Categories: Pertanian

Mengenal Kerusakan Sayuran dan Buah-buahan

Loading...

Pendahuluan

Sejak bahan pangan dipanen, dan dikumpulkan, bahan pangan akan mengalami kerusakan. Tergantung dari macam bahan pangan, kerusakan ini bisa terjadi dengan cepat atau lambat.

Semua makhluk hidup memerlukan makanan untuk pertumbuhan dan mempertahankan kehidupannya. Bakteri, khamir, kapang, insekta, dan rodentia (binatang pengerat) selalu berkompetisi dengan manusia untuk mengonsumsi persediaan pangannya.

Selanjutnya, senyawa organik yang sangat sensitif dalam bahan pangan akan mengalami destruksi oleh hampir semua variabel dalam lingkungan di alam. Panas dan dingin, cahaya, oksigen, kelembaban, kekeringan, kandungan enzim dalam bahan pangan itu sendiri, dan waktu semuanya cenderung untuk merusakkan bahan pangan.

Suatu bahan pangan dikatakan rusak bila menunjukkan adanya penyimpangan yang melewati batas yang dapat diterima secara normal oleh pancaindra atau parameter lain yang biasa digunakan.

Proses pematangan buah merupakan suatu rangkaian reaksi kimia yang panjang, yang dapat berakhir dengan degradasi tenunan yang mengakibatkan kematian sel dan pembusukan, demikian pula halnya dengan sayuran. Jadi terjadinya atau mulai terjadinya kebusukan merupakan suatu tanda kerusakan.

Beberapa bahan dianggap rusak bila menunjukkan penyimpangan konsistensi serta tekstur dari keadaan yang normal. Bahan yang secara normal berkonsistensi kental, tetapi pada suatu saat berkonsistensi encer maka hal ini merupakan tanda kerusakan.

Terjadinya pememaran dapat digunakan sebagai suatu tanda terjadinya kerusakan. Pada buah sawo, mangga, apel, jambu, dan buah-buahan lain sering terjadi pememaran yang biasanya mengalami kerusakan pada bagian dalam.

Beberapa bahan jadi misalnya sayur asin yang mempunyai rasa dan bau asam bukanlah berarti rusak karena sayur asin memang secara normal dikehendaki rasanya asam. Tetapi kalau sayur asin menjadi berlendir dan berbau busuk maka hal ini merupakan suatu tanda kerusakan.

Tanda-tanda kerusakan fisik dapat dijumpai pada bahan-bahan hasil pertanian yang mengalami serangan serangga atau tikus sehingga bentuk fisiknya menjadi berlubang atau terdapat bekas-bekas gigitan. Terdapatnya kepompong, ulat, dan sebagainya sering digunakan sebagai tanda kerusakan.

Tidak semua kerusakan memperlihatkan tanda-tanda yang jelas. Contohnya adalah terdapatnya ulat di dalam pete kadang-kadang tidak pernah terlihat atau terduga sebelumnya karena dari luar buah menunjukkan keadaan yang tidak berbeda dengan keadaan bahan yang belum mengalami kerusakan.

A. JENIS-JENIS KERUSAKAN BAHAN PANGAN

Bila ditinjau dari penyebabnya maka kerusakan bahan pangan dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu kerusakan mikrobiologis, mekanis, fisik, biologis, dan kimia.

Kerusakan Mikrobiologis

Bermacam-macam mikroba seperti kapang, bakteri, dan ragi mempunyai daya perusak terhadap bahan hasil pertanian. Cara perusakannya adalah dengan cara menghidrolisa atau mendegradasi makromolekul-makromolekul yang menyusun bahan tersebut menjadi fraksi-fraksi yang lebih kecil.

Misalnya karbohidrat menjadi gula sederhana atau pemecahan lebih lanjut dari gula menjadi asam-asam yang mempunyai atom karbon yang rendah. Protein dapat dipecahkan menjadi gugusan peptida dan senyawa amida serta gas amoniak. Sedangkan lemak dapat dipecah menjadi gliserol dan asam-asam lemak.

Dengan terpecahnya karbohidrat (pati, pektin, atau selulosa) maka bahan dapat mengalami pelunakan. Terjadinya asam dapat menurunkan pH, dan terbentuknya gas-gas hasil pemecahan dapat mempengaruhi bau dan cita rasa bahan.

