Categories: Klasifikasi

Prinsip-prinsip Pengelompokan (Klasifikasi) Makhluk Hidup

Loading...

Prinsip-prinsip Pengelompokan (klasifikasi) Makhluk Hidup – Begitu beragamnya makhluk hidup di alam ini sehingga menuntut adanya suatu sistem untuk mengenal dan mempelajarinya. Beberapa ahli biologi mencoba menciptakan suatu sistem untuk mempermudah mengenal dan mempelajari makhluk hidup yang beraneka ragam melalui suatu cara pengklasifikasian, misalnya berdasarkan persamaan dan perbedaan dalam ciri morfologi, fisiologi, anatomi, dan tingkah laku. Persamaan dan perbedaan ini dapat dijumpai pada tingkat spesies, genus, dan famili dan juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan habitatnya.

Klasifikasi merupakan suatu cara yang sistematis dalam mempelajari suatu objek, misalnya makhluk hidup, dengan memperhatikan persamaan dan perbedaan ciri dan sifat yang tampak. Dalam klasifikasi diperlukan suatu metode penamaan (nomen klatur) sehingga objek studi dapat disederhanakan.

Ilmu yang mempelajari klasifikasi disebut taksonomi. Pengetahuan taksonomi dapat dimanfaatkan untuk memahami arti keanekaragaman yang ada pada masa lalu dan masa sekarang. Secara umum klasifikasi dapat diartikan sebagai suatu proses menggolong-golongkan sesuatu berdasarkan aturan tertentu.

Tujuan dilakukannya klasifikasi untuk mendeskripsikan ciri-ciri makhluk hidup untuk membedakan tiap-tiap jenis agar mudah dikenal, mengetahui hubungan kekerabatan antarmakhluk hidup serta mempelajari evolusi makhluk hidup atas dasar kekerabatannya. Sebagai contoh, macan kumbang memiliki hubungan kekerabatan dengan kucing daripada dengan buaya karena macan kumbang dan kucing memiliki banyak persamaan ciri-ciri seperti sama-sama menyusui, bertulang belakang, berkaki empat, karnivora dan berambut. Sedangkan buaya bertelur, berkaki empat, kulit bersisik, dan melata.

Tahapan dalam Klasifikasi

Klasifikasi makhluk hidup dapat dilakukan melalui beberapa tahap, antara lain berikut ini.

a. Pencandraan sifat-sifat makhluk hidup

Pencandraan sifat-sifat makhluk hidup atau identifikasi ciri-ciri (sifat-sifat) organisme merupakan proses awal dalam klasifikasi. Identifikasi dimulai dari ciri-ciri yang tampak dan mudah diamati, seperti ciri-ciri morfologi, anatomi, dan fisiologi bagian-bagian tubuh. Misalnya, jumlah sayap, warna tubuh, jumlah ruas dada, dan cara makan.

b. Pengelompokan berdasarkan ciri yang diamati

Setelah masing-masing organisme diidentifikasi ciri atau sifatnya,
selanjutnya dilakukan pengelompokan berdasarkan persamaan ciri atau sifat organisme tersebut. Contoh: burung, bebek dan ayam dikelompokkan dalam satu kelompok karena memiliki ciri-ciri yang sama yaitu: tubuh ditutupi bulu, memiliki paruh, bernapas dengan paru-paru, dan jantung terdiri dari empat ruang.

c. Pemberian nama

Pemberian nama takson merupakan hal yang sangat penting dalam klasifikasi. Misalnya, ayam dan itik dikelompokkan dalam kelompok unggas atau burung/aves berdasarkan ciri yang ada.

Urutan Tingkatan Takson dalam Klasifikasi

Kegiatan pengelompokan makhluk hidup menghasilkan kelompokkelompok takson (jamak = taksa). Banyak dan sedikitnya persamaan atau perbedaan ciri antar anggota suatu kelompok makhluk hidup akan menentukan jenjang takson dan juga menunjukkan jenjang kekerabatannya.

