Taksonomi Sebagai Cabang Biologi

Posted on
Loading...

Saat ini lebih dari satu juta spesies hewan dan setengah juta spesies tumbuhan dan mikroorganisme telah diketahui. Jenis organisme yang masih hidup yang belum dikenal berkisar antara 3 sampai 10 juta bahkan lebih. Sementara itu yang sudah punah diperkirakan satu miliar. Tiap-tiap jenis terdiri atas sejumlah individu yang memperlihatkan berbagai perbedaan dalam hal morfologi, jenis kelamin, umur, bentuk musiman, sifat prokariotik, sifat kariotik, haploid, diploid, cara perkembangbiakkan, perannya sebagai produsen/ konsumen, sifatnya sebagai herbivora/karnivora/omnivora, dan inang-parasit.

Keanekaragaman fauna mempunyai banyak dimensi. Terdapat begitu banyak fauna bukan hanya di daratan tetapi juga di wilayah perairan dan lautan sampai ke bagian yang terdalam. Setiap organisme mempunyai jenis fauna lain sebagai parasitnya sendiri, banyak di antaranya bersifat spesies spesifik. Dengan demikian terdapat keanekaragaman individual yang besar sehingga tidak mungkin menanganinya tanpa menggunakan cara yang tepat. Cara untuk mempermudah mempelajari hewan-hewan tersebut sangat diperlukan. Salah satu cara yang dipandang tepat adalah melakukan klasifikasi.

Hewan-hewan tersebut dikelompokkan sehingga tidak perlu mempelajari satu-persatu tetapi cukup dengan perwakilan dari kelompoknya. Pemikiran selanjutnya adalah bagaimana upaya pengelompokan itu dilakukan, maka timbullah teori klasifikasi. Di dalam kegiatan klasifikasi tercakup aspek pemilahan, maka perlu upaya antarkelompok tersebut dapat dikenal secara terpisah satu dari yang lain sehingga setiap kelompok perlu diberi nama.

Carolus Linnaeus (1707-1778) mengklasifikasikan semua organisme yang diketahui ke dalam dua kelompok besar/kingdom, yaitu: Plantae dan Animalia. Robert Whittaker pada tahun 1969 membagi organisme ke dalam lima kingdom, yaitu: Plantae, Animalia, Fungi, Protista, dan Monera.

A. TAKSONOMI DAN SISTEMATIKA

Istilah taksonomi berasal dari bahasa Yunani taxis (susunan) dan nomos (hukum/aturan), yang pertama kali diusulkan oleh Candolle (1813) sebagai teori klasifikasi tumbuhan. Dalam perkembangannya, taksonomi diberi batasan sebagai teori dan praktek klasifikasi organisme. Taksonomi terbagi menjadi dua cabang, yaitu: taksonomi mikro dan taksonomi makro. Taksonomi mikro diterapkan pada tingkat spesies, sedangkan taksonomi makro digunakan untuk klasifikasi taksa yang lebih tinggi.

Taksonomi berkaitan erat dengan cabang biologi yang lebih besar yaitu sistematika. Istilah sistematika, berasal dari bahasa Yunani yang dilatinkan yaitu systema, dan diterapkan dalam sistem klasifikasi oleh Linnaeus (1735) dalam bukunya yang berjudul Systema Naturae. Definisi yang lebih maju dikemukakan oleh Simpson (1961) bahwa sistematika adalah kajian ilmiah terhadap bermacam-macam organisme dan keanekaragamannya serta segala hubungan biologis di antara mereka. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa sistematika adalah ilmu tentang keanekaragaman organisme.

Sistematika mencoba mengadakan pengelompokan terhadap keanekaragaman hewan, serta mengembangkan dasar dan cara untuk melaksanakan aktivitas itu. Seperti yang terjadi pada setiap cabang ilmu, dalam perjalanan sejarahnya kajian terhadap keanekaragaman organisme telah mengubah dan meluaskan objek-objek yang menjadi sasarannya. Manfaat utama klasifikasi adalah sebagai kunci identifikasi dan filosofi para ahli taksonomi terdahulu yang menekankan tentang manfaat taksonomi.

