Keanekaragaman Hayati, Pemanfaatan serta Pelestarian Sumber Daya Alam Hayati

Posted on
Loading...

Pernahkah Anda memperhatikan tumbuhan, hewan bahkan manusia yang
ada di lingkungan Anda? Tentunya Anda akan menemukan adanya
persamaan dan perbedaan di antara makhluk hidup yang Anda amati.

Setiap makhluk hidup yang Anda amati tentunya ada persamaan ciri, seperti bergerak, bernapas, tumbuh, berkembang biak, merespons terhadap rangsang dan lain-lain, namun selain mempunyai persamaan-persamaan makhluk hidup juga mempunyai perbedaan. Perbedaan tersebut sangat beragam, seperti perbedaan bentuk tubuh, cara memperoleh makanan, cara berkembang biak, tempat hidup, penampilan, dan sifat-sifat lainnya. Perbedaan-perbedaan pada makhluk hidup tersebut menunjukkan adanya keanekaragaman.

Keanekaragaman hayati menunjukkan adanya variasi makhluk hidup yang meliputi bentuk, penampilan, jumlah serta ciri-ciri lain, yang terlihat pada tingkat yang berbeda-beda. Dimulai dari tingkat genetik, tingkat jenis, sampai dengan tingkat ekosistem. Karena ketiga macam keanekaragaman itu saling kait-mengait dan tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya dan
merupakan satu kesatuan (totalitas) keanekaragaman hayati. Nah sekarang marilah kita membahas satu demi satu dari mulai tingkat genetik (gen), tingkat jenis dan tingkat ekosistem.

A. Keanekaragaman Genetik

Kita barangkali pernah melihat atau sengaja mengamati keanekaragaman
bentuk, penampilan dan sifat-sifat lain pada suatu makhluk hidup.

Misalnya, pada durian untuk tumbuhan dan ayam untuk hewan, yang ternyata dalam jenis yang sama kita temukan banyak keragaman, baik dalam bentuk, penampilan, ukuran maupun sifat-sifatnya. Kita mengenal adanya durian petruk, durian montong, durian lampung, durian limau, durian timas dan sebagainya. Demikian juga pada hewan, seperti ayam, ada ayam cemani, ayam pelung, ayam bangkok, dan ayam serama, dan ayam negeri. Ini merupakan bukti terdapatnya keanekaragaman di dalam lingkungan jenis. Keanekaragaman ini dinamakan keanekaragaman genetik atau keanekaragaman plasma nutfah.

Keanekaragaman genetik

Pada keanekaragaman genetik, setiap jenis pada umumnya terdiri atas
beberapa populasi yang tersusun dari sekumpulan individu yang banyak
sekali jumlahnya. Seperti yang telah kita pelajari bersama bahwa seluruh
warga suatu jenis itu memiliki kerangka dasar komponen genetik yang sama. Akan tetapi, setiap dasar tadi tersusun oleh ribuan faktor penyusun kebakaan.

Faktor inilah yang menentukan apakah seekor ayam itu berbulu putih, berjengger tunggal, berparuh tajam, dan berbadan besar atau sifat lainnya.
Untuk setiap yang tampak tadi atau yang tidak jelas terlihat, ada faktor
pengaturnya yang disebut dengan gen. Sekalipun individu-individu satu jenis itu memiliki kerangka dasar komponen genetik yang sama, setiap individu ternyata memiliki komponen faktor yang berbeda, tergantung pada tetuanya.

Susunan perangkat faktor genetik ini menentukan sifat yang disandang
individu yang bersangkutan. Keanekaragaman genetik suatu jenis ditentukan oleh keanekaragaman susunan faktor genetik yang terkandung dalam jenis yang bersangkutan.

Jadi, masing-masing individu dalam suatu jenis mempunyai susunan
faktor genetik yang tidak sama dengan susunan genetik individu yang lain,
meskipun dalam jenis yang sama. Tetapi, walaupun masing-masing individu itu memiliki susunan genetik yang berbeda, di dalam tingkat jenisnya akan terdapat pengelompokan yang memungkinkan adanya kisaran kesamaan dalam taraf-taraf tertentu, membentuk lungkang (pool) individu yang mempunyai kesamaan dalam kisaran lingkungan itu.

