√ Ekosistem: Pengertian, Struktur, Tipe, Homeostatis dan Contohnya

Posted on
Loading...

A. Pengertian dan Definisi Ekosistem

Di dalam ekosistem, organisme yang ada selalu berinteraksi secara timbal balik dengan lingkungannya. Interaksi timbal balik ini membentuk suatu sistem yang kemudian kita kenal sebagai sistem ekologi atau ekosistem. Dengan kata lain ekosistem merupakan suatu satuan fungsional dasar yang menyangkut proses interaksi organisme hidup dengan lingkungannya.

Lingkungan yang dimaksud dapat berupa lingkungan biotik (makhluk hidup) maupun abiotik (non makhluk hidup). Sebagai suatu sistem, di dalam suatu ekosistem selalu dijumpai proses interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya, antara lain dapat berupa adanya aliran energi, rantai makanan, siklus biogeokimiawi, perkembangan, dan pengendalian.

Ekosistem juga dapat didefinisikan sebagai suatu satuan lingkungan yang melibatkan unsur-unsur biotik (jenis-jenis makhluk) dan faktor-faktor fisik (iklim, air, dan tanah) serta kimia (keasaman dan salinitas) yang saling berinteraksi satu sama lainnya.

Gatra yang dapat digunakan sebagai ciri keseutuhan ekosistem adalah energetika (taraf trofi atau makanan, produsen, konsumen, dan redusen), pendauran hara (peran pelaksana taraf trofi), dan produktivitas (hasil keseluruhan sistem). Jika dilihat komponen biotanya, jenis yang dapat hidup dalam ekosistem ditentukan oleh hubungannya dengan jenis lain yang tinggal dalam ekosistem tersebut.

Selain itu keberadaannya ditentukan juga oleh keseluruhan jenis dan faktor-faktor fisik serta kimia yang menyusun ekosistem tersebut. Berbagai konsep ekosistem pada dasarnya sudah mulai dirintis oleh beberapa pakar ekologi. Pada tahun 1877, Karl Mobius (Jerman) menggunakan istilah biocoenosis.

Kemudian pada tahun 1887, S.A.Forbes (Amerika) menggunakan istilah mikrokosmos. Di Rusia pada mulanya lebih banyak digunakan istilah biocoenosis, ataupun geobiocoenosis. Istilah ekosistem mula-mula diperkenalkan oleh seorang pakar ekologi dari Inggris, A.G.Tansley, pada tahun 1935. Pada akhirnya istilah ekosistem lebih banyak digunakan dan dapat diterima secara luas sampai sekarang.

B. Struktur Ekosistem

Bila kita memasuki suatu ekosistem, baik ekosistem daratan maupun perairan, akan dijumpai adanya dua macam organisme hidup yang merupakan komponen biotik ekosistem. Kedua macam komponen biotik tersebut adalah (a) autotrofik dan (b) heterotrofik.

  1. Autotrofik, terdiri atas organisme yang mampu menghasilkan (energi) makanan dari bahan-bahan anorganik dengan proses fotosintesis ataupun kemosintesis. Organisme ini tergolong mampu memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Organisme ini sering disebut produsen.
  2. Heterotrofik, terdiri atas organisme yang menggunakan, mengubah atau memecah bahan organik kompleks yang telah ada yang dihasilkan oleh komponen autotrofik. Organisme ini termasuk golongan konsumen, baik makrokonsumen maupun mikrokonsumen.

Secara struktural ekosistem mempunyai enam komponen sebagai
berikut:

  1. Bahan anorganik yang meliputi C, N, CO2, H2O, dan lain-lain. Bahanbahan ini akan mengalami daur ulang.
  2. Bahan organik yang meliputi karbohidrat, lemak, protein, bahan humus, dan lain-lain. Bahan-bahan organik ini merupakan penghubung antara komponen biotik dan abiotik.
  3. Kondisi iklim yang meliputi faktor-faktor iklim, misalnya angin, curah hujan, dan suhu.
  4. Produsen adalah organisme-organisme autotrof, terutama tumbuhan berhijau daun (berklorofil). Organisme-organisme ini mampu hidup hanya dengan bahan anorganik, karena mampu menghasilkan energi makanan sendiri, misalnya dengan fotosistesis. Selain tumbuhan berklorofil, juga ada bakteri kemosintetik yang mampu menghasilkan energi kimia melalui reaksi kimia. Tetapi peranan bakteri kemosintetik ini tidak begitu besar jika dibandingkan dengan tumbuhan fotosintetik.
  5. Makrokonsumen adalah organisme heterotrof, terutama hewan-hewan seperti kambing, ular, serangga, dan udang. Organisme ini hidupnya tergantung pada organisme lain, dan hidup dengan memakan materi organik.
  6. Mikrokonsumen adalah organisme-organisme heterotrof, saprotrof, dan osmotrof, terutama bakteri dan fungi. Mereka inilah yang memecah materi organik yang berupa sampah dan bangkai, menguraikannya sehingga terurai menjadi unsur-unsurnya (bahan anorganik). Kelompok ini juga disebut sebagai organisme pengurai atau dekomposer.