Teori evolusi Darwin (1859) yang dipercayai oleh banyak ahli taksonomi mampu mengubah objek-objek itu, sehingga perhatian sebagian besar ahli taksonomi meluas, yang pada akhirnya keanekaragaman organisme diinterpretasikan sebagai hasil evolusi divergensi. Selanjutnya perhatian mereka tidak hanya tertumpu pada pembuatan kunci identifikasi, melainkan harus menginterpretasikan kelompok-kelompok hewan itu diduga sebagai keturunan nenek moyang yang sama. Berbagai penyebab dan beragam penelusuran yang memungkinkan organisme itu mengalami perubahan evolusioner juga dipelajari. Masalah tersebut berkaitan dengan organisme hidup, maka ahli-ahli taksonomi mengarahkan perhatiannya terhadap kehidupan di lapangan.

Dengan memperhatikan kehidupan di lapangan, perilaku dan ekologi sering memberikan makna yang lebih penting dalam menemukan ciri-ciri spesies daripada perbedaan morfologi spesies yang diawetkan. Akibatnya timbullah cabang biologi baru yang mengkaji tentang keanekaragaman organisme. Dengan demikian terjadilah perkembangan lebih lanjut, sehingga wawasan universal ahli-ahli taksonomi menjadi lebih luas. Hal ini berpengaruh terhadap definisi istilah taksonomi dan sistematika. Pada awalnya kedua istilah itu dianggap sinonim, tetapi pada akhirnya berhasil diberi batasan tentang istilah taksonomi itu sesuai dengan arti yang sebenarnya. Sistematika mempunyai arti yang lebih luas, yaitu: sebagai suatu kajian tentang keanekaragaman organisme.

Salah satu pokok pikiran utama sistematika adalah menentukan ciri-ciri unik yang dimiliki oleh setiap spesies maupun takson-takson yang lebih tinggi dengan cara membandingkan. Pemikiran yang lain adalah menentukan ciri-ciri yang secara umum dimiliki oleh berbagai takson, sehingga secara biologis menyebabkan terjadinya perbedaan dan persamaan diantara takson tersebut.

Perhatian terakhir ditujukan kepada adanya variasi dalam takson-takson. Berkembangnya sistematika populasi yang diberi label sistematika baru oleh JS Huxley (1940) menyebabkan pengevaluasian kembali konsep spesies dan pendekatan yang lebih biologis terhadap taksonomi.

Sistematika populasi bukan alternatif pengganti terhadap taksonomi klasik tetapi merupakan perluasan dari taksonomi. Di antara kelompok yang bergerak dalam kegiatan inventarisasi spesies tetap dalam kemajuan penuh, orang tidak dapat dengan mudah mengaplikasikan metode-metode sistematika populasi. Menjadi terpusat pada level populasi, sistematika baru secara alamiah hanya menimbulkan dampak yang kecil terhadap teori klasifikasi pada level taksa yang lebih tinggi. Pemikiran populasi dari sistematika baru adalah salah satu sumber utama genetika populasi, dan sebaliknya juga mempengaruhi sistematika populasi.

Sistematika populasi hampir secara eksklusif bersangkutan dengan level
spesies. Taksonomi makro mengalami sedikit kemajuan konseptual dari tahun 1870-an ke 1950-an. Taksonomi makro berubah secara dramatis dengan munculnya taksonomi numerik. Kontroversi menyangkut kelebihan teori-teori klasifikasi yang lebih baru dibandingkan pendekatan tradisional mendominasi jurnal-jurnal biologi sistematika.

Hal lebih penting yang akan mempengaruhi sejarah sistematika dalam jangka panjang adalah keterlibatan ahli-ahli biologi molekuler dalam masalah klasifikasi serta pengembangan sejumlah teknik molekuler untuk menguji kedekatan hubungan diantara spesies yang dipelajari.