Keanekaragaman gen dapat terjadi secara alami akibat perkawinan
seksual maupun secara buatan dengan proses budi daya manusia. Hewan dan tumbuhan tertentu dibudidayakan untuk diambil manfaatnya, misalnya persilangan antara tanaman anggrek atau persilangan antara bunga kamboja jepang (Adenium) akan menghasilkan warna dan bentuk bunga yang beraneka ragam.

Hasil Persilangan Tanaman Bunga dapat Menghasilkan Warna dan Bentuk Bunga yang Beraneka Ragam
Gambar 1.3. Hasil Persilangan Tanaman Bunga dapat Menghasilkan Warna dan Bentuk Bunga yang Beraneka Ragam

Untuk membuktikan adanya keanekaragaman genetik, Anda dapat melakukan suatu pengamatan di lingkungan tempat tinggal Anda. Carilah tanaman atau hewan yang pada satu jenis terdapat keanekaragaman, baik dalam penampilan, bentuk maupun sifat-sifat lainnya. Gunakan kamera untuk kegiatan ini. Kumpulkan dan tempelkan hasil foto Anda pada suatu kertas/buku untuk setiap keanekaragaman genetik yang Anda amati.

B. Keanekaragaman Jenis

Jenis merupakan suatu organisme yang dapat dikenal dari bentuk atau penampilannya dan terdiri atas pengelompokan populasi atau gabungan individu yang mampu saling berkawin sesamanya secara bebas (tetapi tidak dapat melakukannya dengan jenis yang lain) untuk menghasilkan keturunannya yang fertil dan menyerupai tetuanya. Untuk kelompok individu yang tidak berbiak secara kawin, misalnya jenis mikrobiota batasan jenis ditentukan oleh kemampuannya dalam menduduki relung yang sama.

Jenis itu dibentuk oleh kesesuaian kandungan yang mengatur sifat-sifat kebakaan dengan lingkungan tempat hidupnya. Oleh karena lingkungan tempat hidupnya itu beraneka ragam, jenis yang dihasilkan pun pasti akan beraneka ragam pula. Proses terjadinya jenis pada umumnya berlangsung secara perlahan-lahan dan dapat memakan waktu ribuan tahun, melalui perubahan penyesuaian atau evolusi dari jenis lain yang ada sebelumnya.

Selanjutnya, jenis yang terjadi ini juga mempunyai peluang untuk menjelmakan jenis-jenis lain. Selama ber miliar-miliar tahun melalui proses evolusi, telah terbentuk jutaan jenis yang berbeda-beda. Dengan demikian, proses berlangsungnya pembentukan jenis dengan cara di atas mengakibatkan adanya keterkaitan antara jenis yang satu dengan jenis yang lainnya. Keterkaitan inilah yang disebut kekerabatan.

Faktor kebakaan (susunan genetik) suatu jenis diturunkan dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu, anggota jenis yang sama akan memiliki kerangka dasar komponen genetik yang sama. Sebaliknya, kerangka dasar komponen genetik (kromosom) jenis yang berbeda akan berbeda pula. Perbedaan ini dalam rangka penyesuaian suatu jenis terhadap lingkungan tempat hidupnya.

Jika lingkungan berubah pasti akan terjadi proses penyesuaian baru oleh jenis yang bersangkutan. Dalam skala waktu yang panjang, besar kemungkinan jenis yang mengalami penyesuaian ini akan berevolusi dan membentuk jenis-jenis baru. Dengan demikian, akan menambah keanekaragaman jenis atau punah karena tidak dapat menyesuaikan diri.

Karena secara alami lingkungan terus-menerus mengalami perubahan maka proses penyesuaian diri (yang berarti proses pembentukan/pemusnahan jenis) pun akan terus-menerus terjadi. Keanekaragaman jenis biasanya dijumpai pada suatu tempat tertentu yang dihuni kumpulan makhluk hidup dari berbagai jenis (komunitas).

