Categories: Biologi Terapan

Arti dan Peran Statistika dalam Biologi dan Penerapan Metode Ilmiah dalam Penelitian Biologi

Loading...

A. SEJARAH PENERAPAN METODE STATISTIKA DALAM BIOLOGI

Biometri berasal dari kata “bios” yang berarti kehidupan dan “metron” yang berarti mengukur. Dengan demikian, biometri mengandung arti penerapan metode statistika dalam memecahkan permasalahan-permasalahan biologi. Apa yang terjadi? Penerapan metode statistika dalam biologi memberikan perkembangan yang luar biasa, baik terhadap kemajuan biologi sebagai ilmu pengetahuan dasar beserta cabang-cabangnya maupun terhadap biologi dalam ilmu terapannya, seperti pertanian, perikanan, kehutanan, dan kedokteran.

Perlu Anda ketahui bahwa istilah statistika atau ilmu statistik, tidak sama
dengan istilah statistik. Istilah statistika atau ilmu statistik berarti merupakan cabang ilmu matematika terapan yang digunakan untuk keperluan analisis data numerik, sedangkan istilah statistik adalah sajian data numerik dalam bentuk tabel atau diagram.

Hampir setiap cabang ilmu biologi telah dirasuki oleh metode statistika untuk memecahkan berbagai permasalahan yang ada di dalamnya, bahkan taksonomi sebagai cabang biologi yang semula dianggap jauh dari statistika, saat sekarang sudah banyak memanfaatkan metode statistika dalam mengembangkan temuan-temuan klasifikasi.

Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa aplikasi metode tersebut dalam taksonomi memberikan hasil klasifikasi organisme secara lebih akurat. Namun demikian, harus diakui bahwa tidak semua temuan konsep dalam biologi harus dengan memanfaatkan metode statistika.

Bagaimana sebenarnya sejarah perkembangan dari statistika itu sendiri?
Statistika modern sebagai salah satu ilmu pengetahuan, telah dikembangkan sejak abad 17 Masehi. Ada dua sumber yang dapat menunjukkan tumbuhnya statistika modern. Pertama, statistika yang berhubungan dengan ilmu politik atau disebut aritmetika politik. Aritmetika politik menyajikan berbagai informasi yang berupa deskripsi kuantitatif berbagai aspek yang berkaitan dengan urusan pemerintahan dan kenegaraan. Sebagai tokohnya adalah John Graunt (1620–1674) dan William Petty (1623–1687). Kedua, statistika yang berhubungan dengan teori peluang atau teori probabilitas. Tokoh-tokohnya, antara lain Blaise Pascal (1623–1662), Pierre de Fermat (1601–1665), Jacques Bernaulli (1654–1705), dan Abraham de Moivre (1667–1754).

Perkembangan statistika menjadi semakin cepat pada abad ke-18 dengan
berkembangnya ilmu astronomi. Tokohnya antara lain Pierre Simon Laplace (1749–1827) dan Karl Friedrich Gauss (1777–1855). Ahli yang merintis penerapan statistika dalam biologi, kedokteran dan sosiologi adalah astronomer Belgia Adolphe Quetelet (1790–1874).

Perkembangan statistika secara progresif baru terjadi pada abad ke-19, dengan ditandai pengembangan teori statistika oleh para ahli matematika. Francis Galton (1822–1911), paman dari Charles Darwin, yang kemudian dikenal sebagai bapak biometri dan genetika modern. Kedua bidang ilmu tersebut menjadi demikian erat hubungannya karena pengembangan konsepkonsep genetika modern mengandalkan pada penerapan metode statistika.

Ahli lain, yaitu Karl Pearson (1857–1936) yang menerapkan metode statistika dalam biologi untuk menggambarkan konsep seleksi alam. Sementara W.F.R. Weldon (1860– 906) menerapkan metode statistika untuk mengembangkan berbagai konsep zoologi. Kemudian, W.S. Gosset (1876–1937), murid Pearson, menemukan prinsip distribusi peluang t yang selanjutnya disebut distribusi t-Student. Sedangkan Ronald A. Fisher (1890– 1962) dan Abraham Wald (1902 – 1950) berperan dalam mengembangkan statistika secara luas dalam biologi.

