologi proboscis lebah. Lebah menjadi sangat spesifik memilih bunga yang akan didatangi sehingga terdapat pemisahan sumber daya makanan antara berbagai spesies lebah (Gambar 1.10).

Proses Pembentukan Relung (Niche)

Sumber: The Nature Education (2011)

Gambar 1.10

Pemisahan Sumber Daya Lebah (Bambus spp.)

2. Ekivalensi Ekologi (Ecological Equivalents)

Ekivalensi ekologi atau kesamaan ekologi menunjukan dua atau lebih spesies memiliki relung yang sama tetapi berada di daerah geografis yang berbeda. Ekivalensi ekologi biasanya terjadi pada komunitas yang relatif sederhana. Perkerabatan taksonomi dari ekivalen ekologi ini dapat memiliki hubungan yang dekat atau jauh. 

Spesies dengan relung ekivalen cenderung memiliki kedekatan kekerabatan jika terdapat pada tempat yang berdekatan sedangkan pada tempat yang terpisah jauh cenderung tidak memiliki kedekatan taksonomik (kekerabatan). Secara umum ekivalen ekologi dapat dikenal dari kemiripan-kemiripan yang diperlihatkan organisme dalam proses adaptasi morfologi dan perilakunya dalam memanfaatkan sumber daya.

Contoh spesies yang memiliki ekivalensi ekologi adalah katak Mantella yang merupakan katak endemik dari Kepulauan Madagaskar, dimana memiliki relung yang sama dengan katak dari family Dendrobatidae (Poison dart frog) yang berasal dari Amerika Tengah dan Selatan. Keduanya memiliki kemiripan morfologi seperti ukuran dan morfologi tubuh serta pola tingkah lakunya.

Kedua katak ini memiliki warna yang mencolok dan menghasilkan racun yang mampu membuat takut predator (Gambar 1.11).

Proses Pembentukan Relung (Niche)

Gambar 1.11

Dua Spesies dengan Ekivalensi Ekologi

3. Pemindahan Karakter (Character Displacement)

Pemindahan karakter adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perubahan evolusioner yang terjadi ketika dua spesies serupa menghuni lingkungan yang sama. Pada kondisi sumber daya terbatas, spesies akan melakukan adaptasi morfologi, perilaku, dan fisiologi yang menyebabkan terjadinya perbedaan sifat antara spesies.

Terdapat dua bentuk pemindahan karakter. Pertama, ketika spesies bersaing untuk mendapatkan sumber daya, seleksi mungkin mengarah pada perpindahan karakter ekologis/ecological character displacement (Slatkin, 1980; Schluter, 2001). Pemindahan karakter ekologis muncul ketika persaingan antara individu heterospesifik yang sama melakukan adaptasi fenotipik atau morfologi untuk mengurangi persaingan antar spesies (Robinson dan Wilson, 1994; Schluter, 2000; Hari dan Muda, 2004; Dayan dan Simberloff, 2005). Kedua, ketika spesies saling mengganggu kemampuan antar spesies dalam mengidentifikasi pasangan atau mengakibatkan hilangnya kemampuan berkembangbiak sehingga terjadi perbedaan pola perilaku (perilaku berbiak) maka seleksi dapat mengarah pada pemindahan karakter reproduksi/reproductive character displacement (Blair, 1955; Crozier, 1974) (Gambar 1.12).

Proses Pembentukan Relung (Niche)

Sumber: Pfennig dan Pfennig (2009)

Gambar 1.12

Proses Pemindahan Karakter

Habitat dan Relung Ekologi (Niche)

Habitat dan Relung Ekologi (Niche)

Kehadiran dan penyebaran populasi di suatu tempat berkaitan dengan masalah habitat dan relung ekologi. Habitat menunjukan tempat hidup organisme sedangkan relung menunjukan posisi dan cara kedudukan populasi organisme terhadap faktor abiotik dan biotik. Habitat sering diartikan dengan alamat sedangkan relung ekologi diartikan profesi organisme di alamat tersebut.

Kali ini, Anda akan mempelajari tentang pengertian habitat, pembagian habitat, pengertian, konsep, dan proses terbentuknya relung ekologi. Setelah mempelajari bab ini, secara umum Anda diharapkan dapat:

  1. mendefinisikan konsep habitat;
  2. menjelaskan konsep terbentuknya relung ekologi; dan
  3. membedakan habitat dengan relung ekologi.

A. HABITAT

1. Pengertian Habitat

Habitat dalam arti yang sederhana adalah tempat organisme menetap (Odum, 1971). Habitat adalah area yang memiliki sumber daya dan kondisi bagi organisme untuk bertahan hidup dan bereproduksi (Krausman, 1999).

Thomas (1979), menyatakan bahwa habitat bukan hanya sekedar vegetasi atau struktur vegetasi tapi merupakan jumlah sumber daya spesifik yang dibutuhkan organisme. Sumber daya ini termasuk makanan, perlindungan, air, dan faktor khusus lainnya yang dibutuhkan oleh suatu spesies untuk bertahan hidup dan bereproduksi (Leopold 1933). Jadi dapat dikatakan bahwa tempat yang menyediakan sumber daya bagi organisme untuk bertahan hidup disebut habitat. Bahkan daerah migrasi dan koridor penyebaran serta wilayah yang dikuasai organisme saat musim kawin juga dikatakan sebagai habitat.

Habitat dapat dikatakan sebagai gambaran lingkungan fisik dalam ruang dan waktu yang ditempati atau berpotensi sebagai tempat tinggal organisme.

Kawasan fisik (abiotik) dan karakteristik biologi (biotik) yang berada di sekitar organisme dan memiliki potensi berinteraksi dengan organisme dikenal dengan sebutan lingkungan (environment).

Habitat inilah yang menghubungkan kehadiran spesies, populasi, atau individu (hewan atau tumbuhan) dengan lingkungannya. Mitchell (2005) menyatakan bahwa habitat bukan hanya sekedar lingkungan abiotik organisme tetapi termasuk di dalamnya ada interaksi antar komponen biotik itu sendiri.

Oleh karena itu habitat menunjukan totalitas lingkungan yang ditempati populasi dimana di dalamnya tercakup faktor abiotik berupa ruang, media yang ditempati, cuaca, iklim, serta vegetasinya.

2. Pemanfaatan dan Seleksi Habitat oleh Suatu Organisme

Habitat digunakan oleh organisme dengan memanfaatkan sumber daya fisik (abiotik) dan biologi (biotik). Habitat digunakan sebagai daerah jelajah, perlindungan, sarang, daerah larian, atau kegiatan hidup lainnya. 

Pengkategorian pemanfaatan habitat (seperti daerah larian dan daerah jelajah) membagi habitat ke dalam beberapa area sehingga beberapa di antaranya terjadi tumpang tindih pemanfaatan. (Litvaitis et al., 1996) menyatakan bahwa dalam satu area dapat terdiri atas satu atau beberapa kategori pemanfaatan.

Organisme dapat melakukan seleksi terhadap suatu habitat untuk ditempati. Seleksi habitat adalah proses atau perilaku yang digunakan organisme untuk memilih habitat yang sesuai untuk menunjang kehidupannya (Hutto, 1985). Suatu habitat diseleksi oleh organisme berdasarkan ketersediaan tempat berlindung, kualitas dan kuantitas vegetasi, daerah peristirahatan, daerah pemangsaan, serta daerah pemeliharaan anak. 

Kesuksesan reproduksi dan kelangsungan hidup spesies adalah alasan utama yang mempengaruhi suatu spesies untuk memilih habitat (Hilden, 1965). Litvaitis et al., (1996) menyatakan kemampuan untuk bertahan hidup ini diatur oleh faktor-faktor utama seperti ketersediaan vegetasi, tempat berlindung, dan menghindar dari predator.

Interaksi organisme juga mempengaruhi suatu organisme dalam memilih habitat seperti kompetisi dan predasi. Kompetisi dapat menyebabkan organisme tidak memilih suatu habitat karena adanya keterbatasan sumber daya (Blok dan Brennan 1993) atau dapat menyebabkan terjadinya distribusi spasial organisme dalam habitat (Keen 1982). 

Adanya predator juga dapat mencegah suatu organisme menduduki suatu area. Kelangsungan hidup spesies dan keberhasilan reproduksinya di masa depan adalah kekuatan pendorong yang mungkin menyebabkan organisme mengevaluasi faktorfaktor biotik ini. Kompetisi dan predator dapat menyebabkan organisme memilih daerah berbeda dengan sumber daya yang kurang optimal.

Mari kita lihat penelitian Gunawan et al., (2012) yang menggambarkan tentang macan tutul jawa (Panthera pardus melas Cuvier, 1809) di wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pekalongan Barat, KPH Banyumas Barat, dan KPH Banyumas Timur. 

Dari penelitian tersebut diketahui bahwa macan tutul menempati habitat dengan toleransi yang tinggi terhadap iklim dan makanan. Macan tutul jawa ini memilih tempat berlindung berupa hutan bervegetasi lebat dan sulit diakses manusia karena topografi yang curam (lereng dengan kemiringan > 40%) atau berupa lembah dalam dan juga bukit dengan ketinggian yang sulit dijangkau. Daerah yang bervegetasi lebat digunakan macan tutul untuk aktivitas berlindung dan mengintai mangsa.

Macan tutul betina akan menggunakan daerah bervegetasi lebat atau singkapan batu sebagai sarangnya. Sarang ini sangat penting untuk kelangsungan hidup anak-anaknya karena melindungi mereka dari pemangsa.

Habitat di alam memiliki berbagai organisme berupa vegetasi maupun populasi hewan yang ada di dalamnya. Berbagai organisme tersebut akan mengelompok dan terkonsentrasi pada tempat-tempat tertentu yang dirasa paling cocok. Oleh karena itu masing-masing organisme akan menempati mikrohabitatnya, yaitu bagian dari habitat yang merupakan lingkungan dengan kondisi paling optimal dan dekat hubungannya dengan organisme. 

Sebagai contoh, jamur pelapuk kayu hanya dapat hidup pada bagian batang tumbuhan yang telah lapuk, teduh, dan lembab (Gambar 1.4). Kondisi tempat hidupnya ini mungkin sangat berbeda dengan kondisi sekitarnya secara umum. Tempat khusus inilah yang kemudian disebut dengan mikrohabitat, jika mikrohabitat memiliki iklim yang berbeda dengan sekitarnya maka disebut mikroklimat(iklim mikro) bagi habitat tersebut. Di dalam mikrohabitat, organisme akan terkonsentrasi dan beradaptasi secara fisiologi, struktural, dan perilaku.

Sumber: Balai Taman Nasional Northern Velebit (2019)

Gambar 1.4.

Jamur Galerina marginata yang hidup pada Pohon yang Tumbang di Taman Nasional Northern Velebit Sebagai Mikro Habitat

B. RELUNG EKOLOGI (NICHE)

1. Pengertian

Relung ekologi (niche) menunjukkan peranan fungsional dan posisi suatu organisme dalam suatu komunitas atau ekosistem tertentu (Indriyanto, 2006).

Odum (1993) menyatakan bahwa relung ekologi adalah posisi atau status dari struktur adaptasi organisme, respon psikologi, dan tingkah laku spesifik.

Relung merupakan kombinasi tempat organisme hidup (habitat), cara organisme hidup (adaptasi), dan peranannya dalam komunitas.