Komponen-komponen 1, 2, dan 3, merupakan komponen abiotik/
nonbiotik, atau komponen yang tidak hidup, sedangkan komponenkomponen 4, 5, 6, merupakan komponen yang hidup atau komponen biotik.

Secara fungsional ekosistem dapat dipelajari menurut enam proses yang berlangsung di dalamnya, yaitu:

  1. Lintasan atau aliran energi.
  2. Rantai makanan.
  3. Pola keragaman berdasar waktu dan ruang.
  4. Daur ulang (siklus) biogeokimiawi.
  5. Perkembangan dan evolusi.
  6. Pengendalian atau sibernetika.

Konsep ekosistem merupakan konsep yang luas, yang merupakan konsep dasar dalam ekologi. Konsep ini menekankan pada hubungan timbal balik dan saling keterkaitan antara organisme hidup dengan lingkungannya yang tidak hidup.

Setiap ekosistem di dunia ini mempunyai struktur umum yang sama, yaitu adanya enam komponen seperti tersebut di atas, dan adanya interaksi antarkomponen-komponen tersebut. Jadi baik itu ekosistem alami (daratan, perairan) maupun ekosistem buatan (pertanian, perkebunan), semuanya mempunyai kesamaan.

Sering terjadi bahwa proses autotrofik dan heterotrofik, serta organisme yang bertanggung jawab atas berbagai proses tersebut terpisah (secara tidak sempurna), baik menurut ruang maupun waktu. Sebagai contoh dapat disebutkan bahwa di hutan, proses autotrofik, yaitu fotosintesis, lebih banyak terjadi di bagian kanopi; sedangkan proses heterotrofik lebih banyak terjadi di permukaan lantai hutan (hal ini terpisah berdasar ruang).

Proses autotrofik juga terjadi pada waktu siang hari, dan proses heterotrofik dapat terjadi baik di siang hari maupun malam hari (terpisah berdasar waktu). Adanya pemisahan tersebut juga dapat dilihat pada ekosistem perairan.

Pada ekosistem perairan, lapisan permukaan yang dapat ditembus oleh sinar matahari merupakan lapisan autotrofik. Dalam lapisan ini proses autotrofik adalah dominan. Lapisan perairan di bawahnya yang tak tertembus sinar matahari merupakan lapisan heterotrofik. Di dalam lapisan ini berlangsung proses heterotrofik.

Dengan adanya pemisahan berdasarkan ruang dan waktu tersebut, lintasan energi juga dibedakan menjadi dua yaitu:

  1. Lintasan merumput (grazing circuit), meliputi proses yang melalui konsumsi langsung terhadap tumbuhan hidup atau bagian tumbuhan hidup, ataupun organisme hidup yang lain.
  2. Lintasan detritus organik (organic detritus circuit), meliputi akumulasi dan penguraian sampah serta bangkai.

Pada umumnya komponen abiotik merupakan pengendali organisme dalam melaksanakan peranannya di dalam ekosistem. Bahan-bahan anorganik sangat diperlukan oleh produsen untuk hidupnya. Bahan-bahan ini juga merupakan penyusun dari tubuh organisme, demikian juga bahan organik. Bahan organik sangat diperlukan oleh konsumen (makro maupun mikrokonsumen) sebagai sumber makanan. Produsen dengan proses fotosintesis adalah merupakan komponen penghasil energi kimia atau makanan.

