Pandangan Evolusi menurut Agama dan Sains

Posted on
Loading...

Untuk mengawali pembahasan kita dengan terlebih dahulu mengetengahkan sebuah argumen yang bersifat metaforik dari William Paley. Argumen tersebut dikenal dengan istilah “Watchmaker”. Paley adalah seorang ahli teologi abad ke 18 dan awal abad ke 19. “Jika Anda sedang berjalan dan menemukan sebuah arloji, kemudian Anda memungutnya dan membongkarnya, Anda akan menyadari mekanisme internal (bagaimana semuanya tersusun) merupakan kesempurnaan yang sangat terperinci.

Dengan menambah ini ke dalam kenyataan, bahwa mekanisme arloji tersebut memiliki tujuan (yakni memberi tahu waktu), hal tersebut akan mendorong Anda untuk mengambil kesimpulan bahwa arloji itu pasti memiliki perancang. Demikian juga struktur rinci organisme hidup (mata, jantung, sendi, dan yang lainnya) menunjukkan betapa menakjubkan bagian-bagian tersebut dirancang, betapa sempurna bagian-bagian tersebut bekerja, dan begitu rumitnya bagian-bagian tersebut dipadukan, persis seperti roda penggerak sebuah arloji. Jika arloji memiliki perancang, maka struktur biologi juga tentunya memiliki perancang. Kehidupan bukan merupakan suatu peristiwa kebetulan. “(Campbell, 2003).

Pemikiran-pemikiran dikotomis yang akhirnya membuat gap yang cukup lebar antara sainstis dan agamis tidak hanya terjadi pada pengikut Bibel, tetapi juga terjadi pada pengikut Quran. Pada hal wahyu tidak harus bertentangan dengan sains dan begitu juga sebaliknya. Jika ternyata ada kontradisi antara wahyu dan sains, maka ada dua kemungkinan. Pertama, karena terdapat kekeliruan dalam menginterpretasikan ayat (wahyu), sebab wahyu memiliki nilai dasar serta sifat yang universal sehingga ia akan akurat selamanya dan dapat diinterprestasikan selaras dengan kondisi ruang dan waktu tertentu. Kedua, karena ilmu itu sendiri bersifat akumulatif, selalu mengalami perkembangan dan perubahan mencapai taraf kesempurnaan sehingga proses perkembangan dan perubahan itu sendiri masih belum sesuai dengan nilai dasar yang ada pada wahyu.

Dengan dasar inilah, saya mempunyai pandangan, antara sains dan wahyu harus ditatap dengan kerangka pemikiran induktif. Sains merupakan onvergensi dari wahyu. Sehingga antara sains dan wahyu adalah dua hal yang harus terpadu, bukan dua hal yang bertentangan atau dipertentangkan.

A. Teori Evolusi Dalam Perspektif Kristen

Pandangan Darwin mengenai kehidupan, memiliki perbedaan sangat tajam dengan paradigma konvensional yang menyatakan bumi baru berumur beberapa ribu tahun saja, dihuni oleh bentuk kehidupan yang tidak berubah dan telah diciptakan satu per satu selama seminggu penuh di mana sang Pencipta membentuk keseluruhan jagad raya. Buku Darwin telah menentang peradaban dunia yang telah diajarkan dan diyakini selama berabad-abad.

Dalam budaya Judio-Kristen, Kitab Perjanjian Lama yang berisi penciptaan, menguatkan ide bahwa setiap spesies telah diciptakan atau dirancang satu per satu dan bersifat permanen. Pada awal tahun 1700-an, biologi di Eropa dan Amerika didominasi oleh teologi alami (natural theology), yaitu suatu filosofi yang dikhususkan pada penemuan rencana Sang Pencipta dengan cara mempelajari alam. Para pengikut teologi alami melihat adaptasi organisme sebagai bukti bahwa Sang Pencipta telah merancang masingmasing dan setiap spesies untuk suatu tujuan tertentu. Tujuan utama teologi alami adalah untuk mengelompokkan spesies dan memperlihatkan tahapan skala kehidupan yang telah diciptakan oleh Tuhan.

Buku the Origin of Species sungguh sangat radikal untuk masanya. Pandangan Darwin ini bukan hanya mengguncang pandangan ilmiah yang berlaku saat itu, tetapi juga mengandung akar yang paling dalam dari kebudayaan Barat. Bagaimana dengan sekarang?