B. PENERAPAN METODE ILMIAH DALAM BIOLOGI

Metode Observasi dan Metode Survei

Perlu Anda ketahui, ada dua macam metode ilmiah untuk memperoleh konsep-konsep dalam biologi secara empiris. Metode yang pertama disebut metode non-eksperimen dan kedua metode eksperimen. Metode noneksperimen juga disebut metode observasi. Ada yang menyebutnya dengan istilah metode survei. Namun demikian, ada pakar metodologi penelitian yang secara tegas membedakan metode observasi dengan metode survei.

Metode observasi dicirikan dengan adanya kegiatan pengukuran yang dilakukan oleh pengamat (observer). Sementara metode survei bercirikan adanya unsur self-report. Artinya, pihak yang diteliti yang melaporkan apa yang ingin diketahui oleh peneliti. Pelaporan itu diungkap melalui tes, angket atau wawancara. Dengan demikian, metode survei dapat dilakukan jika yang menjadi material/bahan penelitiannya adalah manusia. Oleh karena material/bahan penelitian yang digunakan berupa manusia maka biasa disebut dengan istilah subjek penelitian.

Kesamaan antara metode observasi dan metode survei adalah bahwa dalam membangun konsep, peneliti benar-benar mendasarkan pada kenyataan atau fakta-fakta yang ada di alam sebagaimana adanya. Dari fakta demi fakta yang berhasil diamati, kemudian dicari kesamaan umumnya sehingga dapat disusun suatu konsep yang lebih general. Jadi konsep merupakan generalisasi fakta. Dalam hal ini, peneliti sama sekali tidak melakukan tindakan manipulasi untuk mengubah kondisi atau faktor-faktor yang ada.

Coba Anda perhatikan contoh ini! Suatu penelitian dilaksanakan untuk memperoleh deskripsi tentang kehidupan badak bercula satu yang hidup di kawasan Ujung Kulon. Dalam hal ini, peneliti terlebih dahulu harus menentukan hal-hal apa saja yang spesifik yang akan diteliti, yang dapat memberikan deskripsi atau gambaran tentang populasi badak tersebut.

Hal-hal yang spesifik yang diamati, yang selanjutnya disebut variabel atau peubah, ditentukan oleh si peneliti. Dari hasil pengamatan terhadap sejumlah variabel yang telah dipilihnya, peneliti akan mengumpulkan data pengamatan (atau cukup disebut data) untuk setiap variabel. Jika data yang diperoleh kemudian dianalisis, maka akan diperoleh informasi tentang deskripsi populasi badak tersebut.

Dalam hal ini, deskripsi populasi badak yang diperoleh benar-benar sebagaimana apa adanya secara alami karena peneliti sama sekali tidak memanipulasi atau mengubah-ubah kondisi lingkungan tempat tinggal badak. Dengan demikian, metode penelitian yang dilakukan si peneliti menggunakan metode non-eksperimen. Oleh karena data diamati secara langsung maka penelitian ini menggunakan metode observasi.

Oleh karena hasil yang diperoleh melalui metode observasi berupa deskripsi dari variabel yang diteliti maka metode observasi juga disebut metode deskriptif. Bahkan, pada sementara buku metode penelitian, baik metode observasi dan metode survei dimasukkan ke dalam metode deskriptif.

Selanjutnya coba Anda simak pula contoh berikut. Seorang dokter ingin mengetahui kesehatan gigi para siswa SD. Dokter, kemudian mengadakan pemeriksaan terhadap gigi sejumlah siswa. Selain itu, dokter juga mengadakan wawancara untuk menelusuri keterangan bagaimana cara siswa merawat giginya, bagaimana pola makan kaitannya dengan perawatan gigi.