Sebagai contoh, di lapangan dijumpai rumput, kupu-kupu, katak, bunga pukul empat, belalang dan sebagainya. Untuk membuktikan adanya keanekaragaman jenis, lakukanlah suatu pengamatan pada suatu ekosistem tertentu. Amati secara seksama jenis apa saja yang Anda dapatkan, kemudian tuliskan hasil pengamatan pada Tabel 1.1 berikut ini.

Bagaimana hasilnya? Dari hasil pengamatan di atas kita dapat membuat suatu kesimpulan bahwa suatu tipe ekosistem tertentu akan terdiri dari beberapa jenis organisme.

C. Keanekaragaman Ekosistem

Merupakan suatu satuan lingkungan yang terdiri dari unsur-unsur biotik (jenis-jenis makhluk hidup), faktor-faktor fisik (iklim, air, tanah udara) dan kimiawi (keasaman, salinitas) yang saling berinteraksi satu sama lainnya. Gatra yang dapat kita gunakan sebagai ciri keseluruhan ekosistem adalah energitikal (taraf trofi atau makanan, produsen, konsumen, dan redusen), pendauran hara (peran pelaksana trofi) dan produktivitas (hasil keseluruhan sistem).

Jika kita lihat dari komponen biotanya, jenis yang dapat hidup dalam satu ekosistem ditentukan oleh hubungannya dengan jenis yang tinggal dalam ekosistem tersebut. Selain itu keberadaannya ditentukan pula oleh lingkungan fisik dan kimia di sekitarnya. Dengan demikian, interaksi antarorganisme ditentukan oleh keseluruhan jenis, faktor-faktor fisik, dan kimia yang menyusun ekosistem itu.

Karena ekosistem terdiri atas perpaduan berbagai jenis, dengan berbagai macam kombinasi lingkungan fisik dan kimia yang berbeda, ekosistem yang dihasilkan pun akan berbeda pula. Perbedaan ini juga terlihat pada gatra pencirian ekosistem, yaitu perbedaan energitika, pendauran hara, dan produktivitasnya.

Dari kenyataan di atas, memberikan kejelasan kepada kita adanya keanekaragaman ekosistem karena tidak mungkin suatu ekosistem yang ada itu tersusun dari jenis-jenis yang sama dengan unsur-unsur lingkungan fisik dan kimia yang sama pula. Dengan demikian, suatu tipe ekosistem tentu akan terdiri dari kombinasi jenis dan unsur lingkungan yang khas, yang berbeda dengan susunan kombinasi ekosistem yang lain. Paling sedikit terdapat 47 ekosistem di Indonesia. Di daratan mulai dari pantai sampai ke dataran tinggi (pegunungan) kita menjumpai berbagai ekosistem.

Contoh ekosistem, antara lain Ekosistem gurun, ekosistem hutan hujan tropis, ekosistem pesisir, ekosistem sungai, ekosistem laut, dan ekosistem danau. Masing-masing ekosistem tersebut memiliki jenis tumbuhan dan hewan yang berbeda. Pada ekosistem gurun kita akan menemukan beberapa jenis hewan melata, serangga, dan beberapa tumbuhan seperti tumbuhan gurun, kaktus, rumput liar. Pada ekosistem danau kita akan menemukan beberapa jenis hewan seperti, berbagai jenis ikan, dan hewan invertebrata, dan beberapa tanaman air, seperti eceng gondok, ganggang, dan kiambang.

Nah untuk membuktikan apakah benar suatu tipe ekosistem terdiri dari kombinasi organisme dengan unsur lingkungan yang khas dan berbeda dengan susunan kombinasi ekosistem yang lain? Marilah kita melakukan survei lapangan.

Langkah pertama, kita tentukan terlebih dahulu dua ekosistem terdekat dari tempat tinggal kita. Kita dapat memilih misalnya ekosistem sawah dan ekosistem danau atau kolam. Langkah kedua adalah mengamati dan mencatat organisme-organisme yang ada pada kedua ekosistem tersebut, demikian juga unsur-unsur lingkungannya. Kemudian, kita buat kolom, seperti kolom di bawah ini. Bandingkan hasilnya! Adakah perbedaan kombinasi di antara keduanya?