Merekalah yang menghasilkan energi makanan yang nantinya juga digunakan oleh konsumen. Kemudian komponen mikrokonsumen atau pengurai bertanggung jawab untuk mengembalikan berbagai unsur kimia ke alam (tanah), sehingga nantinya dapat digunakan oleh produsen dan keberadaan ekosistem akan terjamin. Bilamana peran setiap komponen tersebut tidak dapat berjalan, kelangsungan ekosistem akan terancam.

Demikian pula apabila peran tersebut berjalan pada kecepatan yang tidak semestinya, misalnya tersendat-sendat, keseimbangan di dalam ekosistem akan mudah terganggu.

Jelaslah bagaimana masing-masing komponen tersebut berperan di dalam suatu ekosistem, dan bagaimana keterkaitan komponen yang satu dengan yang lain.

C. Tipe Ekosistem

Dalam mengenal berbagai tipe ekosistem, pada umumnya digunakan ciri komunitas yang paling menonjol. Untuk ekosistem daratan biasanya digunakan komunitas tumbuhan atau vegetasinya, karena wujud vegetasi merupakan pencerminan penampakan luar interaksi antara tumbuhan, hewan, dan lingkungannya.

Pada dasarnya di Indonesia terdapat empat kelompok ekosistem utama, yaitu (1) ekosistem bahari, (2) ekosistem darat alami, (3) ekosistem suksesi, dan (4) ekosistem buatan.

1. Kelompok Ekosistem Bahari

Ekosistem bahari dapat dikelompokkan lagi ke dalam ekosistem yang lebih kecil lagi, yaitu: ekosistem laut dalam, pantai pasir dangkal, terumbu karang, pantai batu, dan pantai lumpur. Dalam setiap ekosistem pada ekosistem bahari ada perbedaan dalam komponen penyusunnya, baik biotik maupun abiotik.

2. Kelompok Ekosistem Darat Alami

Pada ekosistem darat alami di Indonesia terdapat tiga bentuk vegetasi utama, yaitu (1) vegetasi pamah (lowland vegetation), (2) vegetasi pegunungan dan (3) vegetasi monsun.

Vegetasi pamah merupakan bagian terbesar hutan dan mencakup kawasan yang paling luas di Indonesia, terletak pada ketinggian 0-1000 m.

  • Vegetasi pamah terdiri dari vegetasi rawa dan vegetasi darat. Vegetasi rawa terdapat di tempat yang selalu tergenang air dan membentuk urutan yang menerus dari air terbuka sampai hutan campuran. Di Indonesia terdapat beberapa bentuk vegetasi rawa bergantung pada kedalaman, salinitas dan kualitas air, serta kondisi drainase dan banjir. Beberapa contoh vegetasi pamah adalah hutan bakau, hutan rawa air tawar, hutan tepi sungai, hutan rawa gambut, dan komunitas danau.
  • Vegetasi pegunungan sangat beraneka ragam dan sering menunjukkan pemintakatan yang jelas, sesuai dengan pemintakatan flora yang berlaku untuk semua kawasan tropik. Vegetasi pegunungan dapat diklasifikasi menjadi hutan pegunungan, padang rumput, vegetasi terbuka pada lereng berbatu, vegetasi rawa gambut dan danau, serta vegetasi alpin.
  • Vegetasi monsun terdapat di daerah yang beriklim kering musiman
    dengan Q > 33,3 % dan evapotranspirasi melebihi curah hujan yang
    umumnya kurang dari 1500 mm/tahun. Jumlah hari hujan selama empat bulan terkering berturut-turut kurang dari 20. Musim kemarau pendek sampai kemarau panjang terjadi pada pertengahan tahun. Beberapa contoh di antaranya adalah hutan monsun, savana, dan padang rumput.

3. Kelompok Ekosistem Suksesi

Ekosistem suksesi adalah ekosistem yang berkembang setelah terjadi perusakan terhadap ekosistem alami yang terjadi karena peristiwa alami maupun karena kegiatan manusia atau bila ekosistem buatan tidak dirawat lagi dan dibiarkan berkembang sendiri menurut kondisi alam setempat.

Ekosistem ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu (1) ekosistem suksesi primer dan (2) ekosistem suksesi sekunder.

  1. Ekosistem suksesi primer berkembang pada substrat baru seperti permukaan tanah terbuka yang ditinggalkan, tanah longsor atau pemapasan tanah untuk penambangan dan pembuatan jalan, timbunan abu atau lahar yang dimuntahkan letusan gunung berapi, timbunan tanah bekas galian, endapan pasir pantai dan endapan lumpur di tepi danau dan tepi sungai atau muara.
  2. Ekosistem suksesi sekunder berkembang setelah ekosistem alami rusak total tetapi tidak terbentuk substrat baru yang diakibatkan khususnya oleh kegiatan manusia, seperti penebangan hutan habis-habisan dan pembakaran.