Untuk lebih mantapnya, dokter juga mengirimkan angket kepada orang tua siswa perihal apa yang telah dilakukan guna memelihara kesehatan gigi anaknya. Hal tersebut penting untuk diungkap karena secara teoretik cara makan yang salah juga dapat merusak gigi, seperti memakan bakso yang panas dan es yang sangat dingin sehingga akibat perubahan suhu yang demikian besar gigi mudah rusak.

Demikian pula, kebiasaan anak-anak tidak menggosok gigi menjelang tidur, memakan gula-gula dan tidak diikuti dengan tindakan menggosok gigi. Dalam hal ini, saat dokter memeriksa gigi siswa sampel, dia menerapkan metode observasi. Dokter hanya sekadar memeriksa gigi siswa tanpa memberikan perlakuan tertentu. Kemudian, saat dokter mengadakan wawancara dengan siswa sampel dan mengirimkan angket kepada orang tua siswa, berarti dia menerapkan prinsip metode survei karena melalui pelaporan dari diri subjek penelitian (self report), dokter memperoleh data yang diinginkan. Jadi, dalam penelitian ini, dokter memadukan metode observasi dan metode survei.

Contoh lain, Anda dapat menerapkan metode observasi dengan melakukan pengamatan selama periode waktu tertentu pada suatu ekosistem hutan, agar Anda dapat memperoleh data untuk mengetahui “hubungan antara faktor iklim mikro (kelembaban, suhu dan intensitas cahaya) dengan kekayaan jenis dari komunitas tumbuhan bawah yang ada di lantai hutan”.
Maka Anda perlu mendata perihal besarnya suhu, kelembaban serta intensitas cahaya mikro, juga mendata kekayaan jenis yang ada dari waktu ke waktu.

Dari data yang diperoleh selanjutnya dianalisis sehingga Anda dapat menyimpulkan bagaimana pola hubungan antara ketiga variabel iklim mikro tersebut dengan kekayaan jenis tumbuhan bawah.

Anda dapat meneliti hubungan antara ketiga variabel iklim mikro
tersebut dengan kekayaan jenis tumbuhan bawah dengan cara lain. Caranya, yaitu dengan mengamati atau mendata variabel-variabel tersebut pada berbagai lokasi hutan pada waktu yang bersamaan. Anda berharap bahwa pada waktu yang bersamaan, berbeda hutan akan berbeda pula kondisi iklim mikronya. Jika memang ada hubungan antara kondisi iklim mikro dengan kekayaan jenis komunitas tumbuhan bawah maka perbedaan kondisi iklim mikro pada lokasi hutan yang berbeda akan diikuti oleh perbedaan kekayaan jenis tumbuhan bawah yang ada.

Dari contoh di atas, berarti Anda akan dapat memperoleh kesimpulan atau konsep hubungan antara variabel iklim mikro dengan kekayaan jenis komunitas tumbuhan bawah dengan cara (1) mengamati variabel-variabel yang Anda teliti pada suatu lokasi dari waktu ke waktu atau (2) mengamati pada berbagai lokasi hutan dalam waktu yang bersamaan. Dapat pula kedua cara tersebut dikombinasikan sehingga semakin mantap pula konsep yang akan Anda peroleh.

Dalam contoh tersebut di atas, variabel suhu, kelembaban dan intensitas cahaya mikro berkedudukan sebagai variabel bebas sedangkan kekayaan jenis komunitas tumbuhan bawah sebagai variabel tergayut atau variabel tidak bebas atau variabel terikat. Itulah yang menjadi ciri dari metode observasi. Demikian pula, jika Anda melakukan penelitian menggunakan metode survei, Anda tidak memanipulasi variabel yang menjadi variabel bebasnya.