Bagaimana hasilnya? berbeda bukan? Dari hasil pengamatan di atas kita
dapat membuat suatu kesimpulan bahwa suatu tipe ekosistem tertentu akan terdiri dari kombinasi organisme dan unsur lingkungan yang khas dan berbeda dengan susunan kombinasi ekosistem yang lain.

D. Keanekaragaman Hayati Sebagai Sumber Daya

Kekayaan Flora

Keanekaragaman hayati atau disebut juga keanekaragaman biologi merupakan istilah yang berkenaan dengan berbagai kehidupan yang ada di bumi. Istilah ini sering dikaitkan dengan jenis (spesies). Keanekaragaman kehidupan di bumi sampai saat ini telah dipertelakan sekitar 1,4 juta jenis tumbuhan dan hewan.

Tidak disangsikan lagi bahwa daerah tropik merupakan tempat keanekaragaman di planet bumi ini, keanekaragaman ekosistem dan jenis yang dimiliki tak dapat dibandingkan dengan daerah lainnya. Indonesia, Filipina, Malaysia dan Papua Nugini merupakan kawasan geografi tumbuhan Malesiana.

Kawasan ini memiliki flora yang sangat kaya, diperkirakan terdapat sekitar 25.000 jenis tumbuhan berbunga ( sekitar 10% flora dunia) dan sebagian besar diantaranya terdapat di Indonesia. Sekitar 40% marga di Malesiana adalah endemik dan memiliki persentase yang lebih besar lagi untuk tingkat jenis suku Orchidaceae (keluarga anggrek-anggrekan) memiliki sekitar 3000 – 4000 jenis.

Pada tumbuhan berkayu suku Dipterocarpaceae merupakan salah satu suku yang besar memiliki sekitar 386 jenis. Kekayaan flora di Malesiana khususnya di Indonesia antara lain disebabkan oleh struktur vegetasinya yang kompleks. Pohon-pohon yang tinggi dengan berbagai lapisan stratanya menciptakan kondisi lingkungan yang memungkinkan tumbuhnya berbagai jenis tumbuhan lain seperti lumut, liana, dan perdu dapat hidup di bawahnya.

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan flora, dibandingkan dengan apa yang terdapat di dunia sehingga dikenal dengan negara megadiversitas. Indonesia memiliki 11% jenis tumbuhan berbunga dan 10% jasad renik. Jumlah bakteri dan Cyanophyceae (ganggang biru) mencapai 300 jenis, jamur 12.000 jenis dan algae 1800 jenis. Jumlah tanaman yang dibudidayakan mencakup 400 jenis tanaman penghasil buah-buahan, 360 jenis tanaman sayuran, 70 jenis tanaman umbi, 60 jenis tanaman penyegar dan 50 jenis tanaman rempah. Sementara tanaman obat-obatan tradisional mencapai sekitar 940 jenis di mana 74% diantaranya masih hidup liar.

Kekayaan Fauna

Indonesia mempunyai beraneka ragam jenis fauna. Kepulauan Indonesia yang termasuk kawasan Malesiana secara geografis memiliki dua zona.

Pertama zona orientalis di bagian barat mencakup Kepulauan Sunda Besar yang terdiri dari Pulau Sumatra, Kalimantan, Jawa, Madura, dan Bali. Zona ini bersama-sama daratan Asia tropis memiliki fauna, seperti harimau, macan kumbang, orang utan, banteng, gajah, babi hutan, dan musang. Jenis-jenis ini merupakan fauna khas zona oriental. Kedua, zona Australia yang meliputi Pulau Irian dan Kepulauan Aru yang terletak di paparan benua Australia.

Dengan demikian, di kedua pulau tersebut dapat dijumpai hewan menyusui berkantung, burung kasuari, dara mahkota, kakatua, dan cendrawasih. Di antara kedua zona tersebut (orientalis dan australis) terdapat zona peralihan yang disebut Kepulauan Wallacea yang meliputi Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Nusa Tenggara. Di Sumatra dan Maluku sebelah barat dijumpai anoa, babirusa, maleo, dan monyet hutan Sulawesi.