Kerusakan mikrobiologis ini merupakan bentuk kerusakan yang banyak merugikan serta kadang-kadang berbahaya terhadap kesehatan manusia karena racun yang diproduksi, penularan serta penjalaran yang cepat.

Pada umumnya kerusakan mikrobiologis ini tidak hanya terjadi pada bahan mentah, tetapi juga pada bahan setengah jadi maupun bahan hasil olahan.

Bahan-bahan yang telah rusak oleh mikroba dapat menjadi sumber kontaminasi yang berbahaya bagi bahan-bahan lain yang masih segar. Karena bahan yang sedang membusuk mengandung mikroba-mikroba yang masih muda dan dalam pertumbuhan ganas (log phase) sehingga dapat menular dengan cepat ke bahan-bahan lain yang ada di dekatnya.

Kerusakan Mekanis

Kerusakan mekanis disebabkan oleh adanya benturan-benturan mekanis, misalnya benturan antara bahan itu sendiri atau karena benturan alat dengan bahan tersebut. Pada saat bahan dilemparkan ke dalam unggukan atau ke dalam wadah, terjadi benturan antara bahan dengan dinding wadah. Penanganan bahan pangan khususnya sering kali menghasilkan kerusakan mekanis.

Kerusakan mekanis tersebut dapat terjadi pada waktu buah dipanen dengan alat. Misalnya mangga atau durian, yang dipanen dengan galah bambu, dapat dirusak oleh galah tersebut atau memar karena jatuh terbentur batu atau tanah keras.

Beberapa umbi-umbian mengalami cacat karena tersobek atau terpotong oleh cangkul atau alat penggali yang lain. Tertindihnya bahan-bahan pangan oleh benda lain dapat menyebabkan kerusakan bahan secara mekanis.

Kerusakan mekanis juga banyak terjadi selama pengangkutan. Barang-barang yang diangkut secara bulk transportation, bagian bawahnya akan tertindih dan tertekan bagian atas dan sampingnya sehingga mengalami pememaran, apalagi di dalam kendaraan yang berjalan bahan sering terguncang dengan kuat sehingga banyak mengalami kerusakan mekanis.

Kerusakan mekanis juga dapat disebabkan oleh bahan terjatuh dari tangan atau alat pengangkutan sehingga terbentur dengan benda-benda keras seperti batu atau tanah. Akibatnya bahan mengalami pememaran.

Kerusakan Fisik

Kerusakan fisik disebabkan oleh perlakuan-perlakuan fisik. Misalnya dalam pengeringan terjadi case hardening, dalam pendinginan terjadi chilling injuries atau freeze injuries, pada bahan yang dibekukan terjadi freezer burn, dan pada penggorengan atau pembakaran yang terlalu lama terjadi kegosongan.

Kerusakan dingin (chilling injuries) ini disebabkan oleh toksin yang terdapat dalam tenunan hidup. Dalam keadaan netral, toksin ini dapat dinetralkan oleh senyawa lain. Di dalam tanaman diduga toksin yang dikeluarkan adalah asam khlorogenat yang dapat dinetralkan oleh asam askorbat. Dalam proses pendinginan kecepatan produksi toksin akan bertambah cepat, sedangkan detoxifikasi menurun, akibatnya sel-sel tanaman akan keracunan dan mati kemudian membusuk.

Kemungkinan lain kerusakan dingin ini disebabkan oleh adanya 2 macam asam lemak yang terdapat dalam mitokondria, yaitu asam lemak yang peka terhadap pendinginan dan asam lemak yang tahan terhadap pendinginan. Diduga bahwa asam lemak yang peka terhadap pendinginan adalah asam linolenat, sedangkan asam lemak yang tahan terhadap pendinginan adalah asam palmitat.

Apabila kadar asam linolenat yang terdapat dalam mitokondria lebih besar daripada asam palmitat maka bahan akan peka terhadap pendinginan. Demikian pula sebaliknya, apabila kadar asam palmitat lebih besar daripada asam linolenat maka bahan akan tahan terhadap pendinginan.

Ada beberapa teori mengenai terjadinya kerusakan beku (freezing injuries), di antaranya teori yang terbaru, yaitu kerusakan beku disebabkan oleh kadar air yang terdapat di antara sel-sel tenunan pada suhu pembekuan akan menjadi kristal es.