2. Konsep Relung

Beberapa pakar mempunyai konsep akan relung ekologi, marilah kita simak satu persatu

a. Konsep Relung (Niche) dari Grinnell dan Elton

Kata niche (relung) pertama kali diungkapkan oleh Roswell Jhonson sekitar tahun 1910. Menurut Jhonson, relung merupakan tempat yang dikuasai oleh spesies. Tetapi, Joseph Grinnell lah yang pertama memasukkan konsep relung ke dalam program penelitian dan secara eksplisit menjelaskan relung dari berbagai spesies (Griesemer, 1992). 

Kata niche diungkapkan Grinnell pada awal tahun 1914, meliputi berbagai hal yang menyatakan keberadaan spesies di berbagai lokasi termasuk faktor abiotik seperti suhu, kelembaban, curah hujan, dan faktor biotik seperti kehadiran makanan, pesaing, predator, tempat penampungan, dan lain-lain.

Grinnell menggambarkan terdapat 4 komponen utama dalam relung yaitu:

  • Tipe makanan yang dikonsumsi;
  • Pemilihan mikrohabitat;
  • Sifat fisik dan perilaku saat mengumpulkan makanan; dan
  • Sumber daya diperlukan untuk tempat tinggal dan pembiakan.

Keempat faktor dasar ini memungkinkan pengkarakterisasian relung bagi berbagai organisme, dan setiap organisme memiliki relung yang berbeda-beda berdasarkan keempat faktor tersebut (Petren, 2001). Dengan membandingkan beberapa komunitas di wilayah yang berbeda, Grinnell membayangkan bahwa beberapa relung yang dikuasai spesies di suatu wilayah mungkin tidak terdapat atau kosong di wilayah yang lain karena adanya keterbatasan penyebaran akibat hambatan geografis. Berdasarkan perbandingan komunitas ini, membawa perhatian Grinnell terhadap ekivalen ekologi (ecological equivalents), yang menurut evolusi akan membawa pada penguasaan relung yang sama dalam habitat yang serupa pada daerah geografi yang berbeda (Schoener, 1989).

Pada tahun 1927, Charles Elton mempublikasikan tulisan mengenai niche dalam karyanya Animal Ecology. Sejak saat itu, Elton dianggap sebagai ayah kedua dari konsep relung setelah Grinnell. Elton berfokus pada ekologis equivalen tetapi dalam program penelitian yang berbeda dengan Grinnell.

Elton mencari berbagai varian dari struktur komunitas dan fokus pada hubungan trofik yaitu: (a) rantai makanan, (b) hubungan antara ukuran (dimensi) suatu organisme dan ukuran makanannya, (c) relung suatu organisme, yaitu tempat hewan bermasyarakat, berhubungan dengan makanan, musuhnya, dan faktor lainnya, serta (d) piramida angka (fakta bahwa organisme di dasar rantai makanan lebih banyak daripada organisme di ujung rantai). Relung kemudian diartikan sebagai posisi spesies dalam rantai trofik (seperti karnivora, herbivora, dan lain-lain); meskipun faktor-faktor seperti mikrohabitat juga bisa dimasukkan (Elton 1927).

Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa konsep relung berdasarkan Grinnell (Grinnellian niche concept) mewujudkan gagasan bahwa relung spesies ditentukan oleh ketersediaan habitat tempat tinggal dan adaptasi perilaku yang menyertainya. Dengan kata lain, relung adalah jumlah dari persyaratan habitat dan perilaku yang memungkinkan suatu spesies bertahan dan menghasilkan keturunan, jadi lebih menekankan relung sebagai mikrohabitat yang ditempati oleh spesies.

Sedangkan konsep relung dari Elton (Eltonian niche concept) mengklasifikasikan relung berdasarkan kegiatan mencari makan (foraging activities dan food habits). Elton memperkenalkan gagasan tentang respon dan dampak suatu spesies terhadap lingkungan. Tidak seperti konsep relung lainnya, konsep ini menekankan bahwa suatu spesies tidak hanya tumbuh dan merespon lingkungan berdasarkan sumber daya yang tersedia, pemangsa, dan kondisi iklim, tetapi juga dapat mengubah ketersediaan dan perilaku dari faktor-faktor tersebut ketika tumbuh. Elton lebih menjelaskan tentang peranan spesies dalam komunitas.

b. Konsep Relung (Niche) dari George Hutchinson

Pada tahun 1957, Hutchinson mengembangkan konsep relung secara lebih lanjut dan memperkenalkan konsep relung ekologi multidimensi (ndimensional hypervolume). Sementara Grinnell dan Elton menekankan kesamaan relung yang ditempati oleh ekologis ekuivalen di berbagai wilayah geografis. Hutchinson menekankan kesamaan relung spesies di lokasi yang sama, cara spesies berkompetisi, serta mempertimbangkan faktor lainnya seperti predasi dan variabilitas lingkungan (Griesemer 1992). Oleh

Hutchinson, relung digambarkan dalam ruang variabel lingkungan (biotik dan abiotik). Berdasarkan konsepnya, Hutchinson menganggap setiap kisaran toleransi terhadap suatu faktor lingkungan atau kisaran macam sumberdaya yang dimanfaatkan spesies sebagai satu dimensi. Persyaratan hidup suatu organisme tidak hanya menyangkut satu atau dua dimensi (sumber daya) tetapi terdiri atas banyak dimensi (Gambar 1.5).

Sumber: Hutchinson (1957)

Gambar 1.5

Ilustrasi Konsep relung Hutchinson

Hutchinson membedakan relung ini ke dalam 2 prinsip, yaitu relung fundamental (fundamental niche) dan relung yang terealisasi (realized niche).

Relung fundamental menunjukan secara utuh kondisi lingkungan tempat spesies hidup, sedangkan relung yang terealisasikan menunjukan status fungsional yang benar-benar ditempati oleh spesies. Untuk dapat memberikan gambaran lebih jelas kepada Anda, silahkan simak gambar 1.6 berikut.

Gambar 1.6

Fundamental dan Realized Niche

Pada relung fundamental, suatu organisme dapat mengambil keuntungan dari semua faktor biotik dan abiotik dalam suatu ekosistem tanpa persaingan dari spesies lain atau tekanan dari predator. Relung ini menyempit ketika organisme lain tiba dan ada persaingan untuk mendapatkan sumber daya dan makanan atau ketika pemangsa mulai berburu di daerah tersebut. Organisme akan bertahan dan beradaptasi dengan kondisi baru dalam relung yang terealisasikan.

Sebagai contoh, Chthamalus sp. (sejenis teritip) akan menempati area intertidal baik daerah pasang tinggi ataupun daerah pasang rendah. Area intertidal ini disebut fundamental niche. Tetapi jika terdapat spesies teritip lainnya (Balanus sp) pada area intertidal tersebut, maka Chthamalus hanya akan menempati daerah pasang tinggi, sedangkan Balanus akan menempati daerah pasang rendah. Daerah pasang tinggi disebut realized niche bagi Chthalamus. Pada realized niche, Chthalamus akan bersaing dan bertahan hidup (Gambar 1.7).

Sumber: Pathwayz (2019)

Gambar 1.7

Persaingan dalam Memperoleh Sumber Daya

Relung fundamental memiliki ukuran yang sama atau lebih besar dari relung yang terealisasikan. Relung fundamental dan relung terealisasi bisa lebar atau sempit, karena itu pula terdapat istilah bagi spesies yang menempatinya. Spesies spesialis adalah istilah untuk organisme yang hidup di relung yang sempit karena mereka hanya berkembang dalam kondisi lingkungan tertentu atau makan makanan tertentu. Sebaliknya, spesies generalis menempati relung yang lebih luas dan memanfaatkan berbagai sumber daya dan dapat hidup di banyak kondisi lingkungan yang berbeda.

no image

Kelelahan Otot (Fatigue)

Pengertian Kelelahan Otot (Fatigue)

Kelelahan otot adalah ketidakmampuan otot untuk meneruskan kontraksi. Seseorang dapat merasakan kelelahan otot secara mental. Saat seseorang masih mampu melakukan kontraksi namun orang tersebut merasa tidak mampu. Kelelahan tersebut disebut kelelahan sentral atau kelelahan psikologis. Kelelahan sentral disebabkan oleh perubahan di sistem saraf pusat. Namun penjelasan mendetail tentang mekanisme kelelahan otot sentral belum diketahui sampai saat ini.

Selain kelelahan sentral terdapat pula kelelahan otot dan kelelahan neuromuskular. Salah satu kelelahan otot disebabkan oleh penimbunan asam laktat. Penimbunan asam laktat menyebabkan otot menjadi kurang responsif terhadap rangsangan. Penyebab lainnya adalah kehabisan cadangan energi.

Kelelahan neuromuskular sesuai namanya terjadi di percabangan saraf dengan otot. Kelelahan neuromuskular disebabkan oleh ketidakmampuan neuron motorik aktif untuk mensintesis asetilkolin (AcH) secara cepat, sehingga kebutuhan AcH tidak terpenuhi untuk meneruskan potensial aksi dari saraf ke otot.

Kelelahan otot membatasi kinerja otot. Dalam ilmu faal olahraga, kelelahan otot dibagi menjadi kelelahan lokal maupun menyeluruh. Dapat menyertai olahraga endurans maupun olahraga yang berintensitas tinggi yang berlangsung singkat.

Jenis Kelelahan Otot

1. Kelelahan Otot Yang Bersifat Lokal

Kelelahan otot lokal (local muscular fatigue) mengikuti latihan fisik berintensitas tinggi dan berlansung singkat disebabkan oleh akumulasi produksi asam laktat di dalam otot dan darah. Hal ini berhubungan dengan mekanisme resintesa energi (ATP) selama proses kontraksi-kontraksi otot di dalam serabut otot FT (fast-twitch) yang lebih banyak berperan pada aktivitas fisik atau olahraga yang berintensitas tinggi. 

Sebagaimana kita telah ketahui bahwa serabut otot FT lebih cepat mengalami kelelahan dibandingkan dengan serabut otot ST (slow-twitch) karena serabut otot FT mempunyai kemampuan sistem anaerobik yang tinggi dengan sistem aerobik yang rendah, sehingga cepat terbentuk asam laktat. Hal ini akan menyebabkan kelelahan otot lebih cepat terjadi. 

b. Kelelahan Yang Menyertai Olahraga Endurans

Kelelahan yang mengikuti olahraga atau latihan endurans (endurance exercise) tidak disebabkan oleh karena akumulasi produksi asam laktat. Kelelahan ini disebabkan selain oleh karena terjadinya kelelahan pada otot (komponen lokal), juga karena faktor diluar otot (komponen tubuh lainnya). Kelelahan karena faktor komponen lokal, disebabkan terkurasnya cadangan glikogen otot baik pada serabut otot FT maupun ST, sedangkan kelelahan karena komponen tubuh lainnya, mungkin disebabkan oleh: (1) hipoglikemia; (2) penipisan glikogen hati; (3) dehidrasi; (4) kehilangan elektrolit; (5) hipertermia; dan (6) kebosanan (psikologis). Jadi kelelahan yang menyertai olahraga endurans merupakan kelelahan yang bersifat menyeluruh. 