Kelompok makhluk hidup yang anggotanya memiliki sedikit persamaan berada pada takson yang lebih tinggi dibandingkan kelompok makhluk hidup yang anggotanya memiliki banyak persamaan. Semakin sedikit persamaan ciri antara makhluk hidup, semakin jauh kekerabatannya.

Untuk memudahkan dalam pengelompokan organisme disusunlah suatu aturan pengelompokan, yang dimulai dari yang paling rendah, yaitu spesies sampai ke tingkatan yang paling tinggi, yaitu Kingdom.

a. Spesies (jenis)

Spesies merupakan unit dasar dari klasifikasi. Dua organisme atau lebih dimasukkan dalam satu spesies yang sama jika organisme-organisme tersebut dapat melakukan perkawinan alami dan menghasilkan keturunan yang fertil, artinya keturunan (anak-anak) yang dihasilkan dapat kawin sesamanya dan dapat menghasilkan anak.

Di dalam satu spesies sering terdapat berbagai macam makhluk hidup yang memiliki ciri khusus, yang disebut varietas atau ras. Varietas biasanya dipakai untuk menyebut variasi dalam satu spesies tumbuhan dan ras untuk hewan. Pada tumbuhan, di bawah spesies ada tingkatan takson yang setara dengan varietas, yaitu kultivar.

b. Genus (marga)

Genus adalah tingkatan takson yang memiliki beberapa spesies yang memiliki kesamaan ciri. Misalnya, bawang merah (Allium cepa) dan bawang putih (Allium sativum) merupakan dua spesies berbeda, namun masih dalam satu genus yaitu Allium

c. Famili (suku)

Famili adalah tingkatan takson yang anggotanya terdiri dari beberapa marga atau genus. Ketentuan untuk nama takson tingkat suku ialah terdiri atas satu kata, dibentuk dari salah satu nama takson tingkat marga yang dibawahi dan dipilih sebagai tipe tata namanya ditambah dengan akhiran aceae, tidak dicetak miring.

Contoh, Solanaceae dibentuk dari kata Solanum + aceae
Namun, ada nama beberapa takson tingkat tumbuhan yang menyimpang
dari ketentuan itu karena sudah sejak dulu digunakan.
Misalnya, Graminae, nama lain dari Poaceae. Compositae, nama lain
dari Asteraceae.

Untuk hewan, dibentuk dengan cara, seperti pada tumbuhan, yaitu dari nama takson tingkat marga yang dipilih sebagai tipenya ditambah dengan
akhiran idea. Misalnya, Canidae, dibentuk dari Canis + idea.

d. Ordo (bangsa)

Ordo adalah tingkatan takson yang menghimpun beberapa famili. Pada hewan, untuk nama-nama takson di atas kategori suku berlaku ketentuan: nama-nama itu terdiri atas satu kata berbentuk jamak, tidak terikat kepada tipe di bawahnya, biasanya bersifat deskriptif, tidak mempunyai akhiran tertentu. Contohnya, Ordo Carnivora

Beberapa kelompok khusus menggunakan akhiran iformes di belakang nama takson tingkat ordo. Misalnya, nama-nama tingkat ordo dari burungburung dibentuk dari nama takson tingkat genus ditambah akhiran iformes. Misalnya: Columbiformes, dibentuk dari Columba + iformes
Passeriformes, dibentuk dari Passer + iformes

Untuk tumbuhan dapat diambil dari salah satu suku yang tergolong dengan mengubah akhiran aceae menjadi ales.
Misalnya: Malvaceae (suku)
Malvales (bangsa)
Nama bangsa dapat juga diambil dari ciri khas dari seluruh bangsa.
Misalnya: Tubiflorae (golongan tumbuhan yang berbunga tabung).

e. Classis (kelas)

Beberapa ordo yang memiliki persamaan ciri dimasukkan dalam satu kelas.

Misalnya, berikut ini.