Melalui metode observasi ataupun metode survei, Anda juga dapat memperoleh konsep pembandingan. Dalam hal ini yang dibandingkan adalah perbedaan harga variabel tergayut akibat adanya perbedaan harga pada variabel bebasnya. Jika variabel bebasnya merupakan variabel yang terukur (kuantitatif) maka bagian dari variabel tersebut dinamakan taraf atau level.

Jika variabel bebasnya berupa variabel kualitatif maka bagian-bagian dari
variabel tersebut dinamakan kategori. Misalnya Anda ingin membandingkan bagaimana produksi air susu sapi dari ras yang berbeda pada suatu lokasi peternakan. Dalam hal ini ras merupakan variabel bebas, sedangkan produksi air susu merupakan variabel tergayut. Oleh karena variabel ras merupakan variabel kualitatif maka masing-masing ras disebut kategori. Variabel kualitatif juga disebut dengan atribut. Dengan mendata variabel tergayut berupa banyaknya produksi air susu yang dihasilkan oleh tiap individu per hari dari masing-masing ras sapi yang ada di lokasi tersebut, Anda dapat membandingkan ras sapi (kategori) mana yang paling banyak produksi air susunya.

Kajian pustaka juga diperlukan dalam penelitian yang menggunakan
metode observasi atau metode survei. Mengapa? Oleh karena dengan kajian pustaka yang mendalam, peneliti akan dapat menentukan apa saja variabel yang layak untuk diteliti. Misalnya, peneliti perlu melakukan kajian pustaka untuk mencari alasan mengapa ia ingin mengetahui hubungan antara faktor iklim mikro dengan kekayaan jenis komunitas tumbuhan bawah, mengapa peneliti ingin mengetahui produksi sapi susu perah dari ras yang berbeda.

Metode Eksperimen

Metode eksperimen atau disebut pula metode percobaan ditandai dengan
adanya tindakan manipulasi terhadap variabel bebas. Dengan tindakan
memanipulasi variabel bebas maka keadaan variabel bebas kita ”kendalikan” sesuai dengan tujuan penelitian. Tindakan memanipulasi variabel bebas juga ditujukan agar dapat dilihat hubungan antara variabel bebas dengan variabel tergayutnya.

Sebagai contoh, untuk melihat hubungan antara dosis pupuk urea dengan pertumbuhan tanaman padi maka besarnya dosis pupuk urea harus dimanipulasi atau diubah-ubah. Misalnya, bila kita ingin mengetahui efek pemberian dosis pupuk urea terhadap pertumbuhan tanaman padi maka dosis pupuk urea kita manipulasikan, katakanlah ada dosis urea 0 kg/ha, dosis urea 50 kg/ha, dosis urea 100 kg/ha, dan dosis urea 150 kg/ha yang kita berikan pada tanaman padi. Dengan memanipulasi besarnya dosis pupuk urea diharapkan akan menimbulkan perbedaan gejala atau fenomena pertumbuhan tanaman padi. Perbedaan itu terjadi antara tanaman padi yang tidak dipupuk (dipupuk dengan dosis 0 kg/ha) dibandingkan dengan tanaman padi yang dipupuk dengan dosis 50 kg/ha, juga dosis 100 kg/ha, dan dosis 150 kg/ha.

Kita juga akan mengetahui apakah pemberian dosis pupuk urea sampai dosis 150 kg/ha menunjukkan bukti bahwa semakin banyak dosis pupuk urea yang diberikan semakin baik pula pertumbuhan tanaman padi.

Loading...

Dalam hal ini, faktor jenis pupuk merupakan variabel bebas. Karena variabel bebas itu dikenakan pada unit eksperimen maka disebut faktor
perlakuan (treatment factor). Faktor perlakuan tidak lain merupakan variabel bebas yang berkedudukan sebagai stimulus atau penyebab. Pertumbuhan tanaman merupakan variabel tergayut, berkedudukan sebagai variabel respons. Karena di dalam eksperimen, variabel bebas merupakan variabel penyebab maka variabel bebas juga berkedudukan sebagai variabel prediktor. Artinya, besarnya harga variabel tergayut dapat diprediksi berdasarkan besarnya harga variabel prediktor.

