Tanaman Lada: Deskripsi, Klasifikasi, Syarat Tumbuh, Pembibitan dan Budidayanya

Posted on
Loading...

A. Botani dan Morfologi Tanaman Lada

Lada (Piper nigrum L) termasuk tanaman dari family Piperaceae. Famili tersebut terdiri dari 10-12 genus dan 1.400 spesies yang bentuknya beragam seperti herba, semak, tanaman menjalar, hingga pohon-pohonan. Lada dari genus Piper merupakan spesies tanaman yang berasal dari Ghats, Malabar India (Rismunandar, 2007).

Tanaman lada (faunadanflora.com)

Klasifikasi Lada

Adapun taksonomi tanaman lada diklasifikasikan sebagai berikut:

  • Kingdom : Plantae,
  • divisi : Spermatophyta,
  • klas : Angiospermae,
  • subklas : Dicotyledoneae,
  • ordo : Piperales,
  • family : Piperaceae,
  • genus : Piper,
  • spesies : Piper nigrum L.

(Suwarto, 2013).

Morfologi Tanaman Lada

Tanaman lada dikenal sebagai tanaman tahunan yang memanjat. Batangnya berbuku dengan tinggi mencapai 10 meter, namun dalam budidayanya dibatasi hingga ketinggian 3-4 meter dan melekat pada tiang panjat (tajar) agar memudahkan dalam pemeliharaan. Tanaman lada terdiri atas batang, akar, daun, cabang, dahan, bunga dan buah (Rismunandar, 2007). Menurut Nurhakim (2014), batang lada tumbuh merambat pada tiang panjat dan kadang-kadang menjalar di atas permukaan tanah.

Tiap tanaman lada hanya tumbuh satu batang, apabila batang dipotong saat berumur satu tahun, akan tumbuh tunas-tunas dengan jumlah 2-5 cabang baru. Panjang tiap ruas tanaman lada tidak selalu sama yaitu sekitar 4-7 cm, dengan diameter batang antara 6-25 mm. Tanaman lada termasuk tanaman kelompok dikotil yang memiliki akar tunggang. Akar utama terletak pada dasar batang dengan panjang 3-4 m, sedangkan akar-akar dari buku diatas permukaan tanah panjangnya hanya 3-5 cm yang berfungsi untuk menempel pada tiang panjat dan juga penyerap unsur hara yang sering disebut akar panjat atau akar lekat. Akar lekat hanya tumbuh pada buku-buku batang utama dan cabang ortotrop, sedangkan di cabang produksi (plagiotrop) tidak terdapat akar lekat.

Tanaman lada memiliki daun berbentuk bulat telur sampai memanjang dengan ujung meruncing. Buah lada berbentuk bulat, berbiji keras, memiliki kulit buah yang lunak, dan melekat pada malai. Kulit buah yang masih muda berwarna hijau, sedangkan yang sudah tua berwarna kuning, dan buah yang sudah masak berwarna merah berlendir dengan rasa manis pada kulit buahnya. Besar buah lada 4-6 mm, sedangkan biji lada besarnya 3-4 mm dengan berat 100 biji kurang lebih 38 gram.

Kulit buah atau pericarp terdiri dari 3 bagian, yaitu epicarp (kulit luar), mesocarp (kulit tengah), dan endocarp (kulit dalam) (Rismunandar, 2007). Cabang lada terdiri dari dua jenis, yaitu cabang orthotrop dan plagiotrop. Cabang orthotrop merupakan cabang yang muncul pada ketiak daun tiap buku-buku batang yang tumbuh diatas permukaan tanah disebut sulur gantung, sedangkan cabang yang kemunculannya dari dalam tanah disebut sulur cacing (lanak tanah). Ciri cabang orthotrop yakni tiap buku hanya terdapat satu daun, cabang tidak memiliki dahan atau ranting, terlihat akar lekat dan tidak muncul bunga. Sedangkan cabang plagiotrop muncul pada buku dahan yang muncul setelah tanaman lada berbuah untuk kedua kalinya. Saat pertama kali berbuah, bunga dan buah hanya muncul pada tiap ruas buku dahan. Pada musim berbuah selanjutnya, sebelum kemunculan malai bunga akan didahului kemunculan cabang plagiotrop.

Jumlah cabang yang muncul hanya satu pada tiap kali musim berbunga dan akan muncul pada musim berikutnya (Nurhakim, 2014).