Mekanisme Kontraksi Otot

Mekanisme Kontraksi Otot

Awal mula kontraksi terjadi ketika retikulum sarkoplasmik melepaskan ion Ca2+ ke dalam sarkoplasma. Pada sarkoplasma, ion kalsium berikatan dengan troponin, menjadi troponinC. Troponin tersebut menggeser tropomyosin dari daerah perlekatan myosin (myosin binding site) pada aktin. Ketika daerah perlekatan tersebut sudah tidak tertutupi tropomiosin, terjadilah siklus kontraksi otot.



Kontraksi otot terdiri dari empat langkah:

1. ATP Hidrolisis

Pada kepala myosin, terdapat daerah perlekatan ATP (ATP binding-site) dan terdapat enzim ATPase. Enzim ATPase adalah enzim yang memecah ATP menjadi ADP dan kelompok fosfat. Pada proses hidrolisis ATP ini, kepala myosin menjadi bengkok.

Produk dari hidrolisis ATP (ADP + P) masih menempel di kepala myosin.

2. Cross bridge

Pada saat kepala myosin menempel pada daerah perlekatan myosin pada aktin, kelompok fosfat yang tadi telah terhidrolisis dilepaskan. Keadaan saat kepala myosin menempel pada aktin selama kontraksi disebut cross bridge.

3. Power stroke

Setelah cross bridge terbentuk, terjadi power stroke. Selama power stroke, daerah di mana ADP masih menempel (pada myosin) terbuka. Karena itu, cross bridge berputar ke tengah sarkomer (garis M) dan melepaskan ADP tersebut. Cross bridge menghasilkan usaha selama bergerak ke tengah sarkomer, menggerakkan filament tipis (aktin) melewati filament tebal (myosin).

4. Pelepasan myosin dari aktin

Pada akhir power stroke, cross bridge tetap menempel pada aktin sampai myosin mengikat molekul ATP yang lain. Saat ATP menempel pada daerah perlekatan di kepala myosin, myosin melepaskan diri dari aktin yang lama.

Siklus kontraksi berulang selama enzim ATPase menghidrolisis molekul ATP yang baru. Proses tsb berlangsung selama ATP tersedia dan konsentrasi Ca2+ tinggi. Ketika Ca2+ tidak dilepaskan lagi ke reticulum sarkoplasmik, proses kontraksi berhenti dan terjadi relaksasi.

Kerja Otot

Kerja Otot

 Kerja otot


Kerja otot dibagi menjadi dua yaitu kinetik dan statis. Contoh gerak kinetik adalah menulis. Contoh gerak statis adalah memegang buku pada posisi tertentu tanpa bergerak.

Kontraksi otot juga di bagi menjadi dua yaitu kontraksi isotonik dan isometrik, kontraksi isotonik bekerja ketika tegangan pada otot yang bekerja relatif konstan meskipun otot mengalami perubahan panjang. Kontraksi isotonik digunakan untuk memindahkan barang dan memindahkan benda. 

Kontraksi isotonik dibagi menjadi dua yaitu, konsentrik dan eksentrik.


Kontraksi dan Relaksasi Otot

Pada kontraksi isotonik konsentrik untuk memindahkan benda, otot mengalami pemendekan. Contohnya saat otot biseps berkontaksi yang digunakan untuk mengangkat buku. Pada mekanisme konsentrik eksentrik otot mengalami pemanjangan saat proses kontraksi, sedangkan konstraksi isometric adalah kontraksi dimana energi tidak cukup membuat benda berpindah dan tidak mampu membuat perubahan pada otot.

Setiap orang mempunyai kemampuan otot yang bebeda beda. Jika otot nyeri dan kelelahan kerja otot akan menurun dan otot idak bekerja tidak maksimal. Namun belum tentu setiap orang tahu penyebab nyeri yang dirasakan dan pengaruhannya terhadap relaksasi. 

Oleh karena itu, dalam percobaan ini kita mempelajari pengaruh otot saat melakukan saat melakukankontraksi berupa tarikan dengan kelelahan sempurna yang kemudian disertai dengan istirahat dan pemijatan. Terdapat tiga hal, yang ditinjau dalampercobaan ini yaitu mekanisme kerja otot, metabolisme energi yang digunakan, dan mekanisme kelelahan otot.


Daur Unsur-unsur Kimia

Daur Unsur-unsur Kimia

a. Siklus Unsur Hara

b. Konsep Produktivitas dan Rantai Makanan


Suatu organisme hidup akan selalu membutuhkan organisme lain dan lingkungan hidupnya. Hubungan yang terjadi antara individu dengan lingkungannya sangat kompleks, bersifat saling mempengaruhi atau timbal balik. Hubungan timbal balik antara unsur-unsur hayati dengan nonhayati membentuk sistem ekologi yang disebut ekosistem. Di dalam ekosistem terjadi rantai makanan, aliran energi, dan siklus biogeokimia.

Rantai makanan adalah pengalihan energi dari sumbernya dalam tumbuhan melalui sederetan organisme yang makan dan yang dimakan. Para ilmuwan ekologi mengenal tiga macam rantai pokok, yaitu rantai pemangsa, rantai parasit, dan rantai saprofit.

1. Rantai Pemangsa
Rantai pemangsa landasan utamanya adalah tumbuhan hijau sebagai produsen. Rantai pemangsa dimulai dari hewan yang bersifat herbivora sebagai konsumen I, dilanjutkan dengan hewan karnivora yang memangsa herbivora sebagai konsumen ke-2 dan berakhir pada hewan pemangsa karnivora maupun herbivora sebagai konsumen ke-3.

2. Rantai Parasit
Rantai parasit dimulai dari organisme besar hingga organisme yang hidup sebagai parasit. Contoh organisme parasit antara lain cacing, bakteri, dan benalu.

3. Rantai Saprofit
Rantai saprofit dimulai dari organisme mati ke jasad pengurai. Misalnya jamur dan bakteri. Rantai-rantai di atas tidak berdiri sendiri tapi saling berkaitan satu dengan lainnya sehingga membentuk faring-faring makanan.

4. Rantai Makanan dan Tingkat Trofik
Salah satu cara suatu komunitas berinteraksi adalah dengan peristiwa makan dan dimakan, sehingga terjadi pemindahan energi, elemen kimia, dan komponen lain dari satu bentuk ke bentuk lain di sepanjang rantai makanan.

Organisme dalam kelompok ekologis yang terlibat dalam rantai makanan digolongkan dalam tingkat-tingkat trofik. Tingkat trofik tersusun dari seluruh organisme pada rantai makanan yang bernomor sama dalam tingkat memakan.

Sumber asal energi adalah matahari. Tumbuhan yang menghasilkan gula lewat proses fotosintesis hanya memakai energi matahari dan C02 dari udara. Oleh karena itu, tumbuhan tersebut digolongkan dalam tingkat trofik pertama. Hewan herbivora atau organisme yang memakan tumbuhan termasuk anggota tingkat trofik kedua. Karnivora yang secara langsung memakan herbivora termasuk tingkat trofik ketiga, sedangkan karnivora yang memakan karnivora di tingkat trofik tiga termasuk dalam anggota iingkat trofik keempat.

5. Piramida Ekologi


Struktur trofik pada ekosistem dapat disajikan dalam bentuk piramida ekologi. Ada 3 jenis piramida ekologi, yaitu piramida jumlah, piramida biomassa, dan piramida energi.

a. Piramida jumlah
Organisme dengan tingkat trofik masing - masing dapat disajikan dalam piramida jumlah, seperti kita Organisme di tingkat trofik pertama biasanya paling melimpah, sedangkan organisme di tingkat trofik kedua, ketiga, dan selanjutnya makin berkurang. Dapat dikatakan bahwa pada kebanyakan komunitas normal, jumlah tumbuhan selalu lebih banyak daripada organisme herbivora. Demikian pula jumlah herbivora selalu lebih banyak daripada jumlah karnivora tingkat 1. Kamivora tingkat 1 juga selalu lebih banyak daripada karnivora tingkat 2. Piramida jumlah ini di dasarkan atas jumlah organisme di tiap tingkat trofik.

b. Piramida biomassa
Seringkali piramida jumlah yang sederhana kurang membantu dalam memperagakan aliran energi dalam ekosistem. Penggambaran yang lebih realistik dapat disajikan dengan piramida biomassa. Biomassa adalah ukuran berat materi hidup di waktu tertentu. Untuk mengukur biomassa di tiap tingkat trofik maka rata-rata berat organisme di tiap tingkat harus diukur kemudian barulah jumlah organisme di tiap tingkat diperkirakan.

Piramida biomassa berfungsi menggambarkan perpaduan massa seluruh organisme di habitat tertentu, dan diukur dalam gram.

Untuk menghindari kerusakan habitat maka biasanya hanya diambil sedikit sampel dan diukur, kemudian total seluruh biomassa dihitung. Dengan pengukuran seperti ini akan didapat informasi yang lebih akurat tentang apa yang terjadi pada ekosistem.

c. Piramida energi
Seringkali piramida biomassa tidak selalu memberi informasi yang kita butuhkan tentang ekosistem tertentu. Lain dengan Piramida energi yang dibuat berdasarkan observasi yang dilakukan dalam waktu yang lama.

Piramida energi mampu memberikan gambaran paling akurat tentang aliran energi dalam ekosistem.
Pada piramida energi terjadi penurunan sejumlah energi berturut-turut yang tersedia di tiap tingkat trofik. Berkurang-nya energi yang terjadi di setiap trofik terjadi karena hal-hal berikut.

1. Hanya sejumlah makanan tertentu yang ditangkap dan dimakan oleh tingkat trofik selanjutnya.
2. Beberapa makanan yang dimakan tidak bisa dicemakan dan dikeluarkan sebagai sampah.
3. Hanya sebagian makanan yang dicerna menjadi bagian dari tubuh organisma, sedangkan sisanya digunakan sebagai sumber energi.
3. Hubungan antara Makhluk Hidup dan Lingkungan
4. Dasar-dasar Prinsip Energi dalam Ekosistem
Energi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan kerja. Energi diperoleh organismee dari makanan yang dikonsumsinya dan dipergunakan untuk aktivitas hidupnya.

Cahaya matahari merupakan sumber energi utama kehidupan. Tumbuhan berklorofil memanfaatkan cahaya matahari untuk berfotosintesis. Organisme yang menggunakan energi cahaya untuk merubah zat anorganik menjadi zat organik disebut kemoautotrof Organisme yang menggunakan energi yang didapat dari reaksi kimia untuk membuat makanan disebut kemoautotrof

Energi yang tersimpan dalam makanan inilah yang digunakan oleh konsumen untuk aktivitas hidupnya. Pembebasan energi yang tersimpan dalam makanan dilakukan dengan cara oksidasi (respirasi).

Golongan organisme autotrof merupakan makanan penting bagi organisme heterotrof, yaitu organisme yang tidak dapat membuat makanan sendiri misalnya manusia, hewan, dan bakteri tertentu. Makanan organisme heterotrof berupa bahan organik yang sudah jadi.

Aliran energi merupakan rangkaian urutan pemindahan bentuk energi satu ke bentuk energi yang lain dimulai dari sinar matahari lalu ke produsen, konsumen primer, konsumen tingkat tinggi, sampai ke saproba di dalam tanah. Siklus ini berlangsung dalam ekosistem.

Materi yang menyusun tubuh organisme berasal dari bumi. Materi yang berupa unsurunsur terdapat dalam senyawa kimia yang merupakan Materi dasar makhluk hidup dan tak hidup.
Siklus biogeokimia atau siklus organikanorganik adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus unsur-unsur tersebut tidak hanya melalui organisme, tetapi jugs melibatkan reaksireaksi kimia dalam lingkungan abiotik sehingga disebut siklus biogeokimia.