Dalam eksperimen tersebut memanipulasi/mengubah variabel bebas dapat dilakukan dengan jalan memilih dua atau lebih taraf atau level faktor perlakuan. Jika hanya memilih dua taraf faktor maka taraf pertama berupa perlakuan tanpa pupuk (dosis 0 kg/ha), dan taraf kedua berupa perlakuan dengan dosis pupuk urea sebanyak 100 kg/ha. Tentu saja diperlukan alasan mengapa memilih dosis pupuk urea 100 kg/ha. Pertama, peneliti harus sudah memiliki pengetahuan tentang kandungan hara yang ada di dalam pupuk yang digunakan dalam eksperimen. Kedua, peneliti sudah memiliki pengetahuan yang menggambarkan hubungan antara macam serta banyaknya hara dalam pupuk dengan pertumbuhan tanaman padi. Pengetahuan itu hanya dapat dicari melalui kajian pustaka. Di sinilah pentingnya kajian pustaka dalam penelitian yang dalam hal ini menggunakan metode eksperimen.

Jika ingin menggunakan lebih dari dua taraf faktor, dengan tujuan untuk
menyelidiki apakah semakin tinggi tarafnya semakin cepat pertumbuhannya, dan apakah sampai dosis 100 kg/ha masih menunjukkan model hubungan yang linear (membentuk garis lurus) maka dengan lima taraf faktor, peneliti dapat menentukan taraf pertama dosis 0 kg/ha (tanpa pupuk), taraf kedua 25 kg/ha, taraf ketiga 50 kg/ha, taraf keempat 75 kg/ha, dan taraf kelima 100kg/ha.

Dari contoh eksperimen di atas, tampak bahwa baik pemilihan variabel bebas sebagai variabel prediktor atau pengendalian terhadap variabel pengganggu/penekan merupakan kunci keberhasilan eksperimen. Karena tujuan utama eksperimen adalah untuk mengetahui hubungan sebab-akibat (stimulus-respons) antara variabel bebas/prediktor dengan variabel tergayut/respons. Oleh karena itu, jika ingin mencobakan lebih dari satu variabel bebas yang dicobakan harus sudah diketahui apakah antarvariabel bebas terdapat interaksi.

Sebagai contoh jika Anda ingin mengetahui bagaimana akibat pemberian pupuk fosfat (P) yang dikombinasikan dengan pupuk nitrogen (N) terhadap pertumbuhan tanaman. Anda harus memiliki dasar yang kuat (berupa hasil kajian pustaka), apakah terdapat interaksi antara pupuk P dan pupuk N dalam mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Bagaimana pula sifat interaksi antara pupuk P dan pupuk N tersebut, apakah bersifat positif atau negatif. Jika interaksinya positif, eksperimen yang dilaksanakan diharapkan mampu menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman yang diberi kombinasi pupuk P dan pupuk N akan jauh lebih baik jika dibandingkan dengan pertumbuhan tanaman yang hanya dipupuk P atau hanya diberi pupuk N.

Pola Induktif dan Pola Deduktif

Pola pikir yang mendasari penelitian biologi yang menggunakan metode observasi/survei berbeda dengan pola pikir yang mendasari penelitian eksperimen. Penelitian observasi/survei diawali dengan pertanyaan “ada apa?” atau “bagaimana kejadian yang sebenarnya terjadi di alam?”, sementara penelitian eksperimen berangkat dari pertanyaan “bagaimana akibatnya jika ada sesuatu penyebab?”. Oleh karena itu, penelitian observasi/survei mengikuti pola berpikir induktif, yakni berangkat dari fakta demi fakta, kemudian dibangunlah suatu konsep.

