Penyakit Osteoarthritis: Pengertian, Gejala, Penyebab, Ciri, Terapi dan Pengobatannya | Pintar Biologi
Loading...

Penyakit Osteoarthritis: Pengertian, Gejala, Penyebab, Ciri, Terapi dan Pengobatannya

Penyakit Osteoarthritis: Pengertian, Gejala, Penyebab, Ciri, Terapi dan Pengobatannya

Pengertian Osteoarthritis 

Osteoarthritis adalah suatu gangguan persendian dimana terjadi perubahan berkurangnya tulang rawan sendi hingga terbentuk tonjolan tulang pada permukaan sendi (osteofit). Kelainan utama osteoarthritis adalah kerusakan pada tulang rawan sendi. Tulang rawan sendi adalah komponen sendi yang melapisi ujung tulang dalam persendian yang berfungsi sebagai bantalan apabila dua ruas tulang berbenturan pada saat sendi digerakkan.

Osteoarthritis adalah peradangan sendi yang bersifat kronis dan progresif disertai kerusakan tulang rawan sendi berupa disintegrasi (pecah) dan perlunakan progresif permukaan sendi dengan pertumbuhan tulang rawan sendi (osteofit) di tepi tulang.

Osteoartritis merupakan salah satu jenis dari penyakit artritis yang paling sering terjadi. Data yang dilansir oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), menyebutkan 40 persen penduduk dunia yang berusia lebih dari 70 tahun akan menderita osteoartritis sendi lutut. Dari jumlah tersebut, 80 persen di antaranya berdampak pada keterbatasan gerak.

Penyakit Osteoarthritis: Pengertian, Gejala, Penyebab, Ciri, Terapi dan Pengobatannya


Osteoarthritis dimasukkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ke dalam salah satu dari empat kondisi otot dan tulang yang membebani individu, sistem kesehatan maupun sistem perawatan sosial dengan biaya yang cukup besar.

Di seluruh dunia diperkirakan 9,6 % pria dan 18 % wanita di atas usia 60 tahun menderita osteoarthritis. Kasus tersebut akan terus meningkat akibat bertambahnya usia harapan hidup, obesitas (kegemukan) dan kebiasaan merokok.

Gejala Osteoarthritis


Berikut ini gejala-gejala osteoarthritis:

  • Persendian terasa kaku dan nyeri apabila digerakkan.
  • Adanya pembengkakan/peradangan pada persendian.
  • Persendian yang sakit berwarna kemerah-merahan.
  • Kelelahan yang menyertai rasa sakit pada persendian.
  • Kesulitan menggunakan persendian.
  • Bunyi pada setiap persendian (crepitus) saat digerakkan.
  • Perubahan bentuk tulang. Ini akibat jaringan tulang rawan yang semakin rusak, tulang mulai berubah bentuk dan meradang, menimbulkan rasa sakit yang amat sangat.

Klasifikasi Osteoarthritis


Pada umumnya diagnosis osteoarthritis didasarkan pada gabungan gejala klinik dan perubahan radiografi. Gejala klinik perlu diperhatikan, oleh karena tidak semua pasien dengan perubahan radiografi osteoarthritis mempunyai keluhan pada sendi. Terdapat 4 kelainan radiografi utama pada osteoarthritis, yaitu: penyempitan rongga sendi, pengerasan tulang bawah rawan sendi, pembentukan kista di bawah rawan sendi dan pembentukan osteofit, sendi yang dapat terkena osteoarthritis antara lain:

1. Osteoarthritis sendi lutut.
2. Osteoarthritis sendi panggul.
3. Osteoarthritis sendi-sendi kaki.
4. Osteoarthritis sendi bahu.
5. Osteoarthritis sendi-sendi tangan.
6. Osteoarthritis tulang belakang.

Namun ada pula yang membagi klasifikasi osteoarthritis berdasarkan primer dan sekunder. Pembagian osteoarthritis berdasarkan patogenesisnya dibagi menjadi osteoarthritis primer yang disebut juga osteoarthritis idiopatik adalah osteoarthritis yang kausanya tidak diketahui dan tidak ada hubungannya dengan penyakit sistemik maupun proses perubahan lokal pada sendi. Sedangkan osteoarthritis sekunder adalah osteoarthritis yang didasari oleh adanya kelainan endokrin, inflamasi, metabolik, pertumbuhan dan imobilisasi yang lama. osteoarthritis primer lebih sering ditemukan dari pada osteoarthritis sekunder.

Faktor Resiko

Faktor-faktor yang telah diteliti sebagai faktor risiko osteoarthritis lutut antara lain usia lebih dari 50 tahun, jenis kelamin perempuan, ras / etnis, genetik, kebiasaan merokok, konsumsi vitamin D, obesitas, osteoporosis, diabetes melitus, hipertensi, hiperurisemi, histerektomi, menisektomi, riwayat trauma lutut, kelainan anatomis, kebiasaan bekerja dengan beban berat, aktivitas fisik berat dan kebiasaan olah raga (Wahyuningsih, 2009). Terjadi peningkatan dari angka kejadian.

Menurut Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal yang disusun oleh Helmi tahun 2012, terdapat beberapa faktor resiko yang terdiri dari :

1) Peningkatan usia.


Osteoarthritis biasanya terjadi pada usia lanjut, jarang dijumpai penderita osteoarthritis yang berusia di bawah 40 tahun. Usia rata−rata laki yang mendapat osteoartritis sendi lutut yaitu pada umur 59 tahun dengan puncaknya pada usia 55 - 64 tahun, sedang wanita 65,3 tahun dengan puncaknya pada usia 65 – 74 tahun.