Ekosistem ini juga dapat berkembang dari ekosistem buatan yang ditinggalkan yang kemudian berkembang secara alami seperti yang terjadi pada perladangan berpindah atau sistem rotasi yang meninggalkan lahan garapan untuk diberakan setelah dua atau tiga kali panen.

4. Kelompok Ekosistem Buatan

Di samping ekosistem alam ada ekosistem buatan manusia, seperti danau, hutan tanaman, dan agroekosistem (sawah tadah hujan, sawah irigasi, sawah surjan, sawah rawa, sawah pasang surut, kebun pekarangan, kolam, dan lain-lain). Sebagai gambaran dari ekosistem buatan akan diuraikan mengenai ekosistem kolam dan ekosistem padang rumput.

D. Contoh Ekosistem

1. Ekosistem Kolam

Kolam merupakan salah satu contoh ekosistem yang sederhana, sehingga mudah dipelajari dan sangat sesuai untuk diperkenalkan kepada pemula. Meskipun sederhana dan mudah dipelajari, kolam merupakan ekosistem yang sempurna, lengkap dengan ke enam komponen serta proses-prosesnya.

Dalam suatu kolam dapat kita amati komponen-komponen sebagai berikut:

a. Komponen abiotik

Komponen abiotik meliputi materi anorganik dan organik yang terlarut dalam air yaitu CO2, O2, Ca, N, garam-garam fosfat, asam amino, materi humus, dan lain-lain. Sebagian kecil unsur hara yang vital terdapat dalam bentuk terlarut, sehingga dapat segera digunakan oleh organisme. Tetapi sebagian besar unsur tersebut terdapat mengendap di dalam sedimen di dasar kolam.

Laju pembebasan unsur hara dari bentuk padat ke bentuk terlarut, masuknya cahaya ke dalam kolam, fluktuasi suhu, dan kisaran iklim merupakan proses yang penting, yang mengatur kecepatan fungsi atau metabolisme ekosistem kolam.

Loading...

b. Produsen

Produsen di dalam kolam meliputi :
1) Tumbuhan berakar atau mengapung (biasanya hanya pada kolam dangkal atau pada bagian yang dangkal).
2) Fitoplankton (biasanya algae), merupakan produsen utama di perairan. Adanya fitoplankton inilah yang menyebabkan air kolam berwarna kehijauan.

c. Makro konsumen

Makro konsumen terdiri dari beberapa jenis hewan, misalnya larva serangga, crustacea (udang-udangan), dan ikan. Konsumen primer memakan langsung tumbuhan hidup, ada dua macam yaitu zooplankton (memakan fitoplankton) dan bentos (hewan yang hidup di dasar perairan).

Konsumen sekunder, misalnya serangga dan ikan, memakan konsumen primer. Di samping itu ada konsumen yang memakan detritus (sampah). d. Saprotrof atau organisme pengurai (mikro konsumen) Saprotrof terdiri dari bakteri akuatik, flagelata, dan fungi. Mereka terutama terdapat di permukaan sedimen di dasar kolam.

2. Ekosistem Padang Rumput

Kalau kolam merupakan contoh ekosistem perairan, maka padang rumput merupakan suatu contoh ekosistem daratan. Salah satu perbedaan yang mencolok antara ekosistem perairan dengan daratan adalah pada produsen.

Di perairan, produsen utamanya adalah fitoplankton yang berukuran mikroskopik. Produsen di perairan adalah tumbuhan air, yang tubuhnya kecil, lemah tanpa jaringan penguat, sehingga biomassanya kecil. Di daratan dijumpai produsen dengan tubuh yang besar, bahkan berupa pohon yang besar dengan jaringan penguat yang kokoh, sehingga biomassanya besar.

