Habitat dan Relung Ekologi (Niche) | Pintar Biologi

Blog Pembelajaran Biologi Terlengkap

Habitat dan Relung Ekologi (Niche)

|

Kehadiran dan penyebaran populasi di suatu tempat berkaitan dengan masalah habitat dan relung ekologi. Habitat menunjukan tempat hidup organisme sedangkan relung menunjukan posisi dan cara kedudukan populasi organisme terhadap faktor abiotik dan biotik. Habitat sering diartikan dengan alamat sedangkan relung ekologi diartikan profesi organisme di alamat tersebut.

Kali ini, Anda akan mempelajari tentang pengertian habitat, pembagian habitat, pengertian, konsep, dan proses terbentuknya relung ekologi. Setelah mempelajari bab ini, secara umum Anda diharapkan dapat:

  1. mendefinisikan konsep habitat;
  2. menjelaskan konsep terbentuknya relung ekologi; dan
  3. membedakan habitat dengan relung ekologi.

A. HABITAT

1. Pengertian Habitat

Habitat dalam arti yang sederhana adalah tempat organisme menetap (Odum, 1971). Habitat adalah area yang memiliki sumber daya dan kondisi bagi organisme untuk bertahan hidup dan bereproduksi (Krausman, 1999).

Thomas (1979), menyatakan bahwa habitat bukan hanya sekedar vegetasi atau struktur vegetasi tapi merupakan jumlah sumber daya spesifik yang dibutuhkan organisme. Sumber daya ini termasuk makanan, perlindungan, air, dan faktor khusus lainnya yang dibutuhkan oleh suatu spesies untuk bertahan hidup dan bereproduksi (Leopold 1933). Jadi dapat dikatakan bahwa tempat yang menyediakan sumber daya bagi organisme untuk bertahan hidup disebut habitat. Bahkan daerah migrasi dan koridor penyebaran serta wilayah yang dikuasai organisme saat musim kawin juga dikatakan sebagai habitat.

Habitat dapat dikatakan sebagai gambaran lingkungan fisik dalam ruang dan waktu yang ditempati atau berpotensi sebagai tempat tinggal organisme.

Kawasan fisik (abiotik) dan karakteristik biologi (biotik) yang berada di sekitar organisme dan memiliki potensi berinteraksi dengan organisme dikenal dengan sebutan lingkungan (environment).

Habitat inilah yang menghubungkan kehadiran spesies, populasi, atau individu (hewan atau tumbuhan) dengan lingkungannya. Mitchell (2005) menyatakan bahwa habitat bukan hanya sekedar lingkungan abiotik organisme tetapi termasuk di dalamnya ada interaksi antar komponen biotik itu sendiri.

Oleh karena itu habitat menunjukan totalitas lingkungan yang ditempati populasi dimana di dalamnya tercakup faktor abiotik berupa ruang, media yang ditempati, cuaca, iklim, serta vegetasinya.

2. Pemanfaatan dan Seleksi Habitat oleh Suatu Organisme

Habitat digunakan oleh organisme dengan memanfaatkan sumber daya fisik (abiotik) dan biologi (biotik). Habitat digunakan sebagai daerah jelajah, perlindungan, sarang, daerah larian, atau kegiatan hidup lainnya. 

Pengkategorian pemanfaatan habitat (seperti daerah larian dan daerah jelajah) membagi habitat ke dalam beberapa area sehingga beberapa di antaranya terjadi tumpang tindih pemanfaatan. (Litvaitis et al., 1996) menyatakan bahwa dalam satu area dapat terdiri atas satu atau beberapa kategori pemanfaatan.

Organisme dapat melakukan seleksi terhadap suatu habitat untuk ditempati. Seleksi habitat adalah proses atau perilaku yang digunakan organisme untuk memilih habitat yang sesuai untuk menunjang kehidupannya (Hutto, 1985). Suatu habitat diseleksi oleh organisme berdasarkan ketersediaan tempat berlindung, kualitas dan kuantitas vegetasi, daerah peristirahatan, daerah pemangsaan, serta daerah pemeliharaan anak. 

