√ Pengertian dan Ruang Lingkup Hidrobiologi

Posted on
Loading...

A. Pengertian Hidrobiologi

Pengertian dan Ruang Lingkup Hidrobiologi | Sebelum lebih dalam mempelajari hidrobiologi, mahasiswa sebaiknya memahami tentang pengertian dan ruang lingkup yang dipelajari dalam hidrobiologi. Hidrobiologi berasal dari kata hydros, bios, dan logos yang berarti air, hidup, dan ilmu. Dengan demikian, hidrobiologi adalah ilmu yang mempelajari semua yang hidup di air.

Pada dasarnya pengetahuan tentang organisme (biota) perairan merupakan dasar dari hidrobiologi, selain pengetahuan tentang air atau perairan sebagai tempat hidupnya. Dengan perkataan lain, hidrobiologi adalah bagian dari ilmu biologi yang khusus mempelajari kehidupan di air. Objek yang dipelajari dalam hidrobiologi adalah hewan, tumbuhan, baik yang mikroskopis maupun yang makroskopis.

Oleh karena itu dikenal istilah hidrozoologi, hidrobotani, dan hidrobakteriologi. Selain itu, juga tidak terbatas pada biota air tawar maupun air asin saja, tetapi pada keduanya, termasuk juga pada biota air payau.

B. Ruang Lingkup Hidrobiologi

Satu hal yang perlu diperhatikan, bahwa tujuan utama dari kajian hidrobiologi bukan sekedar untuk mengumpulkan dan mengidentifikasi biota akuatik tetapi juga untuk mempelajari seluk-beluknya. Dalam mempelajari kehidupan di air, tidak bisa lepas dari pengetahuan tentang air atau perairan sebagai medium tempat hidupnya.

Hal ini karena dalam kehidupannya, biota air memerlukan lingkungan yang sesuai, karena hidupnya sangat dipengaruhi oleh pertukaran bahan-bahan dan energi antara organisme tersebut dengan lingkungannya, atau habitat di mana biota itu berada. Ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara organisme dengan lingkungannya dikenal dengan ekologi. Sebagai ilmu yang mempelajari kehidupan organisme air, maka hidrobiologi merupakan bagian dari ekologi perairan.

Dalam ekologi perairan dikenal tiga bagian besar, yaitu ekologi laut, ekologi air payau (estuari), dan ekologi perairan darat. Pembagian ini didasarkan pada adanya perbedaan antara lautan, perairan darat, dan daerah pertemuan antara keduanya. Dalam Oceanografi dikenal adanya kimia laut, fisika laut, dan biologi laut. Dalam Limnologi dikenal adanya limnokimia, limnofisika, dan limnobiologi. Biologi laut (marine biology) dan limnobiologi (termasuk mikrobiologinya) tidak lain adalah hidrobiologi.

Saat ini telah berkembang pula suatu bagian yang menyangkut budidaya ikan ataupun biota air lainnya sehingga dikenal biologi perikanan. Biologi perikanan adalah ilmu yang mempelajari ikan (dan biota air lainnya) sebagai sumberdaya yang dapat dipanen oleh manusia. Secara umum pengetahuan biologi perikanan yang perlu diketahui adalah seksualitas, tingkat kematangan gonad, fekunditas, ruaya, pemijahan, daur hidup, kebiasaan makan dan cara memakan, persaingan dan pemangsaan, umur, pertumbuhan, pendugaan populasi, natalitas (kelahiran) dan mortalitas (kematian), pemanenan, dan managemen perikanan. Kebiasaan makan (food habits) dan cara memakan (feeding habits) adalah berbeda, kebiasaan makan ialah kualitas dan kuantitas makanan yang dimakan oleh ikan.

Berdasarkan variasi makanannya, maka dikenal ikan euryphagic (eurifagus) yang memakan bermacam-macam makanan, stenophagic (stenofagus) yang memakan sedikit macam makanan, dan monophagic (monofagus) yang memakan hanya satu macam makanan. Cara makan ikan dilakukan dengan menggunakan mata, pembauan, dan persentuhan.