Oleh karena penelitian survei/observasi bersifat induktif maka sifatnya eksploratif. Peneliti hanya “membaca apa yang ada di alam”. Peneliti tidak harus memiliki jawaban sementara atau hipotesis. Penelitian survei bukan bertujuan untuk membuktikan kebenaran suatu hipotesis yang dibangun berdasar teori-teori yang ada.

Penelitian eksperimen mengikuti pola berpikir deduktif-verifikatif. Artinya, mula-mula si peneliti berpikir dari hal-hal yang umum, kemudian ke hal yang khusus. Perumusan masalah diperoleh dengan melakukan deduksi dari berbagai teori yang ada. Setelah dirumuskan permasalahannya, dicarilah jawaban sementara atau hipotesis secara teoretik berdasar kajian pustaka.

Hipotesis itulah, yang kemudian diuji kebenarannya. Jadi, pembuktian di lapangan atau pembuktian secara empiris merupakan langkah verifikasi atau pembenaran dari hipotesis yang dirumuskannya. Jika hipotesis teruji kebenarannya secara empiris maka kesimpulan akan sesuai dengan hipotesis.

Dengan sendirinya hipotesis (jawaban sementara) berubah menjadi tesis (jawaban yang sesungguhnya). Oleh karena itu, penelitian eksperimen dikatakan berbobot jika si peneliti benar-benar dapat merumuskan hipotesis yang nantinya benar-benar teruji secara empiris menjadi tesis. Agar hasil eksperimen dapat diterapkan atau diaplikasikan, ada tiga tahapan yang harus dilalui.

Pertama, perlu adanya eksperimen pendahuluan (preliminary experiment), untuk membuktikan apakah memang ada hubungan stimulus-respons antara variabel bebas dengan variabel tergayut yang diteliti. Langkah kedua melakukan penelitian eksperimen kritis (critical experiment) untuk menentukan taraf atau kategori dari variabel bebas yang memberikan respons optimal. Adapun langkah ketiga adalah melakukan penelitian eksperimen demonstrasi (demonstration experiment) untuk mencobakan temuan dari eksperimen kritisnya pada skala yang lebih luas dan sekaligus untuk dipamerkan pada khalayak umum.

Sebagai contoh untuk meneliti pengaruh pupuk baru yang berhasil ditemukan, mula-mula dilakukan eksperimen pendahuluan, untuk menentukan berapa kisaran taraf dosis pupuk tersebut yang mampu merangsang pertumbuhan tanaman. Biasanya kisaran dosis yang dicobakan diambil rentangan yang cukup luas. Dapat pula dosis yang dicobakan disesuaikan dengan pupuk yang telah ada.

Misalnya, hasil penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman terbaik diperoleh pada kisaran dosis antara 75 kg/ha sampai 100 kg/ha. Dengan demikian perlu dilakukan eksperimen kritis untuk mencari berapa sebenarnya dosis optimalnya. Oleh karena itu, dicobalah variasi dosis antara 75 kg/ha sampai 100 kg/ha. Misal, hasil penelitian kritis membuktikan bahwa dosis optimalnya 80 kg/ha maka selanjutnya dilaksanakan eksperimen demonstrasi dengan melakukan pemupukan 0,8 kuintal/hektar pada lahan yang luas. Melalui eksperimen demonstrasi tersebut akan dapat diketahui bagaimana respons tanaman setelah dipupuk dengan dosis 80 kg dengan skala tanam yang luas itu, sekaligus dijadikan ajang untuk menyampaikan informasi kepada petani perihal temuan pupuk baru tersebut.

Penelitian eksperimen juga dapat merupakan penelitian verifikatif. Dalam hal ini, eksperimen dilakukan karena bertujuan untuk mengkaji ulang eksperimen yang telah dilakukan. Tentu ada alasan yang kuat, mengapa perlu melakukan eksperimen ulang. Boleh jadi dengan alasan karena tekniknya dinilai kurang tepat sehingga peneliti ingin mengujinya menggunakan teknik baru yang akan dicobanya.