Loading...

Sedangkan di Nusa Tenggara sebelah Timur dijumpai jenis hewan yang satu-satunya terdapat di dunia, yaitu biawak komodo di pulau Komodo, dan berbagai jenis burung parkit. Secara keseluruhan daratan di Kepulauan Indonesia memiliki paling sedikit 40 ribu jenis fauna dan di dalamnya terdapat lebih dari 800 jenis hewan menyusui.

E. Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati bermanfaat karena berperan sebagai sumber
pangan, sumber sandang dan papan, sumber obat, serta mengandung nilai
budaya.

Sebagai Sumber Pangan

Masyarakat Indonesia sebagian besar kebutuhan akan karbohidrat terutama tergantung pada beras. Sumber karbohidrat lain, seperti jagung, singkong, ubi jalar, sagu dan talas sebagai makanan pokok di beberapa daerah sudah mulai ditinggalkan. Ketergantungan akan beras ini menimbulkan krisis pangan yang seharusnya tidak terjadi. Selain tumbuhan, berbagai satwa liar juga menjadi sumber pangan, diantaranya adalah rusa, kijang, babi hutan, dan berbagai jenis burung dan ayam hutan serta madu yang dihasilkan oleh lebah madu.

Indonesia memiliki perairan seluas 5,8 juta km2 , yang merupakan sumber protein. Diperkirakan potensi sumber daya perikanan laut saja sebesar 6,6 juta ton per tahun. Terumbu karang merupakan ekosistem subur dengan biomassa ikan berkisar 490-1450 kg/ha. Di bagian pantai perairan Indonesia telah dieksploitasi berbagai jenis kerang-kerangan dan kepiting.

Juga dijumpai ikan teri (Stolephorus), ikan kemuru (Sardinella), dan ikan petek (Letognathus sp). Budidaya bandeng dan udang juga sangat penting sebagai sumber pangan.

Rumput laut, salah satu sumber daya hayati laut Indonesia yang banyak tersebar di wilayah Indonesia Timur. Rumput laut merupakan sumber agar-agar, dan alginat. Dilaporkan bahwa dari 555 jenis rumput laut yang terdapat di Indonesia, baru 56 jenis telah dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan mulai bahan makanan ternak sampai bahan baku industri. Rumput laut yang bernilai komersial termasuk ke dalam suku Rhodophyceae, seperti Racilaria, Gelidium, Hypnmea, Euchema, dan Glidiopsis.

Sebagai Sumber Sandang dan Papan

Bahan sandang yang potensial adalah kapas, rami, serta ulat sutra. Tanaman dan hewan tersebut tersebar di seluruh Indonesia, terutama di Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Beberapa suku di Kalimantan, Papua dan Sumatera menggunakan kulit kayu serta bulu-bulu burung sebagai asesori pakaian.

Lebih dari 100 jenis tumbuhan penghasil kayu dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, mebel dan alat musik, seperti berbagai marga dari Dipterocarpaceae, yaitu Anisoptera, Dryobalanops, Shorea, Parashorea, Dipterocarpus, dan Hopea banyak dijumpai di Kalimantan, Sumatra, dan Irian Jaya.

Penduduk pulau Timor dan pulau Alor menggunakan lontar (Borassus sundaicus) dan gebang (Corypha utan) sebagai atap dan dinding rumah. Beberapa spesies palem, seperti Nypa fruticans, Oncosperma horridum, Oncosperma tigillarium dimanfaatkan oleh penduduk Sumatra, Kalimantan, dan Jawa untuk bahan bangunan rumah.

Lebih dari 100 jenis bambu terdapat di Indonesia, sebagian dimanfaatkan untuk bahan bangunan, seperti Bambusa arudinaceae dan B. stricta, Dendrocalamus asper, Gigantochloa arter, dan Bambusa vulgaris.

