Categories: Taksonomi

Aktivitas Penelitian Taksonomi Tumbuhan

Loading...

A. FLORA

Aktivitas penelitian taksonomi tumbuhan yang tertua adalah penulisan flora. Flora merupakan suatu daftar inventarisasi semua jenis tumbuhan yang terdapat di suatu wilayah tertentu, dapat berupa wilayah yang luas ataupun sempit. Biasanya flora ini merupakan hasil suatu eksplorasi.

Kegiatan utama dari eksplorasi berupa penjelajahan wilayah-wilayah untuk mengumpulkan contoh herbarium selengkap-lengkapnya. Semua hasil yang diperoleh diidentifikasi atau diberi nama, dibuat pertelaan teknisnya dan dibuat sensus atau daftar selengkapnya. Di Indonesia kegiatan eksplorasi pada masa lalu dilakukan oleh para ahli dari negara Belanda dan negara asing lainnya seperti dari Inggris, Jerman, dan Swedia.

Hasil yang diperoleh di determinasi dan diberi nama, dibuat pertelaannya dan diadakan sensus seperlunya. Hasil eksplorasi mereka memberikan gambaran secara jelas pada tumbuhan yang sudah dikenal yang selanjutnya ditulis dalam beberapa buku Flora. Di Jawa dikenal dengan terbitnya buku Flora of Java yang ditulis secara cermat dan lengkap oleh Backer dan Bakhuizen van den Brink. Selanjutnya aktivitas penelitian taksonomi tidak lagi berupa penulisan flora atau berupa eksplorasi atau inventarisasi tumbuhan.

Penelitian sistematika tumbuhan Phanerogam di Jawa tidak lagi didasarkan pada contoh herbarium yang dikumpulkan, namun sudah sampai pada tahapan penelitian biosistematika. Berbeda halnya dengan penelitian yang sama di luar pulau Jawa, masih banyak wilayah yang belum terjamah atau belum lengkap eksplorasinya. Tulisan tentang flora masih terbatas pada takson tertentu belum mencapai suatu wilayah yang lebih luas, misalnya data flora di Sumatra belum tertulis secara keseluruhan, yang sudah tertulis adalah suku Euphorbiaceae, Orchidaceae, dan marga Nephentes. Masih diperlukan upaya yang cukup banyak untuk melengkapi data flora secara keseluruhan.

Pada saat ini kegiatan eksplorasi tentang Pandanaceae dan Annonaceae sedang dirintis untuk melengkapinya. Demikian juga pulau-pulau lain selain pulau Jawa, keadaannya hampir sama.

Terkadang penulisan flora memerlukan waktu cukup panjang, hampir sepanjang hidup penulisnya, terutama di masa lalu. Namun sekarang lebih banyak ditulis oleh beberapa penulis, suatu kolaborasi beberapa orang dengan keahlian masing-masing. Hanya saja masih banyak juga dijumpai kekurangannya, karena setiap penulis mempunyai gaya penulisan dan mungkin format penulisannyapun berbeda-beda sehingga editornya tidak mudah untuk menyelaraskannya.

Untuk wilayah yang data floranya belum banyak ditulis orang, maka biasanya disusun suatu sensus jenis atau check list dan umumnya hanya memuat nama semua jenis beserta keterangan penyebarannya, tanpa kunci determinasi ataupun pertelaan jenis.

Atlas, gambar-gambar atau informasi penyebaran jenis dapat merupakan salah satu cara penyajian yang sangat bermanfaat. Oleh karena data flora umumnya mencakup semua jenis dari suatu wilayah, maka bermacam masalah taksonomi belum terpecahkan. Banyak terjadi penulis tidak mempunyai waktu untuk memecahkan masalah taksonominya. Penulis sering mengatakan bahwa takson yang dibicarakan masih memerlukan studi lebih lanjut.

Suatu Monograf batasan geografi tidak lagi menjadi hal yang penting, uraian lengkap dari suatu takson di sini lebih penting. Sedangkan revisi lebih banyak untuk mengatasi permasalahan taksonomi suatu takson tertentu.

Kecenderungan penelitian sistematika tumbuhan di dunia pada waktu ini terutama di negara-negara maju Eropa, Amerika, dan Jepang telah sampai pada tahap penelitian biosistematika. Hal ini dimungkinkan adanya beberapa faktor, misalnya data floranya telah diketahui dengan baik, karena jumlahnya juga tidak terlalu banyak. Kemudian juga dimungkinkan tersedianya tenaga ahli, peralatan, dan biaya yang memadai.