Pertumbuhan ikan diketahui dengan pertambahan ukuran berat dan panjang dalam suatu waktu tertentu. Pertumbuhan populasinya diketahui dengan penambahan jumlahnya. Parameter populasi terdiri atas: kelimpahan, pola distribusi dan struktur umur, pertumbuhan dalam jumlah/biomasa, serta kecepatan natalitas dan mortalitas. Parameter individu terdiri atas: ukuran, morfologi, pertumbuhan dalam panjang atau bobot, natalitas dan mortalitas.

Para ahli gizi menyatakan bahwa ikan sebagai sumber protein yang tinggi karena mengandung asam amino penting yang semuanya diperlukan oleh manusia. Ikan air tawar mengandung protein 15-24%, sedangkan ikan air laut mengandung protein 9-29%. Dari biologi perikanan akhirnya berkembang industri perikanan, yang antara lain mencakup teknologi budidaya, teknologi penangkapan, dan pasca panennya. Zona ekonomi eksklusif (ZEE) diperkirakan seluas 5,8 juta km2 yang terdiri atas: perairan laut territorial seluas 0,3 juta km2, perairan nusantara seluas 2,8 juta km2, dan ZEE Indonesia sebesar 2,7 juta km2.

Pada ZEE memiliki 6.000 spesies ikan yang belum diidentifikasi, sehingga merupakan tantangan bagi ahli biologi dan ahli perikanan Indonesia untuk meneliti agar dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan umat manusia. Tujuan utama pengelolaan sumberdaya hayati perikanan ditinjau dari segi biologi ialah konservasi stok ikan untuk menghindari penangkapan yang berlebihan, namun yang diharapkan adalah hasil tangkap maksimum yang lestari (maximum sustainable yield = MSY).

Para pelaku ekonomi kurang sepaham dengan MSY sebagai tujuan utama dan menyarankan hasil tangkapan maksimum lestari secara ekonomi atau maximum economic yield (MEY) karena MSY tidak mengindahkan biaya dalam penangkapan dan menjurus pada ketidakefisienan secara ekonomi.

Oleh karena itu, kompromi antara MSY dan MEY berupa hasil optimum secara lestari atau optimum sustainable yield (OSY). Sayang OSY tidak dijalankan secara baik.

Budidaya perikanan adalah pengetahuan tentang bagaimana memanipulasi kehidupan biota air dengan lingkungan yang dimodifikasi manusia. Sebagai contoh adalah dengan pembuatan tambak, kolam, akuarium, bak-bak di laboratorium, karamba, jaring apung, dan lain sebagainya, sehingga biota air tersebut dapat hidup, tumbuh dan berkembang biak, bahkan dapat menghasilkan produksi yang berlipat ganda.

Pada saat ini, industri perikanan tidak hanya berupa ikan, tetapi termasuk di dalamnya adalah udang, rumput laut, kepiting, kerang, dan lain sebagainya. Bahkan udang merupakan komoditi ekspor yang paling tinggi nilai ekonominya.

Selain itu, saat ini rumput laut telah dimanfaatkan untuk berbagai macam industri. Potensi yang tidak kalah penting adalah budidaya organisme untuk pakan alami, misalnya budidaya plankton dan bentos untuk keperluan budidaya atau usaha-usaha pembenihan ikan. Dalam usaha penangkapan biota air, pengetahuan tentang organisme tersebut perlu menjadi landasan agar didapatkan hasil tangkapan yang lestari.

Sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dunia, meningkat pula aktivitas manusia untuk memanfaatkan sumber daya perairan baik sumberdaya hayati maupun airnya itu sendiri bagi pemenuhan kebutuhannya.

Kebutuhan air tersebut antara lain untuk kebutuhan domestik rumah tangga, industri dan komersial, pertanian, serta lainnya. Untuk keperluan air minum dilakukan uji organoleptik yang meliputi bau, rasa, dan warna, selain uji kandungan kimia.

Pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 416/MENKES/Per/IX/1990 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air, terdapat 51 parameter air bersih yang dikelompokkan pada 4 kelompok, yaitu:

Loading...