Siklus-siklus tersebut antara lain: siklus air, siklus oksigen, siklus karbon, siklus nitrogen, dan siklus sulfur. Di sini hanya akan dibahas 3 macam siklus, yaitu siklus nitrogen, siklus fosfor, dan siklus karbon.

1. Siklus Nitrogen (N2)
Gas nitrogen banyak terdapat di atmosfer, yaitu 80% dari udara. Nitrogen bebas dapat ditambat/difiksasi terutama oleh tumbuhan yang berbintil akar (misalnya jenis polongan) dan beberapa jenis ganggang. Nitrogen bebas juga dapat bereaksi dengan hidrogen atau oksigen dengan bantuan kilat/ petir.
Tumbuhan memperoleh nitrogen dari dalam tanah berupa amonia (NH3), ion nitrit (N02- ), dan ion nitrat (N03- ).

Beberapa bakteri yang dapat menambat nitrogen terdapat pada akar Legum dan akar tumbuhan lain, misalnya Marsiella crenata. Selain itu, terdapat bakteri dalam tanah yang dapat mengikat nitrogen secara langsung, yakni Azotobacter sp. yang bersifat aerob dan Clostridium sp. yang bersifat anaerob. Nostoc sp. dan Anabaena sp. (ganggang biru) juga mampu menambat nitrogen.

Nitrogen yang diikat biasanya dalam bentuk amonia. Amonia diperoleh dari hasil penguraian jaringan yang mati oleh bakteri. Amonia ini akan dinitrifikasi oleh bakteri nitrit, yaitu Nitrosomonas dan Nitrosococcus sehingga menghasilkan nitrat yang akan diserap oleh akar tumbuhan. Selanjutnya oleh bakteri denitrifikan, nitrat diubah menjadi amonia kembali, dan amonia diubah menjadi nitrogen yang dilepaskan ke udara. Dengan cara ini siklus nitrogen akan berulang dalam ekosistem. Lihat Gambar.

Siklus nitrogen


2. Siklus Fosfor
Di alam, fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah).
Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Oleh karena itu, fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Siklus ini berulang terus menerus. Lihat Gambar
Gbr. Siklus Fosfor di Alam

Siklus Fosfor di Alam
Siklus Fosfor di Alam


3. Siklus Karbon dan Oksigen
Di atmosfer terdapat kandungan COZ sebanyak 0.03%. Sumber-sumber COZ di udara berasal dari respirasi manusia dan hewan, erupsi vulkanik, pembakaran batubara, dan asap pabrik.
Karbon dioksida di udara dimanfaatkan oleh tumbuhan untuk berfotosintesis dan menghasilkan oksigen yang nantinya akan digunakan oleh manusia dan hewan untuk berespirasi.
Hewan dan tumbuhan yang mati, dalam waktu yang lama akan membentuk batubara di dalam tanah. Batubara akan dimanfaatkan lagi sebagai bahan bakar yang juga menambah kadar C02 di udara.

Di ekosistem air, pertukaran C02 dengan atmosfer berjalan secara tidak langsung. Karbon dioksida berikatan dengan air membentuk asam karbonat yang akan terurai menjadi ion bikarbonat. Bikarbonat adalah sumber karbon bagi alga yang memproduksi makanan untuk diri mereka sendiri dan organisme heterotrof lain. Sebaliknya, saat organisme air berespirasi, CO2 yang mereka keluarkan menjadi bikarbonat. Jumlah bikarbonat dalam air adalah seimbang dengan jumlah C02 di air. Lihat Gambar.

Siklus Karbon dan Oksigen

no image

Rangkuman Materi Ekologi Lengkap

A. Ruang Lingkup Ekologi


Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yangterdiri dari dua kata, yaitu oikos yang artinya rumah atau tempat hidup, dan logos yang berarti ilmu. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya.

Dalam ekologi, kita mempelajari makhluk hidup sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya. Definisi ekologi seperti di atas, pertama kali disampaikan oleh Ernest Haeckel (zoologiwan Jerman, 1834-1914).

Ekologi adalah cabang ilmu biologi yang banyak memanfaatkan informasi dari berbagai ilmu pengetahuan lain, seperti: kimia, fisika, geologi, dan klimatologi untuk pembahasannya. Penerapan ekologi di bidang pertanian dan perkebunan di antaranya adalah penggunaan kontrol biologi untuk pengendalian populasi hama guna meningkatkan produktivitas.

Ekologi berkepentingan dalam menyelidiki interaksi organisme dengan lingkungannya. Pengamatan ini bertujuan untuk menemukan prinsip-prinsip yang terkandung dalam hubungan timbal balik tersebut.

Dalam studi ekologi digunakan metoda pendekatan secara rnenyeluruh pada komponen-kornponen yang berkaitan dalam suatu sistem. Ruang lingkup ekologi berkisar pada tingkat populasi, komunitas, dan ekosistem.

b. Perbedaan Ekologi dan Ekosistem


Antara komunitas dan lingkungannya selalu terjadi interaksi. Interaksi ini menciptakan kesatuan ekologi yang disebut ekosistem. Komponen penyusun ekosistem adalah produsen (tumbuhan hijau), konsumen (herbivora, karnivora, dan omnivora), dan dekomposer/pengurai (mikroorganisme).

Faktor Abiotik
Faktor abiotik adalah faktor tak hidup yang meliputi faktor fisik dan kimia. Faktor fisik utama yang mempengaruhi ekosistem adalah sebagai berikut.

a. Suhu
Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan organisme untuk hidup. Ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada kisaran suhu tertentu.

b. Sinar matahari
Sinar matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena matahari menentukan suhu. Sinar matahari juga merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai produsen untuk berfotosintesis.

c. Air
Air berpengaruh terhadap ekosistem karena air dibutuhkan untuk kelangsungan hidup organisme. Bagi tumbuhan, air diperlukan dalam pertumbuhan, perkecambahan, dan penyebaran biji; bagi hewan dan manusia, air diperlukan sebagai air minum dan sarana hidup lain, misalnya transportasi bagi manusia, dan tempat hidup bagi ikan. Bagi unsur abiotik lain, misalnya tanah dan batuan, air diperlukan sebagai pelarut dan pelapuk.

d. Tanah
Tanah merupakan tempat hidup bagi organisme. Jenis tanah yang berbeda menyebabkan organisme yang hidup didalamnya juga berbeda. Tanah juga menyediakan unsur-unsur penting bagi pertumbuhan organisme, terutama tumbuhan.

e. Ketinggian
Ketinggian tempat menentukan jenis organisme yang hidup di tempat tersebut, karena ketinggian yang berbeda akan menghasilkan kondisi fisik dan kimia yang berbeda.

f. Angin
Angin selain berperan dalam menentukan kelembapan juga berperan dalam penyebaran biji tumbuhan tertentu.

g. Garis lintang
Garis lintang yang berbeda menunjukkan kondisi lingkungan yang berbeda pula. Garis lintang secara tak langsung menyebabkan perbedaan distribusi organisme di permukaan bumi. Ada organisme yang mampu hidup pada garis lintang tertentu saja.

c. Asas-asas Ekosistem


Interaksi antarkomponen ekologi dapat merupakan interaksi antarorganisme, antarpopulasi, dan antarkomunitas.

A. Interaksi antar organisme


Semua makhluk hidup selalu bergantung kepada makhluk hidup yang lain. Tiap individu akan selalu berhubungan dengan individu lain yang sejenis atau lain jenis, baik individu dalam satu populasinya atau individu-individu dari populasi lain. Interaksi demikian banyak kita lihat di sekitar kita. Interaksi antar organisme dalam komunitas ada yang sangat erat dan ada yang kurang erat. Interaksi antarorganisme dapat dikategorikan sebagai berikut.

a. Netral
Hubungan tidak saling mengganggu antarorganisme dalam habitat yang sama yang bersifat tidak menguntungkan dan tidak merugikan kedua belah pihak, disebut netral. Contohnya : antara capung dan sapi.

b. Predasi
Predasi adalah hubungan antara mangsa dan pemangsa (predator). Hubungan ini sangat erat sebab tanpa mangsa, predator tak dapat hidup. Sebaliknya, predator juga berfungsi sebagai pengontrol populasi mangsa. Contoh : Singa dengan mangsanya, yaitu kijang, rusa,dan burung hantu dengan tikus.

c. Parasitisme
Parasitisme adalah hubungan antarorganisme yang berbeda spesies, bilasalah satu organisme hidup pada organisme lain dan mengambil makanan dari hospes/inangnya sehingga bersifat merugikan inangnya. contoh : Plasmodium dengan manusia, Taeniasaginata dengan sapi, dan benalu dengan pohon inang.

d. Komensalisme
Komensalisme merupakan hubunganantara dua organisme yang berbeda spesies dalam bentuk kehidupan bersama untuk berbagi sumber makanan; salah satu spesies diuntungkan dan spesies lainnya tidak dirugikan. Contohnya anggrek dengan pohon yang ditumpanginya.

e. Mutualisme
Mutualisme adalah hubungan antara dua organisme yang berbeda spesies yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Contoh, bakteri Rhizobium yang hidup pada bintil akar kacang-kacangan.

B. Interaksi Antarpopulasi


Antara populasi yang satu dengan populasi lain selalu terjadi interaksi secara langsung atau tidak langsung dalam komunitasnya. Contoh interaksi antarpopulasi adalah sebagai berikut.
Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain.

Contohnya, di sekitar pohon walnut (juglans) jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksik. Pada mikroorganisme istilah alelopati dikenal sebagai anabiosa.Contoh, jamur Penicillium sp. dapat menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu.

Kompetisi merupakan interaksi antarpopulasi, bila antarpopulasi terdapat kepentingan yang sama sehingga terjadi persaingan untuk mendapatkan apa yang diperlukan. Contoh, persaingan antara populasi kambing dengan populasi sapi di padang rumput.

C. Interaksi Antar Komunitas


Komunitas adalah kumpulan populasi yang berbeda di suatu daerah yang sama dan saling berinteraksi. Contoh komunitas, misalnya komunitas sawah dan sungai. Komunitas sawah disusun oleh bermacam-macam organisme, misalnya padi, belalang, burung, ular, dan gulma. Komunitas sungai terdiri dari ikan, ganggang, zooplankton, fitoplankton, dan dekomposer. Antara komunitas sungai dan sawah terjadi interaksi dalam bentuk peredaran nutrien dari air sungai ke sawah dan peredaran organisme hidup dari kedua komunitas tersebut.

Interaksi antarkomunitas cukup komplek karena tidak hanya melibatkan organisme, tapi juga aliran energi dan makanan. Interaksi antarkomunitas dapat kita amati, misalnya pada daur karbon. Daur karbon melibatkan ekosistem yang berbeda misalnya laut dan darat.

D. Interaksi Antarkomponen Biotik dengan Abiotik


Interaksi antara komponen biotik dengan abiotik membentuk ekosistem. Hubunganantara organisme dengan lingkungannya menyebabkan terjadinya aliran energi dalam sistem itu. Selain aliran energi, di dalam ekosistem terdapat juga struktur atau tingkat trofik, keanekaragaman biotik, serta siklus materi.
Dengan adanya interaksi-interaksi tersebut, suatu ekosistem dapat mempertahankan keseimbangannya. Pengaturan untuk menjamin terjadinya keseimbangan ini merupakan ciri khas suatu ekosistem. Apabila keseimbangan ini tidak diperoleh maka akan mendorong terjadinya dinamika perubahan ekosistem untuk mencapai keseimbangan baru.