B. REVISI DAN MONOGRAF

Banyak penelitian taksonomi dilakukan untuk suatu takson tertentu. Penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi tentang anggota dari suatu takson, menginterpretasikan data, memperbaharui sistem klasifikasi dari suatu takson dan melakukan modifikasi atau mengkoreksi tatanama yang sudah ada. Penelitian ini dipublikasikan sebagai suatu revisi atau monograf. Publikasi ini sangat penting untuk menjadi dasar informasi bagi penelitian lainnya.

Suatu monograf umumnya ditulis apabila suatu kelompok tumbuhan mempunyai satu atau lebih ”masalah”. Biasanya dimulai dengan meneliti spesimen yang belum teridentifikasi atau adanya kesalahan identifikasi yang tidak dapat dikelompokkan dalam suatu takson yang telah dikenal.

Masalah taksonomi mungkin berupa pola-pola variasi yang kurang dapat dijelaskan, kurang jelasnya hubungan antara kunci dan pertelaan, adanya data-data baru dari suatu tumbuhan, kesulitan tatanama dan berbagai informasi lain yang menyebabkan tumbuhan yang dimaksud memerlukan penelitian lebih lanjut.

Banyak sekali tumbuhan tropik yang belum diteliti secara komprehensif, belum diteliti secara detil, atau baru saja ditemukan. Besarnya kelompok taksonomi yang dipelajari bervariasi, mulai dari suatu marga sampai tingkatan suku atau bahkan takson yang lebih besar.

Terkadang yang dipelajari mencakup wilayah regional atau geografi tertentu. Mungkin berupa suatu takson seksi atau anak-marga atau bahkan suatu kelompok dari marga-marga yang mempunyai hubungan kekerabatan dekat.

Ahli taksonomi yang meneliti suatu kelompok taksonomi tertentu akan menjadi ahli tumbuhan yang ditelitinya. Kadang-kadang tidak ada batasan yang jelas antara revisi dan monograf. Suatu monograf biasanya lebih komprehensif.

C. TATANAMA DAN PENELUSURAN PUSTAKA

Langkah awal penelitian monografi adalah melalui penelusuran pustaka yang pernah diterbitkan dari takson yang diteliti. Tidak hanya pustaka mutakhir, tetapi juga semua publikasi yang pernah ada termasuk publikasi untuk yang pertama kalinya. Terutama mencakup penelusuran nama dan pertelaan dari takson yang dipelajari serta pustaka yang ada hubungannya dengan takson tersebut. Tidak hanya nama yang sekarang ini dipakai tetapi juga nama sinonimnya. Di bawah ini disajikan beberapa sumber informasi untuk penelusuran.

  • Index Kewensis Plantarum Phanerogamarum. 2 volume, Oxford, 1893-95 dengan 16 suplemen, 1900-1981. Berupa suatu index berdasarkan abjad marga dan jenis tumbuhan angiospermae dan gymnospermae yang dipublikasikan di manapun mulai Tahun 1753. Tidak memuat takson infraspesifik. Memuat masing-masing nama, termasuk singkatan pustaka dan tempat publikasi.
  • Index Filicum. Copenhagen, 1906, dengan suplemen sampai Tahun
  • Suatu index nama-nama tumbuhan paku (pteridophyta), sebanding dengan Index Kewensis.
  • Gray Herbarium Card Index. Cambridge, Massachusetts, diperbaharui terus menerus. Hanya memuat tumbuhan di belahan bumi barat. Memuat daftar marga, jenis, dan takson infraspesifik dengan tempat dan tanggal publikasi. Akhir-akhir ini kartu-kartunya dicetak dalam bentuk buku.
  • Genera Siphonogamarum. Berlin, 1900-1907. Memuat suku dan marga tumbuhan disusun menurut sistem klasifikasi Engler dan Prantl.
  • Index nominum Genericorum. 3 volume. The Hague, 1979. Suatu index moderen memuat nama marga, memberikan informasi penting tempat dan tanggal publikasi termasuk tentang spesimen tipe dari jenis.
  • Index Londonensis to the Illustrations of Flowering Plants, Ferns, and Ferns Allies. Oxford. 1921-1931, dengan satu volume suplemen pada Tahun 1941. Suatu index ilustrasi awal tumbuhan berpembuluh, terutama sangat penting untuk nama tumbuhan hortikultur.
  • A dictionary of Flowering Plants and Ferns, ed. 8. J.C. Willis: direvisi oleh: H.K. Airy Shaw. Cambridge, England, 1973. Daftar semua marga dan suku sejak 1753. Juga dimuat nama sinonim. Tidak memuat tanggal dan tempat publikasi.
  • Taxonomic Literature. F.A. Stafleu. Utrecht, The Netherlands. 1967. petunjuk publikasi botani disusun menurut abjad penulis. Memberikan informasi tentang ahli botani, kebangsaannya, daftar publikasi utamanya, herbarium tempatnya bekerja dan lokasi tipe spesimen.
  • Taxonomic Literature. 2nd Ed. F.A. Stafleu. 7 volume. Edisi ini diperluas dengan lebih banyak ahli botani dan tambahan pustaka. Buku yang sangat penting untuk menelusuri pustaka-pustaka lama. Beberapa informasi ini sudah dapat ditelusuri melalui internet, misalnya Index Kewensis.