Kesuksesan reproduksi dan kelangsungan hidup spesies adalah alasan utama yang mempengaruhi suatu spesies untuk memilih habitat (Hilden, 1965). Litvaitis et al., (1996) menyatakan kemampuan untuk bertahan hidup ini diatur oleh faktor-faktor utama seperti ketersediaan vegetasi, tempat berlindung, dan menghindar dari predator.

Interaksi organisme juga mempengaruhi suatu organisme dalam memilih habitat seperti kompetisi dan predasi. Kompetisi dapat menyebabkan organisme tidak memilih suatu habitat karena adanya keterbatasan sumber daya (Blok dan Brennan 1993) atau dapat menyebabkan terjadinya distribusi spasial organisme dalam habitat (Keen 1982). 

Adanya predator juga dapat mencegah suatu organisme menduduki suatu area. Kelangsungan hidup spesies dan keberhasilan reproduksinya di masa depan adalah kekuatan pendorong yang mungkin menyebabkan organisme mengevaluasi faktorfaktor biotik ini. Kompetisi dan predator dapat menyebabkan organisme memilih daerah berbeda dengan sumber daya yang kurang optimal.

Mari kita lihat penelitian Gunawan et al., (2012) yang menggambarkan tentang macan tutul jawa (Panthera pardus melas Cuvier, 1809) di wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pekalongan Barat, KPH Banyumas Barat, dan KPH Banyumas Timur. 

Dari penelitian tersebut diketahui bahwa macan tutul menempati habitat dengan toleransi yang tinggi terhadap iklim dan makanan. Macan tutul jawa ini memilih tempat berlindung berupa hutan bervegetasi lebat dan sulit diakses manusia karena topografi yang curam (lereng dengan kemiringan > 40%) atau berupa lembah dalam dan juga bukit dengan ketinggian yang sulit dijangkau. Daerah yang bervegetasi lebat digunakan macan tutul untuk aktivitas berlindung dan mengintai mangsa.

Macan tutul betina akan menggunakan daerah bervegetasi lebat atau singkapan batu sebagai sarangnya. Sarang ini sangat penting untuk kelangsungan hidup anak-anaknya karena melindungi mereka dari pemangsa.

Habitat di alam memiliki berbagai organisme berupa vegetasi maupun populasi hewan yang ada di dalamnya. Berbagai organisme tersebut akan mengelompok dan terkonsentrasi pada tempat-tempat tertentu yang dirasa paling cocok. Oleh karena itu masing-masing organisme akan menempati mikrohabitatnya, yaitu bagian dari habitat yang merupakan lingkungan dengan kondisi paling optimal dan dekat hubungannya dengan organisme. 

Sebagai contoh, jamur pelapuk kayu hanya dapat hidup pada bagian batang tumbuhan yang telah lapuk, teduh, dan lembab (Gambar 1.4). Kondisi tempat hidupnya ini mungkin sangat berbeda dengan kondisi sekitarnya secara umum. Tempat khusus inilah yang kemudian disebut dengan mikrohabitat, jika mikrohabitat memiliki iklim yang berbeda dengan sekitarnya maka disebut mikroklimat(iklim mikro) bagi habitat tersebut. Di dalam mikrohabitat, organisme akan terkonsentrasi dan beradaptasi secara fisiologi, struktural, dan perilaku.

Sumber: Balai Taman Nasional Northern Velebit (2019)

Gambar 1.4.

Jamur Galerina marginata yang hidup pada Pohon yang Tumbang di Taman Nasional Northern Velebit Sebagai Mikro Habitat

B. RELUNG EKOLOGI (NICHE)

1. Pengertian

Relung ekologi (niche) menunjukkan peranan fungsional dan posisi suatu organisme dalam suatu komunitas atau ekosistem tertentu (Indriyanto, 2006).

Odum (1993) menyatakan bahwa relung ekologi adalah posisi atau status dari struktur adaptasi organisme, respon psikologi, dan tingkah laku spesifik.