B. KLASIFIKASI, IDENTIFIKASI, DAN TAKSON

Dengan adanya keanekaragaman organisme maka taksonomi dan sistematika menduduki tempat yang unik di antara cabang-cabang biologi. Klasifikasi membuat keanekaragaman organisme dapat berhubungan dengan disiplin biologi. Sistematika menangani populasi, spesies, dan takson-takson yang lebih tinggi. Ilmu ini tidak hanya dapat memberikan masukan informasiinformasi penting yang diperlukan, tetapi lebih dari itu ialah membiasakan diri dalam cara berpikir, cara pendekatan terhadap masalah-masalah biologi yang sangat penting dalam pengembangan biologi secara keseluruhan.

Dalam zoologi, definisi yang tepat mengenai istilah-istilah yang terkait
dengan sistematika dapat menghindari kerancuan dalam mempelajari masalah keanekaragaman hewan. Istilah klasifikasi sebagian tumpang tindih dengan istilah taksonomi. Kata klasifikasi sering digunakan dengan dua macam arti yang berbeda. Secara umum, klasifikasi diartikan sebagai produk dari aktivitas para ahli taksonomi, misalnya klasifikasi gajah dan klasifikasi penyu. Selain itu juga diartikan sebagai kegiatan pengelompokan, sehingga diberi batasan klasifikasi zoologi adalah penyusunan hewan-hewan ke dalam kelompokkelompok tertentu atas dasar hubungannya.

Pengertian istilah klasifikasi dan identifikasi penting untuk diketahui, kedua istilah terkait erat dengan taksonomi. Arti klasifikasi dan identifikasi mirip tetapi berbeda dalam aktivitas yang dijalankannya. Perbedaannya ialah klasifikasi didasarkan atas pemikiran induktif, sementara identifikasi didasarkan atas pemikiran deduktif.

Dalam klasifikasi, kita berusaha mengadakan penyusunan dan pengelompokan populasi pada semua arah dengan prosedur induktif, sedangkan dalam identifikasi kita menempatkan individu-individu ke dalam takson-takson yang telah ditetapkan lebih dahulu dengan prosedur deduktif. Di dalam taksonomi juga dikenal dengan adanya istilah tatanama zoologi, yang merupakan penerapan dari nama yang berbeda kepada setiap kelompok yang telah dikenal dalam klasifikasi zoologi.

Simpson mendefinisikan takson sebagai suatu kelompok organisme yang
dikenal sebagai unit formal pada sembarang tingkatan / hierarki klasifikasi.

Ada dua aspek yang perlu diperhatikan. Pertama, takson selalu berkaitan dengan objek zoologi yang nyata. Jadi, kata spesies itu bukan takson, tetapi nama individu seperti, Macaca nemestrina adalah takson. Kedua, takson harus dikenal secara luas oleh para taksonomis.

Pengertian takson harus dibedakan dari pengertian kategori. Tanpa pemahaman yang jelas, kedua hal tersebut akan membingungkan. Kategori menunjukkan kedudukan takson di dalam hierarki klasifikasi. Jadi, apabila ia adalah kategori kelas, akan mencakup semua takson yang ditetapkan pada tingkat itu. Demikian juga kategori spesies adalah suatu kategori yang mencakup semua takson yang ditetapkan pada tingkat spesies itu.

Jadi, kategori adalah istilah yang abstrak, sedangkan takson yang ditempatkan pada kategori itu adalah objek zoologi yang nyata. Perbedaan pendapat terjadi baik mengenai metodologi taksonomi maupun prinsip-prinsip paling mendasar filosofi klasifikasi. Beberapa pertanyaan mendasar pun muncul. Apa yang harus direfleksikan oleh klasifikasi, hanya genealogi atau aspek total taksa? Apa yang terbaik dan apa yang paling alami?

Komponen fenotip apa yang harus dipilih sebagai basis suatu klasifikasi?
Seberapa penting fasilitasi diagnosis dalam satu klasifikasi? Bagaimana
seharusnya ciri-ciri berbeda diberikan bobot yang berbeda dalam konstruksi klasifikasi? Haruskah satu sifat memberikan bobot yang sama terhadap penggantian quasi-netral pasangan-pasangan basa DNA dan terhadap perubahan signifikan evolusioner? Perbedaan tentang metode terbaik konstruksi klasifikasi juga ada.

Loading...