Selain masalah-masalah tatanama dan spesimen tipe, terkadang diperlukan informasi tentang biologi dan manfaat atau nilai ekonominya. Informasi ini kemungkinan tersebar di perpustakaan. Diperlukan suatu cara untuk dapat menemukan pustaka yang diperlukan. Sekarang ini telah banyak perpustakaan yang melakukan komputerisasi koleksinya, sehingga sangat memudahkan cara penelusurannya. Beberapa pustaka mungkin berupa bukubuku yang sudah sering dikenal atau mungkin dimuat di jurnal ternama, namun ada pula berupa buku-buku yang kurang dikenal.

Mendatangi perpustakaan yang lengkap koleksinya masih diperlukan. Penelusuran pustaka ini meskipun memakan waktu dan melelahkan, namun sangat penting untuk mendapatkan sejarah tatanama dari takson yang dipelajari. Pustaka yang dianggap penting mungkin dipublikasikan dalam berbagai bahasa.

Pustaka awal banyak ditulis dalam bahasa Latin. Pustaka dalam bahasa asing tidak dapat dihindari, meskipun penelitinya tidak menguasai bahasa tersebut. Selain pustaka tentang tatanama, informasi lain mungkin juga diperlukan misalnya informasi tentang struktur, biologi dan distribusi geografinya. Perlu dihindari duplikasi penelitian takson yang sama atau takson yang telah diteliti. Mengikuti symposium, konferensi atau seminar-seminar perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh takson-takson telah dikerjakan, juga untuk mengenal para ahli botani lainnya dan kemungkinannya untuk bekerja-sama.

D. PENELITIAN HERBARIUM

Langkah awal untuk penelitian monografi adalah dengan melakukan survei spesimen dari takson yang diteliti. Spesimen herbarium kering merupakan sumber data dasar dan dapat memberikan berbagai macam informasi. Spesimen herbarium memberikan catatan permanen tentang morfologi suatu tumbuhan. Dapat memberikan informasi variasi morfologi, waktu pembungaan dan berbuah, ekologi, dan wilayah geografinya.

Peneliti taksonomi yang memulai suatu penelitian monografi, spesimen herbarium memberikan data-data yang sangat berharga dalam merencanakan langkah-langkah selanjutnya. Variasi-variasi yang ada pada spesimen herbarium dapat memberikan interpretasi taksonomi untuk takson yang diteliti dan membantu untuk fokus penelitiannya. Spesimen yang belum teridentifikasi atau yang salah identifikasi dapat menjadi masalah. Survei spesimen herbarium ini dapat dilakukan di tempat kerjanya atau mengunjungi herbarium lainnya.

Penelitian awal spesimen herbarium dan penelusuran pustaka akan sangat membantu untuk merencanakan penelitian lapang. Dari data yang ada di spesimen dapat direncanakan kapan dan di mana keberadaan spesimen yang dipelajari, di mana saja pernah dikoleksi apakah dikoleksi dalam bentuk fertil atau steril. Beberapa takson mungkin sangat umum dan mudah didapatkan, sedangkan beberapa yang lain mungkin mempunyai persebaran yang terbatas, dan tanpa berdasar dari data-data awal ini mungkin sulit untuk dapat mengkoleksi kembali.