Pengalaman menyedihkan di masa lampau, ketika Galileo Galilei dijatuhi hukuman mati karena mempertahankan paham “heliosentris” dari Copernicus yang bertentangan dengan Kitab Suci, dan dikemudian hari terbukti benar, telah membuka dimensi baru dalam mimbar ilmiah. Kini para pemuka agama dalam memahami Kitab Suci tidak lagi hanya secara harfiah seperti yang tersurat, tetapi lebih pada apa yang tersirat. Ini tidak pernah terjadi sebelum abad ke 19. Kini para saintis pun lebih memiliki keberanian dalam mencoba menelaah fakta ilmiah, dengan menggunakan Kitab Suci sebagai acuan.

Kalau di masa lalu Samuel Wilberforce (1860), seorang uskup dari gereja Oxford dengan kemarahan yang luar biasa membakar hadirin untuk menghantam teori Darwin, dewasa ini orang dapat memahami teori tersebut, meskipun tidak berarti menyetujuinya.

Kemajuan penting abad ini mengenai teori evolusi, terjadi ketika Vatikan mengakui bahwa teori Darwin sesuai dengan iman Kristen. Pernyataan Paus Yohanes Paulus II itu disambut gembira oleh para ilmuwan, walaupun mungkin menimbulkan ketidaksenangan di kalangan religius.

Pengakuan Paus bahwa evolusi itu lebih dari sekadar teori, tertuang dalam pesan tertulisnya yang disampaikan pada hari Rabu (23/10/96) dalam sidang Akademi Ilmu Pengetahuan Kepausan, sebuah lembaga para pakar yang bertugas memberikan pertimbangan dan masukan kepada Gereja Katolik Roma mengenai isu-isu ilmiah (Kompas 25/10/1996). Pernyataan Paus ini merupakan sebuah terobosan baru dan menjadi berita utama di koran-koran Italia. “Paus mengatakan kita mungkin keturunan Kera” tulis harian konservatif “II Giornale” di halaman pertama. Harian La Republica menuliskan, “Paus berdamai dengan Darwin” (Kompas, 25/10/1996).

Tanggapan substantif pertama kali Vatikan terhadap teori Darwin dituangkan dalam ensiklik, “Humani Genesis (Keluhuran Manusiawi), yang ditulis tahun 1950 oleh Paus Pius XII. Ensiklik itu menyatakan tidak keberatan untuk mendiskusikan teori evolusi Darwin asal dengan hati-hati. Sebab teori tersebut dapat dimanfaatkan oleh tangan-tangan komunis untuk menghilangkan Tuhan.

Paus Yohanes Paulus II, mendukung dokumen 1950 itu. la mengatakan “tubuh manusia (raga) berasal dari material hidup yang sudah ada sebelumnya dan jiwa manusialah yang diciptakan Tuhan”. Paus juga mengatakan bahwa “teori evolusi lebih dari sekadar hipotesis”. (Kompas, /10/1996).

Sebagai bahan kajian kita lebih lanjut, saya kutipkan ayat-ayat yang merepresentasikan proses penciptaan alam semesta beserta isinya dan juga proses penciptaan manusia (dikutip dari Al-kitab yang diterbitkan oleh lembaga Al-kitab Indonesia, tahun 1988).