Relung merupakan kombinasi tempat organisme hidup (habitat), cara organisme hidup (adaptasi), dan peranannya dalam komunitas.

2. Konsep Relung

Beberapa pakar mempunyai konsep akan relung ekologi, marilah kita simak satu persatu

a. Konsep Relung (Niche) dari Grinnell dan Elton

Kata niche (relung) pertama kali diungkapkan oleh Roswell Jhonson sekitar tahun 1910. Menurut Jhonson, relung merupakan tempat yang dikuasai oleh spesies. Tetapi, Joseph Grinnell lah yang pertama memasukkan konsep relung ke dalam program penelitian dan secara eksplisit menjelaskan relung dari berbagai spesies (Griesemer, 1992). 

Kata niche diungkapkan Grinnell pada awal tahun 1914, meliputi berbagai hal yang menyatakan keberadaan spesies di berbagai lokasi termasuk faktor abiotik seperti suhu, kelembaban, curah hujan, dan faktor biotik seperti kehadiran makanan, pesaing, predator, tempat penampungan, dan lain-lain.

Grinnell menggambarkan terdapat 4 komponen utama dalam relung yaitu:

  • Tipe makanan yang dikonsumsi;
  • Pemilihan mikrohabitat;
  • Sifat fisik dan perilaku saat mengumpulkan makanan; dan
  • Sumber daya diperlukan untuk tempat tinggal dan pembiakan.

Keempat faktor dasar ini memungkinkan pengkarakterisasian relung bagi berbagai organisme, dan setiap organisme memiliki relung yang berbeda-beda berdasarkan keempat faktor tersebut (Petren, 2001). Dengan membandingkan beberapa komunitas di wilayah yang berbeda, Grinnell membayangkan bahwa beberapa relung yang dikuasai spesies di suatu wilayah mungkin tidak terdapat atau kosong di wilayah yang lain karena adanya keterbatasan penyebaran akibat hambatan geografis. Berdasarkan perbandingan komunitas ini, membawa perhatian Grinnell terhadap ekivalen ekologi (ecological equivalents), yang menurut evolusi akan membawa pada penguasaan relung yang sama dalam habitat yang serupa pada daerah geografi yang berbeda (Schoener, 1989).

Pada tahun 1927, Charles Elton mempublikasikan tulisan mengenai niche dalam karyanya Animal Ecology. Sejak saat itu, Elton dianggap sebagai ayah kedua dari konsep relung setelah Grinnell. Elton berfokus pada ekologis equivalen tetapi dalam program penelitian yang berbeda dengan Grinnell.

Elton mencari berbagai varian dari struktur komunitas dan fokus pada hubungan trofik yaitu: (a) rantai makanan, (b) hubungan antara ukuran (dimensi) suatu organisme dan ukuran makanannya, (c) relung suatu organisme, yaitu tempat hewan bermasyarakat, berhubungan dengan makanan, musuhnya, dan faktor lainnya, serta (d) piramida angka (fakta bahwa organisme di dasar rantai makanan lebih banyak daripada organisme di ujung rantai). Relung kemudian diartikan sebagai posisi spesies dalam rantai trofik (seperti karnivora, herbivora, dan lain-lain); meskipun faktor-faktor seperti mikrohabitat juga bisa dimasukkan (Elton 1927).

Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa konsep relung berdasarkan Grinnell (Grinnellian niche concept) mewujudkan gagasan bahwa relung spesies ditentukan oleh ketersediaan habitat tempat tinggal dan adaptasi perilaku yang menyertainya. Dengan kata lain, relung adalah jumlah dari persyaratan habitat dan perilaku yang memungkinkan suatu spesies bertahan dan menghasilkan keturunan, jadi lebih menekankan relung sebagai mikrohabitat yang ditempati oleh spesies.

