Blog Pembelajaran Biologi Terlengkap

 


Produktivitas Primer Kolam

|

Produktivitas Primer Kolam | Dalam mempelajari setiap ekosistem, seseorang ahli ekologi selalu bermula dari mencari sumber energi ekosistem tersebut. Tidak mungkin adanya suatu kolam dengan segala kehidupannya tanpa ada energi di dalamnya. Dengan adanya energi dan arus energi dapat menjamin keberlangsungan kehidupan organisme yang ada.

Berbicara mengenai produktivitas, berarti kita membicarakan makhluk hidup yang dianggap mampu atau dapat menghasilkan makanannya sendiri (yang identik dianggap sebagai energi). Makhluk hidup tersebut adalah tumbuhan. Dengan kemampuannya, tumbuhan dapat membuat makanannya sendiri sehingga dikenal dengan istilah autotrop, seperti terlihat dalam reaksi berikut ini.

Skema Proses Fotosintesis pada Tumbuhan

Pada suatu kolam alam, secara alami pula kita akan mendapati tumbuhan yang berakar pada dasar kolam yang bagian atasnya ke luar dari permukaan air, seperti teratai (Nymphaea sp.), eceng gondok (Eichornia crassipes) dan Cyperaceae (seperti Scirpus grossus). Eceng gondok adalah tumbuhan yang mula-mula berakar pada dasar kolam, namun kemudian sebagian lepas dari substratnya, dan mengapung di air. Sering pula kita melihat tumbuhan yang terapung selamanya di permukaan air, seperti kiambang (Azolla pinnata) dan semanggi (Marsilea crenata). Seperti terlihat pada Gambar 1.5, tumbuhan-tumbuhan ini hanya dapat hidup di permukaan air yang cukup mengandung mineral.

Penampang Melintang Kolam Alam

Sementara itu di dalam air juga sering kita temukan tumbuhan tingkat tinggi yang berakar pada dasar kolam, umpamanya Hidrila (Hydrilla verticilata). Ada juga tumbuhan yang hidup melayang-layang di dalam air, seperti Ceratophylum, seperti terlihat pada Gambar 1.6.

Masih dalam kolam yang sama, juga akan dijumpai adanya ganggang/alga sebagai penghuni alam. Keberadaan alga ini apalagi dalam jumlah yang banyak sering ditandai dengan warna air kolam yang agak berbeda seperti berwarna agak kemerahan, coklat, hijau, dan sebagainya tergantung dari jenis dominan alga/ganggang yang ada.

Ganggang yang biasa terdapat pada kolam terutama dari Diatomae, antara lain adalah Navicula dan Pinnularia, alga hijau seperti Spirogyra, Oedogonium, Cladophora, dan Hydrodictyon, maupun alga biru seperti Nostoc, seperti terlihat pada Gambar 1.7.

Beberapa Jenis Tumbuhan Kolam

Beberapa Alga sebagai Produsen Kolam

Beberapa macam alga/ganggang ini merupakan produsen penting bagi kolam. Meskipun demikian, alga dan semua tumbuhan air yang disebutkan di atas tadi bukanlah produsen utama bagi ekosistem perairan.

Apabila diperhatikan dari air kolam yang sama, ternyata masih ada kelompok makhluk hidup yang melayang-layang di dalam air, hampir tidak terlihat dengan mata biasa karena ukurannya yang kecil sekali, tetapi dapat terlihat dengan bantuan mikroskop. Kelompok ini dinamakan plankton, yang terdiri dari sebagian besar tumbuhan (dikenal sebagai phytoplankton), sebagian Protista, dan sebagian lagi hewan (dikenal sebagai zooplankton). 

Dari sejumlah penelitian diketahui bahwa produksi makanan di kolam dan di perairan lainnya adalah terutama hasil fotosintesis organisme plankton ini sehingga plankton dianggap sebagai penyumbang produsen utama terbesar dari perairan. Namun, secara keseluruhan, baik dari tumbuhan air, ganggang, maupun plankton dapat dianggap sebagai produsen utama perairan. Jumlah spesies yang membentuk plankton dari satu perairan ke perairan yang lain adalah bervariasi tergantung keberadaan dan kandungan material perairan.

Dapat dibayangkan dengan sejumlah organisme penghuni kolam yang berfotosintesis, akan membentuk sejumlah gula glukosa (dapat dianggap sebagai cadangan makanan) dan oksigen yang terlarut di dalam air. Besarnya kemampuan seluruh organisme yang ada untuk dapat menggunakan energi lingkungan guna membentuk senyawa organik dengan kegiatan fotosintesis, dikenal dengan istilah Produktivitas Primer (dalam hal ini kolam). 

Atau dapat pula dinyatakan sebagai indeks kemampuan penggunaan cahaya matahari sebagai sumber energi, yang dapat dipakai/menunjang kegiatan metabolisme organisme (dalam hal ini fotosintesis). Dengan semakin besarnya produktivitas primer ini, maka semakin besar kemampuan ekosistem (kolam) untuk dapat menjaga kesinambungan kehidupan biota yang telah terbentuk atau ada sebelumnya.

Seberapa pun besarnya oksigen terlarut, umumnya masih dapat diimbangi dengan sebesar pemakaiannya oleh biota-biota penggunanya, seperti ikan dan kerang. Ketersediaan oksigen, seperti telah diungkap sebelumnya juga ikut dipengaruhi secara langsung oleh luasnya permukaan air, besarnya arus, kandungan zat organik, dan suhu. Sedangkan turbiditas dan intensitas cahaya secara tidak langsung dapat mempengaruhi ketersediaan oksigen terlarut.

CARA MENGUKUR PRODUKTIVITAS PRIMER

Untuk dapat mengetahui dan mengukur tingkat produktivitas primer dalam suatu perairan tak mengalir (lotik), misalnya kolam, dapat kita buat perkiraan kasar sebelumnya dengan melihat kekeruhan dan warna airnya. Kalau kekeruhan tinggi akibat adanya biota (yang ditandai dengan rendahnya kejernihan cakram Secchi) ditambah lagi warna air yang tidak lazim akibat blooming dari suatu ganggang maka dapat diperkirakan tingginya tingkat produktivitas primer dari kolam tersebut. Namun, untuk mendapatkan hasil lebih akurat lagi harus dilakukan serangkaian tes yang memang khusus digunakan bagi pengukuran produktivitas primer perairan.

Seperti diketahui bahwa produktivitas primer suatu ekosistem air adalah laju penggunaan energi lingkungan untuk membentuk senyawa organik dengan kegiatan fotosintesis. Dalam kawasan perairan, proses sebenarnya dari kegiatan fotosintesis adalah sebanding dengan laju respirasi organisme, intensitas cahaya, fotoperiode, iklim, turbiditas, suhu, dan faktor-faktor lainnya. Untuk memperoleh indeks produktivitas perlu diukur jumlah oksigen yang diproduksi oleh bagian sistem tadi. Jadi yang dicari adalah indeks produktivitas dari ekosistem tersebut.

Sumber: Modul Kuliah Biologi UT

Related Posts