KEJADIAN

Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya. 1
Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. 2
Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. 3
Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. 4
Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. 5 Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama. 6
Berfirmanlah Allah: “jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.” 7Maka Allah menjadikan cakrawala dan ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian. 8
Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua. 9
Berfirmanlah Allah: “Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering. “Dan jadilah demikian. 10Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 11 Berfirmanlah Allah: “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi. “Dan jadilah demikian. 12 Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang mengahasilkan buah yang berbiji, Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 13Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga.
14 Berfirmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala
untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu
menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari
dan tahun-tahun. 15 dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah
benda-benda itu menerangi bumi.” Dan jadilah demikian. 16 Maka Allah
menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih
besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai
malam, din menjadikan juga bintang-bintang. 17Allah menaruh
semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi, 18 dan untuk
menguasai siang dan malam dan untuk memisahkan terang dari gelap.
Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 19 Jadilah petang dan jadilah,
itulah hari keempat. 20Berfirmanlah Allah: “Hendaklah dalam air
bekeriapan makhluk hidup, dan hendaklah burung-burung beterbangan
di atas bumi melintasi cakrawala.” 21 Maka Allah menciptakan binatangbinatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 22Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya: “Berkembang baiklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak.” 23 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kelima.
24 Berfirmanlah Allah: Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis
makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis
binatang liar. “Dan jadilah demikian. 25 Allah menjadikan segala jenis
ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat
bahwa semuanya itu baik.
26 Berfirmanlah Allah: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar
dan rupa kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan
burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas
segala binatang melata yang merayap di bumi.” 27 Maka Allah
menciptakan manusia menurut gambar Nya, menurut gambar Allah
diciptakan-Nya dia, laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka.
28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka
“Beranak-cuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan
taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di
udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.
29 Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, aku memberikan kepadamu segala
tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohonpohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.
30 Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan
segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, kuberikan segala tumbuhtumbuhan hijau menjadi makanannya. “Dan jadilah demikian: 31 Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.
1 Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. 2
Ketika Allah pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu, berhentilah la pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang
dibuat-Nya itu. 3 Lalu Allah memberikan hari ketujuh itu dan
menguduskannya, karena pada hari itulah la berhenti dari segala
pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.
4 Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika
Tuhan Allah menjadikan bumi dan langit, 5 belum ada semak apa pun di
bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apa pun di padang, sebab Tuhan
Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk
mengusahakan tanah itu; 6 tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan
membasahi seluruh permukaan bumi itu 7 Ketika itulah Tuhan Allah
membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas
hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk
yang hidup.

Manusia dan Taman Eden

8 Selanjutnya Tuhan Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; di
situlah ditempatkan-nya manusia yang dibentuknya itu. 9 Lalu Tuhan
Allah menumbuhkan berbagai-bagai potion dari bumi, yang menarik dan
yang baik untuk dimakan buahnya; potion kehidupan di tengah-tengah
taman itu, serta potion pengetahuan yang baik dan yang jahat. 10 Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan
dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang. 11Yang pertama,
namanya Pison, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Hawila,
tempat emas ada; 12 Dan emas dari negeri itu baik; di sana ada damar
bedolah dan batu krisopras. 13 Nama sungai yang kedua ialah Gihon,
yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Kush.
14 Nama sungai yang ketiga ialah Tigris, yakni yang mengalir di sebelah timur Asyur. Dan sungai yang keempat ialah Efrat.
15 Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam
taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. 16 Lalu
Tuhan Allah memberi perintah ini kepada manusia: “semua pohon dalam
taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, 17 tetapi pohon
pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau
makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau
mati”.
18 Tuhan Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri
saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan
dia.” 19 Lalu Tuhan Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan
dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia
itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang
diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup,
demikianlah nanti nama makhluk itu. 20 Manusia itu memberi nama
kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada
segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai
penolong yang sepadan dengan dia. 21 Lalu Tuhan Allah membuat
manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, Tuhan Allah mengambil salah
satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. 22 Dan
dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu dibangun-Nyalah
seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. 23 Lalu
berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari
dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.”
24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan
bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.
25 Mereka keduanya telanjang, manusia dari isterinya itu, tetapi mereka
tidak merasa malu.

Dari apa yang tersurat dalam ayat-ayat tersebut, kalau kita bandingkan
dengan fakta sains, ada beberapa catatan yang dapat saya “referensikan”
untuk menjadi bahan diskusi Anda dengan sesama teman mahasiswa.