Adanya perubahan-perubahan pada populasi mendorong perubahan pada komunitas. Perubahan-perubahan yang terjadi menyebabkan ekosistem berubah. Perubahan ekosistem akan berakhir setelah terjadi keseimbangan ekosistem. Keadaan ini merupakan klimaks dari ekosistem. Apabila pada kondisi seimbang datang gangguan dariluar, kesimbangan ini dapat berubah, dan perubahan yang terjadi akan selalu mendorong terbentuknya keseimbangan baru.

Rangkaian perubahan mulai dari ekosistem tanaman perintis sampai mencapai ekosistem klimaks disebut suksesi. Terjadinya suksesi dapat kita amati pada daerah yang baru saja mengalami letusan gunung berapi. Rangkaian suksesinya sebagai berikut.

Mula-mula daerah tersebut gersang dan tandus. Setelah beberapa saat tanah akan ditumbuhi oleh tumbuhan perintis, misalnya lumut kerak. Tumbuhan perintis ini akan menggemburkan tanah, sehingga tanah dapat ditumbuhi rumput-rumputan yang tahan kekeringan.

Setelah rumput-rumput ini tumbuh dengan suburnya, tanah akan makin gembur karena akar-akar rumput dapat menembus dan melapukan tanah, juga karena rumput yang mati akan mengundang datangnya dekomposer (pengurai) untuk menguraikan sisa tumbuhan yang mati. Dengan semakin subur dan gemburnya tanah maka biji-biji semak yang terbawa dari luar daerah itu akan tumbuh, sehingga proses pelapukkan akan semakin banyak.

Dengan makin gemburnya tanah, pohon-pohon akan mulai tumbuh. Kehadiran pohon-pohon akan mendesak kehidupan rumput dan semak sehingga akhirnya tanah akan didominasi oleh pepohonan. Sejalan dengan perubahan vegetasi, hewan-hewan yang menghuni daerah tersebut juga mengalami perubahan tergantung pada perubahan jenis vegetasi yang ada. Ada hewan yang datang dan ada hewan yang pergi.

Komunitas klimaks yang terbentuk dapat berupa komunitas yang homogen, tapi dapat juga komunitas yang heterogen. Contoh komunitas klimaks homogen adalah hutan pinus, hutan jati. Contoh komunitas klimaks yang heterogen misalnya hutan hujan tropis.
Contoh Pedoman Penulisan Artikel Ilmiah e-Jurnal Biologi

Contoh Pedoman Penulisan Artikel Ilmiah e-Jurnal Biologi

Contoh Pedoman Penulisan Artikel Ilmiah e-Jurnal Biologi - Berikut ini kami berikan Contoh Pedoman Penulisan Artikel Ilmiah e-Jurnal Biologi FMIPA Universitas Andalas:

E-Jurnal Biologi merupakan jurnal ilmiah yang menerbitkan artikel mengenai berbagai aspek yang terkait dalam bidang Biologi yang merupakan hasil penelitian tugas akhir mahasiswa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia dengan abstrak dalam bahasa Inggris. Setiap naskah yang masuk ke redaksi akan dipublikasikan jika telah lolos dalam proses Review.


Pengiriman Naskah


Naskah dikirimkan ke alamat redaksi: Jurusan Biologi FMIPA UNAND. Kampus UNAND Limau Manis Padang 25163 (telp. 0751-777427). Email redaksi: ejurnalbioua@gmail.com. Naskah diterima dalam bentuk soft copy dan hard copy (satu rangkap).

Pedoman Penulisan


  1. Panjang maksimum naskah adalah 10 halaman, ketikan spasi rangkap (1 spasi) pada kertas A4 
  2. Naskah diketik dengan Microsoft Word, dua kolom (badan artikel kecuali judul dan abstrak), tipe huruf Times New Roman, 11 pt. 
  3. Batas tepi ketikan masing-masing 3 cm 
  4. Nomor halaman ditempatkan di sudut kanan atas 
  5. Gambar dan tabel ditempatkan sesuai posisinya dan juga dilampirkan dalam file terpisah di bagian akhir setelah daftar pustaka secara terpisah. 


Kerangka Penulisan Artikel


  • Bagian awal artikel yang terdiri dari ; judul, penulis (author dan co-author tanpa gelar), alamat penulis dan afiliasi dan abstrak. 
  • Bagian isi yang terdiri dari ; 1. Pendahuluan, 2. Metoda Penelitian, 3. Hasil dan Pembahasan serta 4. Kesimpulan 
  • Bagian Penutup yang terdiri dari ; ucapan terimakasih dan daftar pustaka.


Format Penulisan Naskah


  • Judul Judul singkat (maksimal 20 kata), dicetak tebal (12 pt), diketik dengan huruf besar di setiap awal kata. Nama latin dan istilah asing diketik miring. Judul ditulis dalam dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris 
  • Data Penulis Terdiri dari ; nama lengkap penulis (dengan superscript jika diperlukan), afiliasi dan alamat email penulis korespondensi. Jika artikel merupakan penelitian dosen dan atau pembimbing, author pertama adalah nama dosen yang bersangkutan.


Contoh:

Keanekaragaman dan Distribusi Burung Rangkong (Famili : Bucerotidae) Di Kawasan Hutan Harapan Jambi 

Diversity and distribution of hornbills (family : Bucerotidae) at Harapan Rain Forest Jambi 

Jefri Warman 1), Wilson Novarino 2) dan Jabang Nurdin 1)* 

1) Laboratorium Ekologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Andalas
2) Laboratorium Taksonomi Hewan Vertebrata, Jurusan Biologi, FMIPA Universitas Andalas
* Koresponden: jabangnurdin@fmipa.unand.ac.id


  • Abstrak (Abstract); Abstrak ditulis dalam bahasa Inggris dimana panjang abstrak tidak lebih dari 200 kata. Abstrak mengandung ringkasan dari latar belakang tujuan penelitian, metodologi dan hasil penelitian. Abstrak dilengkapi kata kunci (keywords) dalam bahasa Inggris maksimum 5 kata atau gugus kata yang mencerminkan isi artikel. 
  • Pendahuluan; Bagian pendahuluan berisi latar belakang disertai acuan pustaka penting terkait dan diakhiri dengan alinea tujuan penelitian. 
  • Metode penelitian; Metode yang digunakan, termasuk cara pengunaan alat, dituliskan secara terperinci bila belum pernahditerbitkan. Metode yang sudah diterbitkan cukup dijelaskan prinsipnya disertai pustakanya. Metode yang dimodifikasi dijelaskan modifikasinya disertai pustaka sebelumnya. Analisa data dijelaskan secara rinci 
  • Hasil dan Pembahasan;Hasil dan pembahasan tidak dipisah dan dibahas dengan referensi pendukung. Tabel dan grafik dibuat dalam bentuk terbuka. Judul tabel serta gambar diberi nomor sesuai urutan pengacuannya dalam teks. Hasil-hasil penting yang dipaparkan pada bagian hasil dibahas dalam kaitan dengan perumusan masalah tujuan dan hipotesis penelitian. Persamaan, perbedaan dan keunikan hasil penelitian yang diperoleh dibandingkan dengan informasi terkini dalam bidang terkait. 
  • Kesimpulan;Penarikan kesimpulan didasarkan hasil yang diperoleh dengan memperhatikan permasalahan dan tujuan penelitian. 
  • Ucapan Terima kasih;Ucapan terimakasih disampaikan pada pihak penyandang dana dan pihak yang telah berjasa terhadap penelitian sehingga penulisan bisa dihasilkan. 
  • Daftar Pustaka; Daftar Pustaka disusun berdasarkan abjad menggunakan sistem nama tahun. 
Jurnal:Sreekumar, P.G., and M. Balakrishan. 2001. Habitat and Attitude Preferences of Butterflies in Alaram Wildlife Sanctuary, Kerala. Tropical Ecology 42(2): 277-281.

Buku:Fleming, W. A. 1991. Butterflies of West Malaysia and Singapore. 2nd edition. Vinlin Pres Sdn. Bhd. Sripetaling. Kuala Lumpur. Malaysia.

Bab dalam buku:Wagner, T. 1999. Arboreal chrysomelid community structure and faunal overlap between different type of forests in Central Africa. In: Cox M. L. (ed.), Advance in Chrysomelidae Biology. Leiden. Backhuys Publisher. P: 247-270. Abstrak: Almuis, J. O., and D. C. Cunnigham. 1986. Semen Traits of Beefbull Ejaculated Frequently. J. Anim. Sci. 25 : 916 (Abstr.).

Prosiding:Penulisan sama dengan penulisan Bab dalam buku, dengan menyebutkan seminar/simposium/konferensi, tempat, tanggal, halaman dalam prosiding
Pratiwi, P., Suwirmen, M. Idris dan R. Puspita. 2010. Induksi Kalus Andalas (Morus macroura Miq.) yang Toleran Terhadap Cekaman Kekeringan Menggunakan Polietilena Glikol (PEG). Dalam : Zul, S., R. Elvira dan Fitmawati (Eds). Prosiding Semirata PTN Barat Bidang Ilmu MIPA Ke-23. Universitas Riau, Pekanbaru, 10-11 Mei 2010. Pusat Pengembangan Pendidikan Universitas Riau. P: 259-264.

Skripsi, Tesis atau Disertasi:Sutra, N. S. M. 2012. Jenis Kupu-kupu (Rhopalocera) di Tanjung Balai Karimun Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau.[Skripsi]. Padang. Universitas Andalas.

Informasi dari internet: Penulisan sama dengan bagian jurnal, dengan menambahkan web address dan tanggal diakses. Rutowski, R. L. 1997. When Butterflies Meet. http://www.butterflywebsite.com/articles/showarticle.Cfm?iD=27. 8 Agustus 2002.

Buku yang bersumber dari lembaga / instansi : Badan Pusat Statistika. 2000. Survey Pertanian Produksi Tanaman Sayuran dan Buah-buahan. Biro Pusat Statistika. Jakarta.

Selengkapnya file PDF bisa diakses disini
Meristem Apikal: Pengertian, Fungsi, Macam, Letak dan Contoh Gambarnya

Meristem Apikal: Pengertian, Fungsi, Macam, Letak dan Contoh Gambarnya

Meristem Apikal: Pengertian, Fungsi, Macam, Letak dan Contoh Gambarnya - Pada awal perkembangan tumbuhan, seluruh sel memiliki kemampuan membelah, pada tahap selanjutnya pembelahan sel terjadi hanya di bagian-bagian tertentu. Jaringan yang masih memiliki kemampuan membelah ( bersifat embrionik) disebut meristem. Pembelahan sel sebenarnya masih dapat terjadi pada jaringan lain tetapi jumlahnya terbatas.

Berdasarkan letak nya dalam tumbuhan, meristem terbagi menjadi :


  1. Meristem apeks, adalah meristem yang berada di ujung batang dan ujung akar
  2. Meristem lateral, adalah meristem yang menyebabkan organ bertambah lebar kearah lateral
  3. Meristem interkalar, adalah meristem yang berada diantara jaringan yang sudah berdiferensiasi, misalnya pada ruas-ruas tumbuhan Graminae.