Sebagai Sumber Obat dan Kosmetik

Besarnya jumlah jenis tumbuhan yang berkhasiat obat dan kosmetik di Indonesia merupakan kekayaan yang tak ternilai. Berbagai senyawa kimia yang dapat diekstrak dari tumbuhan hutan telah diproduksi secara komersial untuk bahan baku industri biokimia. Minyak atsiri yang dihasilkan dari tumbuhan hutan hujan, seperti jenis Aquilaria, Cananga odorata (kenanga). Cinnamomum. Dryobalanops aromatica, Eucalyptus spp. Gama motleyana, Lutsea spp.

Beberapa jenis alkaloid yang diekstrak dari Rutaceae diketahui berkhasiat anti tumor. Beberapa jenis pohon hutan yang menghasilkan minyak diantaranya jenis-jenis suku Arecaceae, Lauraceae, Rosaseae, Burseraceae dan Sapotaceae.

Di Papua tumbuh tanaman sarang semut (Myrmecodia sp) mengandung antioksidan, flavonoida, glikosida dan polifenol yang diduga sebagai anti kanker. Antioksidan itulah yang berperan melawan radikal bebas pemicu tumbuhnya sel kanker. Selain itu, di Papua juga ditemukan buah merah (Pandanus conoideus) dengan kandungan karoten, tokoferol, dan betakaroten yang sangat tinggi dan sangat baik sebagai antioksidan dan antikanker.

Tanaman Buah Merah (Pandanus conoideus) dan Sarang Semut (Myrmecodia pendans) yang Banyak Tumbuh di Hutan-hutan Papua. Di pulau Lombok masyarakatnya telah mengenal 19 spesies tumbuhan sebagai obat kontrasepsi, antara lain pule, jahe, jarak, alang-alang, pepaya,
laos, turi, lada, kopi, pisang, lontar, cemara bengkel, dan duwet. Bahan ini
dapat diramu menjadi bermacam-macam obat-obatan. Masyarakat Jawa mengenal sedikitnya 77 spesies tanaman obat yang dapat diramu untuk
pengobatan.

Potensi keanekaragaman hayati sebagai kosmetik tradisional telah lama dikenal, seperti bunga kenanga, melati, mawar, dan kemuning digunakan sebagai wewangian. Kemuning yang mengandung zat penyamak digunakan oleh masyarakat Jawa sebagai salah satu bahan kosmetik untuk pembuat lulur yang berkhasiat sebagai penghalus kulit.

Besarnya jumlah jenis tanaman yang berkhasiat obat dan kosmetik di Indonesia merupakan kekayaan yang tak ternilai. Oleh sebab itu, upaya pelestarian jenis tanaman tersebut perlu mendapatkan perhatian serius.

Sesungguhnya pengetahuan masyarakat di pedesaan tentang pengalaman yang didapat secara turun-temurun terhadap kegunaan suatu jenis tanaman dalam pengobatan belum banyak dicatat. Sementara itu jumlah orang-orang pintar yang memahami tumbuhan sebagai obat semakin berkurang. Oleh sebab itu, upaya pencatatan pengetahuan masyarakat di pedesaan terus dilanjutkan dengan penelitian-penelitian ilmiah tentang fitokimia dari tumbuhan obat terhadap penggalian potensi tumbuhan sebagai tanaman obat perlu ditingkatkan dan dimiliki Indonesia.

Begitu banyak tanaman yang dapat digunakan sebagai obat-obatan dan kosmetik, tentunya Anda dapat menyebutkan tanaman di daerah Anda yang biasa digunakan sebagai obat-obatan dan kecantikan.

F. Hilangnya Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati di Indonesia mengalami pengurangan terusmenerus hingga berada pada tingkat yang mencemaskan, yaitu kepunahan.

Dalam catatan sejarah ditunjukkan bahwa ada organisme yang pernah hidup, tetapi sudah punah karena eksploitasi besar-besaran. Keberadaan organisme itu mestinya mempunyai peranan sebagai sumber daya hayati di zamannya.

Demikian juga di masa sekarang, manusia dengan tamaknya mengonsumsi sumber-sumber daya hayati dan bukan tidak mungkin pada suatu saat nanti ada organisme atau populasi yang hilang dari permukaan bumi. Berkurangnya keanekaragaman hayati menunjukkan ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia dan kapasitas alam.