Penelitian di herbarium lain terutama herbarium terkemuka yang menyimpan spesimen yang diteliti harus dilaksanakan, tidak dapat dihindarkan. Apabila tidak dapat meneliti secara langsung di herbarium lain, dapat juga dilakukan melalui cara peminjaman spesimen. Biasanya suatu herbarium memperbolehkan peminjaman spesimen untuk jangka waktu tertentu yaitu 6 bulan atau satu tahun. Spesimen yang dipinjam harus dijaga dengan baik dan dihindari hal-hal yang dapat merusak spesimennya.

Pada waktu mengembalikan spesimen, diharapkan penelitinya telah menempelkan label kecil yang berisi nama yang betul dari spesimen tersebut, nama yang mengidentifikasi dan tanggal identifikasi. Herbarium yang meminjamkan mendapatkan keuntungan dengan telah diidentifikasinya spesimen atau dibetulkannya nama spesimennya. Ada juga herbarium yang tidak memperkenankan spesimennya dipinjam, namun dapat mengirimkan foto atau dapat dilakukan penelusuran dengan komputer melalui website herbarium yang bersangkutan.

Spesimen yang diteliti akan menjadi dasar untuk pembuatan kunci, pertelaan taksonnya dan pembuatan peta distribusi untuk penulisan manuskripnya. Spesimen-spesimen ini akan menjadi sumber data penting yang apabila diorganisasi dengan baik akan sangat bermanfaat untuk peneliti lainnya.

Loading...

Sumber informasi lainnya untuk meminjam atau meneliti spesimen herbarium adalah Index Herbariorum. Index herbariorum ini berisikan informasi semua herbarium di dunia, dengan keterangan dari masing-masing herbarium mengenai jumlah spesimen dan tipe spesimen koleksinya.

Disebutkan juga nama direkturnya, jumlah staf profesionalnya dan spesialisasinya, dan koleksi penting yang mempunyai nilai sejarah. Untuk masing-masing herbarium mempunyai nama singkatan. Index disusun berdasar abjad kota di mana herbarium tersebut berada.

Untuk Indonesia, Tahun 2006 telah terbit Index Herbariorum Indonesianum yang berisikan daftar herbarium di Indonesia yang sangat bermanfaat untuk mereka yang akan meneliti, informasinya cukup lengkap, sangat penting untuk memutuskan herbarium mana yang akan dikunjungi. Di dalam indeks tersebut dijelaskan petunjuk pemakaiannya antara lain: kota tempat herbarium berada, nama dan kode singkatan nama herbarium, alamat, status kelembagaan, tahun didirikan, cakupan geografi, koleksi penting, sifat koleksi, jumlah spesimen, spesialisasi penelitian, asosiasi dengan kebun raya, keluaran publikasi, pinjam-meminjam spesimen, tukar-menukar spesimen, kepala lembaga, kurator, dan staf. Indeks disusun berdasarkan abjad kota tempat herbarium berada.

E. PENELITIAN LAPANG

Penelitian lapang sangat penting untuk dilaksanakan apabila kita melakukan penelitian monografi. Banyak sekali informasi-informasi yang didapatkan di lapang, di habitat aslinya yang tidak lagi terlihat setelah menjadi spesimen herbarium.

Penelitian lapang juga memungkinkan mendapatkan spesimen segar untuk diteliti, atau dipakai untuk suatu percobaan. Biji atau tumbuhan hidup dimungkinkan untuk ditumbuhkan selanjutnya diuji variasinya, percobaan hibrid, dan sebagainya. Koleksi segar dapat diwetkan dengan bahan kimia untuk kemudian dibuat preparat anatomi atau mungkin juga diekstraksi bahan kimia tertentu misalnya alkaloid, kandungan minyak atsiri. Juga dimungkinkan diambil contoh bagian tumbuhan untuk analisa DNA.

Kolektor di lapang dapat membuat koleksi yang cukup representatif secara statistik dan akan mendapatkan variasi yang cukup. Hal ini mungkin tidak ditemukan pada spesimen yang disimpan di herbarium. Untuk spesimen yang jarang didapat di lapang, dapat diteliti apakah memang betul-betul jarang atau hanya karena belum dikoleksi dengan baik.

Penelitian lapang seperti ini kemungkinan hasilnya sangat bergantung pada alokasi waktu yang disediakan, apakah waktunya cukup atau sedikit. Kadang di lapang kolektor frustasi karena tidak kunjung mendapatkan tumbuhan yang dicari, karena sedikitnya informasi dari tumbuhan tersebut.