Pada ekosistem padang rumput dijumpai komponen-komponen ekosistem sebagai berikut:

a. Produsen

Pada ekosistem padang rumput dapat dijumpai adanya produsen seperti rumput herba, yang semuanya tumbuhan berakar.

b. Makro konsumen

Makro konsumen yang ada pada ekosistem padang rumput antara lain serangga, labah-labah, cacing, burung, dan mamalia. Konsumen primer (herbivora) dapat berupa serangga dan mamalia. Konsumen sekunder berupa laba-laba, dan ular. Cacing, artropoda tanah, dan siput darat merupakan pemakan sampah atau sisa-sisa organik.

c. Mikro konsumen

Mikro konsumen pada ekosistem padang rumput terutama bakteri dan fungi.

d. Komponen abiotik

Komponen abiotik yang ada pada ekosistem padang rumput, misalnya air, udara, tanah dengan kandungan hara serta materi organik. Dengan membandingkan kedua ekosistem tersebut (kolam dan padang rumput), jelaslah bahwa meskipun penyusun masing-masing komponen ekosistem berbeda tetapi peranan mereka sebagai komponen ekosistem tetap sama.

Tabel 1.1.
Perbandingan Kerapatan (ind./m2) dan Biomassa (gr. berat kering/m2)
Komponen Biotik pada Ekosistem Perairan dan Daratan (Produktivitas
sedang) (Odum, 1971).

  • $ : Untuk perairan, termasuk hewan ukuran sekecil ostracoda. Untuk daratan, termasuk hewan ukuran sekecil nematoda kecil dan Acarina tanah.
  • * : Termasuk burung kecil dan mamalia kecil (rodentia).
  • ** : Termasuk 2-3 ekor sapi per hektar.
  • @ : Biomassa didasarkan perkiraan 1013 = 1 gram berat kering

E. Daerah Aliran Sungai (DAS)

Telah disebutkan sebelumnya bahwa ekologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Hubungan timbal balik tersebut sangat erat, sehingga sebenarnya makhluk hidup dan lingkungannya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Keduanya merupakan suatu kesatuan sistem yang disebut ekosistem. Jadi tidak lain suatu ekosistem adalah sistem ekologi. Suatu sistem terdiri atas komponen-komponen yang bekerjasama dan membentuk satu kesatuan dan setiap sistem mempunyai sifat-sifat yang khas.

Daerah aliran sungai (DAS) dapatlah dianggap sebagai suatu ekosistem dengan batas-batas alam. Suatu DAS dibatasi oleh DAS yang lain oleh punggung-punggung gunung. Batas tersebut itu dapat dengan mudah dilihat.

Semua air pada lereng sebelah pada punggung gunung akan mempengaruhi sungai yang pertama, sedangkan aktivitasnya pada lereng sebelah akan mempengaruhi sungai yang kedua. Kedua DAS tersebut akan dipengaruhi oleh aktivitas manusia yang ada di sekitarnya. Di samping itu ekosistem DAS yang satu akan mempengaruhi DAS yang lain di sekitarnya.

Adanya ekosistem buatan manusia dengan batasan wilayah ekonomi dan wilayah administratif menjadikan ekosistem DAS menjadi terpecah dengan luasan yang lebih sempit. Ekosistem DAS seharusnya dibatasi oleh batas ekologis dan bukan batas wilayah administratif, sehingga pengelolaannya harus secara terpadu.

Misalnya pengelolaan DAS Ciliwung, pengelolaan yang tidak menyeluruh dan terpadu oleh komponen yang terlibat menjadikan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh banjir di bagian hilir. Kerusakan-kerusakan yang terjadi di daerah hulu akan dirasakan dampaknya di daerah hilir.

Sungai, waduk, ataupun danau merupakan suatu ekosistem tersendiri, tetapi metabolismenya (proses-proses yang berlangsung di dalamnya) serta kestabilannya dalam jangka panjang sangat dipengaruhi oleh masukan energi cahaya matahari serta masukan materi dari daerah sekelilingnya.

Daerah sekeliling inilah disebut sebagai Daerah Aliran Sungai (DAS). Laju masukan air maupun materi dari DAS akan menentukan proses metabolisme dalam waduk atau danau, dan bahkan menentukan umur ekosistem tersebut.

Masukan bahan-bahan organik atau limbah dengan laju atau kuantitas yang besar tentunya akan mengganggu stabilitas ekosistem tersebut. Demikian juga masukan materi yang lain misalnya partikel tanah yang akan menyebabkan sedimentasi dengan cepat, yang pada gilirannya pendangkalan yang terjadi.