Berdasarkan asalnya, meristem terbagi menjadi meristem primer dan meristem primer.


  1. Meristem primer, adalah meristem yang berkembang langsung dari sel embrionik.
  2. Meristem sekunder, adalah meristem yang berkembang dari jaringan yang telah mengalami diferensiasi.


Pada meristem apeks primer dapat dibedakan antara promeristem dan daerah meristematis dibawahnya dimana sel telah mengalami diferensiasi sampai taraf tertentu. Promeristem terdiri dari pemula-pemula apeks bersama dengan sel derivatnya yang masih berdekatan dengan pemula.

Daerah meristematik di bawahnya yang telah sebagian terdiferensiasi terdiri dari :

1. protoderm yang menghasilkan epidermis
2. prokambium yang membentuk jaringan pembuluh primer
3. meristem dasar yang membentuk jaringan dasar seperti parenkim.

Jaringan meristem, memiliki ciri-ciri dinding sel tipis, bentuk sel isodiametris dibanding sel dewasa, jumlah protoplasma sangat banyak. Biasanya protoplas sel meristem tidak memiliki cadangan makanan dan kristal, sedangkan plastida masih pada tahap pro plastida. Pada Anggiospermae sel meristem memiliki vakuola kecil yang tersebar diseluruh protoplas.

Meristem Apikal

1. Meristem apeks pucuk 


Apeks pucuk adalah bagian yang tepat di atas primordium daun yang paling muda yang bersifat meristematis. Bentuk apeks pucuk dari arah memanjang, pada umumnya sedikit cembung dan dapat berubah-ubah Berbagai bentuk meristem apeks pucuk pada berbagai kelompok tumbuhan adalah sebagai berikut :

A. Pteridophyta :
- terdiri dari 1 sel disebut sel apical
- terdiri dari lebih dari 1 sel disebut initial apikal

B. Gymnospermae

a. Type Cycas : terdapat meristem permukaan dengan bidang pembelahan antiklinal dan periklinal
b. Type Ginkgo : terdapat sel induk sentral, meristem tepi (perifer) dan meristem rusuk ( meristem tengah)

C. Anggiospermae

Teori Histogen oleh Hanstain (1868), menyatakan bahwa terdapat tiga daerah di apeks pucuk (Gambar 1), yaitu :
a. Dermatogen (I) menjadi epidermis
b. Pleurom (III) akan menjadi silinder pusat
c. Periblem (II) akan menjadi korteks

Gambar 1. meristem apeks pucuk pada anggiospermae


Gambar 1. meristem apeks pucuk pada anggiospermae

Teori yang dianut hingga sekarang adala Teori Tunica Corpus oleh Schmidt (1924), yang menyatakan bahwa terdapat 2 daerah pada meristem apeks pucuk yaitu :.
1. Tunika pada lapisan terluar yang membelah antiklinal akan berdiferensiasi menjadi epidermis
2. Corpus dibawah tunica , membelah ke segala arah dan membentuk semua jaringan selain epidermis

Gambar 2. Meristem apeks pucuk pada Coleus


Gambar 2. Meristem apeks pucuk pada Coleus

2. Meristem apeks akar


a. Pteridophyta

- terdiri dari satu atau lebih sel ( 3-5 sel)
- berupa kumpulan sel

b. Anggiospermae dan Gymnospermae

Seperti teori Hanstein pada apeks pucuk, meristem apeks akar terdiri dari: Protoderm, meristem korteks, dan meristem silinder pembuluh (Gambar 3 dan 4).

Gambar 4. Sayatan memanjang meristem apeks pucuk
Konsep Fundamental Fisiologi Hewan

Konsep Fundamental Fisiologi Hewan

Konsep Fundamental Fisiologi Hewan

By: G. Nugroho Susanto, FMIPA Unila

Fisiologi Hewan adalah Ilmu pengetahuan yang membahas dan mengkaji mengenai
mekanisme kerja fungsi kehidupan dan segala sesuatu yang dilakukan hewan dengan berbagai
gejala yang ada pada sistem hidup, serta pengaturan atas segala fungsi dalam sistem hidup.

Manusia menjalankan fungsi kehidupan lingkungan luar dipengaruhi aktifitas hewan
mempengaruhi lingkungan internal tubuh hewan berubah yakni hewan harus mempertahankan
diri atau beradaptasi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Konsep Fundamental Fisiologi Hewan


1. Claude Bernard ( 1813-1878 )
Syarat penting untuk bertahan hidup di lingkungan eksternal yakni mempertahankan stabilitas
lingkungan internalnya,dikembangkan penyebabnya ialah senyawa khusus yang di hasilkan
oleh semua organ dan dikeluarkan kecairan jaringan,dia adalah pelopor munculnya gagasan
hormon dan regulasi kimia.

2. Canon ( 1871-1945 )
Mengembangkan gagasan Claude Bernard memperkenalkan istilah HOMEOSTATIS,yakni
adalah keadaan lingkungan internal yang konstan dan mekanisme yang bertanggung jawab
atas keadaan konstan tersebut.

Faktor-faktor lingkungan internal yang harus dijaga stabilitasnya oleh hewan :
1. Keasaman atau pH, kadar garam
2. Kandungan air tubuh suhu tubuh
3. Kandungan nutrient

Hewan di bagi dalam dua jenis yaitu:

1.Hewan regulator
Yaitu Hewan yang mampu mengatur berbagai faktor stabilitas lingkungan internal dengan
tepat

2.Hewan konformer
Yaitu Hewan yang tidak mampu mempertahankan keadaan lingkungan internalnya,
lingkungan internalnya berubah seiring dengan perubahan lingkungan eksternal.

Hewan akan menyesuaikan diri dengan cara : Adaptasi yaitu proses timbulnya perubahan
dalam tubuh hewan yang membuat hewan dapat bertahan ketika lingkungan eksternal
berubah. Adaptasi ada dua jenis:

1.Aklimasi


Yaitu perubahan adaptik yang terjadi pada hewan dalam kondisi yang terkendali,biasanya
hanya ada satu atau dua faktor lingkungan yang berubah

2. Aklimatisasi


Yaitu reaksi keseluruhan yang terjadi setelah perubahan-perubahan yang kompleks dari
lngkungan eksternal,yang disebabkan banyak faktor sekaligus.

Respon hewan terhadap lingkungan merupakan sistem dinamis yang melibatkan interaksi
hewan dengan lingkungannya. Menurut K.Bycov dalam membahas dan mengkaji fisiologi
hewan tidak lepas dari bahasan dan kajian tentang fungsi pada tubuh hewan serta interaksi
dengan lingkungan.

Lingkungan eksternal dibedakan dua macam: lingkungan Akuatik dan Terestrial.

1. Lingkungan Akuatik


yaitu tempat hidup hewan yang berupa air, baik air tawar, air laut
maupun air payau.

Faktor yang mempengaruhi lingkungan akuatik adalah:
a. Tekanan hidrostatik yaitu tekanan yang ditimbulkan oleh kedalaman air
b. Kandungan zat terlarut yaitu lingkungan akuatik yang mengandung berbagai zat terlarut
seperti garam,gas,sejumlah kecil senyawa organic dan berbagai polutan.
c. Suhu yaitu lingkungan akuatik yang memiliki nilai fisiologis penting untuk mendukung
kehidupan hewan,selain itu suhu di dalam air tidak banyak mengalami perubahan yakni
hewan POIKILOTERM: Hewan yang suhu tubuhnya berubah-ubah akibat perubahan suhu
lingkungan.

2. Lingkungan Terestrial


Adalah tempat hidup hewan yang berupa daratan. Faktor lingkungan luar yang berpengaruh
besar terhadap aktivitas kehidupan hewan. Keuntungannya ketersediaan oksigen yang
melimpah, lalu ancamannya berupa radiasi dan dehidrasi.

a. Radiasi adalah perpindahan panas yang terjadi antara dua benda tanpa ada kontak langsung
diantara keduanya.
b. Dehidrasi yaitu kondisi tubuh yang kekurangan cairan akibat tubuh hewan kehilangan air
dalam jumlah besar,yang di pengaruhi oleh: suahu tinggi dan kelembaban rendah,kecepatan
angin dan luas permukaan benda.

Homeostatis yakni stabilitas lingkungan internal yang terjadi relative konstan dan dinamis.
Inilah Kandungan Gizi Tempe Beserta Manfaatnya yang Perlu Kamu Ketahui

Inilah Kandungan Gizi Tempe Beserta Manfaatnya yang Perlu Kamu Ketahui

Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa bahan
lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti Rhizopus oligosporus, Rh. oryzae, Rh. stolonifer (kapang roti), atau Rh. arrhizus. Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai "ragi tempe". Kapang yang tumbuh pada kedelai menghidrolisis senyawa-senyawa kompleks menjadi
senyawa sederhana yang mudah dicerna oleh manusia. Tempe kaya akan serat pangan, kalsium, vitamin B dan zat besi.



Berbagai macam kandungan dalam tempe mempunyai nilai obat, seperti antibiotika untuk menyembuhkan infeksi dan antioksidan pencegah penyakit degeneratif. Secara umum, tempe berwarna putih karena pertumbuhan miselia kapang yang merekatkan biji-biji kedelai sehingga terbentuk tekstur yang memadat. Degradasi komponen-komponen kedelai pada fermentasi membuat tempe memiliki rasa dan aroma khas.

Baca: Praktikum: Cara Membuat Tempe yang Praktis dan Mudah

Menurut Widianarko (2002), bahwa secara kuantitatif, nilai gizi tempe sedikit lebih rendah dari pada nilai gizi kedelai (Tabel 1). Namun, secara kualitatif nilai gizi tempe lebih tinggi karena tempe mempunyai nilai cerna yang lebih baik. Hal ini disebabkan kadar protein yang larut dalam air akan meningkat akibat aktivitas enzim Proteolitik.

Kandungan zat gizi Kedelai dan Tempe



Khasiat dan Kandungan Gizi Tempe


Asam Lemak


Selama proses fermentasi tempe, terdapat tendensi adanya peningkatan derajat ketidakjenuhan terhadap lemak. Dengan demikian, asam lemak tidak jenuh majemuk (polyunsaturated fatty acids, PUFA) meningkat jumlahnya. Dalam proses itu asam palmitat dan asam linoleat sedikit mengalami penurunan, sedangkan kenaikan terjadi pada asam oleat dan linolenat (asam linolenat tidak terdapat pada kedelai). Asam lemak tidak jenuh mempunyai efek penurunan terhadap kandungan kolesterol serum, sehingga dapat menetralkan efek negatif sterol di dalam tubuh.

Vitamin


Dua kelompok vitamin terdapat pada tempe, yaitu larut air (vitamin B kompleks) dan larut lemak (vitamin A, D, E, dan K). Tempe merupakan sumber vitamin B yang sangat potensial. Jenis vitamin yang terkandung dalam tempe antara lain vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), asam pantotenat, asam nikotinat (niasin), vitamin B6 (piridoksin), dan B12 (sianokobalamin).

Vitamin B12 umumnya terdapat pada produk-produk hewani dan tidak dijumpai pada makanan nabati (sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian), namun tempe mengandung vitamin B12 sehingga tempe menjadi satu-satunya sumber vitamin yang potensial dari bahan pangan nabati. Kenaikan kadar vitamin B12 paling mencolok pada pembuatan tempe; vitamin B12 aktivitasnya meningkat sampai 33 kali selama fermentasi dari kedelai, riboflavin naik sekitar 8-47 kali, piridoksin 4-14 kali, niasin 2-5 kali, biotin 2-3 kali, asam folat 4-5 kali, dan asam pantotenat 2 kali lipat. Vitamin ini tidak diproduksi oleh kapang tempe, tetapi oleh bakteri kontaminan seperti Klebsiella pneumoniae dan Citrobacter freundii.