C. ARTI METODE DAN PERANAN STATISTIKA DALAM BIOLOGI

Telah dijelaskan di muka bahwa dalam menemukan konsep-konsep biologi, para ahli menggunakan metode dasar, berupa metode observasi, metode survei dan metode eksperimen/percobaan. Metode-metode tersebut merupakan pendekatan empiris yang bertujuan untuk memperoleh hasil-hasil pengamatan atau disebut data. Agar data yang diperoleh dapat dimaknakan atau dapat diinterpretasikan, perlu diolah lebih dahulu. Statistika sangat dibutuhkan kehadirannya untuk mengolah data yang bersifat kuantitatif.

Dengan metode statistika seorang peneliti dapat mengolah data untuk
memperoleh informasi dengan cara berikut.

  • Mencari deskripsi suatu variabel.
  • Mencari hubungan antarvariabel.
  • Menentukan perbedaan respons akibat perbedaan perlakuan yang
    diberikan.

Selain untuk mengolah data, statistika juga berperan dalam mengembangan alat ukur (instrumen). Dalam melakukan pengukuran untuk memperoleh data, tidak selamanya tersedia alat ukur yang standar.

Statistika diperlukan juga untuk menerka alat ukur yang dibuat. Peran statistika dalam alur penarikan konsep biologi adalah untuk menjembatani antara fakta dan konsep. Artinya, melalui metode statistika, fakta-fakta yang kita peroleh diolah guna mendapatkan konsep. Dengan demikian, metode statistika sangat diperlukan dalam penarikan konsep, baik ketika menggunakan pendekatan induktif melalui metode survei/observasi maupun dengan pendekatan dedukto-verifikatif melalui metode eksperimen.

Fakta-fakta yang berhasil diamati, yang disebut dengan data, dianalisis dengan metode statistika tertentu agar dapat diinterpretasikan atau ditafsirkan dengan benar sehingga dapat diperoleh kesimpulan yang benar pula. Dalam menganalisis data menggunakan metode statistika, dapat dilakukan dengan menggunakan metode statistika deskriptif ataupun statistika inferensial tergantung kepada tujuannya. Dalam menggunakan metode statistika inferensial juga harus dipilih apakah akan menggunakan statistika parametrik atau non-parametrik. Pembahasan secara terperinci tentang penggunaan setiap metode statistika akan disajikan dalam modulmodul selanjutnya.

Jika Anda ingin melakukan analisis data dengan menggunakan metode statistika inferensial, Anda akan menggunakan model atau persamaan matematika tertentu yang berlaku bagi populasi yang Anda teliti. Ada dua kemungkinan yang dapat terjadi. Kemungkinan pertama bahwa pada saat Anda melakukan analisis data, Anda belum memiliki model matematika yang akan digunakan. Oleh karena itu, penelitian yang dilakukan justru untuk menemukan model matematika yang belum ada.

Dengan menginterpretasi model matematika yang diperoleh akan diperoleh konsep biologi yang dicari. Dalam hal ini diperlukan langkah mulai dari memikirkan model yang mungkin sesuai, kemudian mencari data biologi yang relevan, dilanjutkan dengan merumuskan model. Setelah modelnya dapat dirumuskan, dilakukan uji model untuk melihat ketepatan model tersebut. Jika model matematika terpilih ternyata teruji kebenarannya, barulah dilakukan interpretasi model untuk mendapatkan konsep biologi.

Kemungkinan kedua, sudah tersedia model matematika yang Anda perlukan untuk mengolah data. Dengan demikian, Anda tinggal mencari data, kemudian menganalisisnya menggunakan model matematika yang sudah ada, agar dapat diinterpretasikan untuk ditarik kesimpulannya.