1) Ordo Carnivora, ordo Rodentia (binatang pengerat, misal tikus), ordo Primata (bangsa kera), ordo Chiroptera (bangsa kelelawar), dan ordo
Insektivora mempunyai ciri-ciri yang sama, yaitu melahirkan anak,
mempunyai kelenjar susu serta menyusui anaknya sehingga dimasukkan
dalam satu kelas, yaitu Mamalia.

2) Dicotyledoneae (tumbuhan yang mempunyai lembaga dua).

f. Phylum (filum) atau divisio

Filum atau divisio merupakan tingkatan takson yang menghimpun beberapa kelas yang memiliki persamaan ciri. Filum digunakan untuk
menunjuk takson hewan, sedangkan divisio digunakan untuk menunjuk
takson tumbuhan. Untuk tingkat divisio, ditentukan bahwa nama takson itu
harus menceminkan ciri khas seluruh warga divisio ditambah ahkiran phyta atau mycota.
Contohnya: Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Eumycota (jamur sebenarnya)

g. Kingdom (kerajaan) atau regnum (dunia)

Semua hewan dimasukkan dalam kingdom animalia, sedangkan semua tumbuhan dimasukkan dalam kingdom Plantae.

Contoh Klasifikasi

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Kelas : Dicotyledoneae (tumbuhan berkeping dua)
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae (getah-getahan)
Genus : Ricinus
Spesies : Ricinus communis (jarak)
Nama daerah : jarak, kaliki, kaleke
Asal usul : Afrika Timur

Sistem Tata Nama Makhluk Hidup

Sebenarnya nama-nama tumbuhan dan hewan telah diberikan sejak manusia mengenal makhluk tersebut. Mereka memberi nama dalam bahasa mereka sendiri, misalnya orang Cina memberi nama dengan bahasa Cina, orang Mesir dengan bahasa Mesir tanpa adanya suatu pedoman.

Maka timbullah nama daerah, yaitu nama sehari-hari yang diberikan oleh suatu daerah kepada hewan atau tumbuhan. Nama ini dirasa tidak praktis karena tiap-tiap daerah mempunyai nama-nama sendiri untuk setiap jenis tumbuhan dan hewan sehingga orang dari daerah lain tidak akan mengenal jenis tumbuhan dan hewan suatu daerah jika disebutkan hanya namanya.

Misalnya, babi hutan di Jawa Barat disebut bagong, sedangkan di Jawa Timur dan Jawa Tengah disebut celeng. Bagi orang dari Jawa Tengah bagong merupakan salah seorang tokoh pewayangan kelompok Semar. Jadi, jauh sekali pengertiannya dengan babi hutan.

Dengan adanya hal-hal, seperti di atas maka perlu kiranya para ahli taksonomi untuk menciptakan suatu sistem tata nama yang mantap, praktis, dan dapat digunakan secara universal, selain itu untuk memudahkan dalam komunikasi maka dibuatlah suatu aturan dan bahasa yang dimengerti agar tidak menimbulkan kebingungan.

Carolus Linnaeus pada tahun 1735 menciptakan suatu sistem tata nama. Bahasa yang digunakan adalah bahasa latin karena pada masa Carolus
Linnaeus bahasa tersebut merupakan bahasa ilmiah yang universal. Carolus Linnaeus memberikan nama dengan dua kata yang dikenal dengan istilah binomial nomenklatur.