Kristal es tersebut makin lama akan menjadi besar dengan cara menyerap air dari dalam sel-sel di sekitarnya sehingga sel-sel menjadi kering. Akibat dehidrasi ini, ikatan sulfihidril (S-H) dari protein akan berubah menjadi ikatan disulfida (-S -S) sehingga fungsi protein secara fisiologis akan hilang, demikian juga enzim akan kehilangan fungsinya sehingga metabolisme berhenti dan sel-sel akan mati, kemudian membusuk.

Penyimpanan dalam gudang yang basah dapat menyebabkan bahan dapat menyerap air, misalnya terjadi hardening pada tepung-tepung yang kering sehingga tepung-tepung tersebut akan mengeras atau membatu. Atau proses pengeringan yang tidak tepat pada tepung albumin dapat mengakibatkan hilangnya daya buih atau menyebabkan daya rehidrasi yang sangat rendah.

Kerusakan-kerusakan yang terjadi karena lembabnya penyimpanan dapat menyebabkan Aw (water activity) dari bahan meninggi sehingga memberi peluang kepada bentuk-bentuk kerusakan mikrobiologis untuk ikut aktif. Pada umumnya kerusakan fisik terjadi bersama-sama dengan bentuk kerusakan lainnya.

Penggunaan suhu yang terlalu tinggi dalam pengolahan bahan pangan menyebabkan cita rasa yang menyimpang dan kerusakan terhadap kandungan vitaminnya. Penggunaan suhu tinggi tersebut menyebabkan thermal degradation dari senyawa-senyawa dalam bahan pangan sehingga terjadi penyimpangan-penyimpangan mutu bahan.

Adanya sinar juga dapat merangsang terjadinya kerusakan bahan, misalnya pada lemak.

Kerusakan Biologis

Yang dimaksud dengan kerusakan biologis adalah kerusakan yang disebabkan oleh kerusakan fisiologis, serangga dan binatang pengerat (rodentia).

Kerusakan fisiologis meliputi kerusakan yang disebabkan oleh reaksi-reaksi metabolisme dalam bahan atau oleh enzim-enzim yang terdapat di dalamnya secara alami sehingga terjadi proses autolisis yang berakhir dengan kerusakan dan pembusukan.

Serangga dan binatang pengerat dapat menyerang bahan baik di lapangan maupun di dalam gudang. Tikus misalnya dapat menyebabkan kerusakan beberapa macam pembungkusnya dan kemudian memakan isinya.

Beberapa macam serangga dapat merusak biji-bijian dan kacang-kacangan baik di lapangan maupun di gudang sehingga bahan hancur atau rusak. Masuknya ulat dari serangga ke dalam buah dan sayuran dapat merusakkan bagian dalam, dan biasanya hal ini merupakan jalan masuk (port de antre) bagi mikroba pembusuk untuk tumbuh dan merusak bahan.

Kerusakan Kimia

Kerusakan kimia bisanya saling berhubungan dengan kerusakan lain, misalnya adanya panas yang tinggi pada pemanasan minyak mengakibatkan rusaknya beberapa asam lemak yang disebut thermal oxidation. Adanya oksigen dalam minyak menyebabkan terjadinya oksidasi pada asam lemak tidak jenuh, yang mengakibatkan pemecahan senyawa tersebut atau menyebabkan terjadinya ketengikan minyak.

Kerusakan biologis biasanya juga merupakan kerusakan kimia karena reaksi enzimatis biasanya aktif dalam proses kerusakan tersebut. Adanya sinar dapat membantu terjadinya kerusakan kimia, misalnya oksidasi lemak atau menjadi lunturnya warna bahan.

Pada perubahan pH suatu jenis pigmen, seperti khlorofil dan antosianin, dapat mengalami perubahan warna. Penyimpangan warna normal sering diartikan dengan kerusakan. Demikian juga protein dapat mengalami denaturasi dan penggumpalan dengan adanya perubahan pH.

Loading...

Terjadinya noda-noda hitam pada makanan kaleng yang disebabkan oleh senyawa FeS merupakan kerusakan kimia yang disebabkan enamel/lapisan dalam kaleng tidak baik dan terjadi reaksi dengan H2S yang diproduksi oleh makanan tersebut.

Reaksi browning pada beberapa bahan dapat terjadi secara enzimatis maupun nonenzimatis. Browning secara nonenzimatis ini dapat menyebabkan timbulnya warna yang tidak diinginkan, yaitu cokelat, dan hal ini juga merupakan kerusakan kimia.