Penemuan konsep biologi dengan jalur kedua lebih mudah dilakukan karena model matematika yang Anda perlukan sudah tersedia. Walaupun model matematikanya sudah tersedia, Anda tetap harus memilih model mana yang sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti. Dengan demikian, perlu dilakukan perancangan yang tepat apabila Anda akan melaksanakan penelitian, dan salah satu diantaranya adalah memilih model analisis yang sesuai dengan permasalahan.

Langkah-langkah penemuan konsep biologi dengan menggunakan metode statistika dapat diperjelas dengan bagan sebagai berikut.

Rangkuman

  1. Biometri memacu perkembangan biologi melalui penemuan konsepkonsep baru dengan menerapkan metode statistika untuk mengolah data hasil pengamatan yang diperoleh melalui penelitian.
  2. Statistika sudah merasuk pada seluruh cabang ilmu biologi.
  3. Dilihat dari sejarahnya, statistika modern berkembang pada abad ke-17 Masehi, dan mengalami kemajuan dengan pesat mulai abad ke-18 Masehi.
  4. Penemuan konsep melalui metode observasi dan metode survei berpijak pada pendekatan induktif, sedangkan penemuan konsep melalui metode eksperimen berpijak pada pendekatan deduktoverifikatif. Namun demikian, penemuan konsep-konsep biologi merupakan hasil dari perpaduan pendekatan induktif dan pendekatan dedukto-verifikatif.
  5. Dalam metode observasi, peneliti tidak melakukan manipulasi terhadap variabel penelitiannya. Dalam hal ini yang dimaksudkan yaitu tidak memanipulasi variabel bebasnya. Demikian pula dalam penelitian survei.
  6. Penelitian deskriptif dapat dilakukan melalui metode observasi ataupun metode survei karena dalam penelitian deskriptif tidak ada variabel bebasnya.
  7. Dalam penelitian eksperimen, variabel bebas dimanipulasi, agar dapat dilihat perubahan yang terjadi pada variabel tergayutnya.
  8. Dengan bantuan statistika, peneliti dapat mencari deskripsi suatu variabel, hubungan antarvariabel, dan menentukan akibat yang terjadi pada variabel tergayut yang disebabkan oleh adanya variabel bebas.
  9. Dalam penemuan konsep biologi, statistika menjembatani antara fakta dan konsep. Dengan statistika inferensial, peneliti dapat menarik generalisasi dari data-data penelitiannya sehingga dapat diperoleh konsep yang dicarinya.
admin

Hanya seorang pelajar biasa yang ingin berbagi ilmu biologi kepada masyarakat via Pintar Biologi

Recent Posts

Macam-Macam Jaringan Epitel Pada Hewan dan Fungsinya

Macam-Macam Jaringan Epitel Pada Hewan dan Fungsinya - Di dalam tubuh hewan, tidak terkecuali hewan…

18 mins ago

Mekanisme Kerja Hormon Secara Umum

MEKANISME KERJA HORMON I. PENDAHULUAN Organisme multiseluler memerlukan mekanisme untuk komunikasi antar sel agar dapat…

4 hours ago

Inilah Bahayanya Akibat Menghirup Asap Hasil Pembakaran

Asap yang dikeluarkan oleh jenis api (hutan, sikat, tanaman, struktur, ban, limbah atau pembakaran kayu)…

8 hours ago

Praktikum: Cara Membuat Tempe yang Praktis dan Mudah

Praktikum: Cara Membuat Tempe yang Praktis dan Mudah - Tempe merupakan makanan tradisional Indonesia, terutama…

12 hours ago

Praktikum: Cara Membuat Ragi Tempe

Cara Membuat Ragi Tempe - Jika dalam pembahasan yang lalu, kita sudah belajar tentang Cara…

16 hours ago

Keuntungan Belanja di Online Shop Indonesia Terpercaya

Berbelanja merupakan salah satu kegiatan yang banyak dilakukan tidak hanya oleh kaum hawa namun juga…

20 hours ago

This website uses cookies.