Kadar vitamin B12 dalam tempe berkisar antara 1,5 sampai 6,3 mikrogram per 100 gram tempe kering. Jumlah ini telah dapat mencukupi kebutuhan vitamin B12 seseorang per hari. Dengan adanya vitamin B12 pada tempe, para vegetarian tidak perlu merasa khawatir akan kekurangan vitamin B12, sepanjang mereka melibatkan tempe dalam menu hariannya.

Mineral


Tempe mengandung mineral makro dan mikro dalam jumlah yang cukup. Jumlah mineral besi, tembaga, dan zink berturut-turut adalah 9,39; 2,87; dan 8,05 mg setiap 100 g tempe. Kapang tempe dapat menghasilkan enzim fitase yang akan menguraikan asam fitat (yang mengikat beberapa mineral) menjadi fosfor dan inositol. Dengan terurainya asam fitat, mineral-mineral tertentu (seperti besi, kalsium, magnesium, dan zink) menjadi lebih tersedia untuk dimanfaatkan tubuh.

Antioksidan


Di dalam tempe juga ditemukan suatu zat antioksidan dalam bentuk isoflavon. Seperti halnya vitamin C, E, dan karotenoid, isoflavon juga merupakan antioksidan yang sangat dibutuhkan tubuh untuk menghentikan reaksi pembentukan radikal bebas. Dalam kedelai terdapat tiga jenis isoflavon, yaitu daidzein, glisitein, dan genistein. Pada tempe, di samping ketiga jenis isoflavon tersebut juga terdapat antioksidan faktor II (6,7,4-trihidroksi isoflavon) yang mempunyai sifat antioksidan paling kuat dibandingkan dengan isoflavon dalam kedelai. Antioksidan ini disintesis pada saat terjadinya proses fermentasi kedelai menjadi tempe oleh bakteri Micrococcus luteus dan Coreyne bacterium.

Penuaan (aging) dapat dihambat bila dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari mengandung antioksidan yang cukup. Karena tempe merupakan sumber antioksidan yang baik, konsumsinya dalam jumlah cukup secara teratur dapat mencegah terjadinya proses penuaan dini. Penelitian yang dilakukan di Universitas North Carolina, Amerika Serikat, menemukan bahwa genestein dan fitoestrogen yang terdapat pada tempe ternyata dapat mencegah kanker prostat dan payudara (http://www.wikipedia.com).

Tempe kedelai mengandung senyawa antioksidan yang salah satunya adalah genistein. Perbedaan perlakukan pada proses pembuatan akan menghasilkan tempe yang berbeda pula. Proses pembuatan tempe bersifat khas di setiap kota. Masyarakat tidak hanya mengkonsumsi tempe ketika masih segar, tetapi juga tempe ketika sudah busuk, sebagai lauk pauk dan campuran sayur".

Berdasarkan penelitian diperoleh bahwa dari 200 gram tempe segar dihasilkan tempe busuk sekitar 250 gram" Setiap 200 gram sampel tempe, menghasilkan ekstrak metanol sekitar 0,883 gram untuk tempe segar dan 1,676 gram untuk tempe busuk" Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap 200 gram sampel tempe dalam ekstrak metanol mengandung senyawa genistein sekitar 47,9 g pada tempe segar dan 4635,7 g pada tempe busuk. Kontribusi daya antioksidan senyawa genistein dalam ekstrak metanol sekitar 17,5% pada tempe segar dan sekitar 25% pada tempe busuk (Novi Dewi Sartika, 2007).

Anemia & Osteoporosis


Tempe juga dipercaya dapat mencegah anemia dan osteoporosis, dua penyakit yang banyak diderita wanita, sebab kodrat wanita yang harus mengalami haid, hamil serta menyusui bayi. Penyakit anemia ini dapat menyerang wanita yang malas makan, karena takut gemuk, sehingga persediaan dan produksi sel-sel darah merah dalam tubuh menurun. Tempe dapat berperan sebagai pemasok mineral, vitamin B12 (yang terdapat pada pangan hewani), dan zat besi yang sangat dibutuhkan dalam pembentukan sel darah merah. Selain itu, tempe juga dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah.

Senyawa protein, asam lemak PUFA, serat, niasin, dan kalsium di dalam tempe dapat mengurangi
jumlah kolesterol jahat.

10 Macam Khasiat Tempe Untuk Kesehatan


Berikut ini 10 macam khasiat tempe untuk kesehatan manusia:


  • Protein yang terdapat dalam tempe sangat tinggi, mudah dicerna sehingga baik untuk mengatasi diare.
  • Mengandung zat besi, flafoid yang bersifat antioksidan sehingga menurunkan tekanan darah.
  • Mengandung superoksida desmutase yang dapat mengendalikan radikal bebas, baik bagi penderita jantung.
  • Penanggulangan anemia. Anemi ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin karena kurang tersedianya zat besi (Fe), tembaga (Cu), Seng (Zn), protein, asam folat dan vitamin B12, di mana unsur-unsur tersebut terkandung dalam tempe.
  • Anti infeksi. Hasil survey menunjukkan bahwa tempe mengandung senyawa anti bakteri yang diproduksi oleh karang tempe (R. Oligosporus) merupakan antibiotika yang bermanfaat meminimalkan kejadian infeksi.
  • Daya hipokolesterol. Kandungan asam lemak jenuh ganda pada tempe bersifat dapat menurunkan kadar kolesterol.
  • Memiliki sifat anti oksidan, menolak kanker.
  • Mencegah masalah gizi ganda (akibat kekurangan dan kelebihan gizi) beserta berbagai penyakit yang menyertainya, baik infeksi maupun degeneratif.
  • Mencegah timbulnya hipertensi.
  • Kandungan kalsiumnya yang tinggi, tempe dapat mencegah osteoporosis.
(http://www.jawaban.com diakses tgl 20 oktober 2011)

Daftar Pustaka


Novi Dewi Sartika. 2007. Studi pendahuluan daya antioksidan ekstrak metanol tempe segar dan tempe "Busuk" Kota Malang terhadap radikal bebas DPPH (1,1 -difenil-2-pikrilhidrazil). Skripsi.
Universitas Negeri Malang
Widianarko . 2002. Tips Pangan ”Teknologi, Nutrisi, dan Keamanan Pangan”. Grasindo. Jakarta
http://www.jawaban.com diakses tgl 20 oktober 2011
http://www.wikipedia.com diakses tgl 20 oktober 2011

Source: http://staffnew.uny.ac.id
Tips Menghemat Pembelian Perabotan Kantor

Tips Menghemat Pembelian Perabotan Kantor

Saat Anda ingin mendirikan kantor baru, Anda tentu perlu mengisi ruang kantor tersebut dengan berbagai perabotan kantor yang menunjang aktivitas kerja. Sayangnya, harga perabotan kantor kerap kali dianggap terlampau mahal dan menguras budget. Untuk itu, 3 tips berikut rasanya layak untuk Anda ikuti agar dapat menghemat pembelian perabotan kantor anyar Anda.

Menggunakan perabotan lama


Salah satu cara untuk mengehemat pembelian perabot kantor adalah dengan menggunakan perabotan lama. Perabotan lama yang masih terpakai tentu sayang jika tidak dimanfaatkan atau dibuang begitu saja. Dengan menggunakan perabotan lama untuk kantor, maka Anda bisa menghemat budget sekaligus memiliki perabotan kantor yang memadai. Jadi, tidak ada salahnya jika Anda menggunakan perabotan lama meski kantor Anda baru bukan?

Tips Menghemat Pembelian Perabotan Kantor


Custom perabotan kantor

Selain menggunakan perabotan lama, cara lainnya untuk menghemat pembelian perabotan kantor adalah dengan melakukan custom. Custom merupakan suatu cara untuk membuat perabotan kantor sesuai dengan keinginan Anda. Beberapa tempat custom perabotan kantor membuat Anda bisa memiliki perabot kantor masa kini yang lain dari berbeda dari perabotan kantor lainnya. Selain itu, perabotan kantor yang dibuat secara custom juga bisa menjadi trademark kantor Anda sehingga akan membuatnya terasa eksklusif. Harga yang ditawarkan pada perabotan kantor custom juga umumnya lebih murah tergantung material yang digunakan dan seberapa luas perabotan kantor yang Anda butuhkan.

Beli Perabotan kantor bekas 


Cara terakhir untuk menghemat pembelian perabotan kantor pada kantor baru Anda adalah dengan membeli perabotan kantor bekas. Seperti halnya menggunakan perabotan lama, penggunaan perabotan kantor bekas juga dapat membuat Anda memiliki perabotan kantor dengan harga yang terjangkau namun memiliki ketahanan yang sama baiknya. Saat memilih perabotan kantor bekas, pastikan Anda mengetahui betul tempat yang menyediakan perabotan kantor bekas berkualitas. Karena, jika perabotan kantor bekas yang Anda beli tidak berkualitas bisa jadi Anda akan merasa rugi dikemudian hari. Selain itu bandingkan pula harga yang ditawarkan dengan harga perabotan kantor anyar yang ditawarkan di pasaran. Dengan adanya perbandingan maka Anda dapat menghemat budget.

Itulah berbagai cara untuk menghemat budget Anda dalam memberi perabotan kantor. Tertarik untuk mencobanya?

Inilah Fakta Mencengangkan Seputar Racun Kalajengking di Bidang Medis yang Wajib Kamu Ketahui

Inilah Fakta Mencengangkan Seputar Racun Kalajengking di Bidang Medis yang Wajib Kamu Ketahui

Racun Kalajengking (Scorpion Venom) di Dunia Medis


Secara umum, kalajengking bukan makhluk yang sangat disayangi. Rasa takut yang mereka sebabkan sudah cukup untuk dimusnahkan tanpa kemungkinan memikirkan solusi lain yang memungkinkan mereka untuk bertahan hidup. Kalajengking adalah makhluk yang tidak dihargai.

Ilmu pengetahuan telah berulang kali menunjukkan bahwa arakhnida, secara umum, lebih penting daripada yang kita pikirkan. Di luar aspek yang kita anggap tidak menyenangkan berada di luar ideal kecantikan kita, makhluk-makhluk ini memiliki fitur yang menarik dan berharga untuk sains. Dengan racun banyak obat untuk penyakit kronis dan mematikan telah ditemukan pada manusia, di antara mereka, beberapa kemajuan untuk melawan satu kondisi yang membunuh sekitar 8 juta orang di dunia setiap tahun: kanker.

Inilah Fakta Mencengangkan Seputar Racun Kalajengking di Bidang Medis yang Wajib Kamu Ketahui
Kalajengking biru (Rhopalurus junceus) (Image: macroid.ru)


Kalajengking biru (Rhopalurus junceus) lebih dari sekadar endemik beracun ke pulau Kuba. Ini adalah protagonis penelitian yang saat ini sedang dilakukan untuk menemukan obat untuk kanker payudara, penyakit yang telah mengakhiri kehidupan jutaan wanita di dunia.