Konsep ekosistem menempati kedudukan yang sentral dalam ekologi, sebagaimana sistem yang lain, di mana ekosistem terdiri atas komponenkomponen yang saling berinteraksi merupakan suatu kesatuan.

Oleh karena sifat ekosistem yang merupakan satu kesatuan itu, maka setiap unsur alam seperti danau, hutan, atau sebuah bukit maupun unsur buatan manusia misalnya sawah atau kolam dalam DAS termasuk dalam ekosistem DAS.

Hal tersebut mempunyai implikasi bahwa setiap aktivitas kita di daerah itu harus direncanakan dan harus mempertimbangkan unsur-unsur dalam ekosistem itu, karena aktivitas kita mempengaruhi dan dipengaruhi oleh unsur-unsur yang ada dalam ekosistem tersebut.

Pada dasarnya aktivitas manusia banyak mempengaruhi ekosistem DAS, dan pada saat ini mempunyai dampak negatif terhadap ekosistem DAS. Contoh sebuah bendungan yang dibangun dengan tujuan utama untuk mengendalikan banjir dan dipergunakan pula untuk membangkitkan tenaga listrik, mengatur pengairan, pengembangan perikanan, dan pariwisata.

Air sungai yang dibendung tergantung dalam waduk. Ke dalam waduk ini mengalir bersama air sungai bermacam zat pupuk yang tercuci dari sawah dan kebun sayur, pestisida, limbah pabrik, kotoran kota dan desa, dan lumpur.

Masukan materi-materi tersebut menyebabkan pengayaan ekosistem dan materi-materi tersebut diperlukan untuk proses metabolisme. Kejadiankejadian tersebut akan menyebabkan penyuburan waduk. Air waduk yang subur kaya akan hara akan memacu pertumbuhan plankton.

Karena bertambahnya plankton yang menjadi makanan ikan, jumlah ikan akan bertambah sehingga hasil ikan meningkat. Namun lama kelamaan terjadi penyuburan air berlebihan sehingga plankton mengalami pertumbuhan yang eksplosi. Pertumbuhan eksplosi akan berdampak pada kematian massal dari plankton tersebut dan kemudian akan menyebabkan terjadinya pembusukan.

Proses tersebut membutuhkan banyak oksigen dalam air sehingga menyebabkan kematian banyak ikan. Pembusukan juga menyebabkan bau busuk yang merusak pariwisata. Penyuburan perairan yang berlebihan disebut eutrofikasi.

Berdasarkan pada uraian contoh tersebut, untuk dapat mengelola badan-badan air (danau, waduk, sungai, dan lainnya) dengan baik, harus mempertimbangkan daerah aliran sungainya. Tanpa pengelolaan daerah aliran sungai, akan sia-sia usaha dalam mengelola badan air yang bersangkutan.

F. Homeostatis Ekosistem

Setiap ekosistem mampu menjaga dan mengendalikan dirinya sendiri dari gangguan yang berasal dari luar, termasuk komponen-komponen biotik maupun abiotik yang ada di dalamnya. Ekosistem mempunyai kemampuan untuk menangkal berbagai perubahan ataupun gangguan yang dialaminya sehingga terjagalah keseimbangan yang ada di dalamnya. Keseimbangan ekosistem disebut homeostasis ekosistem.

Mekanisme homeostasis ini sangat rumit dan menyangkut banyak faktor serta mekanisme, termasuk di dalamnya adalah mekanisme penyimpanan bahan/materi, pelepasan unsur hara, pertumbuhan populasi, produksi, dan penguraian/dekomposisi.

Meskipun ekosistem mempunyai kemampuan untuk menangkal setiap gangguan dari luar untuk menjaga keseimbangannya, tetapi kemampuan tersebut ada batasnya. Manusia yang sebetulnya merupakan salah satu unsur dalam ekosistem, justru seringkali merupakan pengganggu yang terbesar terhadap kelangsungan hidup ekosistem itu sendiri. Hal ini terjadi ketika manusia memanfaatkan sumber daya alam untuk kesejahteraan mereka.

Sebagai contoh akan diberikan gambaran mengenai perilaku manusia terhadap alam sebagai berikut:

1. Kasus penebangan hutan

Penebangan pohon di hutan oleh manusia seringkali melampaui kemampuan hutan tersebut untuk pulih kembali. Akibatnya hutan menjadi rusak, tidak dapat pulih kembali, dan akan menjadi ekosistem yang lain atau bahkan menjadi gundul sehingga terjadi erosi yang berat, banjir di musim hujan, kekeringan di musim kemarau, hilangnya keanekaragaman hayati, dan lain-lain. Bila hal ini terjadi secara terus-menerus, akan berdampak negatif yang serius dan dikhawatirkan akan menjadi padang pasir.