Mungkin tumbuhannya tidak lagi ditemukan karena hutan yang rusak, sudah berubah menjadi wilayah permukiman, pertanian, atau perkebunan. Di samping perlunya perencanaan yang baik untuk ke lapangan, pertimbangan waktu sampai di lapang juga perlu diperhatikan apakah sampainya di lapang sudah di luar musim berbunga atau berbuah, terlalu awal atau terlambat.

F. PENELITIAN DENGAN PERCOBAAN

Apabila peneliti telah menentukan masalah taksonomi yang harus dipecahkan maka harus dilakukan suatu percobaan. Mungkin akan dilakukan percobaan hibrid dari beberapa takson, mekanisme polinasi, tes breeding, dan lain-lain yang memerlukan spesimen hidup. Hal ini dapat dilakukan di rumah kaca, atau di lapang. Demikian pula sekuen DNA dapat dilakukan di laboratorium. Beberapa penelitian lain memerlukan spesimen kering yang telah diawetkan untuk kemudian dibuat preparat anatomi, penelitian kromosom, atau analisa kimia. Pengamatan lebih detil untuk karakter mikro dapat dilakukan dengan mikroskop cahaya atau mikroskop elektron.

G. PERSIAPAN PUBLIKASI SUATU REVISI ATAU MONOGRAF

Setelah beberapa waktu akan terkumpul data-data yang berkaitan dengan masalah taksonomi seperti yang telah terindikasi pada awal penelitian. Kadang-kadang muncul masalah taksonomi yang sebelumnya tidak diperkirakan, sehingga memerlukan lagi pergi ke lapang atau mengulang percobaan yang telah dikerjakan. Akhirnya determinasi batasan taksonomi dari takson yang dipelajari dapat dilakukan, klasifikasi, dan juga penyesuaian tatanama. Mungkin tidak semua masalah dapat terpecahkan, sehingga dibuat kesimpulan sementara. Akhir dari pekerjaan akan berupa monograf atau revisi.

Format penulisan biasanya pendahuluan, sejarah penelitian dari takson yang diteliti, masalah taksonomi yang harus dipecahkan. Apabila berupa suatu percobaan, metodologinya perlu dijelaskan dan diberikan pembahasan dari hasil yang diperoleh.

Untuk treatment (perlakuan) taksonomi, nama marga dan sinonimnya dilengkapi dengan pustaka, tempat, dan tanggal publikasinya. Dibuat pertelaan marga sesuai dengan standar pertelaan botani diikuti dengan kunci menuju jenis. Masing-masing jenis berikut infraspesifik taksonnya disajikan dengan nama yang betul, data publikasi, informasi tentang spesimen tipe, daftar sinonim dan publikasi berikut tanggal dan spesimen tipenya.

Standar pertelaan botani untuk masing-masing takson perlu dibuat, berikut keterangan geografinya, ekologi dan kalau ada keterangan masa perbungaannya. Jika ada tambahan informasi lainnya misalnya manfaat atau nilai ekonominya. Daftar semua spesimen yang diperiksa juga dimuat. Potret dari takson yang diteliti atau gambar botani akan memberikan gambaran yang baik bagi takson yang diteliti.

Apabila ada takson yang tidak jelas kedudukannya atau masih diragukan juga perlu disebutkan, barangkali peneliti lain akan dapat memecahkan masalahnya. Terakhir adalah sitasi semua pustaka yang disebutkan dalam tulisan yang dibuat

H. AKTIVITAS PENELITIAN BIOSISTEMATIKA

Biosistematika pada awalnya sering disebut sebagai taksonomi percobaan yang merupakan studi taksonomi dengan melibatkan pengamatan suatu populasi bukan individual, dan proses evolusi yang terjadi dalam populasi tersebut. Bidang ini banyak menitikberatkan pada aspek genetik, sitologi, ekologi taksonomi, dan harus melibatkan studi di lapang dan kebun percobaan.

Biosistematika dipertimbangkan sebagai studi variasi genotipe dan fenotipe dari spesies dalam hubungan dengan lingkungan tempat terjadinya. Sekarang istilah biosistematika sudah diperluas oleh para taksonomis untuk mencakup kegiatan taksonomi yang tidak hanya menggunakan spesimen herbarium tetapi juga menggunakan teknik yang lebih baru seperti analisa DNA dan RNA.