A. FISIK:

  • Bau
  • TDS
  • Kekeruhan
  • Rasa
  • Suhu
  • Warna

B. KIMIA ANORGANIK:

  • Air raksa
  • Aluminium
  • Arsen
  • Barium
  • Besi
  • Fluorida
  • Kadmium
  • Kesadahan CaCO3
  • Klorida
  • Kromium valensi 6
  • Mangan
  • Natrium
  • Nitrat sebagai N
  • Nitrit sebagai N
  • Perak
  • pH
  • Selenium
  • Seng
  • Sianida
  • Sulfat
  • Sulfida sebagai H2S
  • Tembaga
  • Timbal

C. KIMIA ORGANIK:

  • Aldrin dan dieldrin
  • Benzene
  • Benzo (a) pyrene
  • Chlordane
  • Chloroform
  • 2,4 D
  • DDT
  • Deterjen
  • 1,2 Discloroethane
  • 1,1 disclorothene
  • Heptachlor & Hepoxide
  • Hexachloro benzene
  • Gamma-HCH (lindane)
  • Methoxychlor
  • Pentachlorophenol
  • Pestisida total
  • 2,4,6 Urichlorophenol
  • Zat Organik (KMnO4).

C. MIKROBIOLOGIK

  • Koliform tinja
  • Total kolifom

D. RADIOAKTIVITAS

  • Aktivitas alpha (Gross Alpha Activity)
  • Aktivitas beta (Gross Beta Activity)

Ada tiga kelompok mikroorganisme yang dapat dipindahkan melalui air
minum, yaitu: protozoa, virus, dan bakteri, yang dipindahkan melalui jalan
antara faecal dan oral. Organisme pathogen lain, seperti: nematoda dan
cestoda juga dapat dipindahkan lewat air minum. Protozoa yang sering
didapatkan di air minum, berupa kista dan merupakan sumber penyakit
adalah Cryptosporidium, Giardia lamblia, Entamoeba histolitica, dan
Naeleria fowleri
.

Bakteri juga sering didapatkan di air minum dan merupakan sumber penyakit yang menyebabkan penyakit, yaitu Salmonella schttmuelleri dan S. paratyphyi (tipus dan paratipus), Campylobacter jejuni (gastroenteritis dan diare), Shigella sonnei dan S. flexneri (disentri), Vibrio cholera (khorela), Escherichia coli dan Mycobacterium tuberculosis (tuberculosis).

Peraturan pemerintah RI Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air menetapkan dalam klasifikasi mutu air kelas satu, yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan keputusan tersebut. Pada keputusan ini, parameter yang dipersyaratkan adalah Fecal coliform maksimum 100 individu/100mL dan total coliform maksimum 1.000 individu/100mL. Bagi pengolahan air minum secara konvensional maka Fecal coliform ≤ 2.000 individu/100mL dan total coliform 10.000 individu/100mL. Escherchia coli dikenal sebagai indikator pencemaran tinja.

Pemanfaatan sumber daya perairan bagi pemenuhan kesejahteraan manusia diikuti pula oleh meningkatnya buangan atau limbah yang masuk ke badan-badan perairan, hal ini karena perairan dianggap sebagai suatu sarana yang paling mudah dan murah untuk membuang limbah. Perairan yang terkena limbah berdampak terhadap biota yang ada di perairan tersebut.

Pada air tercemar, biota yang tidak tahan mengalami kematian, organisme patogen (yang menyebabkan penyakit) melimpah, sementara biota yang tahan mengakumulasi bahan-bahan yang tidak larut dalam air, misalnya logam berat. Apabila biota tersebut dikonsumsi manusia, maka sangat membahayakan bagi kesehatan, karena terakumulasi dalam jaringan tubuh.

Atas dasar inilah diperlukan perlindungan terhadap lingkungan perairan agar pemanfaatan perairan tidak terganggu. Untuk itu, diperlukan pengetahuan khusus mengenai biologi organisme air bersih dan air untuk industri sebagai dasar pengelolaan perairan. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki sumberdaya perairan laut yang luas. Demikian pula Indonesia juga memiliki sumberdaya perairan darat, yang juga cukup luas, meliputi: danau, waduk dan sungai, serta pertemuan antara perairan laut dan perairan darat (estuaria).