C. PERKEMBANGAN TAKSONOMI

Beberapa ahli Yunani yang tersohor namanya, seperti Hippocrates (460-
377 SM) mengenumerasi tipe-tipe hewan tetapi belum menunjukkan indikasi klasifikasi yang bermanfaat. Pembahasan soal taksonomi pertama kali dicetuskan oleh filosuf Yunani, yaitu: Aristoteles (384-322 SM) yang dianggap sebagai bapak klasifikasi biologi. Aristoteles banyak menghabiskan waktu mempelajari zoologi, khususnya organisme-organisme laut. Studi yang dilakukannya tidak hanya pada aspek morfologi tetapi menyangkut embriologi, kebiasaan perilaku, dan ekologi.

Menurut Aristoteles, hewan dapat dikarakterisasi menurut cara hidup, aksi-aksi, kebiasaan perilaku, dan bagian-bagian tubuh. Arsitoteles merujuk pada beberapa kelompok hewan utama seperti burung, ikan, paus, dan serangga. Dia mengembangkan beberapa kategori kolektif atau genera dengan membedakan ciri-ciri seperti memiliki darah versus tak memiliki darah, dua kaki versus empat kaki, berambut versus berbulu, dengan atau tanpa cangkang luar, dan lain-lain.

Kesemuanya adalah kemajuan yang sangat berarti melebihi yang pernah ada sebelumnya. Pemikiran Aristoteles ini mendominasi klasifikasi hewan hingga 2000 tahun sesudahnya. Walaupun, Aristoteles tidak memberikan klasifikasi hewan yang teratur dan konsisten.

Klasifikasi tumbuhan sangat berkembang pada masa Cesalpino (1519-
1603) sampai Carolus Linnaeus(1707-1778), bukan hanya buah fikiran kedua taksonomis tersebut tetapi melibatkan ahli-ahli lain seperti Magnol,
Tournefort, Rivinus, dan Bauhin. Seorang naturalis Inggris, John Ray kemudian merevisi konsep penamaan dan penggambaran organisme-organisme.

Metode klasifikasi ke bawah yang dikembangkan oleh mereka adalah prinsip pembagian logis, yaitu: membagi kelompok yang lebih besar (superodinat) secara dikotomi menjadi dua kelompok yang lebih kecil (subordinat).

Contoh: dengan atau tanpa darah, berambut dan tidak berambut, dan lain-lain. Prinsip ini mendominasi taksonomi sampai akhir abad ke-18. Taksonomi hewan mengalami sedikit kemajuan konseptual pada abad ke-17 dan ke-18. Ilmu alam pada abad ke-18 didominasi dua tokoh menonjol, yaitu: Buffon (1707-1788) dan Linnaeus.

Carolus Linnaeus memiliki pemikiran yang erat dengan prinsip klasifikasi
ke bawah dengan pembagian logis. Salah satu inti pemikirannya adalah spesies merefleksikan ciri-ciri yang tetap dan tidak berubah. Walaupun, pada periode di mana ditemukan banyak sekali spesies baru dan macam-macam organisme, Linnaeus adalah inovator metodologi.

Identifikasi cepat dan tepat yang dibutuhkan naturalis difasilitasi oleh Linnaeus melalui kunci-kunci identifikasi yang disusun hati-hati, diagnosis yang tegas dengan sistem bergaya telegrafi, standardisasi sinonim, dan penemuan tatanama binomial (binomial nomenclature)

Klasifikasi aktual yang diadopsi oleh Linnaeus memiliki kelebihan dan
kekurangan. Untuk kelompok hewan yang sebagian besar dikenalnya seperti serangga, klasifikasi yang dibuatnya sebagian besar masih diterima. Sebaliknya, klasifikasi kelompok lain seperti aves (burung), amfibi, dan invertebrata tidak sebaik peneliti-peneliti sebelumnya.

Buffon bukan seorang taksonomis dan sedikit tertarik dalam klasifikasi dan
beberapa kategori yang lebih tinggi. Walaupun, buah pikiran Buffon memberikan dampak yang besar dalam perkembangan ilmu taksonomi. Ini
berarti pertama, penggunaan sterilitas sebagai penghalang dalam penentuan kriteria spesies melandasi konsep spesies biologis. Kedua, penekanan terhadap interpretasi ciri-ciri biologis (dan pada penggunaan sebanyak mungkin ciri).