  1. Tuhan Allah menciptakan langit beserta isinya dalam 6 hari, apakah 6 hari itu identik dengan hari dalam konsep sekarang? Karena matahari dan bulan, adanya siang dan malam, baru tercipta pada hari ke-4.
  2. Apakah penciptaan situ sifatnya “jadi maka jadilah” atau melalui proses evolusi?
  3. Tuhan Allah menjadikan terang dan gelap dan menamainya terang itu siang dan gelap itu malam, itu semua diciptakan pada hari pertama. Mungkinkah itu terjadi, bukankah matahari, bulan, bintang baru diciptakan pada hari keempat.
  4. Tuhan Allah menciptakan tumbuhan pada hari ke-3, tumbuhan seperti yang kita ketahui memperoleh makanan dengan cara fotosintesis yang mutlak memerlukan kehadiran matahari, sedangkan matahari baru tercipta pada hari ke-4.
  5. Burung diciptakan Tuhan Allah pada hari ke-4, dan reptil diciptakan Tuhan Allah pada hari ke-5, menurut catatan fosil, reptil lebih dahulu menghuni bumi, baru kemudian burung.
  6. Kalau matahari baru tercipta pada hari ke-4 dan kehidupan sudah ada semenjak hari ke-3. Ini kontradiksi dengan sains tentang awal kehidupan. Menurut sains makhluk hidup pertama bermula dari zat-zat anorganik yang karena pengaruh radiasi sinar kosmik berevolusi secara kimia menjadi zat organik …. dan seterusnya sampai terbentuk makhluk hidup pertama.
  7. Adam merupakan manusia pertama dan Eva (hawa) merupakan manusia kedua, lantas bagaimana dengan bukti fosil tentang manusia pra sejarah, mulai dari Ramaphitecus, Australophitecus, Pithecanthropus (Homo erectus), manusia Neanderthal (Homo Neanderthal), manusia Cro Magnon, manusia paleo-litik (manusia zaman batu tua) dan manusia neolitik (manusia zaman batu muda). Di mana letak Adam dan Eva?
  8. Lantas di mana Eden yang dimaksudkan Al Kitab dalam ayat 2 Pasal 10, 11, 12, 13, dan 14. Apakah Eden abadi seperti yang dijanjikan Tuhan Allah, atau menunjuk ke suatu tempat yang ada di bumi.

B. Teori Evolusi dalam Perspektif Islam

Sebelum kita mulai mendiskusikan isu ini ada baiknya diingat lebih dahulu, bahwa sampai sekarang ada dua mazhab ahli tafsir (mufassirun). Pertama, mazhab tekstual yang menafsirkan semua ayat sesuai dengan anti verbal ayat-ayat itu kata demi kata. Situasi dan kondisi yang dirujuk kebanyakan adalah apa yang terjadi pada abad pertama dan kedua Hijriah. Kemajuan sains dan teknologi diabaikan. Bagi mazhab ini, penafsiran cenderung sudah final.

Kedua, mazhab kontekstual yang menafsirkan ayat-ayat bukan hanya
terbatas pada arti verbal ayat-ayat tetapi juga merujuk pada relevansi teks itu dengan kemajuan iptek. Pendek kata, penafsiran terbuka jika premis-premis baru muncul. Iptek adalah juga sunnah Allah yang harus dirujuk sesuai dengan ayat yang bersangkutan dan ini membuat penafsiran menjadi dinamis.

Ini tidak berarti bahwa ayat-ayat itu harus disesuaikan dengan kemajuan iptek tetapi penafsiran kembali diperlukan jika ada fakta-fakta baru muncul.

Dapat dimengerti bahwa mazhab tekstual cenderung jadi statis dan taklid pada apa yang ditafsirkan oleh para ahli tafsir abad pertama dan kedua hijriah sesudah wafatnya Rasulullah SAW. Sebaliknya mazhab kontekstual
lebih dinamis dan tidak berpegang teguh pada pandangan para ahli tafsir
terdahulu melainkan cenderung untuk menafsirkan kembali ayat-ayat sesuai dengan premis-premis baru dan tanggap terhadap waktu dan ruang tertentu.

Loading...

Dapat dimaklumi bahwa mazhab ini dalam batas tertentu mengundang
kontroversi di kalangan ahli tafsir. Untuk mempermudah perbandingan,
kerangka pandangan teori evolusi akan diambil sebagai rujukan dan
kemudian saya akan mengutip ayat-ayat Al Quran dan tafsirnya diikuti
bagaimana pandangan teori evolusi tentang isu yang ada dalam teks Al
Quran. Semua terjemahan dikutip dari Ali (1983):

Tentang Asal usul Langit dan Bumi

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit
dan bumi dalam enam masa ….” (QS 7: 54).
Kebanyakan ulama tafsir mazhab tekstual menafsirkan “enam hari” sama
dengan hari di planet bumi di mana satu hari adalah 24 jam, waktu yang
dibutuhkan bumi untuk berotasi mengelilingi matahari. Sebaliknya mazhab kontekstual menyatakan bahwa “satu hari” dalam Al Quran tidak otomatis berarti 24 jam, tetapi dapat berarti 1.000 atau bahkan 50.000 tahun sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut ini.