B. FAKTOR UTAMA KERUSAKAN SAYURAN DAN BUAH-BUAHAN

Kerusakan bahan pangan dapat disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut: pertumbuhan dan aktivitas mikroba terutama bakteri, kapang, dan khamir; aktivitas enzim-enzim di dalam bahan pangan; serangga, parasit, dan tikus; suhu termasuk suhu pemanasan dan pendinginan; kadar air; udara termasuk oksigen; sinar; dan waktu.

Bakteri, Kapang, dan Khamir

Mikroba penyebab pembusukan makanan dapat ditemukan di mana saja baik di tanah, air, udara, di atas kulit atau bulu dari ternak, dan di dalam usus. Beberapa mikroba juga ditemukan di atas kulit buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan kacang-kacangan.

Mikroba biasanya secara normal tidak ditemukan di dalam tenunan hidup misalnya daging hewan, daging buah atau air buah. Misalnya susu dari sapi yang sehat mula-mula steril ketika masih di dalam kelenjar susu, kemudian setelah diperah akan mengalami kontaminasi dari udara, wadah atau dari pemerah sendiri. Buah-buahan, sayur-sayuran, biji-bijian, dan kacang-kacangan akan mengalami kontaminasi setelah dikupas kulitnya.

Tumbuhnya bakteri, khamir, atau kapang di dalam bahan pangan dapat mengubah komposisi bahan pangan. Beberapa di antaranya dapat menghidrolisa pati dan selulosa atau menyebabkan fermentasi gula, sedangkan lainnya dapat menghidrolisa lemak dan menyebabkan ketengikan, atau dapat mencerna protein dan menghasilkan bau busuk dan amoniak.

Beberapa mikroba tersebut dapat membentuk lendir, gas, busa, warna, asam, toksin, dan lain-lain. Jika makanan mengalami kontaminasi secara spontan dari udara maka akan terdapat pertumbuhan campuran beberapa tipe mikroba.

Bakteri, khamir, dan kapang senang dengan keadaan yang hangat dan lembab. Sebagian besar bakteri mempunyai suhu pertumbuhan antara 450-550C dan disebut golongan bakteri termofilik. Beberapa bakteri mempunyai suhu pertumbuhan antara 200-450C yang disebut bakteri mesofilik, dan yang lainnya mempunyai suhu pertumbuhan di bawah 200C disebut psikrofilik. Spora dari kebanyakan bakteri dapat mempertahankan diri pada suhu air mendidih, dan kemudian bila suhu turun akan bergerminasi dan bertambah.

Beberapa bakteri dan semua kapang membutuhkan oksigen untuk pertumbuhan, mikroba ini disebut mikroba aerobik. Sebaliknya, mikroba yang lain tidak dapat tumbuh bila ada oksigen, mikroba ini disebut mikroba anaerobik.

Dalam keadaan optimum bakteri memperbanyak diri dengan cepat. Dari satu sel menjadi dua sel hanya memerlukan waktu 20 menit, dan seterusnya tumbuh dan berlipat ganda menurut fungsi eksponensial.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba di antaranya adalah air, RH, suhu, pH, oksigen, mineral, dan lain-lain.

Enzim

Enzim yang ada pada bahan pangan dapat berasal dari mikroba atau memang sudah ada pada bahan pangan tersebut secara normal. Enzim ini memungkinkan terjadinya reaksi-reaksi kimia dengan lebih cepat tergantung dari macam enzim yang ada, dan dapat mengakibatkan bermacam-macam perubahan pada komposisi bahan pangan.

Jika enzim telah diinaktifkan baik oleh panas, secara kimia, radiasi, atau perlakuan lainnya; maka tentu saja reaksi-reaksi tersebut berjalan sangat lambat atau berhenti sama sekali. Beberapa reaksi enzim yang tidak berlebihan bahkan dapat menguntungkan kita, misalnya pada pematangan tomat sesudah dipetik, atau pada pengempukan daging selama aging dengan enzim papain. Tetapi pengempukan dan pematangan yang berlebihan dapat menyebabkan kebusukan.

Keaktifan maksimum dari enzim pada umumnya terletak antara pH 4 – 8, atau di sekitar pH 6. Tetapi pepsin masih aktif sampai pH 2, dan enzim fosfatase di dalam darah aktif sampai pH 9.

Jika makanan disterilisasi atau dipasteurisasi untuk menginaktifkan mikroba maka sebagian enzim atau seluruhnya rusak dan inaktif. Juga jika makanan didinginkan dengan tujuan untuk mengurangi aktivitas mikroba maka keaktifan enzim-enzim di dalamnya juga akan terhambat.