Ketentuan penamaan tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Nama spesies terdiri atas dua kata yang dilatinkan. Misalnya, Cyprinus carpio (ikan mas), Piper nigrum (lada).
  2. b. Nama pertama menunjukkan genus, dan huruf pertama menggunakan huruf kapital, misalnya Piper dan Cyprinus.
  3. Nama kedua menunjukkan nama spesies atau penunjuk spesies, yang
    huruf awalnya ditulis dengan huruf kecil, misalnya carpio dan nigrum.
  4. Jika nama takson tingkat jenis untuk tumbuhan terdiri atas dua kata maka kata kedua dan berikutnya harus disatukan atau ditulis dengan tanda hubung.
    Contohnya: Hibiscus rosa sinensis harus ditulis Hibiscus rosasinensis
    atau Hibiscus rosa-sinensis.
  5. Nama takson tingkat jenis untuk tumbuhan tidak boleh merupakan suatu tautonim, yaitu nama yang terdiri atas dua kata yang persis sama atau kata yang hampir sama.
    Contohnya,: Hibiscus hibiscus (dua kata yang sama) atau
    Boldu boldus (dua kata yang hampir sama).
    Untuk hewan masih dibenarkan adanya tautonim.
    Misalnya, Gallus gallus (ayam).
  6. Pada tumbuhan dalam pemberian nama takson tingkat jenis yang disusul dengan nama istilah takson anak jenis yang dimaksud diikuti oleh petunjuk takson di bawah tingkat jenis tadi. Contoh berikut ini menunjukkan nama suatu varietas rosella.
    Hibiscus sabdariffa var.alba (rosela varietas putih).
  7. Untuk nama pencipta atau orang yang pertama mempublikasikan nama ilmiah suatu organisme, nama pencipta dapat dicantumkan.
    Misalnya: Cancer pagurus Linneaus, Nama genus adalah Cancer, nama penunjuk spesies adalah pagurus, Pengidentifikasian pertama kali dilakukan oleh Linneaus maka nama ilmiahnya dapat ditulis, seperti berikut.
    Cancer pegurus Lin atau Cancer pegurus L.

Sistem Klasifikasi

Sistem klasifikasi makhluk hidup pertama kali dipelopori oleh Carolus Linnaeus pada abad ke-18. Prinsip pengelompokan oleh Linneaus adalah pengelompokan makhluk hidup berdasarkan persamaan ciri dan pemberian nama dengan sistem nama ganda.

Loading...

Pengklasifikasian makhluk hidup pada umumnya dilakukan dengan menggunakan suatu sistem tertentu. Sistem klasifikasi yang dikenal sampai sekarang adalah sistem buatan, sistem alami, dan sistem filogenetik.

a. Sistem alami

Sistem alami merupakan cara pengelompokan organisme berdasarkan
ciri morfologi, anatomi dan fisiologi yang dimiliki. Jika dua organisme
memiliki banyak persamaan ciri maka ciri ini dikatakan sebagai penghubung kekerabatan sehingga kedua organisme tersebut dimasukkan dalam kelompok yang sama.

Klasifikasi sistem alami dikemukakan oleh Aristoteles, seorang ahli
filsafat Yunani yang membagi makhluk hidup menjadi 2 kingdom, yaitu
hewan dan tumbuhan. Aristoteles membagi hewan menjadi beberapa
kelompok berdasarkan habitat dan perilakunya. Sedangkan tumbuhan
dikelompokkan berdasarkan ukuran dan strukturnya. Sebagai contoh,
kingdom tumbuhan dibagi menjadi tiga divisi, yaitu herba, semak, dan
pohon.

Seorang murid Aristoteles bernama Theophastus dijuluki sebagai bapak
botani karena telah mengklasifikasikan tumbuhan dengan melalui
pengamatannya sendiri dengan ketelitian yang sangat tinggi. Karya ilmiahnya yang terkenal Historia Plantarum, buku ini memberikan sumbangan yang besar dalam bidang botani. Sistem klasifikasi oleh Theophrastus, yaitu sistem alami, membagi tumbuhan menjadi empat kelompok, yaitu pohon, semak atau perdu, setengah semak atau setengah perdu, dan herba atau terna.

Walaupun klasifikasi sistem ini kurang berhasil dikembangkan, namun
sistem alami ini memiliki kelebihan, yaitu identifikasinya mudah dan
pengelompokan organisme yang kurang dikenal masih mungkin dilakukan
dengan sistem klasifikasi ini.

b. Sistem buatan

Sistem buatan merupakan cara pengelompokan berdasarkan pada
sejumlah kecil sifat-sifat persamaan ciri morfologi tanpa memandang
kesamaan struktur yang mungkin memperlihatkan kekerabatan. Klasifikasi
ini antara lain mengelompokkan tumbuhan berdasarkan dasar warna bunga, massa bunga, bentuk daun, jumlah benang sari, dan putik.