Bunga lada masuk kategori hermafrodit, tiap tanaman terdapat satu bunga
jantan dan bunga betina. Kedua bagian bunga saling berdekatan dalam satu malai bunga. Letak bunga lada disebut bunga duduk karena tidak terlihat secara tegas tangkainya. Tiap tangkai bunga terdaat sekitar 30-50 bakal bunga. Susunan bunga lada terdiri dari tajuk, mahkota, benang sari dan putik dalam satu kesatuan.

Terjadinya penyerbukan ditandai dengan adanya perubahan warna putik menjadi kecoklatan. Selanjutnya putik akan membesar, membentuk kulit luar, kulit dalam, daging atau biji dan berbentuk bakal buah (Nurhakim, 2014).

B. Syarat Tumbuh Tanaman Lada

Menurut Suprapto (2008), tanaman lada sangat cocok ditanam di daerah
beriklim tropis antar 20o LU dan 20o LS dengan curah hujan 1000-3000 mm per tahun, merata sepanjang tahun dan mempunyai hari hujan 110-170 hari per tahun, musim kemarau hanya 2-3 bulan per tahun. Kelembaban udara 65-98% selama musim hujan, dengan suhu maksimal 35oC dan suhu minimum 20oC. Tanaman lada dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 mdpl, akan tetapi paling baik pada ketinggian sekitar 0-500 mdpl. Lada sangat cocok ditanam pada tanah lia berpasir, tanah podsolik komplek, dan tanah latosol dengan pH tanah optimum berkisar antar 5,5 – 6,5.

C. Teknik Budidaya

Menurut Rismunandar (2007), ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam menerapkan teknologi budidaya lada yang baik, yaitu persiapan lahan, penyediaan bibit, persiapan tajar, penanaman, pemeliharaan, pemberantasan hama dan penyakit tanaman, serta panen.

Persiapan Lahan

Lahan yang akan digunakan dibersihkan terlebih dahulu dari tunggul pohon, gulma, dan sisa akar. Siapkan lubang tanam yang kemudian diubah menjadi guludan. Caranya, lubang tanam tersebut diisi dan ditimbun dengan tanah subur dari lapisan atas (top soil) yang dicampur dengan 10 kg pupuk kandang.

Ukuran lubang tanam yang dianjurkan adalah 40cm x 40cm x 40cm atau 60cm x 60cm x 60cm. Sedangkan jarak antar lubang tanam adalah 2 m x 2 m sampai 2,5 m x 2,5 m.

Pemberian pupuk kandang dan kapur untuk tanah dengan pH kurang dari 5,5 di setiap lubang tanam sangat dianjurkan. Pupuk kandang diharapkan dapat memperbaiki kesuburan tanah, baik fisik, biologi, maupun kimianya.

Sedangkan pemberian kapur sebanyak 625 gr/lubang tanam diharapkan dapat meningkatkan pH tanah sehingga menjadi optimum bagi pertumbuhan lada yaitu 5,5-6,5.

Pembuatan drainase atau saluran pembuangan air untuk mengantisifasi kelebihan air.

Penyediaan bibit

Bibit yang dipilih harus memiliki kualitas yang baik, murah dan tepat, sehingga mendukung produksi lada. Bibit setek sulur panjat diambil dari indukan yang sehat (tidak terserang penyakit) dan kondisinya subur.

Persiapan Panjatan (tajar)

Tanaman lada adalah tanaman yang menjalar dan memanjat, sehingga perlu dibuatkan tempat untuk menjalar atau memanjat tersebut. Ada dua jenis panjatan yang secara umum dipakai, yaitu tiang panjatan hidup dan mati. Panjatan hidup adalah tanaman yang dijadikan sebagai media menempel dan memanjat tanaman lada. Menurut Rismunandar (2007), tanaman panjatan hidup yang dapat digunakan adalah tingginya sekitar 60-75 cm (atau dapat pula 1-2 m) dengan diameter sekitar 5 cm. Jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai panjatan hidup, antara lain dadap, lamtoro, gamal, dan juga randu. Panjatan hidup dapat ditanam sebelum atau bersamaan dengan tanaman lada, ditanam berdekatan dengan lubang tanam sekitar 10-20 cm dan dengan kedalaman 30-50 cm.