Biosistematika berfungsi untuk menyediakan informasi data secara luas dalam mendukung banyak bidang penelitian dan program terapan biologi lain yang bermanfaat (Gambar 1.1). Melalui ilmu ini bentuk kehidupan ditemukan, diidentifikasi, digambarkan, diberi nama, dikelompokkan, dikatalogkan, dan dicatat keanekaragamannya, sejarah kehidupannya, kebiasaannya, perannya dalam ekosistem, serta sebarannya dalam ruang dan waktu.

Berikut ini adalah tiga contoh aktivitas penelitian biosistematika yang menunjukkan pentingnya pengetahuan bidang ini:

  1. Tapak dara, Catharantus roseus L. (Apocynaceae), berisi bahan kimia yang digunakan untuk mengobati Leukimia, kanker darah. Banyak tumbuhan dan hewan yang memiliki nilai farmasi yang masih tersembunyi di hutan, laut, dan habitat lain yang menanti untuk ditemukan.
  2. Burung Dodo, Raphus cucullatus (Raphidae) punah Tahun 1680. Kepunahannya merupakan konsekuensi dari keberadaan spesies lain, yaitu pohon dodo. Pada kenyataannya, untuk berkecambah biji tumbuhan ini harus dipecah oleh paruh burung, dan dicernanya. Manusia menyebabkan kepunahan karena mengabaikan dan kurangnya pengetahuan tentang burung dodo.
  3. Kupu-kupu, Ornithoptera paradisea Staudinger, dan banyak kupu-kupu lain yang punah karena habitatnya di rusak oleh manusia dan sebab lain yaitu dikoleksi secara besar-besaran.

Dari ketiga contoh penelitian tersebut disimpulkan bahwa:

  1. Burung dodo tidak akan punah jika manusia memiliki pengetahuan tentang biosistematika.
  2. Tapak dara sekarang menjadi sangat berharga.
  3. Kupu-kupu, Ornithoptera paradisea, sekarang dilindungi.

Pada saat ini, pengetahuan tentang kehidupan di bumi sedikit diketahui, hanya sekitar 5% dari sumber daya biologi dunia, atau sekitar 1.5 juta dari sekitar 30 juta spesies, yang sudah diketahui. Manusia terus mengganggu sumber daya biologi dengan kecepatan tinggi sampai sekitar ½ spesies terancam akan punah. Biosistematika sangat dibutuhkan untuk masa sekarang dan yang akan datang agar terus menemukan makhluk hidup baru.

Pengetahuan Biosistematika dari organisme hidup adalah penting dalam mendisain program untuk mengawetkan integritas dan memelihara biosfer yang akan bermanfaat bagi manusia itu sendiri. Adapun program yang perlu didisain meliputi:

  1. Pemanfaatan sumber daya secara komprehensif, manajemen, konservasi, perlindungan biodiversitas biologi dan sumber daya biologi.
  2. Mengawetkan ekosistem bumi dan lingkungan.
  3. Pengembangan sosial manusia dengan cara memelihara lingkungan untuk menjaga keseimbangan alam.
  4. Penemuan dan identifikasi sumber makanan baru, sumber daya genetik, indikator biologi lingkungan, agen kontrol biologi, dan organisme dengan manfaat obat dan manfaat lain.

Secara tradisional, biosistematika menerapkan metode sekitar perbandingan morfologi untuk menganalisis batasan dan kekerabatan takson. Kebanyakan penelitian mencakup selang dari biologi populasi ke tingkat taksonomi genus dan famili.

Di samping percobaan dengan tumbuhan hidup untuk menentukan hubungan persilangan, stabilitas karakter atau plastisitas, dan genetika dari perbedaan karakter, juga pada sitologi untuk penelitian ploidi dan hibridisasi, kimia dari senyawa sekunder, dan sistem marker molekuler dari isozim sampai pembandingan sekuen genom. Pada masa kini, banyak kekerabatan spesies diidentifikasi dan ditentukan dengan analisa DNA dan RNA sebagai tambahan ke pendekatan morfologi dan biokimia.

RANGKUMAN

Aktivitas penelitian taksonomi tumbuhan yang tertua adalah penulisan flora. Flora merupakan suatu daftar inventarisasi semua jenis tumbuhan yang terdapat di suatu wilayah tertentu, dapat berupa wilayah yang luas ataupun sempit. Biasanya flora ini merupakan hasil suatu eksplorasi.