Sistem klasifikasi buatan ini diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus yang
menyusun klasifikasi yang lebih mudah dipahami dari pada sistem
sebelumnya. Sistem klasifikasi tumbuhan yang dikemukakan oleh Linnaeus
juga disebut dengan sistem seksual karena Linnaeus memusatkan
perhatiannya pada alat reproduksi tumbuhan.

Karya Linnaeus yang sangat penting adalah penamaan jenis (spesies)
dengan menggunakan bahasa latin. Bahasa Latin digunakan karena pada
masa itu bahasa tersebut adalah bahasa ilmiah yang universal. Linnaeus
memberikan sistem tata nama berupa nama ilmiah pada setiap spesies
makhluk hidup yang terdiri atas dua bagian yaitu bagian pertama sebagai
nama genus dan bagian kedua sebagai petunjuk spesies. Sistem penamaan
dua bagian ini disebut sistem tata nama ganda atau binomial nomenclature.

Contoh penggunaan tata nama ganda ini adalah Bambusa spinosa
(bambu berduri). Nama genus bambu adalah Bambusa, sedangkan penunjuk spesiesnya adalah spinosa.

c. Sistem filogenetik

Sistem klasifikasi filogenetik muncul setelah teori evolusi dikemukakan
oleh para ahli biologi. Sistem ini disusun berdasarkan jauh dekatnya
kekerabatan antara takson (kelompok yang terbentuk dari pengklasifikasian) yang satu dengan lainnya sekaligus mencerminkan perkembangan makhluk hidup. Pada sistem ini juga dijelaskan mengenai kesamaan susunan molekul dengan senyawa biokimia pada makhluk hidup yang memiliki fungsi yang berbeda pada setiap makhluk hidup. Pada dasarnya klasifikasi filogenetik disusun berdasarkan persamaan fenotip, faal, dan tingkah laku yang diamati.

Sistem ini diperkenalkan oleh Charles Darwin lewat bukunya yang
berjudul The Origin of Spesies by Means of Natural Selection. Dalam buku
tersebut Darwin menyatakan ada hubungan antara klasifikasi dan evolusi.
Dasar pemikirannya bahwa organisme berubah sehingga berbeda sifat atau cirinya dengan sifat dan ciri nenek moyangnya.

Bertolak dari teori evolusi Darwin, muncullah sistem klasifikasi modern
berdasarkan filogeni, yaitu klasifikasi yang disusun dengan melihat
keturunan dan hubungan kekerabatan. Filogeni adalah sejarah evolusi suatu kelompok organisme. Klasifikasi yang berdasarkan filogeni disebut
klasifikasi filogenetik. Sistem ini didasarkan pada jauh dekatnya kekerabatan antarorganisme atau kelompok organisme. Organisme-organisme yang berkerabat dekat memiliki persamaan ciri yang lebih banyak dibandingkan dengan organisme yang berkerabat jauh. Ciri-ciri yang digunakan dalam pengklasifikasian adalah ciri morfologi, anatomi, fisiologi, dan perilaku.

Klasifikasi yang didasarkan pada hubungan filogenetik mengalami
berbagai perkembangan. Klasifikasi ini diakui dan dipakai secara
internasional. Ada beberapa sistem klasifikasi yang pernah diperkenalkan
oleh para ahli taksonomi, yaitu sebagai berikut.

Sistem Dua Kingdom

Sistem dua kingdom adalah sistem klasifikasi yang pertama dan
dikemukakan oleh Aristoteles yang pada saat itu belum dikenal organisme
mikroskopis. Dalam sistem ini organisme dibedakan atas dua dunia, yaitu berikut ini.