Sementara panjatan mati adalah panjatan yang terbuat dari kayu atau tiang beton, akan tetapi umumnya yang banyak digunakan adalah menggunakan panjatan kayu. Jenis kayu yang digunakan biasanya kayu yang kuat dan tidak mudah rusak untuk waktu yang lama. Tinggi kayu panjatan diatas tanah sekitar 2,5-3 m dengan diameter 15-20 cm, sedangkan tiang panjat menggunakan beton, ketinggiannya sekitar 2 m. Panjatan kayu ditancapkan ke tanah pada jarak sekitar 50 cm dari tanaman lada dengan kedalaman 50-60 cm.

Penanaman

Penanaman bibit lada memiliki teknis atau cara yang baik dan sangat menentukan tumbuh atau tidaknya bibit secara baik. Lubang tanam dibuat dengan ukuran 40×40 cm atau 60×60 cm dengan kedalaman 40 cm. Bibit setek dimasukkan miring mengarah ke tajar dengan 3-4 ruas dibenamkan, sedangkan 2- 3 ruas berada diatas permukaan tanah disandarkan dan diikat pada tajar (panjatan). Kemudian tutup lubang tanam dengan tanah sampai padat sehingga tanaman tidak rebah. Selanjutnya lada yang sudah ditanam diberikan naungan, seperti alang-alang atau tunas-tunas pohon yang ditancapkan di sekeliling tanaman agar terlindung dari sinar matahari langsung yang dapat menyebabkan kematian pada tanaman.

Pemupukan

Kesuburan tanah sangat berpengaruh terhadap produktivitas tanaman lada. Pengelolaan kesuburan tanah dapat diupayakan melalui proses pemberian pupuk (pemupukan) yang tepat, agar kebutuhan unsur hara tanaman terpenuhi. Kriteria pemupukan yang tepat dan baik dapat dilihat dari jenis pupuk yang diberikan, dosis pupuk, waktu pemupukan, dan frekuensi pemupukan. Tanaman lada memerlukan pupuk organik dan anorganik, pemberiannya dapat dilakukan secara terpisah maupun secara bersama-sama dengan mencampur pupuk organik dan anorganik.

Loading...

Menurut Rismunandar (2007), waktu pemupukan dibagi menjadi empat tahap. Tahap pertama, pada waktu persiapan lahan sebagai pupuk dasar satu kali ; kedua, saat tanaman berumur 3-12 bulan (tahun pertama); ketiga, pada saat tanaman berumur 13-24 bulan (tahun kedua); dan keempat, saat tanaman berumur lebih dari 24 bulan. Pupuk yang diberikan pada pemupukan pertama atau sebagai pupuk dasar pada persiapan lahan adalah pupuk organik, yaitu pupuk kandang maupun kompos dengan dosis 5-10 kg per lubang tanam.

Pada tanaman produktif, pupuk anorganik diberikan sebanyak 1600 gr NPKMg (12-12-17-2)/tanaman/tahun, pemberian pupuk dibagi menjadi 3-4 kali per tahun (Suprapto, 2008). Pemberian pupuk terutama bagi tanaman lada yang sudah berumur 8-12 bulan dan seterusnya, dilakukan dengan cara menaburkan pupuk tersebut ke dalam parit kecil yang dibuat tepat dibawah lingkaran tajuk dengan kedalaman 30-40 cm.

Pemeliharaan

Tujuan dari pemeliharaan secara keseluruhan antara lain untuk mengoptimalkan kondisi lingkungan dan produksi, serta menjaga kondisi lahan dan tanaman lada. Pemeliharaan tanaman lada terdiri dari penjagaan kondisi lahan, pengaturan pertumbuhan tanaman pada panjatan, pemangkasan tanaman, dan pengendalian hama dan penyakit.

Penjagaan kondisi lahan merupakan kunci keberhasilan budidaya tanaman lada. Tindakan-tindakan tersebut perlu diupayakan yaitu, memperhatikan fungsi pembuangan air (drainase), dan pembersihan gulma. Selain penjagaan kondisi lahan, pengaturan pertumbuhan tanaman harus dilakukan sejak tunas baru mulai tumbuh yaitu dengan melakukan pemangkasan. Tujuan pemangkasan untuk merangsang pembentukan sulur panjat baru, sulur tersebut harus dilekatkan dan diikatkan pada panjatan. Pemangkasan umumnya dilakukan dua kali dalam setahun, saat tanaman umur 5-6 bulan dan umur 12 bulan. Pemangkasan berikutnya dilakukan pada umur 2 tahun, sehingga terbentuk kerangka tanaman yang mempunyai banyak cabang produktif. Hasil pemangkasan tersebut dapat digunakan sebagai sumber bahan tanam setek untuk pengembangan pembibitan lada.

