√ Penjelasan Morfologi Daun Secara Lengkap

Posted on
Loading...

A. Pendahuluan

Daun (Lat: folium) merupakan alat tubuh yang penting bagi tumbuh-tumbuhan karena banyak proses metabolisme yang terjadi di daun misalnya proses fotosintesis menghasilkan bahan yang sangat dibutuhkan oleh tubuh tumbuhan untuk kelangsungan hidupnya. Semua daun mula-mula berupa tonjolan jaringan yang kecil, yaitu primordia pada waktu ujung pucuk tumbuh, primordia daun baru mulai terbentuk menurut pola khas untuk tiap jenis tumbuhan.

Secara morfologi dan anatomi, daun merupakan organ tubuh yang paling bervariasi. Batasan secara menyeluruh dari semua tipe daun yang terlihat pada tumbuhan disebut phyllom (filom). Berdasarkan variasi tersebut, folium dapat digolongkan ke dalam: daun lebar, profil, katafil, hipsofil, kotiledon, dan lain-lain. Daun lebar (daun hijau) berfungsi khusus untuk melakukan fotosintesa, biasanya berbentuk pipih mendatar sehingga mudah memperoleh sinar matahari. Katafil adalah sisik pada tunas atau batang di bawah tanah, berfungsi sebagai pelindung atau tempat menyimpan cadangan makanan.

Profil merupakan daun pertama yang tumbuh paling bawah di cabang lateral, pada monokotil hanya ada satu helai profil, sedang pada dikotil dijumpai dua helai profil. Hypsofil merupakan tipe-tipe brachtea yang bergabung dengan bunga dan berfungsi sebagai pelindung, kadang-kadang hypsofil berwarna cerah dan menyerupai mahkota bunga. Kotiledon merupakan daun pertama pada tumbuhan.

Daun tidak selamanya berbentuk helaian pipih serta melebar dan berfungsi untuk proses fotosintesis, respirasi, dan transpirasi. Daun dapat berubah bentuk maupun fungsinya, antara lain daun berbentuk benangbenang dan fungsinya untuk memanjat, atau berupa sisik berdaging pada umbi lapis, berupa daun tajam pada tanaman kaktus. Daun yang mengalami perubahan bentuk dan fungsinya tadi dinamakan daun metamorfosa (modifikasi daun), misalnya daun pembelit (sulur) pada daun kembang sungsang (Gloria superba) dan pada daun kacang polong (Pisum sativum).

Daun dibedakan menjadi daun tunggal dan daun majemuk. Daun tunggal adalah daun yang hanya mempunyai satu helai daun pada satu tangkai daun, sedang daun majemuk merupakan daun yang jumlahnya lebih dari satu helai daun pada satu tangkai daun. Daun dikatakan sebagai daun lengkap apabila mempunyai bagian-bagian petiolus (tangkai daun), lamina (helaian daun), dan vagina (upih daun), misalnya daun pohon pinang (Areca cathecu), daun bambu (Bambusa sp.), daun pisang (Musa paradisiaca), dan lain-lain.

Apabila daun suatu tumbuhan tidak mempunyai salah satu dari tiga bagian pokok daun seperti di atas, daun yang demikian, dinamakan daun tidak lengkap. Daun yang hanya terdiri atas tangkai daun dan helaian daun saja disebut daun bertangkai, contohnya pada daun nangka (Artocarpus integra), mangga (Mangifera indica), dan lain-lain.

Apabila daun hanya terdiri dari upih dan helaian daun saja disebut daun berupih atau daun berpelepah, dan apabila suatu daun hanya terdiri dari tangkai daun yang bermodifikasi menjadi helaian daun maka hal yang demikian disebut helaian daun semu atau disebut pula dengan filodia, contohnya pada daun Acacia (Acacia auriculiformis).