Buffon telah meletakkan dasar untuk pendekatan baru terhadap klasifikasi.
Klasifikasi ke atas berkembang kemudian, metode ini terdiri atas pembentukan spesies melalui penyelidikan ke dalam kelompok-kelompok spesies yang serupa atau berkaitan dan pembentukan hierarki taksa yang lebih tinggi dengan mengelompokkan taksa serupa yang hierarkinya lebih rendah.

Secara sistematis metode ini diaplikasikan oleh seorang ahli botani, Adanson (1763) dan dipraktekkan oleh ahli-ahli zoologi pasca Linnaeus sampai dikemukakannya teori evolusi oleh Darwin (1859). Selama periode antara Linnaeus dan Darwin terjadi beberapa perkembangan dalam klasifikasi, yaitu: pertama, spesialisasi menjadi lebih menonjol. Para ahli
menjadi spesialis pada satu kelompok hewan seperti burung, kumbang, atau kupu-kupu. Kedua, klasifikasi menjadi lebih hierarkis. Pada masa Linnaeus hanya dikenal genus, ordo, kelas, dan kingdom, tetapi kemudian segera muncul kategori famili dan filum, sejumlah tambahan menyusul. Ketiga, pedoman filosofis diabaikan, dan klasifikasi menjadi pekerjaan yang seutuhnya bersifat empirik. Keempat, pencarian sistem alami lebih intensif.

Teori evolusi yang dikemukakan Charles Darwin (1859) menyatakan
bahwa semua makhluk hidup memiliki nenek moyang yang sama dan berevolusi satu sama lain melalui seleksi alam. Sebelum teori tersebut muncul para ahli taksonomis tidak memiliki alternatif jawaban mengenai sebab anggota-anggota satu takson lebih mirip satu sama lain, daripada anggota taksa yang lain.

Menurut Darwin, kelompok-kelompok natural eksis karena anggota-anggota takson natural adalah keturunan dari nenek moyang bersama dan karenanya mempunyai peluang lebih besar untuk mirip satu sama lain daripada spesies yang tidak berkaitan. Selama 50 tahun pertama setelah munculnya teori evolusi Darwin, para taksonomis bekerja secara substansial berdasarkan teori nenek moyang bersama. Hal ini diekspresikan melalui upaya pencarian rantai yang hilang antara taksa yang tampaknya tidak berkaitan, dengan tujuan untuk merekonstruksi “nenek moyang primitif” dan membangun pohon filogenetik.

Upaya tersebut mendorong bidang-bidang sistematika komparatif, morfologi komparatif, dan embriologi komparatif turut berkembang.
Setelah periode Darwin berkembang beberapa teori berkaitan dengan
keanekaragaman hewan di antaranya neo-Darwinisme, teori endosimbiotik, punctuated equilibrium, teori evolusi netral, ketiga dari awal masih berakar dari teori evolusi Darwin. Secara paralel berkembang pula teori yang bertentangan dengan teori evolusi, yaitu: teori perancangan cerdas (kreatiisme). Semua teori tersebut pada tataran teoritis dan praktis
mempengaruhi perkembangan taksonomi dan kegiatan yang inheren di dalamnya (klasifikasi dan identifikasi).

Pada perkembangan sistematika (dan taksonomi) muncul tantangan menarik pada level populasi. Ketika sampel populasi dari bagian berbeda dari satu lingkup geografis suatu spesies dibandingkan, perbedaan kecil maupun besar sering kali ditemukan. Pada akhirnya hal ini menyebabkan penggantian sekelompok hewan tertentu dari spesies yang ditentukan secara tipologis menjadi spesies politipus. Studi dan perbandingan populasi intraspesifik menjadi tujuan dari sistematika populasi. J.S Huxley (1940) memberi nama sistematika baru tersebut sebagai suatu sistematika yang menyebabkan pengevaluasian kembali konsep spesies dan pendekatan yang lebih biologis terhadap taksonomi.