Beberapa penyebab hilangnya atau berkurangnya keanekaragaman hayati dapat dijelaskan sebagai berikut.

Bencana Alam

Gunung berapi meletus, material letusan gunung berapi dapat menimbun sejumlah makhluk hidup tertentu.

Kebakaran hutan juga dapat menyebabkan peristiwa menghilangkan sejumlah makhluk hidup. Bencana alam tidak dapat dielakkan oleh manusia sehingga yang dapat diharapkan adalah terjadinya suksesi.

Bencana oleh Manusia

a. Eksploitasi berlebihan pada spesies hewan dan tumbuhan

Penangkapan hewan (perburuan) secara liar dan tak terbatas serta penangkapan karena kebutuhan pangan dan ketamakan manusia. Walaupun sekali berburu tidak semua spesies habis, tetapi jika penangkapan lebih besar dari kelahiran maka lambat laun hewan tersebut akan punah. Contoh harimau Jawa, badak Jawa, dan berbagai jenis burung dan mamalia lainnya terancam kepunahan di beberapa pulau di Indonesia.

Penangkapan ikan dengan menggunakan tuba/racun dan bahan peledak yang dilakukan oleh masyarakat lokal, dan terutama diaplikasikan pada perairan dangkal dan sempit tidak saja meracuni biota air, baik biota sasaran (ikan), namun juga hewan hewan non sasaran.

Pada tumbuhan contohnya adalah anggrek Phalaenopsis javanica dan rotan Ceratobilus glaucercens adalah tumbuhan di dunia yang hanya memiliki beberapa individu di pantai selatan Jawa Barat. Jenis pakis haji Cycas rhumphii sudah jarang ditemukan. Hampir 36 jenis kayu telah terancam kepunahannya, seperti kayu ulin di Kalimantan, keruing (Dipterocarpus hasselti) di Jawa, sawo kecik di Jawa Timur, kayu eben di Sulawesi, tembesu (Fragrae fragran) di Sumatra telah jarang ditemukan.

b. Erosi nutfah

Erosi nutfah adalah terdesaknya tanaman lokal oleh bibit unggul dari luar. Masuknya bibit unggul dari luar menyebabkan jenis lokal yang dianggap tidak unggul tidak diusahakan lagi dan lambat laun akan hilang.

c. Berubahnya ekosistem

Ekosistem yang belum terjamah manusia makin menyusut, seiring dengan bertambahnya populasi manusia dan kebutuhan pangan. Hutan merupakan ekosistem yang dihuni oleh berbagai flora dan fauna. Di samping sebagai tempat mengambil makanan, hutan adalah tempat berlindung bagi hewan yang hidup di dalamnya. Jika hutan menjadi gundul, sebagian tumbuhan akan hilang karena sengaja diambil, hewan-hewan yang berlindung di sana akan mati karena tidak ada tempat berlindung dari faktor-faktor yang tidak menguntungkan. Penggundulan hutan akan mengubah ekosistem, mengubah rantai makanan, sekaligus mengganggu komponen pembentuk ekosistemnya.

d. Perubahan sistem pertanian

Para petani dahulunya menanam tanaman yang beraneka ragam, misalnya tanaman padi. Namun, sekarang keanekaragaman tersebut menurun dengan cepat disebabkan adanya program pemuliaan tanaman secara modern. Program pemuliaan tanaman meningkatkan hasil pertanian dengan menggunakan varietas padi yang lebih sedikit. Selain itu penetapan sistem penanaman secara monokultur juga menyebabkan menurunnya keanekaragaman hayati di suatu daerah.

e. Pencemaran

Kegiatan manusia akan menghasilkan banyak perubahan terhadap lingkungan, seperti pencemaran. Zat-zat pencemar dapat mencemari ekosistem dan dapat mengeliminasi populasi atau spesies yang sensitif. Seperti mikroorganisme tanah banyak yang mati akibat pencemaran limbah logam berat dari industri, serta banyaknya tumbuhan dan hewan yang mati karena hujan asam.