Bagian-bagian utama dan tambahan pada daun adalah sebagai berikut:

  • Tangkai daun (petiolus): merupakan bagian daun yang mendukung helaiannya dan berfungsi untuk menempatkan helaian daun pada posisi sedemikian rupa sehingga dapat memperoleh cahaya matahari sebanyakbanyaknya. Bentuk dan ukuran tangkai daun berbeda-beda menurut jenis tumbuhannya, biasanya berbentuk silinder dengan sisi atas agak pipih dan menebal pada pangkalnya. Dilihat pada penampang lintangnya ada yang bulat berongga, pipih dan tepinya melebar, bersegi, atau setengah lingkaran.
  • Helaian daun (lamina): merupakan bagian daun yang terpenting dan lekas menarik perhatian sehingga suatu sifat yang sesungguhnya hanya berlaku untuk helaiannya, disebut pula sebagai sifat daunnya. Suatu tumbuhan dapat memperlihatkan bentuk daun yang berlainan pada satu pohon, oleh karena itu, dikatakan memperlihatkan sifat heterofilli. Gejala heterofilli ini dapat terjadi karena umur, modifikasi, atau memang mempunyai daun yang berbeda yang diakibatkan oleh perubahan fungsinya. Sifat-sifat daun yang biasanya diberikan dalam pengenalan suatu jenis tumbuhan adalah bentuk, ukuran, ujung, pangkal, susunan urat-urat daun, tepi, warna, permukaan atas/bawah, tekstur, dan lain-lain.
  • Pelepah/upih daun (vagina): merupakan bagian daun yang melekat atau melingkupi batang, juga mempunyai fungsi sebagai pelindung kuncup yang masih muda (misal pada daun tebu), dan memberi kekuatan pada batang tanaman (misal pada pohon pisang).
  • Daun penumpu (stipula), biasanya berupa dua helai daun yang kecil, terletak dekat pangkal tangkai daun, dan umumnya berguna melindungi kuncup yang masih muda.
  • Lidah-lidah (ligula), yaitu suatu selaput kecil yang umumnya terdapat pada batas antara upih dan helaian daun pada keluarga rumput-rumputan (Graminae). Alat ini berguna mencegah mengalirnya air hujan ke dalam ketiak antara batang dan upih daun, sehingga pembusukan dapat dihindarkan.

B. Bentuk/Bangun Daun

Pada umumnya bentuk daun yang sesungguhnya adalah bentuk dari helaiannya. Pemberian nama bentuk (bangun daun) menggunakan istilah-istilah yang lazim dipelajari untuk menyatakan bentuk suatu benda, misalnya bulat, segitiga, dan lain-lain, atau sering kali kita carikan persamaan bentuknya dengan bentuk benda-benda lain, misalnya tombak, perisai, jantung, dan lain sebagainya.

Bangun daun dapat digolongkan berdasarkan letak bagian yang terlebar dari daun tersebut. Oleh karena itu bangun daun dapat dibedakan menjadi 4 golongan, yaitu

a. Bagian yang terlebar terdapat di bagian tengah-tengah helaian daun, yaitu pada bangun daun bulat (orbicularis), perisai (peltatus), jorong (oval/ ellips), memanjang (oblongus), lanset (lanceolatus). Bentuk-bentuk daun dapat dilihat pada Gambar 1.1

Bentuk-bentuk Daun dengan Bagian yang Terlebar di tengah-tengah

b. Bagian yang terlebar terdapat di bawah tengah-tengah helaian daun, yaitu bangun daun bulat telur (ovatus), segitiga (triangularis), delta (deltoideus), belah ketupat (rhomboideus), jantung (cordatus), ginjal (reniformis), anak panah (sagittatus), tombak (hastatus). Bentuk-bentuk daun dapat dilihat pada Gambar 1.2.

Bentuk-bentuk Daun dengan Bagian yang Terlebar di Bawah
Tengah-tengah dengan Pangkal Tidak Bertoreh

c. Bagian yang terlebar terdapat di atas tengah-tengah helaian daun, yaitu bangun daun bulat telur sungsang (obovatus), jantung sungsang (obcordatus), segitiga terbalik (cuneatus), sudip/solet (spathulatus).
Bentuk-bentuk daun dapat dilihat pada Gambar 1.3.