Beberapa enzim mungkin lebih tahan terhadap pemanasan, pendinginan, pengeringan, radiasi, atau cara-cara pengawetan lainnya daripada mikroba. Misalnya pemanasan atau radiasi mungkin efektif untuk membunuh mikroba, tetapi enzim-enzim tertentu mungkin masih dapat aktif.

Serangga, Parasit, dan Tikus

Serangga terutama dapat merusak buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan umbi-umbian. Yang menjadi persoalan bukan hanya jumlah bahan pangan yang dimakan serangga tersebut, tetapi yang lebih penting lagi adalah serangga tersebut akan melukai permukaan bahan pangan sehingga dapat menyebabkan kontaminasi oleh bakteri, khamir, atau kapang.

Pada biji-bijian atau buah-buahan kering biasanya serangga dapat dicegah secara fumigasi dengan beberapa zat kimia seperti metil bromida, etilen oksida, dan propilen oksida. Etilen dan propilen oksida tidak boleh digunakan untuk bahan pangan yang mempunyai kadar air tinggi karena kemungkinan dapat membentuk racun.

Telur-telur serangga dapat tertinggal di dalam makanan sebelum dan setelah pengolahan, misalnya di dalam tepung. Untuk menghancurkan telur-telur serangga tersebut biasanya tepung dilewatkan di dalam sentrifus sehingga dengan benturan-benturan yang keras dari dinding sentrifus telur-telur akan pecah. Meskipun pecahan telur tersebut masih tetap tertinggal di dalam tepung, tetapi tidak dapat memperbanyak diri lebih lanjut.

Tikus merupakan persoalan yang penting di Indonesia, khususnya merupakan ancaman yang berbahaya baik terhadap hasil biji-bijian sebelum dipanen maupun di dalam gudang. Tikus bukan hanya merugikan karena jumlah bahan yang dimakan oleh tikus, tetapi juga kotoran, rambut, dan urine tikus tersebut dapat merupakan media yang baik untuk bakteri dan dapat menimbulkan bau yang tidak enak.

Pemanasan dan Pendinginan

Pemanasan dan pendinginan yang tidak diawasi dengan teliti dapat menyebabkan kebusukan bahan pangan. Bila pemanasan dilakukan pada suhu 100 – 380C maka untuk setiap kenaikan suhu 100C kecepatan reaksi termasuk reaksi enzimatik dan nonenzimatik rata-rata akan bertambah dua kali lipat. Pemanasan yang berlebihan dapat menyebabkan denaturasi protein, pemecahan emulsi, menghancurkan vitamin dan mendegradasi lemak atau minyak.

Pembekuan yang dilakukan terhadap buah-buahan dan sayuran akan menyebabkan bahan tersebut mengalami thawing setelah dikeluarkan dari tempat pembekuan sehingga teksturnya menjadi lunak, dan dapat menyebabkan kontaminasi oleh mikroba.

Buah-buahan dan sayuran setelah dipanen membutuhkan suhu penyimpanan yang optimum, seperti juga kehidupan yang lain. Suhu pendinginan sekitar 4.50C dapat mencegah atau memperlambat proses pembusukan.

Kadar Air

Kadar air pada permukaan bahan dipengaruhi oleh kelembaban nisbi (RH) udara di sekitarnya. Bila kadar air bahan rendah sedangkan RH di sekitarnya tinggi maka akan terjadi penyerapan uap air dari udara sehingga bahan menjadi basah atau kadar airnya menjadi lebih tinggi.

Bila suhu bahan lebih rendah akan terjadi kondensasi udara pada permukaan bahan dan merupakan media yang baik bagi perkembangbiakan bakteri atau pertumbuhan kapang.

Kondensasi ini tidak selalu berasal dari luar bahan. Di dalam pengepakan, beberapa bahan pangan seperti buah-buahan dan sayuran dapat menghasilkan air dari respirasi dan transpirasi. Air ini dapat membantu pertumbuhan mikroba.

Bahan pangan kering juga dapat menghasilkan air misalnya jika suhu naik selama pengepakan, akibatnya kelembaban nisbi pada permukaan akan berubah. Uap air ini kemudian dapat berkondensasi pada permukaan bahan pangan, terutama jika suhu penyimpanan turun.