Perubahan pemikiran esensialis dengan pemikiran populasi menimbulkan
konsekuensi penting pada banyak area taksonomi. Pertimbangan taksa sebagai populasi atau agregat populasi memungkinkan studi variasi dan penghilangan batas kategori-kategori dan taksa yang lebih rendah. Ahli sistematika populasi memahami bahwa semua organisme di alam sebagai anggota populasi oleh karena itu tidak dapat dimengerti dan diklasifikasi dengan tepat kecuali diperlakukan sebagai contoh dari populasi alami.

Pada periode yang sama dengan munculnya sistematika populasi, dua aspek tambahan mencuat ke permukaan. Pertama, aspek yang disebut pendekatan biologis terhadap taksonomi. Ketika para taksonomis lebih banyak turun ke lapangan, mereka menambahkan banyak ciri sebagai pelengkap ciri morfologis seperti perilaku, suara, kebutuhan ekologi, fisiologi, dan biokimia.

Taksonomi secara nyata berubah menjadi taksonomi biologi. Kedua, diperkenalkannya eksperimen ke dalam taksonomi. Walaupun banyak dilakukan pada botani daripada zoologi, analisis eksperimental dari mekanisme-mekanisme yang diisolasi (khususnya pada vertebrata, Drosophila, dan protozoa) dan metode eksperimental lainnya sangat bermanfaat.

D. TAKSONOMI DI MASA DEPAN

Terlepas dari adanya perbedaan pandangan di antara para ahli, taksonomi
terus berkembang, aktivitas ilmuwan dalam bidang ini terus meningkat. Hal ini terdokumentasi dengan munculnya banyak jurnal dan perkumpulanperkumpulan baru. Jumlah publikasi mengenai metode dan prinsip-prinsip taksonomi meningkat secara eksponensial. Meningkatnya kesadaran masyarakat dunia mengenai isu-isu lingkungan, khususnya konservasi keanekaragaman hayati memberikan iklim kondusif untuk perkembangan dan pemanfaatan taksonomi sebagai cabang biologi.

Taksonomi adalah disiplin biologi tertua tetapi masih banyak hal yang
menjadi tugas taksonomi belum terselesaikan. Meskipun sebagian besar hewan daratan dan lautan dari zona temperate sudah diidentifikasi dengan baik, hewan dari daerah tropik masih banyak yang belum dikoleksi dan dideskripsikan.

Sebagai gambaran, dari perkiraan 30 juta spesies serangga di daerah tropik,
hanya sekitar satu juta spesies yang sudah diidentifiksi. Penemuan spesies bukan hanya satu-satunya tugas taksonomi yang belum selesai. Kelas-kelas baru bahkan filum baru dari hewan terus ditemukan.

E. RANGKUMAN

Untuk mempermudah dalam mempelajari hewan dengan keanekaragaman yang begitu besar maka dilakukan klasifikasi. Dari klasifikasi timbullah kelompok-kelompok hewan yang secara umum disebut takson. Taksonomi adalah teori dan praktek klasifikasi organisme, sedangkan sistematika adalah ilmu tentang keanekaragaman organisme.

Taksonomi berkembang sejak masa Aristoteles, dikembangkan lebih sistematis oleh Carolus Linnaeus, kemudian mendapat pengaruh besar dari teori evolusi Darwin, lalu muncul sistematika populasi dan taksonomi numerik. Dua aktivitas penting yang ada dalam sistematika adalah klasifikasi dan identifikasi.

Dalam klasifikasi, kita berusaha mengadakan penyusunan dan pengelompokan populasi pada semua arah dengan prosedur induktif, sedangkan dengan identifikasi individu-individu ditempatkan ke dalam takson-takson yang telah ditetapkan lebih dahulu dengan prosedur deduktif. Taksonomi terus berkembang, aktivitas ilmuwan dalam bidang ini terus meningkat. Tugas taksonomi di masa depan masih banyak, spesies dan taksa yang lebih tinggi akan terus ditemukan.

Loading...
Gravatar Image
Hanya seorang pelajar biasa yang ingin berbagi ilmu biologi kepada masyarakat via Pintar Biologi