Bentuk Daun dengan Bagian yang Terlebar di Atas Tengah-tengah

d. Tidak ada bagian yang terlebar, artinya helaian daun dari pangkal ke ujung dikatakan sama lebarnya, yaitu pada bangun daun garis (linearis), pita (ligulatus), pedang (ensiformis), jarum (acerosus). Bentuk-bentuk daun dapat dilihat pada Gambar 1.4.

Bentuk Daun yang dari Pangkal ke Ujung Sama Lebarnya
a. bangun garis d. bangun dabus
b. bangun pita e. bangun jarum
c. bangun pedang

C. Ujung dan Pangkal Daun

Ujung daun dan pangkal daun dapat memperlihatkan bentuk yang beraneka rupa. Bentuk ujung daun yang sering dijumpai pada tumbuhan antara lain :

  1. Runcing (acutus): apabila kedua tepi daun di kanan dan kiri ibu tulang daun sedikit demi sedikit menuju ke atas dan bertemu pada puncak daun dengan membentuk sudut lancip (kurang dari 900). Contoh ujung daun tumbuhan Oleander (Nerium oleander).
  2. Meruncing (acuminatus): mirip dengan ujung daun runcing, hanya pertemuan kedua tepi daunnya jauh lebih tinggi, sehingga ujung daun Nampak sempit panjang dan runcing. Contohnya ujung daun tumbuhan sirsat (Annona muricata)
  3. Tumpul (obtusus): tepi daun yang semula agak jauh dari ibu tulang akan menuju ke suatu titik pertemuan hingga terbentuk sudut yang tumpul (lebih dari 900). Contoh pada ujung daun sawo kecik (Manilkara kauki).
  4. Membulat (rotundus): seperti pada ujung daun tumpul, tetapi tidak terbentuk sudut sama sekali hingga ujung daun merupakan semacam suatu busur. Contoh pada ujung daun tumbuhan tapak kaki kuda (Centella asiatica), ujung daun teratai (Nelumbium nelumbo).
  5. Rompang (truncates): ujung daun tampak seperti garis yang merata, misalnya ujung daun tumbuhan semanggi (Marsilea crenata), ujung daun tumbuhan Anacardium occidentale.
  6. Terbelah (retusus): ujung daun memperlihatkan suatu lekukan yang tidak begitu jelas, misalnya pada ujung daun tumbuhan bayam (Amaranthus hybridus).
  7. Berduri (mucronatus): jika ujung daun tertutup oleh bagian yang runcing dan mengeras dan merupakan suatu duri, misalnya pada ujung daun tumbuhan nenas sebrang (Agave sp)

Bentuk-bentuk ujung daun dapat dilihat pada Gambar 1.5.

Berbagai Bentuk Ujung Daun

D. Pangkal Daun

Seperti halnya pada ujung daun, pangkal daun pun dapat memperlihatkan bentuk yang beraneka rupa, tetapi tepi daunnya ada yang bertemu dan berlekatan satu dan lainnya, ada pula yang bagian tepi daunnya tidak pernah bertemu. Bentuk-bentuk pangkal daun yang sering dijumpai pada beberapa tumbuhan yaitu sebagai berikut:

  1. Runcing (acutus): apabila tepi daun di bagian tersebut tidak pernah bertemu dan terpisah oleh pangkal ibu tulang, misalnya pada bangun daun lanset, belah ketupat, dan lainnya.
  2. Meruncing (acuminatus): dapat dijumpai pada bangun daun bulat telur terbalik.
  3. Tumpul (obtusus): dijumpai pada bangun daun bulat telur,
  4. Membulat (rotundus): dapat dijumpai pada bangun daun bulat, jorong, bulat telur
  5. Rompang (truncatus): dapat dijumpai pada ujung daun dengan bangun daun segitiga,delta, dan tombak
  6. Berlekuk (emarginatus): dapat dijumpai pada ujung daun dengan bangun daun jantung, ginjal, dan anak panah.