  1. Kingdom Plantae (dunia tumbuhan). Dasar pengelompokan tumbuhan adalah semua organisme yang mempunyai dinding sel kaku atau keras karena tersusun dari selulosa dan mempunyai kemampuan melakukan fotosintesis. Meskipun tidak berklorofil, bakteri dan jamur dimasukkan dalam kingdom plantae. Alga, lumut, paku-pakuan dan tumbuhan berbiji juga dimasukkan pada kingdom tumbuhan.
  2. Kingdom Animalia (dunia hewan), dikelompokkan berdasarkan suatu ciri, yaitu mempunyai kemampuan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, tidak berklorofil dan tidak berdinding sel. Misalnya, Protozoa, Porifera, Coelenterata, Arthropoda, Echinodermata sampai Chordata.

Sistem Tiga Kingdom

Sistem tiga kingdom muncul setelah adanya mikroskop, yang mengungkapkan adanya makhluk mikroorganisme bersel satu (uniseluler)
dan bersel banyak (multiseluler) yang memiliki ciri hewan dan tumbuhan.
Makhluk hidup tersebut dikelompokkan tersendiri, yaitu kingdom protista.
Dengan demikian, makhluk hidup, kemudian dikelompokkan menjadi tiga
kingdom, yaitu sebagai berikut.

  1. Kingdom Protista. Ciri-ciri adalah tubuh terdiri dari satu sel atau banyak sel yang belum terdiferensiasi. Contohnya, semua organisme yang bersel satu, misalnya alga dan diatom, serta organisme multiseluler sederhana seperti Paramecium dan alga.
  2. Kingdom Plantae. Terdiri dari organisme yang bersifat autotrof, eukariota multiseluler dan berreproduksi dengan spora. Contohnya, jamur, lumut, paku, dan tumbuhan biji.
  3. Kingdom Animalia. Terdiri dari organisme yang bersifat heterotrof dan multiseluler. Contohnya, Protozoa, Porifera, Coelenterata, Arthropoda, Echinodermata sampai Chordata.

Sistem Empat Kingdom

Sistem empat kingdom berkembang setelah dalam struktur sel ditemukan
inti sel yang tersebar dalam sitoplasma. Hal ini terjadi karena tidak ada
membran yang membungkus inti yang disebut prokariotik. Selain itu, ditemukan juga organisme eukariotik, yaitu organisme yang inti selnya telah mempunyai membran inti. Berdasarkan hal tersebut maka organisme
dikelompokkan menjadi empat kingdom, yaitu sebagai berikut.

  1. Kingdom Monera, memiliki ciri-ciri inti tanpa membran (prokariot).
  2. Kingdom Protista, terdiri dari organisme bersel satu dan organisme multiseluler yang belum terdiferensiasi.
  3. Kingdom Plantae, terdiri dari jamur, lumut, paku dan tumbuhan biji.
  4. Kingdom Animalia, semua hewan mulai dari Protozoa sampai Chordata.

Sistem Lima Kingdom

Sistem lima kingdom dikembangkan oleh R.H. Whittaker tahun 1969
dan banyak didukung oleh ilmuwan biologi. Pada sistem ini, jamur
dipisahkan dari kingdom plantae berdasarkan ciri struktur sel dan cara
memperoleh makanan, kemudian dikenal klasifikasi sistem lima kingdom
yang terdiri atas berikut ini.

  1. Kingdom Monera, memiliki ciri-ciri sel yang prokariotik, artinya sel tersebut tidak memiliki membran sel, dan selain itu juga tidak memiliki mitokondria, retikulum endoplasma, badan golgi dan lisosom. Cara berkembang biak dengan membelah diri secara langsung (amitosis). Makhluk hidup yang termasuk Kingdom Monera adalah ganggang hijaubiru, Archaebacteria dan Eubacteria.
  2. Kingdom Protista, memiliki ciri-ciri tubuh tersusun dari satu sel atau banyak sel, namun sel-sel tersebut sederhana dan tidak membentuk jaringan. Sel bersifat eukariotik, misalnya termasuk protozoa dan ganggang.
  3. Kingdom Fungi/jamur, memiliki ciri-ciri organisme eukariota, sebagian besar multiseluler, bersifat heterotrof dengan cara menyerap zat-zat makanan dari lingkungan. Makhluk hidup yang termasuk Kingdom ini adalah semua jamur, kecuali jamur lendir dan jamur air.
  4. Kingdom Plantae, memiliki ciri-ciri organisme eukariota, multiselluler, bersifat autrotof dan dapat melakukan fotosintesis. Organisme yang termasuk Kingdom ini adalah Bryophita, Pterydophyta, dan Spermatophyta.
  5. Kingdom Animalia. Memiliki ciri-ciri eukariota bersel banyak yang bersifat heterotrof. Makhluk hidup yang termasuk kingdom ini adalah semua hewan mulai dari Protozoa sampai Chordata.