Demetrio Rodríguez Fajardo dari Meksiko, yang baru berusia 17 tahun, menemukan protein dalam racun kalajengking ini untuk mengobati dan menyembuhkan kanker payudara. Temuan ini membuatnya mendapatkan banyak pengakuan tetapi juga menghasilkan banyak kontroversi, seperti yang lain menegaskan bahwa racun kalajengking adalah bagian dari obat homeopati Kuba sejak lama.

Produsen obat Kuba Labiofam adalah pencipta obat penghilang rasa sakit dan anti-inflamasi yang dikenal sebagai Vidatox. Obat ini dibuat dari racun kalajengking biru untuk meningkatkan kesehatan pasien dengan kanker, membantu sudah lebih dari 65.000 orang. Para pencipta mengklaim butuh 15 tahun untuk mendapatkan obat.

Mungkin perbedaannya adalah bahwa penemuan Meksiko pertama berfokus pada penyembuhan kanker payudara, sementara obat Kuba mengkhususkan diri dalam meningkatkan kualitas hidup pasien dengan berbagai jenis kanker hingga 85%. Apakah kontroversial atau tidak, hanya berpikir bahwa ini adalah manfaat yang jelas bagi kesehatan manusia yang berasal dari arakhnida ini.

Di Madison, Wisconsin, cara-cara baru telah dikembangkan untuk mendapatkan obat-obatan yang mengobati penyakit seperti gagal jantung, di mana komponen utamanya adalah racun kalajengking. Mereka mulai dengan analisis 15 spesies arakhnida ini, menemukan bahwa kalajengking kaisar adalah salah satu dari mereka yang berperilaku baik dalam percobaan.

Apa yang harus dilakukan jika ada sengatan kalajengking?


Bulan-bulan hangat adalah yang paling cocok untuk reproduksi kalajengking, dan di banyak kota di dunia, ini dapat mewakili masalah, karena mereka muncul hampir di mana-mana membahayakan kesehatan manusia.

Jika Anda tersengat, hal pertama yang harus dilakukan adalah menelepon atau pergi ke keadaan darurat. Ada begitu banyak jenis kalajengking sehingga sulit untuk mengidentifikasi mana yang bertanggung jawab dan ini tidak memungkinkan kita untuk mengetahui tingkat toksisitasnya. Mengabaikan sengatan atau mengobatinya sembarangan atau dengan pengobatan rumahan dapat menjadi perbedaan antara hidup dan mati.

Ada gejala ringan seperti gatal dan kesemutan. Ada yang umum seperti robek, sakit kepala, nyeri otot dan diare; Tapi ketika racun itu kuat, kejang, kesulitan bernapas, ereksi yang menyakitkan pada pria dan kehilangan penglihatan sebagian, dapat bermanifestasi di antara gejala-gejala lainnya.

Beberapa gejala muncul dengan cepat, sementara yang lain memerlukan beberapa menit untuk berkembang, itulah sebabnya korban harus mendapatkan perawatan medis sesegera mungkin.

Fakta yang Menarik


Di antara semua spesies kalajengking, hampir 2.000, hanya sekitar 30 atau 40 dari mereka memiliki racun yang cukup kuat untuk membunuh manusia, sehingga kita dapat mengatakan bahwa hanya sebagian kecil saja yang berbahaya.

Identifikasi spesies berbahaya


Mengidentifikasi yang mematikan dan beracun dari yang tidak berbahaya tampaknya adalah pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh para ahli dengan benar, tetapi ada rincian kunci yang dapat membantu kita mengetahui jenis kalajengking yang kita temui, terutama jika kita merujuk pada spesies dari keluarga Buthidae.

Baik ukuran tubuh maupun warna kalajengking adalah bukti bahaya, meskipun aspek-aspek tertentu dari kedua karakteristik dapat membantu kita untuk membedakan yang buruk dari yang seharusnya tidak menyebabkan alarm.

Ekor dari spesies beracun sangat tipis dan memanjang di sebagian besar segmennya, sedangkan spesies yang tidak beracun lebih besar. Sengat spesies mematikan juga lebih tipis daripada yang ringan.

Dua "jari" yang membentuk cakar (penjepit) lebih memanjang pada spesies berbahaya daripada yang tidak. Tetapi elemen menggembung yang ada sebelum cakarnya, atau apa bagi kita akan seperti tangan (pedipalpus), sangat pendek dan tebal dalam kalajengking beracun dan lama tidak beracun. Bandingkan beberapa perbedaan ini di galeri foto kami, dan Anda akan melihat bahwa Anda dapat mengidentifikasi beberapa di antaranya.

Sumber:


http://www.ibiologia.unam.mx/html/guia.html
http://www.starmedica.com/
www.forbes.com.mx/la-seleccion-de-la-que-nadie-habla/#gs.o38FIr0
Panduan Lengkap Membuat Pupuk Nabati Perangsang Buah Alami

Panduan Lengkap Membuat Pupuk Nabati Perangsang Buah Alami

Panduan Lengkap Membuat Pupuk Nabati Perangsang Buah Alami

Bahan:


1. EM 4 1 liter 2. Kuning telur ayam kampung 3 butir

Cara Pembuatan: Bahan dicampur lalu dikocok sampai rata, kemudian di fermentasi selama 24 jam. Aturan penggunaan: Setiap akan digunakan, kocok 1 sendok makan ditambah 5 liter air, lalu disemprotkan. Fungsi:

1. Merangsang pertumbuhan bunga calon buah / biji. 2. Membuat buah beraroma dan manis rasanya. 3. Membuat biji menjadi bernas / mentes

Perangsang Buah II Bahan:


1. Susu segar mentah 1 liter 2. Kuning telur ayam kampung 3 butir

Cara Pembuatan: Bahan dicampur lalu dikocok sampai rata, kemudian difermentasi selama 24 jam. Aturan penggunaan: Setiap akan digunakan, kocok 1 sendok makan ditambah 5 liter air, lalu disemprotkan.

Fungsi:

1. Merangsang pertumbuhan bunga calon buah / biji.
2. Membuat buah beraroma dan manis rasanya.
3. Membuat biji menjadi bernas / mentes.

Pupuk Daun / Buah Bahan:


1. Kuning telur ayam kampung 3 butir 2. Gula jawa ¼ kg 3. Susu murni segar ½ gelas

Cara Pembuatan: Semua bahan dicampur dan diaduk secara merata kemudian ditambahkan 30 liter air. Kegunaan: Hasil dari komposisi disemprotkan pada tanaman hingga merata.

Panduan Lengkap Membuat Pupuk Nabati Perangsang Buah Alami
Panduan Lengkap Membuat Pupuk Nabati Perangsang Buah Alami (Foto: FB Mitra Jaya Tani)

Pupuk KCL Cair 


Bahan:

1. Air 2. Sabut kelapa secukupnya 3. Drum (diperlukan untuk merendam bahan)

Cara pembuatan: Masukkan sabut kelapa ke dalam drum sampai setengahnya. Setelah drum diisi sabut kelapa berilah air sampai penuh. Tutuplah rapat-rapat dengan plastik. Biarkan drum tertutup selama 2 minggu. Setelah air berubah menjadi berwarna hitam pertanda air sudah melarutkan kandungan KCL pada sabut kelapa. Air tersebut sudah siap digunakan, jika airnya sudah habis dapat ditambah air sehingga air berwarna jernih.

Cara penggunaan: Disemprotkan atau disiramkan pada tanaman. Fungsi: Batang dan akar tanaman akan menjadi kuat, biji akan lebih berisi dan berwarna cerah. Untuk buah akan berwarna harum dan rasanya manis.

PUPUK Nitrogen 

Sumber: Azzola
Tumbuhan kacang-kacangan
Jerami (daun hijau)
Kotoran hewan / manusia
Fungsi: Menghijaukan daun
Membuat bentuk akar, daun dan batang menjadi muda
Phospat Sumber: Ampas tebu
Kotoran hewan / manusia
Sampah organik
Kompos
Azzola
Abu dapur
Fungsi: Memperkuat akar dan batang
Memacu bunga agar cepat berbuah
Menjadikan rasa buah lebih manis
Kalium Sumber: Pelepah / batang pisang
Kotoran ayam
Urine kambing, kelinci, dan manusia
Abu kayu
Sampah organik, misalnya kulit pisang, umbi-umbian, dan lain-lain
Fungsi: Memperkuat akar dan batang
Memacu bunga agar cepat berbuah atau mengeluarkan biji
Membuat biji / bulir menjadi bernas
Menjadikan rasa buah atau umbi lebih manis

Urine (Pupuk Cair) Bahan: 100 liter urine
300 cc tetes tebu / air gula jawa / air gula pasir
0, 5 kg temu ireng dalam bentuk serbuk /ekstrak
0, 5 kg lawak dalam bentuk serbuk /ekstrak
0, 5 kg laos dalam bentuk serbuk / ekstrak
0, 5 kg kunyit dalam bentuk serbuk /ekstrak

Cara pembuatan: Semua bahan dicampur dan difermentasi selama 21 hari Kegunaan: 5-10 cc / 2 sendok makan + 15 liter air, pada daun dengan cara disemprotkan, pada akar dengan cara disiramkan / dikocor. Urine Kelinci: Perbandingannya 1 : 13 liter air, kemudian disiramkan / dikocor pada tanaman.

Bokashi Bahan:


1. Kotoran ayam / sapi / kambing 500 kg 2. Sekam padi / gergajian kayu 500 kg 3. Bekatul 20 kg 4. Abu dapur / abu sekam padi 30 kg 5. Gula pasir 15 ons 6. EM4 / mikroorganisme nabati secukupnya 7. Air secukupnya

Cara pembuatan: Semua bahan dicampur jadi satu dan diaduk supaya merata sambil dibasahi dengan air yang dicampur gula pasir dengan mikroorganisme nabati, sehingga bahan menjadi lembab. Tutup dengan plastik / tenda agar bokashi mengalami fermentasi. Proses fermentasi sangat membutuhkan air, udara, dan panas. Proses fermentasi ini normal terjadi dalam jangka waktu selama 14-21 hari dengan suhu 40-50°C (dijaga kestabilannya). Bila melebihi dari 50°C tenda dibuka dan bahan diaduk-aduk hingga panas stabil lalu ditutup kembali. Lebih baik setiap 5 jam bahan dibuka untuk mengetahui suhunya. Bila kurang panas, atau kurang dari 40°C disemprot dengan air yang dicampur gula dan mikroorganisme nabati. Begitu seterusnya sehingga bahan bokashi tidak berbau kotoran dan kalau dipegang sudah tidak panas lagi, artinya bahan ini sudah dapat digunakan. Cara penggunaan: Untuk tanaman padi, palawija, sayuran dan tanaman hias sebagai pupuk dengan dosis 1-1, 5 ton / Ha. Andaikan tanahnya terlalu liat dapat ditingkatkan menjadi 2 ton / Ha.

Pupuk Daun 

Bahan:

Urine kelinci, manusia atau binatang 5 liter
Terasi 10 gram
Jahe 1 ons
Kunyit 1 kg
Susu 1 liter
Gula jawa 1 kg

Cara pembuatan: Semua bahan dicampur dan disaring, kemudian difermentasikan selama 10 hari. Setelah itu selama 2 hari berikutnya tiap 2 jam dibuka. 2 hari berikunya tiap 2 jam dibuka. 3 hari berikutnya 2 jam dibuka.

Sumber: FB Mitra Jaya Tani