Presentase pasien dengan osteoarthritis berdasarkan usia di RSU dr. Soedarso menunjukan bahwa pada usia 43-48 tahun (13,30%), usia 49- 54 tahun (16,06%), dan usia 55- 60 tahun meningkat
(27,98%) (Arissa, 2012).

2) Obesitas.


Membawa beban lebih berat akan membuat sendi sambungan tulang bekerja dengan lebih berat, diduga memberi andil pada terjadinya osteoarthritis.

Setiap kilogram penambahan berat badan atau masa tubuh dapat  meningkatkan beban tekan lutut sekitar 4 kilogram. Dan terbukti bahwa penurunan berat badan dapat mengurangi resiko terjadinya
osteoarthritis atau memperparah keadaan steoarthritis lutut (Meisser, 2005).

3) Jenis kelamin wanita.


Angka kejadian osteoartritis berdasarkan jenis kelamin didapatkan lebih tinggi pada perempuan dengan nilai persentase 68,67% yaitu sebanyak 149 pasien dibandingkan dengan laki-laki yang memiliki nilai persentase sebesar 31,33% yaitu sebanyak 68 pasien (Arissa, 2012).

4) Riwayat trauma.


Cedera sendi, terutama pada sendi – sendi penumpu berat tubuh seperti sendi pada lutut berkaitan dengan risiko osteoartritis yang lebih tinggi. Trauma lutut yang akut termasuk robekan terhadap
ligamentum krusiatum dan meniskus merupakan faktor timbulnya osteoartritis lutut (Wahyuningsih, 2009).

5) Riwayat cedera sendi.


Pada cedera sendi perat dari beban benturan yang berulang dapat menjadi faktor penentu lokasi pada orang-orang yang mempunyai predisposisi osteoarthritis dan berkaitan pula dengan perkembangan dan beratnya osteoarthritis (Sudoyono,2009)

6) Faktor genetik.


Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoartritis. Adanya mutasi dalam gen prokolagen atau gen-gen struktural lain untuk unsur-unsur tulang rawan sendi seperti kolagen dan proteoglikan berperan dalam timbulnya kecenderungan familial pada osteoartritis (Wahyuningsih, 2009).

7) Kelainan pertumbuhan tulang


Pada kelainan kongenital atau pertumbuhan tulang paha seperti penyakit perthes dan dislokasi kongenitas tulang paha dikaitkan dengan timbulnya osteoarthrtitis paha pada usia muda (Sudoyono,
2009)

8) Pekerjaan dengan beban berat.


Bekerja dengan beban rata-rata 24,2 kg, lama kerja lebih dari 10 tahun dan kondisi geografis berbukit-bukit merupakan faktor resiko dari osteoarthritis lutut (Maharani, 2007).

Dan orang yang mengangkat berat beban 25 kg pada usia 43 tahun, mempunyai resiko lebih tinggi untuk terjadinya osteoarthritis dan akan meningkat tajam pada usia setelah 50 tahun (Martin, 2013).

9) Tingginya kepadatan tulang


Tingginya kepadatan tulang merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya osteoarthritis, hal ini mungkin terjadi akibat tulang yang lebih padat atau keras tak membantu mengurangi benturan beban yang diterima oleh tulang rawan sendi (Sudoyono, 2009).

10) Gangguan metabolik menyebabkan kegemukan.


Berat badan yang berlebih ternyata dapat meningkatkan tekanan mekanik pada sendi penahan beban tubuh, dan lebih sering menyebabkan osteoartritis lutut. Kegemukan ternyata tidak hanya berkaitan dengan osteoartritis pada sendi yang menanggung beban, tetapi juga dengan osteoartritis sendi lain, diduga terdapat faktor lain (metabolik) yang berperan pada timbulnya kaitan tersebut antara lain penyakit jantung koroner, diabetes melitus dan hipertensi (Wahyuningsih, 2009).

Penatalaksanaan Osteoarthritis


Tujuan pengobatan pada pasien osteoarthritis adalah untuk mengurangi gejala dan mencegah terjadinya kontraktur atau atrofi otot. Penanganan pertama yang perlu dilakukan adalah dengan memberikan terapi non farmakologis berupa edukasi mengenai penyakitnya secara lengkap, yang selanjutnya adalah memberikan terapi farmakologis untuk mengurangi nyerinya yaitu dengan memberikan analgetik lalu dilanjutkan dengan fisioterapi (Imayati, 2012).

Penanganan osteoatritis berdasarkan atas distribusinya (sendi mana yang terkena) dan berat ringannya sendi yang terkena. Penanganannya terdiri dari 3 hal :

1) Terapi non-farmakologis:


a. Edukasi
b. Terapi fisik dan rehabilitasi
c. Penurunan berat badan

2) Terapi farmakologis :


a. Analgesik oral non-opiat
b. Analgesik topikal
c. NSAID
d. Chondroprotective
e. Steroid intra-artikuler

3) Terapi bedah :


a. Malaligment, deformitas lutut Valgus-Varus dsb
b. Arthroscopic debridement dan joint lavage
c. Osteotomi
d. Artroplasti sendi total

Terapi fisik berguna untuk melatih pasien agar persendiannya tetap dapat dipakai dan melatih pasien untuk melindungi sendi. Terapi fisik membuat penderita dapat beraktivitas seperti biasanya sekaligus mengurangi resiko fisik yang tidak berfungsi dengan baik. Terapi fisik pada penderita osteoartritis dapat berupa fisioterapi ataupun olahraga ringan seperti bersepeda dan berenang. Terapi fisik ini berusaha untuk tidak memberikan beban yang terlalu berat pada penderita (Nur, 2009).

Referensi: http://digilib.unila.ac.id



Loading...