2. Pembuangan limbah dan penggunaan zat-zat kimia

Akhir-akhir ini sudah nampak kasus yang serius bahwa banyak sungai dan laut yang airnya sudah sangat kotor, kehidupan di dalamnya sudah berubah secara drastis, banyak jenis yang langka dan sudah punah, dan lain-lain. Perairan yang tadinya banyak dijumpai berbagai kehidupan juga sudah banyak berubah menjadi hitam, bau, penuh dengan sampah, dan lain-lain.

Sungai yang semula bersih menjadi tercemar karena di sepanjang aliran
sungai tersebut terdapat banyak pabrik, permukiman, pertanian, dan kegiatan lain yang menghasilkan limbah dan sebagian besar membuang limbah cairnya ke dalam sungai tersebut. Prinsip homeostatis tentu sudah sulit dicapai, karena daya tahan ekosistem perairan juga terbatas. Oleh karena itu perlu dipahami kaidah-kaidah ekosistem dan hal-hal penting yang akan digunakan sebagai dasar pengelolaan suatu ekosistem.

Kerusakan lingkungan merupakan salah satu bentuk gangguan terhadap ekosistem yang sudah melebihi batas kemampuan ekosistem itu sendiri. Berbagai bencana lingkungan sudah terjadi di mana-mana. Berbagai macam industri, mulai dari industri rumah tangga sampai industri besar telah tumbuh dengan pesat baik kuantitas maupun macamnya. Hal ini jelas dapat menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan, misalnya pencemaran air, udara, dan tanah.

Penggunaan berbagai bahan beracun seperti insektisida, herbisida, fungisida, dan pupuk buatan menimbulkan pencemaran air dan tanah yang berdampak negatif terhadap organisme dan makhluk hidup di sekitarnya. Sarana transportasi yang kian meningkat berupa kendaraan bermotor juga menambah kadar pencemaran udara yang menyebabkan kerusakan ekosistem di atmosfer.

Aktivitas manusia yang tidak arif terhadap lingkungan sudah terjadi di hampir semua bagian bumi, sebagai dampaknya akan berbalik pada semua makhluk hidup di permukaan bumi dan mengancam kehidupan dan kesejahteraan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia.

G. Rangkuman

  1. Istilah ekosistem pada mulanya diperkenalkan oleh A.G.Tansley pada tahun 1935. Sebelumnya, telah digunakan istilah lain, yaitu biocoenosis dan mikrokosmos. Ekosistem merupakan satuan fungsional dasar yang menyangkut proses interaksi, interdependensi organisme hidup dengan lingkungan mereka.
  2. Setiap ekosistem memiliki enam komponen, yaitu produsen, makrokonsumen, mikrokonsumen, bahan anorganik, bahan organik, dan kisaran iklim. Perbedaan antarekosistem hanya pada unsur-unsur penyusun masing-masing komponen tersebut. Masing-masing komponen ekosistem mempunyai peranan dan mereka saling terkait dalam melaksanakan proses-proses dalam ekosistem. Proses-proses dalam ekosistem meliputi aliran energi, rantai makanan, keanekaragaman, siklus materi, perkembangan, dan pengendalian.
  3. Daerah Aliran Sungai (DAS) dari suatu badan air, akan menentukan stabilitas dan proses metabolisme yang berlangsung di dalam badan air yang bersangkutan. Pengelolaan badan air harus menyertakan pengelolaan daerah aliran sungainya.
  4. Setiap ekosistem mampu mengendalikan dirinya sendiri, dan mampu menangkal setiap gangguan terhadapnya. Kemampuan ini disebut homeostasis. Tetapi kemampuan ini ada batasnya. Bilamana batas kemampuan tersebut dilampaui, ekosistem akan mengalami gangguan. Pencemaran lingkungan merupakan salah satu bentuk gangguan ekosistem akibat terlampauinya kemampuan homeostasis.
Loading...
Gravatar Image
Hanya seorang pelajar biasa yang ingin berbagi ilmu biologi kepada masyarakat via Pintar Biologi