Sedangkan konsep relung dari Elton (Eltonian niche concept) mengklasifikasikan relung berdasarkan kegiatan mencari makan (foraging activities dan food habits). Elton memperkenalkan gagasan tentang respon dan dampak suatu spesies terhadap lingkungan. Tidak seperti konsep relung lainnya, konsep ini menekankan bahwa suatu spesies tidak hanya tumbuh dan merespon lingkungan berdasarkan sumber daya yang tersedia, pemangsa, dan kondisi iklim, tetapi juga dapat mengubah ketersediaan dan perilaku dari faktor-faktor tersebut ketika tumbuh. Elton lebih menjelaskan tentang peranan spesies dalam komunitas.

b. Konsep Relung (Niche) dari George Hutchinson

Pada tahun 1957, Hutchinson mengembangkan konsep relung secara lebih lanjut dan memperkenalkan konsep relung ekologi multidimensi (ndimensional hypervolume). Sementara Grinnell dan Elton menekankan kesamaan relung yang ditempati oleh ekologis ekuivalen di berbagai wilayah geografis. Hutchinson menekankan kesamaan relung spesies di lokasi yang sama, cara spesies berkompetisi, serta mempertimbangkan faktor lainnya seperti predasi dan variabilitas lingkungan (Griesemer 1992). Oleh

Hutchinson, relung digambarkan dalam ruang variabel lingkungan (biotik dan abiotik). Berdasarkan konsepnya, Hutchinson menganggap setiap kisaran toleransi terhadap suatu faktor lingkungan atau kisaran macam sumberdaya yang dimanfaatkan spesies sebagai satu dimensi. Persyaratan hidup suatu organisme tidak hanya menyangkut satu atau dua dimensi (sumber daya) tetapi terdiri atas banyak dimensi (Gambar 1.5).

Sumber: Hutchinson (1957)

Gambar 1.5

Ilustrasi Konsep relung Hutchinson

Hutchinson membedakan relung ini ke dalam 2 prinsip, yaitu relung fundamental (fundamental niche) dan relung yang terealisasi (realized niche).

Relung fundamental menunjukan secara utuh kondisi lingkungan tempat spesies hidup, sedangkan relung yang terealisasikan menunjukan status fungsional yang benar-benar ditempati oleh spesies. Untuk dapat memberikan gambaran lebih jelas kepada Anda, silahkan simak gambar 1.6 berikut.

Gambar 1.6

Fundamental dan Realized Niche

Pada relung fundamental, suatu organisme dapat mengambil keuntungan dari semua faktor biotik dan abiotik dalam suatu ekosistem tanpa persaingan dari spesies lain atau tekanan dari predator. Relung ini menyempit ketika organisme lain tiba dan ada persaingan untuk mendapatkan sumber daya dan makanan atau ketika pemangsa mulai berburu di daerah tersebut. Organisme akan bertahan dan beradaptasi dengan kondisi baru dalam relung yang terealisasikan.

Sebagai contoh, Chthamalus sp. (sejenis teritip) akan menempati area intertidal baik daerah pasang tinggi ataupun daerah pasang rendah. Area intertidal ini disebut fundamental niche. Tetapi jika terdapat spesies teritip lainnya (Balanus sp) pada area intertidal tersebut, maka Chthamalus hanya akan menempati daerah pasang tinggi, sedangkan Balanus akan menempati daerah pasang rendah. Daerah pasang tinggi disebut realized niche bagi Chthalamus. Pada realized niche, Chthalamus akan bersaing dan bertahan hidup (Gambar 1.7).

Sumber: Pathwayz (2019)

Gambar 1.7

Persaingan dalam Memperoleh Sumber Daya

Relung fundamental memiliki ukuran yang sama atau lebih besar dari relung yang terealisasikan. Relung fundamental dan relung terealisasi bisa lebar atau sempit, karena itu pula terdapat istilah bagi spesies yang menempatinya. Spesies spesialis adalah istilah untuk organisme yang hidup di relung yang sempit karena mereka hanya berkembang dalam kondisi lingkungan tertentu atau makan makanan tertentu. Sebaliknya, spesies generalis menempati relung yang lebih luas dan memanfaatkan berbagai sumber daya dan dapat hidup di banyak kondisi lingkungan yang berbeda.

Related Posts