Bentuk-bentuk pangkal daun dapat dilihat pada Gambar 1.6.

Loading...
Berbagai Bentuk Pangkal Daun

E. Susunan Tulang Daun dan Tepi Daun

Berdasarkan susunan tulangnya, susunan tulang daun dibedakan menjadi tulang daun menyirip, menjari, melengkung, dan sejajar. Tulang daun berfungsi untuk memberi kekuatan pada daun dan sebagai jalan untuk pengangkutan zat-zat makanan.

Tepi daun dibedakan menjadi tepi daun yang rata dan tepi yang bertoreh. Tepi daun yang bertoreh ada yang torehannya dangkal dan ada yang torehannya dalam. Torehan yang dalam biasanya terdapat diantara tulangtulang daun yang besar. Gambar tipe tepi daun dapat dilihat pada Gambar 1.7.

Berbagai Tipe Tulang Daun dan Tepi Daun

F. Warna Daun

Walaupun telah diketahui bahwa daun umumnya berwarna hijau, tetapi tak jarang pula kita jumpai daun yang warnannya tidak hijau, lagi pula warna hijau dapat memperlihatkan banyak variasi atau nuansa. Sebagai contoh daun dikatakan berwarna antara lain:

  1. Permukaan atas berwarna hijau, sedang permukaan bawah berwarna ungu, misalnya daun tanaman Adam dan Eva (Rhoeo discolor),
  2. Hijau bercampur atau tertutup warna merah, misalnya macam-macam daun tanaman puring (Codiacum variegatum).
  3. Daun berbatik, bercak-bercak putih, misalnya daun Dieffenbachia picta.

Perlu diingat bahwa dalam menyebut warna daun sangat besar pengaruh perseorangan, mengingat mengenai warna tidak ada ukuran yang obyektif, juga warna daun suatu jenis tumbuhan dapat berubah menurut keadaan tempat tumbuhnya dan erat sekali hubungannya dengan persediaan air dan makanan serta penyinaran.

G. Permukaan Daun

Pada umumnya warna daun pada permukaan atas dan bawah jelas berbeda, umumnya permukaan atas tampak lebih hijau, licin, mengkilat, dibanding dengan permukaan bawah yang lebih kasar, berambut dan tampak kusam. Perbedaan ini disebabkan karena warna hijau lebih banyak terdapat pada permukaan atas dibanding permukaan bawah. Melihat perbedaan yang tampak pada kedua permukaan daun tersebut, maka dapat dikatakan permukaan daun yang umum dijumpai, yaitu:

  1. Licin/mengkilat : umumnya dijumpai pada permukaan daun bagian atas, contoh: daun kopi (Coffea robusta), beringin (Ficus benjamina L).
  2. Kasap : dijumpai pada permukaan atas dan bawah, contoh: daun jati (Tectona grandis L).
  3. Berbulu : bila bulu yang dijumpai halus dan jarang-jarang, contoh : daun tembakau (Nicotiana tobaccum G. Don).
  4. Berbulu kasar : bila rambut yang ada kaku dan terasa kasar bila diraba, contoh : daun gadung (Dioscorea hispida Dennst).
  5. Bersisik : dijumpai pada permukaan bawah daun, contoh : daun durian (Durio zibethinnus M).

H. Daun Majemuk

Perbedaan antara daun tunggal dengan daun majemuk yaitu bahwa daun majemuk mempunyai tangkai yang bercabang-cabang dan pada percabangannya inilah daun-daun akan tumbuh, sehingga pada satu tangkai daun terdapat lebih dari satu helai daun. Daun dengan susunan demikian disebut daun majemuk. Pada daun majemuk dapat dibedakan bagian-bagian ibu tangkai daun (petiolus communis), tangkai anak daun (petiololus), dan anak daun (foliolum).