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik
kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut
perhitunganmu.” (QS 32: 5).
“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam
sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun”. (QS 70: 4).

Hari yang mana yang dimaksud Allah dalam “enam hari dalam surat al
A’raf (7):54 di atas? Adalah jelas bahwa pada permulaan Allah berkeinginan
untuk menciptakan alam semesta, planet bumi tentulah belum berujud, tetapi masih berupa gagasan. Tatkala waktu disetel pada detik nol, bumi dan bendabenda langit lainnya belum ada.

Itulah sebabnya mazhab kontekstual lebih suka menafsirkan “enam hari”
itu menjadi “enam periode” sebagaimana dianjurkan oleh Departemen
Agama Republik Indonesia (1973) dan Bucaille (1976). Kami yakin
sepenuhnya bahwa Allah Maha Kuasa dan pasti mampu menciptakan alam
semesta dan segala isinya hanya dalam sepersekian detik tetapi Allah lebih
suka melakukan penciptaan itu bertahap atau secara evolusi.

Perhatikan ayat berikut ini.
“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahasanya langit dan
bumi dahulunya adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahkan
antara keduanya. Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup.
Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”(QS 21: 30).
“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih
merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi:
“Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau
terpaksa” keduanya menjawab: “Kami akan datang dengan suka hati”
(QS 41 :11).

Tahap pertama penciptaan alam semesta dalam bentuk asap atau dukhan.
Tahap kedua adalah terpecahnya asap atau dukhan tadi menjadi berbagai
benda-benda langit . Ini persis sama dengan apa yang diakui oleh kebanyakan pakar astrofisika sampai saat ini yakni teori ledakan besar.

Menurut teori ini, puluhan atau mungkin ratusan miliar tahun yang silam
terdapat sebuah tumpukan gas yang terdiri dari hidrogen dan sedikit helium yang berotasi pelahan-pelahan. Kemudian gas itu pecan dalam satu peristiwa yang disebut “ledakan besar” dan selanjutnya membentuk banyak bendabenda di langit yang kini dikenal sebagai galaksi. Hal ini dapat dianggap sebagai tahap pertama pembentukan alam semesta. Dalam alam semesta terdapat bermiliar-miliar galaksi, masing-masing berotasi pada sumbunya sedemikian rupa sehingga satu sama lain tidak bertabrakan.

Pada tahap kedua, galaksi pecah menjadi bermiliar-miliar bintang, salah
satu di antara bintang itu adalah matahari. Dan setiap kumpulan gas yang
membentuk bintang kemudian pecah sebagai tahap ketiga untuk membentuk planet-planet yang mengelilingi bintang dan satu atau lebih bulan beredar mengelilingi planet tertentu. Setiap bintang dan planet berotasi pada sumbu masing-masing sebagaimana halnya dengan galaksi-galaksi sedemikian rupa sehingga tidak ada tabrakan antara satu dengan yang lain. Semuanya ini adalah Sunnatullah, tanda-tanda atau hukum Allah atau dalam istilah ilmiah kita sebut sebagai hukum alam.

Air Sebagai Prasyarat Penciptaan Makhluk Hidup

Pada mulanya bumi tidaklah seperti yang kelihatan sekarang, penuh
dengan pelbagai macam fauna dan flora, tetapi merupakan planet mati hingga Tuhan menurunkan air sebagai prasyarat terciptanya makhluk hidup.

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit
sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia
menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki
untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu bagi Allah,
pada hal kamu mengetahui”. (QS 2:22).

“Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah
menjadikan bagimu di bumi ini jalan-jalan, dan menurunkan dari langit
air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis
tumbuhan-tumbuhan yang bermacam-macam”. (QS 20:53)

Para mufassirin tekstual percaya bahwa Allah menciptakan makhluk
hidup satu demi satu, spesies demi spesies. Tetapi sebaliknya para mufassirin kontekstual yakin bahwa makhluk hidup diciptakan secara evolusi tahap demi tahap. Semua ahli biologi kini sepakat bahwa air merupakan prasyarat untuk kehidupan di muka planet bumi. Ini juga mengandung arti bahwa prasyarat yang sama berlaku bagi planet-planet lain dalam tata surya kita atau dalam cara bintang lain atau galaksi-galaksi lain di seluruh alam semesta.