Sumberdaya perairan tersebut sangat mendukung potensi sumberdaya hayati yang dapat dimanfaatkan bagi manusia. Kegiatan yang sudah sejak zaman dahulu dilakukan adalah usaha penangkapan ikan dan kemudian berkembang dengan penangkapan berbagai biota lain, seperti: kepiting, udang, kerang, rumput laut, dan lain-lain. Seiring meningkatnya jumlah penduduk, kegiatan penangkapan ikan berkembang dengan pesat mengakibatkan hasil penangkapan menjadi menurun, karena laju penangkapan yang tidak sebanding dengan laju pertumbuhan ikan. Berbagai kegiatan budidaya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang meningkat.

Berkaitan dengan budidaya ini banyak sumberdaya perairan yang dimanfaatkan secara berlebihan dan pada akhirnya juga menurunkan produksinya, karena perairan tidak mampu mendukung budidaya yang meningkat tersebut. Di lain pihak, penurunan produksi ikan juga diakibatkan menurunnya kualitas air karena buangan limbah dari berbagai kegiatan manusia terutama industri dan pertambangan yang masuk ataupun mempengaruhi sumberdaya perairan.

Banyak daerah aliran sungai yang merupakan daerah tangkapan air di Indonesia dalam keadaan kritis karena banyak lahan kritis akibat penebangan hutan dan perubahan tata guna lahan di bagian hulu sungai. Selain itu, banyak sungai, danau, perairan laut, dan perairan estuari yang kualitas airnya menurun akibat tercemar air limbah. Hal ini terlihat dari kondisi sungai yang keruh dan banjir di saat musim hujan, dan kering di saat musim kemarau.

Dibutuhkan pengkajian untuk perairan yang tercemar maupun perairan yang belum dimanfaatkan potensinya agar dapat dimanfaatkan secara lestari, termasuk untuk melestarikan keanekaragaman organisme yang ada. Kedudukan hidrobiologi, dengan berbagai disiplin ilmu perairan lainnya ditunjukkan dalam Gambar 1.1.

Gambar 1.1.
Kedudukan hidrobiologi dengan ilmu-ilmu perairan lainnya
(Uhlman, 1979).

C. Rangkuman

Hidrobiologi mempelajari semua yang hidup di air. Dengan perkataan lain hidrobiologi adalah bagian dari ilmu biologi yang memperhatikan organisme di perairan, sehingga dikatakan sebagai biologi perairan. Dalam hidrobiologi dipelajari berbagai macam aspek kehidupan organisme di air, termasuk lingkungan tempat hidupnya.

Organisme air yang dimaksudkan dalam hidrobiologi adalah semua makhluk hidup yang hidup di perairan tawar, payau, maupun asin, dari
tingkat yang paling rendah sampai yang paling tinggi.

Sebagai bagian dari komponen perairan maka untuk mempelajari hidrobiologi tidak dapat lepas dari ekologi perairan, yaitu suatu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari kaitan antara organisme dengan lingkungan perairan di mana organisme tersebut hidup. Hidrobiologi juga sangat erat kaitannya dengan oceanografi dan limnologi yang mempelajari biota laut dan biota perairan darat.

Dalam biologi perikanan, berbagai biota air telah dikembangkan untuk dibudidayakan, antara lain: berbagai jenis ikan, udang, kerang, kepiting, rumput laut, plankton, dan bentos. Terdapat berbagai parameter yang harus diperhatikan dalam kaitannya dengan air minum, yaitu: parameter organoleptik, fisik, kimia, radioaktivitas dan mikrobiologi.

Ada tiga kelompok mikroorganisme perairan, yaitu: protozoa, virus, dan bakteri sebagai sumber penyakit yang dapat dipindahkan lewat air minum. Dengan sumber daya perairan yang luas maka Indonesia memiliki potensi sumber daya hayati yang cukup besar terutama dengan luasnya zona ekonomi eksklusif (ZEE).

Loading...
Gravatar Image
Hanya seorang pelajar biasa yang ingin berbagi ilmu biologi kepada masyarakat via Pintar Biologi