G. Konservasi Sumber Daya Alam Hayati

Telah dikemukakan di atas bahwa keanekaragaman hayati berkaitan dengan jumlah jenis makhluk hidup yang terdapat pada ekosistem bumi. Hilangnya jenis berarti kehilangan sumber genetik. Hal ini harus dicegah agar kekayaan hayati di Indonesia masih dapat menopang kehidupan. Konservasi sumber daya hayati di Indonesia diatur dalam UU N0.23 Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup. Asas yang digunakan dalam pengelolaan lingkungan hidup adalah asas tanggung jawab, berkelanjutan dan manfaat.

Berbicara tentang konservasi sumber daya alam hayati sama dengan pelestarian ekosistem, sebab komponen-komponen sumber daya alam hayati adalah bagian dari ekosistem. Usaha konservasi sumber daya alam hayati dapat dilakukan dengan cara, antara lain secara in-situ dan ex-situ.

Cara insitu dilakukan dengan memelihara/menanam kembali di habitat alaminya sehingga kepunahan dapat dihindari. Pemerintah Indonesia telah menetapkan 326 kawasan cagar alam, antara lain Cagar alam Kerinci Seblat, Cagar alam Tanjung Puting di Kalimantan, perlindungan komodo di pulau Komodo, dan perlindungan bunga bangkai di Bengkulu. Sedangkan konservasi ex-situ dilakukan dengan cara memelihara di luar kawasan/di luar habitat aslinya.

Cara ini terutama dilakukan terhadap spesies makhluk langka atau memiliki nilai ekonomi tinggi. Misalnya, penangkaran hewan-hewan langka seperti harimau Jawa, badak, jalak Bali, babi rusa, kura-kura, orang hutan. Tempat penangkaran ex-situ, seperti kebun raya atau kebun binatang, Taman Safari, kebun-kebun koleksi tanaman budi daya (karet, kopi, the, dan buah-buahan).

Konservasi keanekaragaman hayati secara in-situ lebih efektif dan biayanya lebih efisien, namun pada ekosistem kota upaya ex-situ perlu dikembangkan terutama terhadap tumbuhan khas yang terdapat di ekosistemnya.

Beberapa jenis hewan yang dilindungi di Indonesia

Konservasi haruslah seiring dengan pembangunan, keduanya harus sejalan dengan saling menguntungkan dan timbal balik. Dengan demikian, manfaat dari keanekaragaman hayati dapat dirasakan baik generasi sekarang maupun yang akan datang. Banyak jenis yang telah punah dan terancam kepunahan sementara itu manfaatnya bagi manusia belum sempat diketahui.

Untuk itu pelestarian keanekaragaman hayati bukan hanya peran pemerintah, tetapi juga peran swasta, ilmuwan, LSM, dan Masyarakat.

Glosarium

  • Plasma Nutfah: Substansi yang terdapat dalam setiap kelompok makhluk hidup dan merupakan sumber sifat keturunan yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan atau dirakit untuk menciptakan jenis unggul.
  • Endemik: Jenis makhluk hidup yang terdapat pada daerah tertentu.
  • Trofik: tingkat produsen atau konsumen di dalam rantai makanan.
  • Habitat: tempat suatu organisme mempertahankan kehidupannya.
  • Klasifikasi: Pengelompokan makhluk hidup berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri.
  • Spesies: organisme yang dapat melakukan perkawinan dengan sesamanya yang menghasilkan keturunan yang fertil.
  • Suksesi: Proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung menuju ke satu arah secara teratur, yang terjadi akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem.
  • Pelestarian in-situ: Pelestarian sumber daya alam hayati yang dilakukan di dalam habitatnya.
  • Pelestarian ex-situ: Pelestarian sumber daya alam hayati yang dilakukan di luar habitatnya.
  • Filogeni: sejarah evolusi suatu kelompok organisme

Loading...
Gravatar Image
Hanya seorang pelajar biasa yang ingin berbagi ilmu biologi kepada masyarakat via Pintar Biologi