Udara dan Oksigen

Udara dan oksigen selain dapat merusak vitamin terutama vitamin A dan C, warna bahan pangan, flavor, dan kandungan lain; juga penting di dalam pertumbuhan kapang. Pada umumnya kapang adalah aerobik, oleh karena itu, sering ditemukan tumbuh di atas permukaan bahan pangan. Pada bahan pangan yang mengandung lemak, oksigen dapat menyebabkan ketengikan.

Oksigen dapat dikurangi jumlahnya dengan cara mengisap udara keluar secara vakum atau penambahan gas inert selama pengolahan, mengganti udara dengan nitrogen (N) atau CO2, atau dengan menangkap molekul-molekul oksigen dengan pereaksi kimia.

Sinar/Cahaya

Sinar selain dapat merusakkan beberapa vitamin terutama riboflavin, vitamin A, dan vitamin C; juga dapat merusak warna bahan pangan. Bahan-bahan yang sensitif terhadap sinar dapat dilindungi dengan cara pengepakan di dalam bahan yang tidak tembus sinar.

Waktu

Sesudah penyembelihan, pemanenan atau pengolahan terdapat saat di mana bahan pangan mempunyai mutu yang terbaik, tetapi hal ini hanya berlangsung sementara.

Tergantung pada derajat pematangan waktu pemanenan, beberapa bahan dapat menurun mutunya dalam satu atau dua hari, atau dalam beberapa jam setelah pemanenan.

Pertumbuhan mikroba, keaktifan enzim, kerusakan oleh serangga, pengaruh pemanasan atau pendinginan, kadar air, oksigen dan sinar, semuanya dipengaruhi oleh waktu. Waktu yang lebih lama akan menyebabkan kerusakan yang lebih besar, kecuali yang terjadi pada keju, minuman anggur, wiski dan lain-lainnya yang tidak rusak selama aging.

Rangkuman

Sejak dipanen, bahan pangan hasil hortikultura akan mengalami kerusakan. Kerusakan pada bahan pangan ini berupa penyimpangan dari keadaan normal. Ditinjau dari penyebab kerusakan, dibedakan beberapa jenis kerusakan bahan pangan, yaitu:

  1. Kerusakan mikrobiologis
  2. Kerusakan mekanis
  3. Kerusakan fisik
  4. Kerusakan biologis
  5. Kerusakan kimia

Adapun faktor-faktor penyebab kerusakan pada sayuran dan buah-buahan dibedakan sebagai berikut.

  1. Bakteri, kapang dan khamir yang mengontaminasi bahan pangan
  2. Enzim yang dapat berasal dari mikroba atau dari bahan pangan itu sendiri
  3. Serangga, parasit dan tikus
  4. Pemanasan dan pendinginan
  5. Kadar air
  6. Udara dan oksigen
  7. Sinar/cahaya
  8. Waktu
admin

Hanya seorang pelajar biasa yang ingin berbagi ilmu biologi kepada masyarakat via Pintar Biologi

Recent Posts

Latihan Soal UN Biologi SMA Online Terbaru TP 2019/2020

Latihan Soal UN Biologi SMA Online Terbaru. Dalam kesempatan kali ini, PintarBiologi.com tampil agak sedikit…

31 mins ago

Contoh Format Pembuatan Laporan Praktikum Biologi

Contoh Format Pembuatan Laporan Praktikum Biologi - Pembuatan laporan praktikum biologi bertujuan selain melaporkan pelaksanaan…

5 hours ago

Pedoman Penulisan Laporan Praktikum Biologi Umum

Abstrak Abstrak yang terdiri dari latar belakang, tujuan, metode, hasil dan pembahasan serta kesimpulan disajikan…

9 hours ago

Contoh Tata Tertib/Peraturan Praktikum Biologi di Laboratorium

Contoh Tata Tertib/Peraturan Praktikum Biologi di Laboratorium Tata tertib praktikum Praktikum harus selalu dihadiri seluruhnya.…

13 hours ago

Prediksi Soal dan Jawaban UN Biologi SMA Tahun Pelajaran 2019/2020

Prediksi Soal UN Biologi SMA Terbaru Tahun Pelajaran 2019/2020 | Selamat datang kembali kawan PintarBiologi.com.…

17 hours ago

Tekanan Darah; Pengertian dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya

Tekanan Darah; Pengertian dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya Tekanan darah adalah kekuatan yang dihasilkan oleh darah…

21 hours ago

This website uses cookies.