Seperti halnya daun tunggal, pada pangkal ibu tangkai daun dapat pula diketemukan daun penumpu, misal pada daun mawar (Rosa hybrida L), yang berupa dua daun kecil melekat pada kanan kiri pangkal ibu tangkai daun.

Menurut susunan anak daun pada ibu tangkainya, daun majemuk dibedakan menjadi daun majemuk menyirip (pinnatus) dan daun majemuk menjari (palmatus). Daun majemuk menyirip mempunyai anak-anak daun yang tersusun di kanan kiri ibu tangkai daun, sedangkan daun majemuk menjari semua anak daunnya tersusun memencar pada ujung ibu tangkai.

Pada suatu daun majemuk dapat pula terlihat bahwa anak daun tidak langsung duduk pada ibu tangkainya, melainkan pada cabang ibu tangkai tadi.

Dalam hal yang demikian, maka daun majemuk dikatakan daun majemuk ganda (rangkap), dan hanya daun majemuk menyiriplah yang mempunyai sifat demikian, sehingga dikenal daun majemuk ganda dua (bipinnatus), ganda tiga (tripinnatus), dan seterusnya. Gambar tipe-tipe daun majemuk dapat dilihat pada Gambar 1.8.

Berbagai Tipe Daun Majemuk

Keterangan Gambar 1.8 Tipe-tipe daun majemuk dan bagian daun tunggal:
a. Daun duduk, pertulangan sejajar
b. Daun bertangkai, bertulang menyirip
c. Daun bertangkai, bertulang menjari, duduk berhadapan
d. Daun majemuk menyirip gasal
e. Daun majemuk menyirip genap
f. Daun majemuk menyirip ganda
g. Daun majemuk menjari beranak daun tiga ganda
h. Daun majemuk menjari beranak daun lima
i. Daun majemuk menjari beranak daun tiga
j. Daun majemuk menyirip, anak daun tiga

I. Tata Letak Daun pada Batang (Phyllotaxis atau Dispositio Foliorum)

Pola tata letak daun-daun satu sama lainnya pada batang disebut duduk daun (filotaksis). Tata letak daun pada setiap jenis tumbuhan biasanya sama, oleh karena itu dapat digunakan sebagai tanda pengenal suatu tumbuhan.

Berdasarkan jumlah daun yang terdapat pada setiap buku dari batang dibedakan sebagai duduk daun tersebar, berhadapan, dan duduk daun berkarang.

Suatu daun dikatakan tersebar (Folia sparsa) bila pada setiap buku batang hanya terdapat satu daun saja, misal daun kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis). Dikatakan duduk dan berhadapan bila pada setiap buku batang terdapat dua daun yang berhadapan. Apabila pada buku berikutnya kedua daun yang terbentuk membentuk suatu silang dengan dua daun di awahnya, sehingga dikatakan duduk daun berhadapan – bersilang (follia opposita, folia decussata), misal pada tanaman soka (Ixora javanica), mengkudu (Morinda citrifolia).

Dikatakan sebagai duduk daun berkarang (folia verticillata) bila setiap buku batang terdapat lebih dari dua daun, misal oleander (Nerium oleander L). Gambar susunan dan tata letak pada batang dapat dilihat pada Gambar 1.9.

Susunan dan Tata Letak Daun Pada Batang

Tata letak daun tersebar bila kita teliti benar akan memperlihatkan hal-hal yang beraturan. Bila kita pilih satu daun sembarang (sebagai titik tolak) pada batang maka akan terdapat satu daun yang letaknya terdapat pada garis vertikal di atas daun tadi. Antara dua daun tersebut terdapat sepuluh daun yang bila diikuti secara beruntun akan mengikuti garis spiral.

Ternyata bahwa perbandingan antara banyaknya kali garis spiral itu melingkari batang dengan jumlah daun yang dilewati selama sekian kali melingkari batang tadi (daun sebagai titik tolak tidak dihitung) merupakan suatu pecahan yang nilainya tetap untuk satu jenis tumbuhan. Jika untuk mencapai daun yang tegak lurus dengan daun permulaan garis spiral tadi mengelilingi batang sebanyak (a) kali, dan jumlah daun yang dilewati selama itu adalah (b) helai maka perbandingan kedua bilangan tadi merupakan pecahan a/b, dan dinamakan rumus daun atau divergensi.