Upaya mencari makhluk luar bumi diarahkan pada sampai di mana
konsentrasi hidrogen terdapat pada benda-benda langit tertentu. Untuk menopang kehidupan di planet bumi harus ada jaminan bahwa air akan selalu ada dalam jumlah dan kualitas tertentu. Para pakar biologi mengakui bahwa di planet bumi terdapat siklus air yang menjamin berlangsungnya kehidupan. Air laut menguap pada waktu siang hari karena sinar matahari, untuk membentuk awan di dalam atmosfer. Kalau situasinya mengizinkan, maka awan itu akan dingin dan turunlah hujan ke bumi, membasahi tanah dan mengalir ke sungai hingga akhirnya kembali ke laut.

Siklus ini berlangsung terus menerus. Tuhan menjamin siklus air sebagaimana bisa dilihat dalam banyak ayat Al Quranul Karim. “Dan Kami turunkan dan langit air yang banyak manfaatnya lalu kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam. Dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun. Untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati. Seperti itulah terjadinya kebangkitan”. (QS 50:9-11).

“Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu meresap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.” (QS 23:18) “Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya”. (QS 15:22)

Bucaille (1976) mengisyaratkan bahwa harus ada paling sedikit dua penafsiran tentang peranan angin dalam ayat ini: Pertama, untuk memungkinkan tepung sari (pollen) bergerak, untuk membuahi bunga-bunga atau tanaman lain. Kedua, untuk memungkinkan awan bergerak untuk membuat hujan atau tidak.

Ayat-ayat berikut ini memberikan kepada kita lebih banyak informasi
yang rinci tentang adanya siklus air. “Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit sebagaimana dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celah. Maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya tiba-tiba mereka menjadi gembira. (QS 30:48).

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira
sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin telah
membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus,
lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan
sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami
membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu
mengambil pelajaran”. (QS 7:57).

Makhluk Yang Pertama Diciptakan Adalah Makhluk Air

Bertentangan dengan pendapat yang umumnya dianut oleh mufassirin
tekstual yang mengatakan bahwa makhluk hidup pertama diciptakan di bumi, maka mufassirin kontekstual berpendapat bahwa makhluk hidup pertama adalah justru dalam air. Ini sesuai dengan teori evolusi, yang juga dianut oleh para pendukung mazhab kontekstual.

Kita merujuk kembali pada ayat: “… Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS 21:30). “Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang melata di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS 24;45).

Pernyataan bahwa Tuhan telah menciptakan setiap hewan dari air dapat
ditafsirkan dalam dua cara: Pertama, air sebagai komponen prasyarat dalam menciptakan makhluk hidup. Kedua, air sebagai tempat pertama bagi kehidupan makhluk hidup pertama. Kedua hal ini diakui oleh para pakar biologi, terutama para pendukung teori evolusi. Hal ini juga sejalan dengan pendapat para pakar geologi yang mengatakan bahwa pada detik pertama kehidupan bumi, planet tersebut merupakan planet mati.

Pada waktu itu partikel-partikel saling bertabrakan satu sama lain
sehingga bumi bagaikan sebuah bola api. Diperkirakan suhu bumi waktu itu sekitar 1.000°C yang mustahil makhluk hidup bisa terbentuk. Sewaktu suhu terus meningkat, maka elemen-elemen ringan muncul ke permukaan
sedangkan berat tenggelam ke dalam inti bumi. Kemudian ditutupi oleh
lapisan mantel dan kerak bumi yang terbentuk di permukaan. Sampai saat ini diyakini bahwa bumi selalu berada dalam keadaan tidak stabil, karena adanya perbedaan suhu antara lapisan-lapisan bumi. Terdapatnya arus konveksi dinamis yang menyebabkan kerak bumi tidak stabil pergeseran lempeng dapat menimbulkan gempa tektonik dan tekanan yang tinggi pada lapisan mantel bisa timbul dalam bentuk gempa vulkanik (Pope, 1984).

Dengan menggunakan penanggalan radioaktif, terutama penanggalan
U-238, kini para pakar geologi secara aklamasi sepakat bahwa bumi
terbentuk sebagaimana sekitar 4,6 miliar tahun sebelum sekarang (SS)
(Robinson, 1982). Setelah bumi relatif stabil, sebagaimana saat ini,
muncullah air yang membuka kemungkinan untuk terbentuknya kehidupan.