Kegiatan utama eksplorasi berupa penjelajahan berbagai ragam wilayah untuk mengumpulkan contoh herbarium selengkaplengkapnya. Seluruh hasil yang diperoleh diidentifikasi atau diberi nama, dibuat pertelaan teknisnya dan dibuat sensus atau daftar sepenuhnya.

Di Indonesia flora yang telah ditulis secara lengkap hanya flora di wilayah pulau Jawa sedangkan pulau-pulau lainnya masih terbatas pada takson-takson baik itu tingkatan marga atau suku tertentu dan belum bersifat menyeluruh. Penelitian yang dilakukan untuk suatu takson tertentu dimaksudkan untuk mendapatkan informasi tentang anggota dari suatu takson, menginterpretasikan data, memperbaharui suatu klasifikasi dari suatu takson dan melakukan modifikasi atau mengoreksi tatanama yang sudah ada.

Penelitian ini dipublikasikan sebagai suatu revisi atau monograf. Penelitian monografi ataupun revisi diawali dengan melakukan survei spesimen dari takson yang diteliti biasanya memakai spesimen herbarium. Spesimen herbarium ini merupakan sumber data yang sangat berharga, memberikan catatan permanen tentang tumbuhan tersebut.

Penelitian lapang sangat penting untuk dilaksanakan apabila kita melakukan penelitian monografi. Banyak sekali informasi-informasi yang didapatkan di habitat aslinya, yang tidak lagi terlihat setelah menjadi spesimen herbarium. Penelitian lapang juga memungkinkan mendapatkan spesimen segar untuk diteliti, atau dipakai untuk suatu percobaan.

Kolektor di lapang dapat membuat suatu koleksi yang cukup representatif. Apabila peneliti telah menentukan masalah taksonomi yang harus dipecahkan maka harus dilakukan suatu percobaan. Aktivitas kegiatan Biosistematika meliputi penyediaan informasi data secara luas untuk mendukung banyak bidang penelitian dan program terapan biologi yang bermanfaat.

Adapun kegiatannya antara lain: menemukan bentuk kehidupan baru, mengidentifikasi, menggambarkan, memberi nama, mengelompokkan, mengatalogkan, dan mencatat keanekaragaman, sejarah kehidupan, kebiasaan, perannya dalam ekosistem, sebarannya dalam ruang dan waktu. Pendekatan yang digunakan dalam aktivitas biosistematika sangat luas mulai dari analisa morfologi sampai pembandingan sekuen genom melalui analisa DNA dan RNA.

admin

Hanya seorang pelajar biasa yang ingin berbagi ilmu biologi kepada masyarakat via Pintar Biologi

Share
Published by
admin

Recent Posts

Panduan Praktikum Pemanfaatan Limbah Pertanian

A. Pendahuluan Praktikum dalam mata kuliah ini dimaksudkan untuk memberikan pengalaman lapangan kepada Saudara tentang…

6 mins ago

Penyakit Imunodefisiensi Primer dan Sekunder; Perbedaan, Penyebab dan Contohnya

Imunodefisiensi; Penyakit dan Kelainan pada Sistem Imun Tubuh - Materi ini adalah kelanjutan dari materi…

4 hours ago

Autoimun; Penyakit dan Kelainan pada Sistem Imun Tubuh

Autoimun; Penyakit dan Kelainan pada Sistem Imun Tubuh - Penyakit autoimun adalah kelainan tubuh yang…

8 hours ago

Pengertian, Fungsi, Jenis Serta Hubungan Antigen dan Antibodi Pada Sistem Pertahanan Tubuh

Pengertian, Fungsi, Jenis Serta Hubungan Antigen dan Antibodi Pada Sistem Pertahanan Tubuh -  Pada kesempatan…

12 hours ago

Wujudkan Misi Menjadikan Kampus di Indonesia Sebagai Tempat Lahirkan Inovasi Untuk Bangsa

Kampus memiliki peran penting bagi masyarakat. Bukan hanya sebagai wadah menuntut ilmu bagi mahasiswanya, kampus…

16 hours ago

Kekebalan Adaptif; Inilah Penjelasan Lengkapnya

Kekebalan Adaptif; Inilah Penjelasan Lengkapnya - Melanjutkan postingan sebelumnya, Kekebalan Adaptif; Inilah Penjelasan Lengkapnya, sekarang…

20 hours ago

This website uses cookies.