Serangan hama dan penyakit pada tanaman lada dapat mempengaruhi produksi, maka perlu dilakukan upaya-upaya pengendalian. Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman lada dapat dilakukan secara mekanik maupun kimiawi. Hama utama yang menyerang tanaman lada adalah penggerek batang (Lophabaris piperis), penghisap buah (Dasynus piperis), penghisap bunga (Diconocoris hewetti). Sedangkan penyakit utama pada tanaman lada adalah penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh jamur (Phytophthora capsici) dan juga penyakit kuning yang disebabkan oleh nematode Radopholus similis dan Meloidogyne incognita, serta karena jamur Phytophthora capsici dan Fusarium oxyporum.

D. Perbanyakan Tanaman Lada

Tanaman lada dapat diperbanyak secara generatif dengan biji, dan vegetatif dengan setek, akan tetapi perbanyakan tanaman lada banyak dipraktekkan dengan cara setek karena lebih praktis, efisien, dan bibit yang dihasilkan sama dengan sifat induknya. Perbanyakan lada menggunakan setek bisa diambil dari sulur panjat, sulur gantung, sulur tanah, dan sulur buah (cabang buah). Sulur panjat merupakan sulur yang tumbuh memanjat pada tanaman penegak atau tajar karena memiliki akar lekat dan pertumbuhannya keatas. Sulur gantung merupakan sulur panjat yang menggantung akan tetapi tidak tumbuh memanjat pada tanaman penegak atau tajar.

Sulur tanah adalah sulur yang tumbuh merayap di permukaan tanah, tidak memiliki akar lekat pada buku atau ruas. Sedangkan sulur buah merupakan sulur yang tumbuh menyamping, sulur tempat tumbuhnya buah dan tidak memiliki akar lekat. Menurut Nengsih et al (2016), menyatakan bahwa sulur panjat menghasilkan bibit lada terbaik dan hasilnya berbeda nyata dibandingkan dengan sulur buah, sulur tanah, dan sulur gantung.

Bahan tanam untuk setek lada sebaiknya diambil dari tanaman yang pertumbuhannya bagus, tidak memperlihatkan gejala kekurangan hara dan gejala serangan hama dan penyakit. Selain itu menurut Suprapto (2008), untuk menghasilkan tanaman lada yang dapat tumbuh baik pada tanaman penegak sebaiknya menggunakan bahan tanam yang berasal dari sulur panjat pada pohon induk umur minimal 6-9 bulan, tidak sedang berbunga atau berbuah, setek tidak terlalu tua maupun muda.

Bahan tanam lada yang digunakan dapat berupa setek pendek maupun setek panjang. Setek pendek biasanya melalui tahapan pembibitan, sedangkan setek panjang langsung ditanam di lapangan. Setek pendek memiliki beberapa keuntungan antara lain dapat menyediakan bibit dalam jumlah yang banyak dalam waktu yang relatif singkat, menghemat penggunaan bahan tanam dan juga pertumbuhan tanaman seragam.

Sedangkan penggunaan setek panjang yang langsung ditanam di lapangan memungkinkan besarnya resiko kegagalan dan juga sering menimbulkan kesulitan karena jumlah kebutuhan bibit yang banyak, sehingga cara ini kurang ekonomis.

E. Media Pembibitan

Salah satu faktor penentu keberhasilan dalam penyetekan adalah penggunaan media tanam. Media tanam merupakan komponen penting dalam pembibitan tanaman sebagai tempat tanaman tumbuh, berakar dan berkembang. Pemilihan media tanam harus sesuai dengan tujuannya, sebagai media semai dan perbanyakan atau sebagai tempat tumbuh sampai produksi. Media tanam yang akan digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan dibudidayakan.

Menurut Acquaah (2002) dalam Andiani (2012), menyebutkan bahwa campuran media tanam harus memiliki peranan khusus didalam campuran tersebut.