Garis vertikal antara dua daun yang sejajar sumbu batang disebut ortostik, sedang garis spiral yang menghubungkan daun-daun berturut-berturut dari bawah ke atas disebut spiral genetik. Apabila garis spiral tadi diproyeksikan pada bidang datar, maka pecahan a/b dapat menerjemahkan sudut antara dua daun tersebut yaitu a/b x besarnya lingkaran = a/b x 3600, dan disebut sudut divergensi.

Apabila kita memeriksa berbagai jenis tumbuhan dengan tata letak daun tersebar, akan diperoleh bahwa pecahan a/b terdiri atas deretan pecahan-pecahan yang teratur dan tetap yaitu 1/2, 1/3, 2/5, 3/8, 5/13 dan seterusnya. Jika kita amati dengan seksama angka-angka yang membentuk pecahan-pecahan tadi maka deretan angka tersebut masing-masing dapat merupakan rumus daun suatu jenis tumbuhan yang memperlihatkan sifat-sifat dari tumbuhan tersebut. Deretan rumus-rumus daun yang memperlihatkan sifatsifat/ karakteristik suatu jenis tumbuhan dinamakan suatu deret Fibonacci (ditemukan oleh Fibonacci).

Pada berbagai jenis tumbuhan ruas-ruas batang yang terbentuk amatlah pendek sehingga duduk daun begitu rapat sampai berjejalan sehingga kedudukannya tampak sama tinggi dan sulit menentukan rumus daunnya. Tumbuhan dengan daun demikian disebut roset. Apabila batang amat pendek sehingga semua daun berjejalan di atas permukaan tanah, dikatakan roset akar, misal pada tumbuhan lobak (Raphanus sativus L), sedang apabila daun yang berjejalan terdapat pada ujung batang dinamakan roset batang, misal pada tumbuhan kelapa (Cocos nuifera L).

Pada cabang-cabang yang mendatar atau serong ke atas, daun-daun dengan tata letak tersebar dapat teratur sedemikian rupa sehingga helaian-helaian daun terletak pada semua bidang datar dan membentuk pola seperti karpet, susunan daun yang demikian disebut mosaik daun, misal tata letak daun pada tumbuhan mawar (Rose hybrida L).

J. Modifikasi Struktur dan Bentuk Daun

Daun dapat bermodifikasi menjadi bentuk lain sesuai dengan perubahan fungsi utamanya sebagai alat untuk fotosintesa, sehingga bentuknya berbeda dengan daun biasa. Organ-organ yang merupakan modifikasi daun antara lain:

a. Sisik pada umbi lapis (bulbus)

Sesuai dengan fungsinya sebagai tempat menyimpan cadangan makanan, sisik pada bagian pangkalnya menjadi tebal, lunak dan berdaging, misal pada bawang merah (Allium cepa L).

b. Cabang pembelit (sulur cabang)

Merupakan alat pembelit yang berasal dari cabang, terletak pada ketiak daun dan seringkali masih mendukung daun-daun kecil, misal pada tanaman air mata pengantin (Antigonon leptopus Hook et Am), anggur (Vitis vinifera L).

c. Duri (spina)

Duri yang terbentuk dari modifikasi daun umumnya sukar ditanggalkan, apabila ditanggalkan akan meninggalkan bekas yang dapat menyebabkan tanaman menjadi mati. Duri pada daun akan tampak dari adanya kuncup atau tunas yang keluar dari ketiaknya. Duri yang berasal dari daun disebut sebagai spina phyllogenum, misal pada kaktus (Cactus sp).

Loading...
Gravatar Image
Hanya seorang pelajar biasa yang ingin berbagi ilmu biologi kepada masyarakat via Pintar Biologi