Sistem Enam Kingdom

Sistem enam kingdom pertama kali dikemukakan oleh Carl Woese,
seorang ahli biologi molekuler dari University of Illionis, yang menemukan
bahwa Archaebacteria berbeda dengan Eubacteria (bakteri).

Archaebacteria berbeda dengan Eubacteria dalam hal proses transkripsi dan translasi genetiknya. Pada Archaebacteria transkripsi dan translasinya lebih mirip dengan apa yang terjadi pada eukariotik. Selanjutnya para ahli biologi bersepakat memisahkan Eubacteria dan Archaebacteria.

Secara lengkap klasifikasi sistem enam kingdom adalah berikut ini.

  1. Eubacteria (bakteri), ciri-cirinya adalah prokariot bersel satu.
  2. Archaebacteria (prokariot), ciri-cirinya mirip eukariot.
  3. Protista, (eukariot bersel satu), ciri-cirinya tidak memiliki jaringan atau sel yang terdiferensiasi.
  4. Fungi, ciri-cirinya bersifat eukariot osmotrofik bersel satu atau banyak.
  5. Plantae (tumbuhan), bersifat autrotof, eukariot multiseluler, dan bereproduksi dengan spora.
  6. Animalia (hewan), bersifat heterotrof dan eukariot multiselular.

Dari kelima sistem klasifikasi di atas, klasifikasi mana yang terbaik tergantung pada kesepakatan bersama. Tidak ada keputusan dari para ahli
biologi dan taksonomi yang menentukan klasifikasi mana yang lebih baik
karena masing-masing sistem memiliki dasar sendiri-sendiri. Namun, pada
saat ini kecenderungan para ahli biologi menggunakan sistem klasifikasi lima atau enam kingdom.

admin

Hanya seorang pelajar biasa yang ingin berbagi ilmu biologi kepada masyarakat via Pintar Biologi

Recent Posts

Macam-Macam Jaringan Ikat Pada Hewan, Struktur dan Fungsinya

Pendahuluan Saat kalian menyambung tali yang putus menjadi dua bagian, kemudian kalian mengikatnya, maka tali…

3 hours ago

Macam-Macam Jaringan Epitel Pada Hewan dan Fungsinya

Macam-Macam Jaringan Epitel Pada Hewan dan Fungsinya - Di dalam tubuh hewan, tidak terkecuali hewan…

7 hours ago

Mekanisme Kerja Hormon Secara Umum

MEKANISME KERJA HORMON I. PENDAHULUAN Organisme multiseluler memerlukan mekanisme untuk komunikasi antar sel agar dapat…

11 hours ago

Inilah Bahayanya Akibat Menghirup Asap Hasil Pembakaran

Asap yang dikeluarkan oleh jenis api (hutan, sikat, tanaman, struktur, ban, limbah atau pembakaran kayu)…

15 hours ago

Praktikum: Cara Membuat Tempe yang Praktis dan Mudah

Praktikum: Cara Membuat Tempe yang Praktis dan Mudah - Tempe merupakan makanan tradisional Indonesia, terutama…

19 hours ago

Praktikum: Cara Membuat Ragi Tempe

Cara Membuat Ragi Tempe - Jika dalam pembahasan yang lalu, kita sudah belajar tentang Cara…

23 hours ago

This website uses cookies.