Faktor yang harus diperhatikan dalam memilih media untuk dijadikan campuran media adalah kualitas dari bahan tersebut, sifat fisik atau kimianya, banyak tersedia di pasaran, murah, mudah cara penggunaannya, dapat digunakan untuk berbagai macam tanaman, tidak membawa hama dan penyakit, mempunyai drainase dan kelembaban yang baik, mempunyai pH yang sesuai dengan jenis tanaman dan mengandung unsur
hara yang mendukung pertumbuhan tanaman.

Pada tahap pembibitan, media tumbuh diutamakan untuk mendapatkan
tanaman muda yang sehat, dan mampu tumbuh baik setelah ditanam pada media produksi. Media tanam yang berupa campuran tanah dan bahan organik memberikan dua keuntungan yaitu berperan sebagai media pertumbuhan akar dan penyedia unsur hara dan air untuk pertumbuhan perakaran ( Wasito dan Nuryani, 2005). Kondisi media tanam yang ideal bisa didapatkan dari kombinasi antara bahan organik dan bahan anorganik. Bahan organik tersebut dapat berupa arang sekam, kompos, humus, cocopeat, cacahan pakis, dan serbuk gergaji. Sedangkan bahan anorganik dapat berupa tanah, pasir, batu kerikil, dan hydrogel.

Pasir merupakan silika murni dengan ukuran partikel antar 0,5-2 mm yang umumnya digunakan sebagai campuran media tanam. Penambahan pasir ke dalam media tanam dapat meningkatkan porositas media (Poerwanto, 2003). Menurut Asquaah (2002) dalam Andiani (2012), pasir tidak menyediakan banyak unsur hara dan secara kimia pasir merupakan bagian dari media yang tidak bereaksi.

Arang sekam sebagai limbah pertanian pangan sangat mudah didapat sehingga saat ini banyak dimanfaatkan sebagai campuran media tanam. Arang sekam bersifat mudah mengikat air, tidak cepat lapuk, tidak cepat menggumpal, tidak mudah ditumbuhi jamur dan bakteri, serta dapat menyerap senyawa toksin atau racun dan melepaskannya kembali saat penyiraman serta merupakan sumber kalium bagi tanaman,. Akar tumbuhan dapat tumbuh sempurna karena terjamin kebersihan dan terbebas dari jasad renik yang dapat mengganggu pertumbuhan (Purwanto, 2010) dalam (Rahmadianto, 2014).

Kusmawiryah dan Erni (2011) menyatakan bahwa media tanah yang ditambah arang sekam dapat memperbaiki porositas media sehingga baik untuk respirasi akar, dapat mempertahankan kelembaban tanah, karena apabila arang sekam ditambahkan ke dalam tanah akan dapat mengikat air, kemudian dilepaskan ke pori mikro untuk diserap olah tanaman dan mendorong pertumbuhan mikroorganisme yang berguna bagi tanah dan tanaman. Selain itu arang sekam merupakan media yang praktis digunakan karena tidak perlu dilakukan sterilisasi, hal ini disebabkan mikroba patogen telah mati selama proses pembakaran. Arang sekam juga memiliki kandungan karbon (C) yang tinggi sehingga membuat media tanam menjadi gembur.

Cocopeat (serbuk sabut kelapa) berasal dari kulit buah kelapa yang sudah tua yang bisa dimanfaatkan sebagai campuran media tanam. Cocopeat memiliki ciri-ciri berserat banyak, ringan, tidak menempel pada pot, dan mudah dalam pemeliharaanya.

Kelebihan-kelebihannya antara lain adalah mudah mengikat dan menyimpan air, mengandung unsur-unsur hara makro yang diperlukan seperti N, P, K, Ca dan Mg, serta mudah diperoleh dalam jumlah banyak (Purwanto, 2010) dalam (Rahmadianto, 2014).

Menurut Agoes (1994) dalam Risnawati (2016), keunggulan cocopeat sebagai media tanam antara lain : dapat menyimpan air yang mengandung unsur hara, sifat cocopeat yang senang menampung air dalam pori-pori menguntungkan karena akan menyimpan pupuk cair sehingga frekuensi pemupukan dapat dikurangi. Selain itu di dalam cocopeat juga terkandung unsur hara dari alam yang sangat dibutuhkan tanaman, daya serap air tinggi, menggemburkan tanah dengan pH netral, dan menunjang pertumbuhan akar dengan cepat sehingga baik untuk pembibitan.

Loading...
Gravatar Image
Hanya seorang pelajar biasa yang ingin berbagi ilmu biologi kepada masyarakat via Pintar Biologi