Penemuan fosil-fosil, disusul oleh kemampuan kita menentukan usia fosil antara lain dengan penanggalan radioaktif, kita kini secara mutlak yakin
tentang bentuk-bentuk kehidupan yang pernah ada dalam tahap-tahap waktu.

Kita bisa meringkasnya sebagai berikut:
Makhluk hidup pertama muncul dalam air dalam bentuk makhluk bersel
tunggal: algae, sekitar 4 miliar tahun sebelum sekarang (SS) atau lebih
dikenal sebagai era Prakambria. Kemudian satu masa yang panjang lewat,
mungkin bermiliar tahun, di mana makhluk bersel tunggal tersebut
bertransformasi menjadi makhluk bersel banyak. Tetapi masa yang paling
penting dalam mendeteksi bentuk-bentuk kehidupan adalah era Paleozoicum, antara 570 sampai 225 juta tahun SS di mana waktu itu planet bumi hanya punya dua benua: Laurazia yang mencakup Amerika Utara dan Eurasia, dan Gondwana yang meliputi Amerika Selatan, Afrika, India, Australia, dan Antartika. Penyatuan benua tersebut terjadi oleh karena zaman es yang berlangsung cukup lama. Dari era tersebut para ahli berhasil menggali banyak sekali fosil-fosil makhluk air. Hampir semua jenis ikan ditemukan.

Pada akhir era ini, amfibi dan reptil mulai muncul. Era berikutnya disebut Era Mesozoicum, antara 145 sampai 65 juta tahun SS di mana cuaca mulai
memanas, es mulai mencair dan benua-benua mulai terpisah sebagaimana
halnya saat ini. Dinosaurus merupakan makhluk dominan baik di air maupun di daratan, kemudian burung bergigi, mamalia berplasenta, mamalia berkantong dan inseka modern mulai muncul. Era Cenozoicum, antara 65 juta s/d 10.000 tahun SS merupakan era pasca Era Mesozoikum. Era ini dapat dibagi atas dua periode: Periode tertier antara 65 juta s/d 3 juta tahun SS dan periode kuatener, antara 3 juta s/d 10.000 tahun SS.

Periode Tertier dibagi lagi atas 5 epoh (Janusch, 1973) sebagai berikut.

a. Epoh Paleosen, antara 65 s/d 3 juta tahun SS di mana hidup mamalia
kuno, tersier, lemur burung-burung modern dan binatang air yang tak
punya tulang belakang.
b. Epoh Eosen, antara 58 s/d 3 juta tahun SS di mana hidup berbagai ordo
mamalia modern, tarsier, lemur, kuda dan ikan paus.
c. Epoh Pligosen, antara 34 s/d 25 juta tahun SS di mana hidup berbagai
familia mamalia modern, serangga primitif, kucing dan ordo rodentia.
d. Epoh Pliosen antara 12 s/d 3 juta tahun SS di mana hidup genus
hominoidea, unta, jerapah, antolokaprid, sapi, anjing dan hyena. Epoh
Plestosen antara 3 s/d 10.000 tahun SS di mana hidup manusia, mamalia
bertubuh besar, dan makhluk laut yang tak punya tulang belakang.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, genus homo mulai muncul
sekitar 2 juta tahun SS dalam bentuk Pithecanthorpus atau Homo erectus.
Setelah jenis ini punah, muncullah manusia Neandethal, kemudian diikuti
oleh manusia Cro-Magnon. Kira-kira 25.000 tahun SS manusia Cro-Magnon
punah dan muncullah penggantianya: Homo sapiens.

Proses Penciptaan Manusia

Menurut pandangan yang diterima luas dikalangan Biolog, kehidupan
adalah suatu peristiwa yang kebetulan, bahkan sangat kebetulan dari banyak sekali probabilitas persenyawaan kimiawi. Ia merupakan hasil dari kombinasi satu dan miliaran rangkaian aksidental molekul-molekul. Ini berarti peluang munculnya makhluk hidup (apalagi makhluk cerdas) di jagad raya adalah sebuah peluang yang sangat kecil (Republika, 11/2/96).

Mereka juga menolak tesis evolusi Darwinian sebagai teori yang
Chauvinistis, karena transisi mikroba menjadi manusia adalah perjalanan
acak melalui rangkaian kemungkinan yang hampir tak terhingga banyaknya.

