(PDF) Isolasi Actinomycetes dari Tanah Sawah Sebagai Penghasil Antibiotik

Posted on
Loading...

Isolasi Actinomycetes dari Tanah Sawah Sebagai Penghasil Antibiotik

Penemuan antibiotik penisilin dari Penicillium notatum oleh Alexander Fleming telah mendorong penelitian untuk menemukan antibiotik baru.

Tujuan penelitian ini adalah: 1) mengetahui jumlah isolat Actinomycetes yang dapat ditemukan di tanah sawah dan 2) mengetahui potensi isolat Actinomycetes yang ditemukan sebagai penghasil antibiotik. Jenis penelitian ini adalah eksplorasi dengan pemeriksaan laboratorium. Sampel tanah diambil dari lima titik yang berbeda dari sawah Sicangkring, Kiringan, Tulung, Klaten. Dari penelitian ini ditemukan sebanyak 35 isolat yang dapat dikelompokkan menjadi 11 group berdasarkan hasil colour grouping.

Berdasarkan hasil uji penghambatan terhadap bakteri uji dengan metode agar blok, diketahui diantara 11 isolat, sebanyak tiga isolat (27,27%) mampu menghambat Staphylococcus aureus ATCC 25923 (gram positif), yaitu isolat SS13 dengan diameter daerah hambatan sebesar 14,66 mm (sedang), isolat SR1 = 24,66 mm (kuat) dan isolat SR6 = 5,00 mm (lemah). Namun demikian tidak ada satupun isolat yang mampu menghambat Eschericia coli ATCC 35218 (gram negatif).

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Actinomycetes dapat diisolasi dari tanah sawah yang berpotensi sebagai penghasil antibiotik dengan spektrum kerja menghambat bakteri gram positif.

Kata Kunci: Actinomycetes, tanah sawah, dan antibiotik.

Timbulnya berbagai penyakit infeksi baru yang membutuhkan antibiotik di satu sisi dan adanya sifat resistensi kuman terhadap antibiotik yang telah ada di sisi lain, mendorong terus dilakukannya penelitian untuk menghasilkan antibiotik jenis baru yang lebih ampuh untuk membunuh kuman penyakit. Saat ini banyak penelitian yang difokuskan pada Actinomycetes yang diindikasikan sebagai bakteri yang mampu menghasilkan antibiotik terbanyak. Sekitar 70% dari antibiotik yang telah ditemukan dihasilkan oleh Actinomycetes terutama Streptomyces (Suwandi, 1993). Menurut Okami & Hotta (1988), hampir 95% dari 2000 antibiotik yang ada dihasilkan oleh Streptomyces.

Menurut Mutschler (1991), antibiotik yang dihasilkan oleh anggota genus Streptomyces dapat dikelompokkan dalam lima kelompok, yaitu :

Loading...
  1. Tetrasiklin
    Tetrasiklin dan derifatnya meliputi antibiotik tetrasiklin, klortetrasiklin, dan dimetiltetrasiklin yang dihasilkan oleh Steptomyces aureofaciens, serta oksitetrasiklin (S. rimosus) (Perlman, 1970; Pelczar & Chan, 1988). Antibiotik ini bekerja pada semua mikroorganisme yang peka terhadap penisilin, berbagai bakteri
    gram positif dan negatif, mikoplasma spirokhaeta, leptospira, rickettsia, dan khlamidia (Perlman, 1970; Pelczar & Chan, 1988; Mutschler, 1991).
  2. Kloramfenikol
    Kloramfenikol adalah antibiotik kloramfenikol yang dihasilkan oleh Steptomyces venezuelae (Perlman, 1970). Antibiotik ini mempunyai spektrum kerja seperti tetrasiklin namun sekarang sudah jarang dipakai. Indikasi kloramfenikol untuk mengobati tifus, paratifus dan menginitis (Mutschler, 1991). Kloramfenikol aktif terhadap bakteri gram positif, gram negatif dan rickettsia (Perlman, 1970).
  3. Makrolida (kelompok eritromisin)
    Makrolida meliputi eritromisin yang dihasilkan oleh S. erythreus, oleandomisin (S. antibioticus) (Perlman, 1970) dan spiramisin (S. ambofaciens) (Mutschler, 1991). Spektrum kerjanya meliputi bakteri
    gram positif (Perlman, 1970; Pelczar & Chan, 1988; Mutschler, 1991).
  4. Linkomisin
    Linkomisin dan derifatnya meliputi linkomisin yang dihasilkan oleh S. lincolnensis dan klindamisin (turunan linkomisisn). Spektrum kerja linkomisin aktif pada bakteri gram positif (Perlman, 1970; Pelczar & Chan, 1988,) terutama infeksi yang disebabkan anggota genus Staphylococcus. Intensitas kerja klindamisin dua sampai 10 kali lebih besar dari pada linkomisin (Mutschler, 1991).
  5. Antibiotika aminoglikosida
    Aminoglikosida meliputi streptomisin yang dihasilkan oleh S. griceus, dihidrostreptomisin (turunan streptomisin), kanamisin (S. Kanamyceticus.), dan neomisin (S. fradiae) (Perlman, 1970), tobramisin (S. tenebrarius), spektinomisin (S. Spectabilis) (Mutschler, 1991). Streptomisin, dihidrostreptomisin, kanamisin dan neomisin aktif terhadap bakteri gram positif, gram negatif dan bakteri penyebab tuberkulosis (Perlman, 1970), tobramisin terutama aktif pada Pseudomonas aeruginosa, spektinomisin aktif pada bakteri gram negatif dan untuk pengobatan Neisseria gonorrhoeae (Mutschler, 1991).

Pengujian kemampuan suatu isolat sebagai penghasil antibiotik dapat dilakukan dengan suatu perlakuan pada bakteri uji untuk menentukan adanya daerah hambatan, yaitu daerah jernih yang tidak ditumbuhi mikroorganisme lain. Jika pada perlakuan tersebut terdapat daerah hambatan maka isolat tersebut berpotensi sebagai penghasil antibiotik, sebaliknya jika tidak terbentuk daerah hambatan maka isolat tersebut tidak berpotensi menghasilkan antibiotik. Bakteri yang sering digunakan pada penelitian adalah Escherichia coli yang mewakili kelompok bakteri gram negatif dan Staphylococcus aureus dan Bacillus subtilis sebagai wakil kelompok bakteri gram positif. Dalam penelitian ini digunakan E. coli dan S. aureus

File name : ISOLASI-ACTINOMYCETES-DARI-TANAH-SAWAH.pdf

Loading...