Dengan kata lain, munculnya kehidupan, lebih khusus lagi munculnya
makhluk seperti manusia, bukanlah sekadar peristiwa alamiah. la
membutuhkan campur tangan Ilahi. Qur’an sendiri menegaskan bahwa gagasan penciptaan manusia terjadi karena Kehendak Allah. Tetapi berbeda dengan pandangan yang berlaku umum, Qur’an memasukkan gagasan mengenai transformasi dan evolusi dalam proses penciptaan itu. Juga berbeda dalam pandangan Kristen yang berpandangan bahwa manusia dibuang dari sorga (eskatologis). Qur’an menegaskan bahwa manusia adalah makhluk bumi yang ditumbuhkan daripadanya dan akan dikembalikan pula padanya”. (20:5; 71:17-18).

Adapun mengenai asal kejadiannya. Al Qur’an menyebutkan ada tujuh
macam kejadian (Mudhary: 1984).

  • Pertama, di Surat (55:14). Dia menjadikan manusia dari shal-shal (tanah yang dibakar). Yang dimaksud kata shal-shal di ayat ini adalah zat pembakar (Oksigen).
  • Kedua, di ayat itu disebutkan juga kata fach-char yang maksudnya adalah zat arang (karbon).
  • Ketiga, di surat (15:28) disebutkan berasal dari shal-shal dan hamma-in. hamma-in di ayat tersebut adalah zat lemas (Nitrogen).
  • Keempat, di surat (32:7), disebutkan berasal dari thien yang artinya Hidrogen.
  • Kelima, di surat (32:711), disebutkan berasal dari lazib, yang artinya zat anorganik (mineral-mineral).
  • Keenam, di surat (3:59), disebutkan berasal dari turab, yang artinya zat organik (protein), asam nukleat, adenosin fosfat, lemak, karbohidrat.
  • Ketujuh, di surat (15:29), “maka setelah Aku sempurnakan, lalu Kutiupkan roh-Ku kepadanya” (Mudhary, 1984).

Ketujuh ayat Al Quran tersebut, telah menunjukkan proses kejadian “manusia” sehingga berbentuk manusia. Kata shal-shal, fach-char, hammain, thien, lazib, dan turab sering diterjemahkan secara umum yakni tanah.

Bandingkan proses kejadian ini dengan hasil kajian ilmiah asal mula
kehidupan. Mengenai mekanisme penciptaannya digambarkan dalam surat 76:1, “Bukanlah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang bisa disebut”. Ayat ini
mengandung makna ontogeni dan filogeni spesies manusia.

C. Teori Evolusi dalam Perspektif Sains

Perkembangan teknologi yang begitu cepat telah berimbas pada
kemajuan sains khususnya dalam perburuan bukti-bukti mengenai terjadinya proses evolusi. Teknologi telah menuntun sains untuk mampu melacak buktibukti yang akurat sehingga tidak diragukan lagi pertanggungjawabannya secara ilmiah.

Berkat kemajuan teknologi di bidang penanggalan radioaktif, kini para saintis seolah-olah jadi memiliki kemampuan untuk menjelajah waktu yang telah jauh berlalu. Demikian juga kemajuan di bidang Biologi molekuler. Berkat ilmu itu dan alat bantu indera yang tercipta untuk itu, para saintis telah berhasil menyibak hubungan kekerabatan yang dahulu hanya dirunut dari kesamaan anatomi dan morfologi.

Dengan semakin banyaknya bukti-bukti baru yang ditemukan, semakin
besar pencerahan yang kita dapatkan dalam menyibak misteri evolusi makhluk hidup. Kini, kita tidak bisa mangkir lagi ketika sains sampai pada
kesimpulan, bahwa bumi dan kehidupan di atasnya merupakan produk dari evolusi, termasuk manusia sebagai sang khalifah di muka bumi.

Rincian detail konsep evolusi dalam perspektif sains, akan Anda dapatkan pada modul-modul selanjutnya dari mata kuliah ini, tetapi sebagai bahan pembanding dengan dua bahasan terdahulu, akan saya cantumkan ringkasan kronologis lengkap dengan waktu geologis tentang evolusi bumi dan makhluk hidup di dalamnya.

Loading...
Gravatar Image
Hanya seorang pelajar biasa yang ingin berbagi ilmu biologi kepada masyarakat via Pintar Biologi